
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Mischa langsung menegakkan tubuh, memandang Aslan dengan tatapan mencela.
“Kau mencekikku dan sekarang bertanya apakah aku tidak apa-apa?” ulangnya keras dipenuhi kemarahan.
Aslan menipiskan bibir. “Aku hanya memegangmu, bukan mencekikmu dengan sungguh-sungguh,” kali ini Aslan mendekat lagi, membiarkan Mischa terintimidasi oleh gerakan tubuhnya yang mengancam. “Sebab jika aku benar-benar ingin mencekikmu, kau tidak akan bisa berdiri lagi, tetapi terbaring di lantai dengan leher remuk.”
Ucapan Aslan itu membuat Mischa begidik, menyadari bahwa dia hampir melupakan betapa berbahayanya Aslan ini. Punggung Mischa lalu merapat ke dinding sebagai upaya untuk menjauh, menatap Aslan dengan waspada.
“Aku bisa berjalan sendiri ke area Yesil.” ujarnya perlahan, melirik ke arah pintu gerbang besar yang tampak di dekat mereka. “Kau.. bukankah kau harus berperang?”
Aslan menipiskan bibir, tahu pasti bahwa Mischa sudah tidak tahan dengan interaksi mereka berdua. Dia lalu mengangukkan kepala dan menatap Mischa penuh ancaman.
“Aku akan pergi,” ucapnya perlahan. “Pastikan bahwa kau memenuhi peraturan. Tidak boleh bertemu dengan Kara karena aku pasti akan tahu dan membuat Kara menerima hukuman, dan kau tidak boleh membiarkan siapapun selain Sasha menyentuhmu tanpa izinku terlebih dahulu, bahkan Yesil sekalipun. Apakah kau mengerti?”
Didorong keinginannya agar Aslan lekas pergi meninggalkan dirinya, Mischa menganggukkan kepala dengan cepat untuk menjawab pertanyaan Aslan. Tetapi rupanya hal itu belum memuaskan Aslan karena tatapan matanya menyala dan nada suaranya semakin mendesak ketika berkata.
“Apakah kau mengerti, Mischa? Jawab dengan kata-kata!” perintah Aslan dengan nada tegas.
Mischa mendongakkan kepala dengan angkuh, mau tak mau memenuhi permintaan Aslan meskipun hatinya jengkel.
“Aku mengerti, Aslan,” ucapnya dengan nada kasar, menunjukkan pada Aslan bahwa dia ingin lelaki itu segera pergi.
Aslan menunduk, menatap Mischa, lalu seolah merasa gemas, lelaki itu tiba-tiba mendorong Mischa merapat ke dinding dengan tubuhnya sendiri, membuat tubuh mereka berdua menempel erat sementara kedua pergelangan tangan Mischa disatukan dengan paksa di atas kepalanya sebelum kemudian bibirnya dicium dengan kasar dan penuh gairah.
Tangan Aslan menelusuri tanda dirinya di leher Mischa dengan gerakan posesif, lalu menghadiahkan ciuman di sana penuh rasa memiliki.
“Aku akan kembali nanti malam,” bisiknya serak penuh janji. Lalu tanpa kata membalikkan badan dan meninggalkan tubuh Mischa yang lunglai dan terpaksa bertumpu pada dinding karena kakinya terasa lemas akibat ciuman Aslan sebelumnya.
Tatapan mata Mischa melayang ke punggung Aslan yang semakin menjauh, lalu tiba-tiba dirinya ingat perkataan Aslan sebelumnya, bahwa selama Kaza dan Sasha belum terikat sepenuhnya, maka Sasha tidak akan terlindungi.
Posisi Sasha tentu berada dalam bahaya karena dia masih anak-anak dan Kaza tidak akan bisa memanen Sasha sebelum cukup umur, setidaknya tujuh tahun ke depan… itu berarti dalam jeda waktu yang begitu lama, kemungkinan Kaza akan membunuh Sasha seperti yang dikatakan oleh Aslan akan sangat mungkin terjadi.
