
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
***
Aslan membelalakkan mata hitamnya yang mengerikan dengan murka, sementara tangannya bergerak menyentuh pipinya yang memerah akibat tamparan Mischa sekuat tenaga Mischa yang dilabuhkan ke pipinya.
Mischa tahu dia telah menantang Si Singa, dan entah hal mengerikan apa yang akan menimpanya, tetapi sebelum dirinya sempat berpikir jauh, tubuh Mischa yang berdiri di pinggiran ranjang empuk itu terhuyung dan dirinya jatuh ke depan tanpa sempat mempertahankan diri.
Dan beruntung Mischa tidak sampai terbanting ke karpet karena Aslan dengan sigap menangkapnya.
Beruntung?
Mischa meringis dengan kesal ketika merasakan lengan-lengan Aslan yang melingkari tubuhnya.
Sepertinya dia tidak beruntung, tetapi sedang sial yang sesial-sialnya.
Aslan sendiri setengah menggendong Mischa, lengannya melingkari pinggang Mischa, membuat tubuh Mischa menempel erat di dada. Lelaki itu dengan sengaja mengangkat tubuh Mischa naik ke atas, membuat kepala Mischa sejajar dengan dirinya dan tanpa diduga langsung mencium bibir Mischa tanpa permisi.Ciuman itu dalam, dan kasar. Seolah-olah Aslan sedang meluapkan kekesalannya.
Mischa sendiri terkesiap, lalu langsung melakukan segala cara untuk meronta dan menolak ciuman yang dipaksakan kepadanya itu, tangannya bergerak berusaha memukuli pundak Aslan yang sekeras batu sementara kakinya menendang kesana kemari. Mischa bahkan menggeleng-gelengkan kepala untuk melepaskan bibirnya dari pagutan bibir Aslan, tetapi semua itu percuma, karena Aslan malahan memeluk Mischa makin erat dan rapat kepadanya.
Ketika akhirnya bibirnya dilepaskan, Mischa terengah, berusaha menghirup napas sebanyak-banyaknya dan memompa paru-parunya supaya kembali teraliri oksigen.
Aslan sendiri tidak berkata-kata, lelaki itu dengan kejam melepaskan pegangannya di tubuh Mischa dan mendorong Mischa mundur hingga terbanting kembali ke atas ranjang. Setelah itu, tanpa bicara, Aslan melangkah keluar dari kamar dan membanting pintu di belakangnya hingga memperdengarkan suara berdebam yang menggema di seluruh kamar.
﴿﴿◌﴾﴾
Kara menunggu di lorong kamar tempat Mischa dikurung. Lelaki itu setengah menunduk sambil menyandarkan punggungnya ke tembok sementara kedua tangannya terlipat di dada. Begitu melihat Aslan, Kara langsung menegakkan tubuh dan menatap tajam.
“Kau membawa makanannya keluar,” Kara bergumam menarik perhatian Aslan, tetapi Aslan hanya melirik angkuh dan meneruskan langkah tanpa merasa perlu berhenti untuk mendengarkan perkataan Kara.
Kara berdecak menghadapi sikap Aslan. Akhirnya, meskipun kesal, Kara ikut melangkah dan menjajari langkah Aslan.
“Makanan itu belum disentuh sama sekali, dia akan kelaparan kalau kau membuang makanan tadi,” seru Kara kembali sementara suaranya dilumuri oleh ketidaksetujuan yang kental.
Aslan mengangkat alis. “Kenapa kau peduli?”
“Karena dia adalah anomali, mungkin saja dia adalah senjata buatan manusia, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa dia adalah dewi air dari mitologi kita, bukan?” Kara berseru cepat. “Kau tidak bisa melukainya sebelum kita tahu dia itu apa!”
“Dewi air?” Aslan terkekeh mencemooh. “Apakah kau sudah tertular Akrep sehingga memercayai bahwa mitologi itu benar-benar bisa terwujud di dunia nyata?”
“Mitologi itu nyata, Aslan. Keberadaan kita sendiri adalah buktinya. Bukankah Bangsa Zodijak berasal dari Sang Singa dan Dewi Air?” Kara berucap cepat dengan nada serius. “Kau harus mengembalikan makanan itu kepadanya, kalau tidak dia akan kelaparan. Manusia butuh makanan, dia akan sakit kalau kelaparan,” dengan cepat Kara mengubah topik kembali ke pembicaraan awal mereka.
Kali ini Aslan menghentikan langkah dan menolehkan kepalanya dengan waspada.
“Dan kenapa kau peduli pada manusia perempuan itu?” Aslan mengulang pertanyaannya dengan nada tajam.
Kara tertegun, sedikit menelan ludah sebelum menjawab. “Aku selalu peduli pada manusia perempuan, kau pasti tahu kenapa.”
Aslan mendengus. “Alasan sentimentil lagi? Kau sungguh menyedihkan. Kau peduli karena benar-benar peduli, atau kau peduli karena ingin menanti saat untuk membalaskan dendammu pada orang yang salah?” tuduhnya.
Kali ini seluruh tubuh Aslan terpusat pada Kara, mengintimidasi dengan ukuran tubuhnya yang lebih kuat dan lebih tinggi daripada Kara.
“Kau tahu namanya? Kalian sudah berkenalan tadi?” geram Aslan kasar.
Kara menggelengkan kepala. “Bukan itu yang seharusnya kita bicarakan, aku hanya meminta kau memberinya makan dan tidak membiarkannya kelaparan.”
Tatapan Aslan menjadi begitu tajam sementara ekspresinya diwarnai kemurkaan mengerikan.“Manusia perempuan itu tidak mau makan dan menolak kebaikan hatiku, jadi aku mencabut makanan itu karena dia tidak tahu berterima kasih,” suara Aslan terdengar tak terbantahkan. “Jika dia ingin makan, maka dia harus memohon kepadaku.”
