
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
“Kak Mischa selalu sakit, jika dia kambuh dia hampir tidak bisa bergerak sama sekali karena seluruh tubuhnya didera rasa sakit. Aku tahu bahwa kak Mischa menanggung kesakitan yang amat sangat setiap saat, tapi dia selalu berusaha kuat, memaksakan diri, mencoba bergerak dan berguna bagi kelompok. Kau tahu di kelompok kaum penyelinap, kita akan dibuang kalau dianggap memberatkan dan tidak berguna.”
Suara Sasha tiba-tiba seperti menahan tangis. “Kak Mischa selalu berusaha kuat dan menutupinya. Jika dia ketahuan menderita sakit, dia akan dibuang dan tidak akan ada kelompok kaum penyelinap yang mau menampungnya. Kadang-kadang aku tahu di malam hari kak Mischa terbaring menahan sakit dan menahan erangan hanya supaya dia tidak ketahuan bahwa dia sedang sakit. Hanya kepadaku kak Mischa bercerita bahwa dia sedang sakit. Aku… aku selalu membawakannya air ketika dia tidak bisa bergerak, itu membuatnya merasa lebih baik.”
Aslan mendengar dengan jelas setiap kalimat yang diucapkan oleh Sasha, matanya mau tak mau kembali terpaku kepada Mischa, kali ini menatap wajahnya yang meskipun pucat tetapi tampak damai. Ada anak-anak rambutnya yang panjang jatuh menjuntai menutupi wajah Mischa, dan Aslan tidak bisa menahan diri untuk membungkuk, mendekat dan menyentuhkan jemarinya di sana.
Dengan perlahan supaya tidak mengganggu Mischa, Aslan menyingkirkan rambut itu dan menyelipkannya dengan hati-hati di belakang telinga Mischa.
Begitu dirinya menyentuh Mischa, Aslan tidak bisa mengangkat tangannya kembali, jarinya terpaku di sana, terdorong untuk menelusurkan kulitnya ke kelembutan kulit pipi Mischa, menikmati kerapuhan yang tepatri jelas di tangannya.
Dia tahu bahwa kehidupan Mischa sebagai kaum penyelinap sudah pasti keras, tetapi dia tetap tidak bisa membayangkan bahwa kehidupan yang keras itu dilalui dengan tubuh yang sakit parah.Perempuan ini sekarat dan sudah pasti akan mati kalau tidak bertemu dengannya.
Jika saja hari itu Aslan tidak memutuskan untuk menghibur diri dan bersenang-senang dengan berburu kaum manusia di kawasan puing-puing perkotaan yang ditinggalkan, mungkin dia tidak akan pernah bertemu dengan Mischa… dan perempuan ini akan mati.
Pertanyaan yang dilontarkan Akrep kepadanya tadi langsung membayang di benaknya
Bagaimana jika Mischa mati? Bagaimana jika Mischa sudah tidak ada di dunia ini?
Tiba-tiba rasa sakit yang asing menyeruak di dada Aslan, memberikan kesadaran bahwa Aslan tidak akan mampu menanggungnya jika sampai Mischa tidak ada lagi di dunia ini.
Aslan memutuskan bahwa dia sudah cukup mendengarkan. Jika nanti ada yang terlewatkan, dia yakin bahwa Yesil akan memberitahukan hasil percakapan Kara dengan Sasha kepadanya.
Tanpa suara Aslan berdiri, membungkuk untuk meraup tubuh Mischa ke dalam gendongan dan membawa perempuan itu ke dalam tangannya, setelah itu Aslan melesat cepat untuk membawa Mischa kembali ke areanya, di bawah kekuasaan dan perlindungan dirinya.
“Anak baik,” Kara tersenyum lembut, penuh pujian ke arah Sasha, ingin rasanya dia mengusap rambut anak itu untuk memberikan pujian dan dukungan, tetapi dia tidak bisa melakukannya, selain karena tangannya diperban tebal, dia juga masih tidak kuat menggerakkan tangannya.
“Apakah… apakah aku akan bisa bertemu dengan kak Mischa? Dan apakah kau.. aku… kita semua berada di bawah tawanan Bangsa Zodijak?” Sasha bertanya lagi dengan suara takut-takut.
Kara langsung menganggukkan kepala. “Kau akan bertemu dengan kakakmu nanti,” ucapnya. “Dan ya, saat ini kita berada di area Bangsa Zodijak. Ada… kita sebut saja negosiasi khusus sehingga kita tidak dibunuh. Untuk saat ini kita harus bertahan di sini sampai kita bisa menemukan cara.”
