Inevitable War

Inevitable War
Episode 32 : Keras Kepala



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira



Yesil sendiri menoleh ke arah tempat Aslan menghilang dibalik pintu, lalu berganti ke arah Kaza yang masih berusaha menetralkan napasnya.


“Jangan berbuat bodoh seperti itu lagi, Kaza, kalau kau masih sayang nyawamu,” ucap Yesil perlahan, menyipitkan mata sambil mengawasi kondisi Kaza.


Setelah memastikan bahwa saudaranya itu baik-baik saja, hanya mungkin akan menderita sakit di leher selama beberapa hari ke depan akibat jejak cengkeraman Aslan yang sangat kuat, Yesil menghela napas panjang.


“Perempuan itu membawa kebaikan bagi bangsa kita, aku sendiri akan berada di sisi Aslan dan menghalangimu jika kau berusaha melukainya lagi. Kita membutuhkan perempuan itu.”


“Benarkah?” Kaza terbatuk-batuk perlahan, berusaha menjernihkan tenggorokannya. “Apakah kau tidak sadar bahwa perempuan itu membuat Aslan menentang kita semua? Manusia perempuan itu menciptakan pepecahan di antara kita,” bantahnya sinis.


“Kau yang menciptakan pepecahan di antara kita kalau kau tetap keras kepala dengan pemikiranmu itu, Kaza,” Yesil menyela sementara suaranya berubah tajam. “Bukan salah Mischa kalau Kara terluka, jauh di dalam hati kecilmu pasti kau tahu. Cepat atau lambat, Kara akan melakukan kebodohan karena cinta butanya yang tak pernah pudar terhadap Natasha. Mischa hanyalah pemicu yang membuat Kara meledakkan mesiunya.”


Yesil tidak menunggu Kaza menanggapi, dia bergerak ke arah sebuah lemari besar yang terdapat di dalam ruangan perawatan Kara, dibukanya laci yang paling atas, lalu dikeluarkannya sebuah botol kaca berisi cairan kental berwarna bening.


“Ini akan meredakan sakitmu, kau boleh mencampurnya dengan air dan meminumnya, atau mengoleskannya saja ke lehermu,” ucap Yesil perlahan sambil menyerahkan botol kaca itu kepada Kaza, lalu langsung membalikkan badan dan melangkah pergi ketika Kaza menerima botol itu.



"Setidaknya biarkan aku memeriksa lehernya."


Yesil mengejar cepat ke arah Aslan yang setengah menyeret Mischa dalam gandengan tangannya. Manusia perempuan itu tidak membantah, hanya mengikuti seretan kasar Aslan dengan langkah terseok-seok kepayahan, membuat Yesil hampir-hampir tidak bisa menahan diri untuk menggeleng-gelengkan kepala melihat betapa tidak pandainya Aslan memperlakukan perempuan.Langkah Aslan sendiri memelan begitu mendengar suara Yesil, lelaki itu melirik ke arah Mischa, lalu menatap kembali ke arah Yesil.


“Dia akan baik-baik saja,” simpul Aslan dingin, hendak menarik kembali Mischa untuk pergi meninggalkan area kediaman Yesil.


Tidak ada cara lain, Yesil pada akhirnya mempertaruhkan dirinya untuk mencengkeram pergelangan tangan Mischa yang bebas, membuat tarikan Aslan melambat.


Seketika itu juga Aslan menoleh, matanya langsung menyipit dan ekspresi wajahnya dipenuhi kemurkaan ketika menyadari bahwa Yesil telah berani-beraninya mencengkeram pergelangan tangan Mischa.


“Lepaskan….”“Biarkan aku memeriksanya, Aslan,” Yesil menyela, tidak membiarkan Aslan menyelesaikan desisannya. “Manusia perempuanmu ini baru saja dicengkeram lehernya oleh Lelaki Zodijak yang sedang marah dan kehilangan akal. Aku harus memastikan tubuh manusianya yang rapuh baik-baik saja.”


Sekali lagi perkataan Yesil sepertinya berhasil menembus akal logika Aslan, lelaki itu akhirnya melepaskan pegangannya dari tangan Mischa dan menganggukkan kepala sambil tak lupa menatap Yesil dengan tatapan mengancamnya yang khas.


“Lakukan dengan cepat,” geramnya tak sabar.



Mischa hanya terdiam mengamati ketika Yesil sekali lagi mendudukkannya di kursi putar berbentuk bulat berlapis bahan serupa kulit berwarna hitam tanpa sandaran.


