
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
“Saya… saya hanya ingin melihat keadaan Natasha… hari ini darahnya diambil lebih banyak dari yang biasanya karena kita sedang meningkatkan dosis untuk kekuatan pasukan… saya hanya ingin memastikan Natasha baik-baik saja.” Kale akhirnya mengaku, jawabannya jujur karena dirinya memang benar-benar mencemaskan kondisi Natasha.
Sang Dokter telah mendengar bahwa Bangsa Zodijak telah membumi hanguskan Bangsa Timur Jauh hingga tak bersisa. Dengan kejadian itu, maka sudah tidak ada lagi negara yang bertahan di bumi ini untuk melawan Alien Zodijak yang menginvasi bumi.
Seluruh manusia telah tercerai berai, tanpa kekuatan, tanpa pemerintahan dan tidak ada lagi pemersatu. Sekarang kaum manusia telah turun di kelas yang paling rendah, dari yang berjuang untuk melawan, menjadi berjuang hanya untuk bertahan hidup.
Sang Dokter tentu menganalisa itu semua, dia telah mengirimkan pasukan-pasukan khusus untuk mengumpulkan orang-orang dari Bangsa Timur Jauh yang tersisa yang bisa dilatih menjadi prajurit. Mereka memiliki beberapa pesawat yang harus terbang diam-diam supaya tidak ketahuan oleh radar dan pesawat pengintai milik Bangsa Zodijak, untuk menyusup masuk ke lokasi Bangsa Timur Jauh dan mengumpulkan sukarelawan yang memenuhi syarat untuk direkrut menjadi pasukan Sang Dokter.
Persyaratannya cukup sederhana, mereka harus bertubuh sehat dan kuat tanpa penyakit atau luka yang menghantui, laki-laki ataupun perempuan tidak masalah, segera setelah disuntik dengan darah Natasha, mereka akan menjadi makhluk yang sama, mutan super yang mengabdikan diri untuk bertempur serta siap mati dalam perjuangan yang mereka yakini masing-masing.
Sayangnya itu masih belum cukup dan Sang Dokter memiliki firasat bahwa tidak lama lagi akan tiba waktunya dimana mereka harus bertarung melawan Bangsa Zodijak.
Karena itulah setelah berkonsultasi dengan tim peneliti, Sang Dokter memerintahkan untuk memberikan dosis ganda bagi semua prajurit dengan suntikan darah Natasha.
Yang berarti bahwa darah Natasha harus diambil sampai dua kali lipat lebih banyak dari biasanya…
“Kau mengerti,bukan? Bahwa saat ini Natasha berkorban untuk umat manusia? Supaya kita bisa melawan Bangsa Zodijak? Karena tidak ada cara lain yang bisa membantu kita selain menggunakan darah Natasha,” Sang Dokter berucap perlahan sambil mengamati ekspresi Kale yang tampak sedih ketika memandang tubuh Natasha yang terbujur kaku. “Kalau Natasha bangun suatu saat nanti dan menyadari bahwa dirinya telah berjasa bagi kita semua, dia pasti akan sangat senang, percayalah.” kembali Sang Dokter berucap, nada suaranya membujuk dan memengaruhi.
Kale tampak tercenung, kesedihan masih merauti wajahnya, tetapi dia akhirnya menghela napas panjang dan menganggukkan kepala.
“Ya, Dokter. Saya mengerti… hanya saja.. apakah proses ini tidak terlalu memaksakan Natasha? Saya khawatir sesuatu terjadi kepadanya dan pada akhirnya bukan hanya kita kehilangan Natasha, kita juga kehilangan sumber darah untuk kekuatan,” Kale menyuarakan apa yang mengganggu hatinya dengan suara ragu.
Sang Dokter bersedekap, melirik sedikit ke arah Natasha, lalu menggelengkan kepala.