Sasha melirik ke arah Kara, memperhatikan mata Kara dengan hati-hati. Mata Kara sama seperti manusia pada umumnya, tetapi Sasha tentu saja tidak akan lupa tentang sosok Lelaki Zodijak bermata hitam legam yang menemuinya singkat tetapi penuh kemarahan sebelumnya yang datang menemuinya.
Sosok itu sangat persis dengan Kara, hanya berbeda di matanya… kecurigaan memenuhi benak Sasha, dirinya tentu ingat dengan sosok sebelumnya bernama Aslan yang mereka ajak ke dalam koloni dan kemudian berakhir dengan membantai seluruh kelompok mereka dengan kejam dan tanpa ampun. Aslan juga pada awalnya bermata manusia untuk menipu mereka semua, tetapi kemudian di malam harinya, mata itu berubah hitam seiring dengan kengerian serta kekejian yang ditebarkannya.
Apakah Kara adalah sosok yang sama? Tetapi apa yang dikatakan Kara tadi tentu membuatnya ragu. Kak Mischa tampaknya memercayai Kara dan meletakkan dirinya di bawah sayap perlindungan lelaki ini… apa sebenarnya yang terjadi?
Kebingungan di wajah Sasha tentu saja terbaca oleh Kara, lelaki itu kembali tersenyum menenangkan.
“Semuanya akan baik-baik saja, Sasha, aku akan melindungimu… dan aku memiliki saudara… dia sudah pasti akan membantuku melindungimu sepenuh hatinya.”
Kara membayangkan Kaza dan jika apa yang dikatakan oleh Yesil benar, bahwa Kaza memiliki keterikatan dengan Sasha, maka sudah pasti Kaza akan melindungi Sasha dengan nyawanya secara alami meskipun sekarang dia yakin sekali saudaranya itu masih menyangkal habis-habisan takdirnya.
“Apakah… apakah mereka akan membunuh kita?” Sasha bertanya takut-takut.
Kara langsung menggelengkan kepala, tidak bisa menahan senyumnya karena mendengar kepolosan Sasha.
“Aku akan baik-baik saja, Mischa akan baik-baik saja, dan kau juga, kau akan selalu terlindungi Sasha, jangan cemas,” Kara melirik ke arah pintu dan melihat Yesil melangkah masuk, lelaki itu juga memakai lensa mata kamuflase untuk menjaga supaya Sasha yang masih kecil tidak ketakutan.
Masih banyak yang ingin ditanyakan oleh Kara kepada Sasha, dia masih belum mengorek tentang asal usul Sasha, tentang asal usul Mischa dan juga masih putus asa mencari hubungan dua manusia perempuan ini dengan Natasha. Tapi Kara tahu dia harus menahan dirinya karena Yesil membutuhkan darah Sasha untuk diambil sekarang. Lagipula masih banyak waktu, Kara bersedia menunggu untuk mendapatkan kesempatan memperoleh semua informasi dari Sasha.
Yesil tersenyum lembut, tampak menenangkan lalu mengeluarkan peralatannya dengan hati-hati, setelah semua siap, ditatapnya Sasha penuh perhatian.
“Tidak akan sakit, hanya sengatan kecil, hampir tidak terasa.” ucapnya, dia lalu melirik ke arah Kara untuk kemudian bertanya. “Sasha… apakah kau masih ingat di bulan apa kau dilahirkan?”Sasha mengerutkan kening mendengar pertanyaan itu dan dengan polos menoleh ke arah Kara yang langsung mengangguk memberikan persetujuan. Sasha lalu menatap ke arah Yesil kembali dan memberanikan diri untuk menjawab.
“A… aku kehilangan kedua orang tuaku ketika usiaku tujuh tahun,” Suara Sasha tampak sedih, tetapi anak kecil yang tegar itu cepat-cepat mengganggukkan kepala. “Tapi ya, aku ingat ibu selalu bercerita bahwa aku dilahirkan di bulan ke dua.”
“Bulan ke dua,” Yesil termenung dan langsung melirik Kara yang juga membalas tatapannya dengan penuh arti. “Rasi bintang Pisces,” sambungnya kemudian.
Aslan membaringkan tubuh Mischa di atas ranjang, semula berniat meninggalkan manusia perempuan itu supaya bisa melanjutkan tidurnya, tetapi kemudian berubah pikiran dan malah naik ke atas ranjang, berbaring setengah duduk dengan kepala bersandar di kepala ranjang, lalu merangkul Mischa ke dalam pelukannya.