Sang Peneliti dari Kaum Zodijak ini memperlakukannya dengan lembut, memeriksa lehernya dengan hati-hati sebelum kemudian mengoleskan obat krim yang terasa dingin menyenangkan di lehernya. Sentuhan pertama terasa nyeri hingga Mischa terkesiap, tetapi sensasi dingin yang meliputi kemudian meredakan sakitnya hingga membuat Mischa merasa nyaman.


Setelah seluruh bagian lehernya terbalur oleh krim dingin itu, Yesil melilitkan dengan hati-hati sejenis perban putih tapi dengan tekstur sedikit keras yang anehnya terasa begitu lembut membalut kulit lehernya.


“Ini akan menjaga luka di lehermu dari gesekan dan sentuhan yang mungkin akan membuatnya semakin parah. Krim yang kuoleskan ke lehermu akan mempercepat penyembuhannya dan dia akan bereaksi dengan sempurna di tempat tertutup, mungkin dalam dua puluh empat jam kau bisa kemari lagi dan aku akan membantumu melepaskan perban ini,” ucap Yesil perlahan, menatap Mischa dengan tatapan prihatin.


Aslan yang sejak tadi berdiri bersedekap dengan tubuh tegang di dinding langsung menegakkan tubuhnya ketika mendengar perkataan Yesil.


“Dia tidak perlu ke tempatmu lagi,” ucap Aslan dengan nada tidak setuju. “Aku yang akan melepaskan perbannya nanti,” desisnya perlahan.


Yesil melirik ke arah Aslan, tahu bahwa keberuntungannya sudah habis dan tidak ada gunanya memaksakan keinginannya kepada Aslan. Saudaranya yang keras kepala itu tidak akan mendengarkan dirinya.


Aslan menganggukkan kepala tipis, lalu memasukkan botol kaca kecil itu ke balik mantelnya.


“Sudah selesai? Aku bisa membawa manusia perempuanku pergi?”


Yesil menganggukkan kepala, tapi tatapannya masih penuh rasa ingin tahu ke arah Mischa.


“Kau tidak berbicara sama sekali, apakah itu karena tenggorokanmu sakit, atau karena kau memang tidak mau berbicara kepadaku?” tanyanya lembut.


Sebenarnya karena dua-duanya. Mischa meringis tanpa sadar. Dirinya lalu berdehem untuk meredakan nyeri di lehernya dan mencoba bersuara.


“Kara…” Mischa memberanikan diri bertanya lirih kepada Yesil dan melawan rasa sakit yang menyerang di tenggorokannya. Mischa harus bertanya sebab dia tahu bahwa itu adalah satu-satunya kesempatan baginya. “Apakah dia… akan sembuh?”


Yesil menyeringai, menyadari aura Aslan yang menggelap dipenuhi kemarahan. Dia lalu cepat-cepat menganggukkan kepala untuk meminimalisasi kemurkaan Aslan.


“Dia ada dalam perawatanku, itu adalah jaminan bahwa Kara akan sembuh,” jawabnya.


Setelahnya Yesil hanya bisa menatap prihatin ketika Aslan bergerak merangsek maju dan mencekal lengan Mischa, lalu menariknya dengan kasar hingga hampir jatuh dari kursinya.


Tanpa ucapan terima kasih, bahkan juga tanpa ucapan selamat tinggal sekalipun, Aslan langsung menyeret Mischa kembali dan membawanya meninggalkan ruangan sambil membanting pintu ruangan itu di depan muka Yesil.



“Kau sangat kejam, menyiksa saudara-saudaramu sendiri sampai seperti itu,” Mischa berusaha berbicara dan menyuarakan pikirannya sementara napasnya terengah karena terseok-seok mengikuti langkah Aslan yang lebar.


Aslan sendiri hanya menoleh ke arah Mischa dan melemparkan ekspresi mencemooh.


“Aku akan menghajar siapapun yang menentang atau menghalangi jalanku,” dipandangnya Mischa tanpa belas kasihan. “Dan kau bukan pengecualian. Aku tidak akan menahan diriku kalau kau memancing sampai batas kesabaranku.”


Ucapan itu bagaikan janji yang diucap dengan nada mengerikan dan mengirimkan sinyal menakutkan nan samar tapi membuat bulu kuduk berdiri.


“Aku tidak takut padamu,” Mischa melawan rasa takut yang menggerogoti dirinya dan meneriakkan pemikirannya. “Kalian Lelaki Zodijak sungguh tidak pantas dihormati, rela mengorbankan saudara sendiri demi kepentingan kalian. Kalau saja tidak ada cincin sialan ini yang menggenggam nyawa Sasha, aku lebih memilih mati daripada harus mengikuti kemauanmu.”