“Aku sudah berkonsultasi dengan tim peneliti yang bertugas mengawasi dan mengobservasi Natasha, mereka semua sudah memastikan akan menjaga supaya kondisi darah Natasha yang disisakan di tubuhnya cukup untuk bersirkulasi dan menjaganya supaya bertahan hidup. Jika jumlah darah tidak mencukupi, tentu saja mereka akan berhenti mengambil demi keselamatan Natasha. Mereka sudah menerima perintahku dengan gamblang, bahwa keselamatan Natasha adalah yang utama, karena dia adalah sumber kekuatan kita.”
“Terima kasih, Dokter,” Kale meringis, kesedihan semakin nyata, membuat wajahnya menggelap. “Bagaimanapun juga, aku tidak bisa memandang Natasha hanya sebagai sumber darah, dia… dia adalah saudariku…” ujarnya dengan suara bergetar.
Hal itu sama sekali tidak menggetarkan hati Sang Dokter, dia menatap Kale dengan pandangan menilai, sebelum kemudian mengeluarkan kalimat dengan nada penuh ironi.
“Itulah yang menjadi kelemahanmu selama ini, Kale. Kau cukup kuat dan pantas menjadi pemimpin pasukanku, tetapi aku tidak pernah menunjukmu. Itu karena aku tahu bahwa ketika kau sedang berada di pertempuran, kau tidak fokus pada pertempuran itu. Hatimu masih tertinggal di sini, mencemaskan Natasha.”
Kale tampak malu, mengacak rambutnya seolah bingung.
“Maafkan saya…” akhirnya Kale bergumam pelan, menghela napas panjang, tak tahu harus berkata apa.
Sang Dokter tidak menjawab permintaan maaf itu, sengaja membiarkan Kale berkubang dalam rasa bersalah.
“Bagaimana dengan tim pencarian? Apakah kalian menemukan sesuatu?” tanyanya kemudian mengalihkan pembicaraan.
“Kerahkan pasukanmu dan perintahkan mereka berusaha lebih keras. Bahkan di medan yang berat ataupun harus sembunyi-sembunyi sekalipun, mereka harus mendapatkan sesuatu,” mata Sang Dokter menyipit, menatap ke arah Kale dengan pandangan mengancam. “Kau tahu, bukan? Bahwa jika kita menemukan wanita-wanita lain yang seperti Natasha, maka kau juga bisa meringankan tugas Natasha, saudarimu itu tidak akan menanggung suplai darah untuk seluruh pasukan, dia bisa berbagi dengan wanita baru kita.”
“Saya mengerti, Dokter. Saya akan berusaha,” Kale memberi hormat dengan patuh.
“Bagus.” Sang Dokter lalu melangkah hendak meninggalkan ruangan. Ketika sampai di ambang pintu, lelaki itu menghentikan langkah dan menoleh ke arah Kale. “Lebih baik kau berlatih untuk tidak menengok Natasha setiap hari. Kau dengar nasehatku tadi, bukan? Dengan menengok Natasha tiap hari, sama saja kau mengorek-ngorek kelemahanmu sendiri. Dan manusia yang lemah seperti itu, tidak akan pantas menjadi pemimpin pasukanku,” ucapnya kemudian dengan nada dingin, membuat Kale mengkerut dipenuhi oleh rasa bersalah.
Aslan mencium bibir Mischa dengan sepenuh hati. Kedua tangannya mencengkeram pinggul Mischa, mengatur posisi perempuan itu supaya duduk di atasnya dengan pas.
Ketika ciuman itu selesai, napas mereka berdua terengah-engah tak terkendali.
Aslan lalu nmeraih tangan Mischa, mengecupnya pelan untuk kemudian meletakkan tangan Mischa di dadanya. Seketika Mischa terkesiap karena dada Aslan terasa begitu dingin. Kulit Bangsa Zodijak memang cukup sejuk, hampir-hampir bisa disebut dingin.
Mungkin karena metabolisme mereka memungkinkan Bangsa Zodijak tidak makan dan hanya mengkonsumsi air…
Apakah tubuh mereka sejuk karena sebagian besar tubuh mereka berisi air?