Mischa langsung teringat betapa mengerikannya Kaza ketika marah, betapa menakutkanya lelaki itu ketika mencekik dan mengancam akan membunuhnya, dia tidak bisa membayangkan Sasha akan mengalami hal yang sama mengerikannya dengan apa yang dia alami, dan dorongan untuk melindungi satu-satunya keluarganya yang tersisa itulah yang membuat Mischa nekad memanggil Aslan kembali.
“Aslan,” ucapnya dengan suara lirih, tetapi tentu saja indra pendengaran Aslan yang tajam bisa menangkapnya.
Lelaki itu menghentikan langkah, menoleh untuk menatap Mischa dengan sebelah alis terangkat, tetapi tidak berkata-kata, hanya menunggu Mischa berbicara.
Entah kenapa tatapan itu membuat Mischa merasa gugup, tangannya tanpa sadar saling meremas, sementara bibirnya terbata menyusun kata.
“Mengenai Sasha… aku… aku memikirkan Kaza… dan.. eh… apakah kau bersedia melindungi Sasha?”
Pertanyaan itu membuat Aslan mengerutkan kening. “Kenapa aku harus repot-repot melindungi Sasha?” tanyanya dengan nada dingin.
Mischa menelan ludah, tetapi akhirnya berkata. “Bukankah Sasha adalah jaminan supaya aku tidak melarikan diri?” suara Mischa terhenti karena dia bisa membaca tatapan Aslan bahwa Sasha bukan satu-satunya jaminan, Aslan akan menjaga Mischa sekuat tenaga supaya tidak bisa melarikan diri meskipun tidak ada Sasha.
Hal itu membuat Mischa memutar otak, mencari alasan lain yang cukup berarti. “Karena aku memohon kepadamu?” ucapnya akhirnya dengan nada ragu.
Aslan menatap ekspresi Mischa lalu menyeringai. “Adakah timbal balik yang akan kau berikan kepadaku jika aku mengabulkan permintaanmu untuk melindungi Sasha?”
Mischa melemparkan pandangan mencela ke arah Aslan karena lelaki itu tidak malu-malu menagih timbal balik atas bantuan yang mungkin akan dia berikan, tetapi dia menahan diri, itu semua demi Sasha.
“Memangnya kau mau timbal balik dalam bentuk apa?” tanyanya kemudian, putus asa karena tidak tahu harus memberi jawaban apa.
Mata Aslan menyipit, sementara bola mata legamnya menelusuri diri Mischa dengan seksama, dengan tatapan liar yang mengirimkan sinyal tak kasat mata, membuat tubuh Mischa menggelenyar entah kenapa.
“Dalam bentuk kau,” ucap Aslan misterius.
Mischa membelalakkan mata. “Dalam bentuk aku?” ulangnya bingung karena tidak bisa mencerna kata-kata Aslan.
Aslan menganggukkan kepala. “Aku ingin kau menjadi istri yang berdedikasi dalam percintaan kita. Aku ingin kau menyentuhku.” Aslan menyipitkan mata dengan pandangan menilai ke arah Mischa. “Apakah kau bisa melakukannya?”
Pipi Mischa merah padam akan kata-kata vulgar Aslan, tangannya bergerak menyentuh dada, seolah-olah kata-kata Aslan itu begitu mengejutkannya hingga membuat Mischa sesak napas.
Tetapi saat ini Mischa tidak punya pilihan bukan? Untuk memberikan timbal balik pada Aslan, dia hanya memiliki tubuhnya, dan tubuhnyalah yang diminta oleh Aslan sekarang.
Bagian diri Mischa yang dipenuhi harga diri memang berteriak, merasa direndahkan dan diperlakukan sebagai perempuan yang hanya dimanfaatkan tubuhnya saja, tetapi Mischa menekan sisi diri yang itu meskipun hatinya terasa pedih.
Dia hanya ingin melindungi Sasha, anak itu masih suci dan memandang dunia dengan kepolosan matanya yang penuh bahagia, berbeda dengan dirinya yang sudah menyerah dalam kelamnya nasib di tangan Lelaki Zodijak yang menguasainya.Sasha harus bisa dijaga dan diselamatkan bagaimanapun caranya.