Dalam sedetik setelah Mischa menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya didorong dengan kasar hingga membentur tembok, dan tubuh Aslan langsung menyusul mendesaknya hingga ke dinding.


Aslan meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri kepala Mischa, telapaknya menangkup tembok sementara lelaki itu menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Mischa, dekat sekali hingga napasnya yang panas menyatu dengan napas Mischa.


“Kau ada di sini hanya untuk kepentingan Bangsa Zodijak, ketika kau sudah tidak berguna lagi, maka dengan senang hati aku akan menghabisimu,” suara Aslan dipenuhi kemarahan dan nada mengancam yang menyeramkan, tetapi entah kenapa tatapan matanya malahan menguarkan hasrat tak tertahankan. “Dengan senang hati aku akan meremukkan tubuhmu.”


Aslan menggesekkan hidungnya ke sisi pelipis Mischa, menghirup aromanya nan menggoda sementara kedua tangannya bergerak turun, menelusuri sisi samping tubuh Mischa lalu merayap ke pingganya untuk kemudian menarik pinggang Mischa ke arah tubuhnya dengan gerakan provokatif. “Aku benar-benar akan menghancurkanmu…,”


Suara Aslan yang serak mengirimkan sinyal bagi Mischa untuk menyelamatkan diri, tangannya yang bebas langsung bergerak refleks, berusaha mendorong tubuh besar lelaki itu supaya menjauh darinya.


Sayangnya, seperti biasa, usahanya itu sia-sia belaka. Aslan malahan menunduk dan menatapnya dengan tatapan mengejek karena sudah pasti tubuh kurus kecil Mischa bukanlah tandingan bagi lelaki Zodijak yang bertubuh besar dan sangat kuat.


Tatapan mencemooh itu membuat kemarahan Mischa tersulut, mendorongnya menggigit bibir dan berbuat nekat, melakukan perlawaan khas yang dilakukan oleh seorang perempuan jika terdesak, Mischa mengangkat tangannya ke pipi Aslan yang sedang lengah dan menganggap remeh, lalu mencakarkan kukunya yang mulai panjang ke sana.


Rupanya kemampuannya untuk melukai lelaki di depannya itu masih sama kuatnya seperti sebelumnya karena kuku-kukunya ternyata mampu melukai kulit Aslan, menggores dalam dan mencipta luka hingga mengalirlah darah segar dari sana, berwarna gelap dan membuat penampilan Aslan kini tampak lebih mengerikan daripada sebelumnya.


Aslan sama sekali tidak tampak kesakitan. Ekspresinya lebih menunjukkan sikap jengkel,  dan itu bukan karena luka fisik tetapi lebih dikarenakan harga dirinya yang terluka.


Dirinya seorang pemimpin Zodijak yang sangat kuat, dengan mudahnya bisa berdarah hanya karena cakaran seorang manusia perempuan lemah yang bahkan tidak bisa dipandang sebagai setengah tandingannya.


“Perempuan sialan! Aku akan senang sekali ketika bisa meluluhlantakkanmu hingga kau tidak memiliki kekuatan untuk memberontak lagi!” raung Aslan kasar, lalu dengan gerakan secepat kilat sebelum Mischa bisa melawan, Aslan meraih kedua pergelangan tangan Mischa dengan kasar dan menahannya hingga terasa sakit sementara diangkatnya tubuh Mischa hingga naik ke arahnya dan diciumnya bibir  Mischa.


Lama sekali ciuman itu berlangsung dan Aslan baru berhenti ketika mendengar suara tercekik dari tenggorokan Mischa, pertanda perempuan itu telah kehabisan napas. Bibir Aslan melepaskan diri dari bibir Mischa kemudian Aslan menegakkan tubuh dan membebaskan perempuannya.


Mischa langsung megap-megap, berusaha mengambil napas sebanyak mungkin untuk mengisi paru-parunya yang terkuras habis, sementara Aslan yang masih mencekal kedua pergelangan tangan Mischa menunduk dan memeriksa keadaan perempuan itu.


Aslan mendecakkan lidah dengan jengkel, berusaha menjernihkan pikiran sadarnya, lalu tanpa kata membungkuk untuk meraup tubuh Mischa dan mengangkat Mischa ke pundak serupa mengangkat barang untuk kemudian membawanya pergi tanpa peduli dengan rontaan dan teriakan protes Mischa.



Ini adalah versi sensor. Anda bisa melihat lengkapnya di projectsairaakira dot com, Inevitable War part 10