Mischa tanpa sadar menelusurkan jarinya untuk mengusap seluruh permukaan kulit dada Aslan dengan penuh rasa ingin tahu, dan lelaki itu mengerang, menarik tubuh Mischa merapat kepadanya dan menenggelamkan kepala di lekukan antara leher dan bahu Mischa.
“Kau kesakitan?” Mischa bertanya bingung mendengar erangan Aslan, menduga-duga dalam hati.
Suara erangan Aslan tampak menahan sakit, padahal dia hanya mengusapkan tangannya di permukaan kulit Aslan.
Apakah ini penyebab kaum laki-laki Bangsa Zodijak tidak mengizinkan wanitanya menyentuh mereka? Karena hal itu membuat mereka sakit?
Atau jangan-jangan… Mischa memiliki kekuatan untuk menyakiti Aslan meskipun hanya dengan menyentuhnya?
Karena jika itu memang yang terjadi, maka Mischa akan sangat senang, dia akan sengaja menyentuh Aslan dimana-mana kalau hal itu bisa membalaskan dendamnya. Menyakiti Aslan terdengar begitu menyenangkan, apalagi meembayangkan Aslan memohon ampun karena kesakitan kepadanya.
Sayangnya apapun dugaan yang ada di dalam pikiran Mischa, kedua-duanya salah. Aslan mengangkat kepala dari lekukan leher Mischa, membiarkan Mischa menatap mata hitamnya yang berkabut.
“Aku tidak kesakitan,” jawab Aslan tenang dan membunuh kesenangan Mischa yang hanya memiliki umur pendek. “Aku kesenangan.” tiba-tiba saja Aslan menyeringai melihat Mischa yang mengerutkan dahinya, diraihnya dagu Mischa dan diberikannya kecupan menggoda di bibir lembut yang begitu manis seolah meminta dicium lagi dan lagi. “Ada apa, Mischa? Kau tampak tidak senang? Bukankah merupakan kebahagiaan bagi seorang istri ketika dia bisa menyenangkan suaminya?” sambungnya kemudian dengan nada mencemooh yang disengaja.
Mischa meronta, menggelengkan kepala supaya Aslan tidak menyentuhkan bibirnya di bibir Mischa lagi. Dilemparkannya tatapan mata berapi-api ke arah Aslan.
“Aku tidak seperti itu. Aku tidak senang kalau kau senang,” geram Mischa marah, menarik tangannya menjauhi tubuh Aslan tetapi sayangnya dia kalah sigap.
Aslan sudah mencengkeram tangan Mischa kembali untuk menahannya. Didorongnya tangan Mischa supaya menangkup di dada Aslan yang bidang, dipakunya di sana.
“Aku tidak peduli dengan kesenanganmu, Mischa. Yang penting adalah kesenanganku. Apa yang kau rasakan tidak penting bagiku. Kau tidak berarti apa-apa selain hanya sebagai pemuasku, hanya itu saja,” Aslan berucap mencemooh sambil menatap lurus-lurus ke wajah Mischa yang marah luar biasa. Dia memang sengaja memancing kemarahan Mischa, entah kenapa Aslan menyukai sisi diri Mischa yang meledak-ledak dan seolah kehilangan rasa takut terhadapnya.
“Dasar Alien… Alien sombong! Alien arogan tak tahu malu!!” napas Mischa terengah karena emosi ketika dia berteriak, menyerukan ucapan penuh kebencian yang segera tenggelam dalam ciuman Aslan nan kuat.
Ciuman itu dan Aslan tidak memberi Mischa kesempatan untuk menolak.
“Aku tak tahan lagi. Persetan dengan aturan menyentuh,” Aslan menggeram dengan suara parau sebelum kemudian mengangkat tubuh Mischa dari atas pangkuannya dan membanting tubuh Mischa ke atas ranjang.