“Aku akan melakukannya,” ucap Mischa kemudian, menguatkan diri.
Kali ini mata Aslan yang melebar, seolah tak percaya karena Mischa menyerah begitu cepat.
Bibir lelaki itu menipis, sementara tatapannya berubah penuh antisipasi.
“Kalau begitu kita lihat nanti malam. Kalau nanti malam aku merasa dedikasimu cukup memuaskan, aku akan mempertimbangkan untuk meletakkan Sasha di bawah perlindunganku. Sudah tentu aku akan menjaga perkataanku jika aku memutuskannya, Sasha akan aman jika aku bersedia melindunginya.”
Setelah mengucapkan kalimat yang membuat pipi Mischa kembali memerah, Aslan membalikkan badan, meninggalkan Mischa sendirian, tenggelam dalam debaran jantungnya sendiri.
“Mischa?”
Suara panggilan untuk yang kesekian kalinya itu membuat Mischa mengerjapkan mata dan langsung menolehkan kepala ke arah Sasha yang duduk di kursi sebelahnya.
Mereka sedang membaca cerita, bukan cerita negeri dongeng seperti yang seharusnya dibacakan untuk anak-anak usia sepuluh tahun, melainkan buku mengenai mitologi Yunani dan kaum dewa, dan buku ini adalah satu-satunya buku menarik dari koleksi Yesil yang bisa dibacakan untuk Sasha.
Beruntung kisah mitologi Yunani dipenuhi dengan konflik ternyata bisa cukup menarik untuk dibacakan kepada anak kecil, meskipun Mischa harus melewati adegan-adegan kejam ataupun dewasa supaya tidak sampai ke telinga Sasha.
Sasha sudah dipaksa dewasa sebelum waktunya dan harus mengalami kekejaman perang di usia yang masih begitu muda seperti dirinya, Mischa tidak ingin menambah beban pikiran Sasha lagi.
“Kau melamun.” Sasha menatap Mischa dengan matanya yang bulat lebar dengan penuh rasa ingin tahu. “Apa yang mengganggu pikiranmu?”
Sekali lagi Mischa mengerjap mendengarkan pertanyaan itu, lalu menggelengkan kepala sambil tersenyum lembut.
“Tidak… aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Mischa sebenarnya benar-benar terganggu memikirkan apa yang diminta Aslan darinya malam nanti.
Lelaki alien itu memintanya berdedikasi? Apa tolak ukur Mischa berdedikasi? Bagaimana mungkin alien mesum yang hanya memikirkan adegan ranjang di otaknya itu bisa membuat Mischa berlutut dan menyerah seperti ini?
Tarikan di ujung pakaian Mischa membuat Mischa kembali dari lamunannya dan menatap kembali ke arah Sasha.Sasha mengerutkan kening, lalu menyentuh kerutan di dahinya dengan tangan mungilnya.
“Kau sejak tadi mengerutkan keningmu seperti ini,” ada kecemasan di sana, bergulir di mata bening Sasha yang polos, membuat Mischa kembali tersenyum, menyadari bahwa jika demi adik kesayangannya ini, dia akan rela melakukan apa saja.
“Aku tidak apa-apa,” Mischa mengacak rambut Sasha, mengacak rambut anak itu dengan lembut, “Sampai di mana kita tadi?” perlahan Mischa mencoba memfokuskan pada bacaan di depannya, tetapi dilihatnya Sasha menguap dan menggelengkan kepala.“Apakah kau mau tidur siang?” Mischa langsung bertanya dan disambut dengan anggukan Sasha. “Kalau begitu, ayo, naik ke ranjang,” ucap Mischa kemudian.
Sasha sekali lagi menganggukkan kepala dan turun dari kursi tinggi tempatnya duduk, dengan patuh anak itu naik ke atas ranjang dan membiarkan Mischa menyelimutinya sampai ke dada.