Secara alami, seperti yang sebelum-sebelumnya, Mischa langsung bergelung ke arahnya dan memeluk dirinya.
Tubuh Mischa selalu tertarik ke arahnya, dan hal itu tampak jelas ketika manusia perempuan ini tidak sadarkan diri. Jika Mischa dalam kondisi sadar, sifat keras kepala dan pembangkangnya mengambil alih hingga perempuan itu mendorong dirinya sekuat tenaga untuk menjauhi Aslan.
Aslan merangkulkan tangannya di rambut Mischa dan tanpa sadar menggerakkan jemarinya untuk membelai di sana, gerakannya seirama dan kembali dirinya merasakan kedamaian, membuatnya tidak bisa menahan diri untuk memejamkan mata.
Sesuatu yang berat di tubuhnya membuat Aslan membuka mata, kehilangan orientasi tetapi langsung mendapatkannya lagi dengan waspada.
Dia tertidur lagi tanpa sadar…
Aslan menunduk dan menyadari bahwa Mischa sudah tidak ada di rangkulan lengannya, entah bagaimana dalam tidurnya, Mischa bergeser turun di atas ranjang besar itu dan sekarang malah memeluk paha Aslan. Lengan Mischa melingkar di paha Aslan, memeluknya kuat, begitupun dengan tubuhnya yang meringkuk rapuh, juga kakinya yang membelit erat di kaki Aslan.
Perempuan ini sepertinya mengira kakinya adalah guling yang hangat dan nyaman… dan Aslan tidak bisa menahan diri untuk menyeringai ketika menatap posisi tubuh Mischa saat ini.
Meringkuk memeluk kakinya… ini sama seperti posisi tanpa sadar yang diambil oleh seorang korban, korban perlakuan kasar yang mencoba menjalin ikatan dan memohon kebaikan hati penyiksanya.
Aslan mengerjapkan mata, tidak tahan dengan desakan di dalam dadanya, lalu menggerakkan kakinya perlahan untuk melepaskan diri dari belitan pelukan Mischa.Gerakannya itu membuat Mischa mengerjapkan mata dan terbangun, sepertinya obat yang diberikan oleh Yesil telah habis khasiatnya.
Perempuan itu tampak kebingungan, matanya terpaku kepada kaki Aslan yang sedang dipeluknya dan dia setengah memekik, untuk kemudian secepat kilat melepaskan pegangannya dan beringsut mundur menjauh.
Mischa lalu mendongakkan kepala dan matanya langsung bertatapan dengan mata legam yang mengerikan itu.
Ekspresi Aslan tidak terbaca, tetapi aura menakutkan menguar dari tubuhnya.
“Aku tadi pingsan,” Mischa berucap gemetar, menyadari bahwa penyakitnya kambuh tanpa diduga.
Dengan ajaib, semenjak dirinya bertemu Aslan, sakitnya sama sekali tidak kambuh, bahkan tidak terasa hingga Mischa bisa menipu dirinya sendiri untuk melupakan bahwa tubuhnya sedang sakit. Tetapi, tekanan dan perlakuan kasar Aslan yang terakhir sepertinya telah mendorong Mischa hingga ke batas pertahanannya hingga penyakitnya kemudian mengambil alih dan membuat dirinya pingsan lagi.
Aslan beranjak dari tempat tidur dan mendesak Mischa sebelum Mischa sempat menghindar, seperti biasa lelaki itu memerangkap Mischa di bawahnya hingga tubuh Mischa yang masih lemah tidak memiliki kesempatan memberontak.
Mata hitam Aslan menatap Mischa dalam, dan kali ini entah kenapa Mischa tidak mampu memalingkan pandangan, seolah terpaku oleh sesuatu yang asing yang tersirat di sana.Mischa mengerutkan kening kebingungan, tidak memercayai apa yang dilihatnya di mata Aslan.
Apakah itu kesedihan? Tetapi itu tidak mungkin, bukan?
“Kenapa kau tidak bilang…” Aslan menggeram, bibirnya menipis dan tatapannya menajam. Ketika melanjutkan kalimatnya kemudian, suaranya terdengar tersekat. “Kenapa kau tidak bilang bahwa kau sedang sakit dan sekarat?” pertanyaan terlepas dari bibir Aslan, membuat Mischa tertegun.Mischa membuka mulut hendak memberikan jawaban, tetapi Aslan dengan cepat menundukkkan kepala dan langsung menciumnya.