Tanpa menunggu reaksi Kara, Aslan membalikkan badan, lalu melangkah pergi meninggalkan ruanga.
﴿﴿◌﴾﴾
“Aslan tidak bisa melakukan itu, bagaimanapun Mischa butuh makan.”
Kara mondar-mandir di ruang makan sementara Kaza hanya bertopang dagu dan memasang ekspresi tidak peduli.
“Dia milik Aslan, Kara. Sudah sejak lama kita semua tidak pernah saling mengurusi perihal perlakuan kita kepada budak kita masing-masing. Aslan boleh saja membiarkan budak-budaknya mati dan kita sama sekali tidak bisa membantahnya, begitupun sebaliknya,” Kaza berucap tenang, sedikit terganggu karena Kara tidak berhenti bergerak bolak-balik dengan gelisah menyeberangi ruangan dengan langkah-langkah panjangnya.
Kara menghembuskan napas kesal. “Aku tahu. Aku jelas tahu peraturan tak tertulis di antara kita. Tapi manusia perempuan itu bahkan tidak bisa disebut budak Aslan, bukan? Racun Aslan bahkan tidak berpengaruh apapun padanya.”
“Tetap saja ada tanda Aslan di lehernya, itu sudah cukup menjadi bukti,” Kaza mengangkat alis. “Jangan pernah memiliki pikiran gila untuk coba-coba menggigit manusia perempuan itu hanya untuk melihat apakah mungkin kau bisa memengaruhinya dengan racunmu. Kita punya aturan yang harus dipatuhi sebagai Bangsa Zodijak, budak yang sudah digigit oleh yang satu, tidak boleh digigit oleh yang lain.
”“Dan budak yang digigit oleh dua tuan yang berbeda, sudah pasti akan mati karena tubuhnya tidak bisa menahan dua racun dari dua Bangsa Zodijak.”
Sebuah sahutan yang tiba-tiba terdengar di pintu membuat Kaza dan Kara menolehkan kepala. Mereka langsung bertatapan dengan Yesil yang berdiri di sana dengan ekspresi tenang.
“Aku mengumpulkan semua saudara kita. Hasil pemeriksaan darah yang kulakukan sudah keluar.”
﴿﴿◌﴾﴾
Mischa berbaring miring, meringkuk sambil memeluk perutnya yang terasa perih. Rasa lapar memang sudah menjadi temannya sehari-hari.
Mereka semua, Kaum Penyelinap selalu bertahan melalui hari demi hari dengan ditemani oleh rasa lapar yang menyiksa. Lumut dan serangga tidak bisa memenuhi nutrisi mereka, karena itulah mereka makin menyedihkan, semakin kurus dan lemah dari hari ke hari dan menyongsong kematian yang tidak terelakkan.
Kalau mereka tidak mati kelaparan, mereka semua akan mati karena dijadikan buruan untuk kesenangan Bangsa Zodijak.
Air mata Mischa yang diteteskannya sejak tadi meleleh di pipi hingga membasahi tempat tidurnya. Tubuhnya berguncang karena isakan marah bercampur sakit hati.
Marah karena dirinya hanyalah manusia yang lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika ditindas, dan sakit hati karena tidak rela Aslan membuang-buang makanan tanpa penghargaan sedikitpun.
Seandainya saja dia punya kesempatan untuk melarikan diri dari tempat ini, meskipun mustahil, apa yang akan dia lakukan?
Mischa menyusut air mata, dipenuhi rasa tidak berdaya yang menggerogoti hati.
Dirinya hanyalah seorang manusia lemah yang tidak bisa mengubah kehancuran yang menggerus seluruh umat manusia dengan kejam.Jika dia berhasil keluar dari tempat ini, dirinya tidak akan bisa membawa perubahan, semua akan sama, dunia akan tetap hancur dan dirinya mungkin akan mati di luar sana karena sudah kehilangan kelompoknya.
Jadi apa yang akan dia lakukan? Berdiam di sini dan menyongsong kematian, atau berusaha melarikan diri dan berjuang meskipun akhirnya juga akan mati dalam kekalahan?
Sebelum Mischa menemukan jawaban, terdengar kembali suara pintu terbuka. Tubuh Mischa langsung menegang meskipun posisinya saat ini adalah memunggungi pintu.
Suara langkah tenang terdengar mendekat seiring dengan perintah dari suara yang sudah dikenal oleh Mischa, sebuah perintah yang diberikan kepada seorang budak yang dengan patuh mengikuti dan meletakkan sesuatu di meja.
Budak itu sepertinya sudah pergi karena Mischa mendengar suara pintu tertutup kembali. Sementara sosok Aslan, sosok lelaki yang memberi perintah tadi, masih berdiri di pinggir ranjang.
Mischa bisa merasakan bulu kuduknya meremang karena tahu pasti bahwa Aslan mengawasinya dengan tajam.
“Kalau kau tidak ingin makan karena takut aku akan memanenmu begitu kau kuat, kau bisa mendorong dirimu untuk makan dengan pikiran bahwa ketika kau sudah kuat, kau bisa sedikit lebih bertenaga untuk melawanku,” Aslan bergumam dingin, memberi jeda sejenak seolah menunggu Mischa bereaksi.
Tetapi ketika Mischa tidak mengatakan apapun, Aslan pun melanjutkan dengan suara penuh ancaman.
“Karena aku akan sangat suka jika mangsaku memiliki tenaga untuk melawan sebelum kuhabisi.”
Setelah mengucapkan kalimat mengerikan yang menggema di seluruh ruangan, Aslan kemudian melangkah pergi, sekali lagi meninggalkan Mischa sendirian di dalam kamar.