Ruangan yang dihuni oleh Bangsa Zodijak ini entah kenapa lebih dingin dari biasanya. Mungkin karena Bangsa Zodijak yang identik dengan kebutuhan akan air membutuhkan udara dingin supaya nyaman.
“Tidurlah,” Mischa mengusap lembut dahi Sasha yang langsung memejamkan mata untuk larut ke alam mimpi.
“Apakah kau masih ada di sini ketika aku bangun nanti?” mata Sasha masih tertutup, tetapi anak itu bertanya seolah cemas, membuat gerakan Mischa yang sedang menarik kursinya mendekat ke samping ranjang langsung terhenti.
Membutuhkan beberapa detik hingga Mischa bisa menjawab, dia menghitung-hitung terlebih dulu di otaknya kapan Sasha akan bangun dan kapan Aslan menyuruhnya kembali ke kamar.
Kalau diingat-ingat, Aslan kemarin membawa Mischa ketika Mischa sudah tertidur pulas, itu berarti baru tengah malam Aslan kembali. Memikirkan itu membuat senyum Mischa mengembang karena kesempatannya bersama Sasha masih lama. Mischa lalu duduk di kursi dan langsung menjawab,
“Aku masih akan ada di sini ketika kau terbangun nanti, jadi cepatlah tidur,” ucapnya kemudian sambil tersenyum senang ketika jawabannya itu menciptakan ekspresi damai di wajah Sasha hingga anak itu dengan mudahnya jatuh lelap ke alam mimpi.
Cukup lama Mischa duduk di kursi samping ranjang hingga kemudian tirai pembatas ruang tempat Sasha berada dengan area lorong luar terkuak dan Yesil tampak muncul di sana.
Dengan pengamatan cepat, Mischa memerhatikan Yesil dan menyadari bahwa diantara saudara-saudaranya, Yesil-lah yang paling mirip dengan manusia, apalagi ketika dia mengenakan lensa mata palsunya seperti ini.
Tubuh Yesil cukup ramping, meskipun tingginya tetap saja di atas rata-rata. Kerampingannya tampak proposional dan pas, tidak terlalu kurus tetapi juga tidak terlalu berotot seperti saudara-saudaranya.
Mungkin karena Yesil hampir tidak pernah pergi berperang yang otomatis membentuk fisiknya sesuai dengan apa yang dia lakukan. Bahkan selama Mischa berada di area istana ini, dia sama sekali belum melihat Yesil pergi berperang ketika saudara-saudarnya yang lain berlalu lalang ke medan perang.
“Sasha sudah tertidur?” Yesil tersenyum lembut ke arah Mischa, lalu memiringkan kepala sedikit. “Bisakah kita keluar? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.” tanpa menunggu jawaban Mischa, Yesil langsung membalikkan badan seolah yakin bahwa Mischa sudah pasti akan mengikutinya.
Dan memang itulah yang dilakukan oleh Mischa, dia langsung beranjak dari duduk, menoleh sebentar ke arah Sasha untuk memastikan bahwa tidur anak itu pulas sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar.
Yesil rupanya sudah menunggu di ruang penelitian yang merupakan tempat lelaki itu hampir tidak beranjak di area ini dan sibuk meneliti segala sesuatu yang rumit yang bahkan tidak Mischa ketahui tentang apa.
Ketika masih kecil dan bersama ayahnya dulu, Mischa ingat bahwa ayahnya memiliki kebiasaan yang hampir sama dengan Yesil, duduk di belakang meja dan meneliti berbagai sampel yang beruntung di dapatkannya dari Bangsa Zodijak.
Dulu ketika ayahnya sedang sibuk, Mischa dengan penuh rasa ingin tahu akan bertanya ini itu yang akan dijawab ayahnya dengan senang hati, tentu saja dengan bahasa yang dimengerti oleh anak-anak seusianya ketika itu.
Memikirkan tentang ayahnya membuat Mischa tiba-tiba begidik ngeri ketika sebuah pemikiran menyusup di benaknya, jika dulu ayahnya meneliti sampel Bangsa Zodijak, berarti Yesil saat ini sedang meneliti… sampel manusia?