Inevitable War

Inevitable War
Episode 136 : Menemui Kekasih



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M ER


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )




“Bagaimana keadaan Yesil?”


Hampir saja Kaza meluncurkan nama Sasha juga, beruntung dia berhasil menahan lidah tepat pada waktunya. Pertanyaan itulah yang langsung muncul di pikiran Kaza ketika dia berpapasan dengan Kara di lorong.


Sepertinya Kara telah mengetahui kedatangan mereka semua kembali ke Istana Bangsa Zodijak ini dan berniat menemui mereka di ruang besar pertemuan yang biasa. Karena itulah Kara berpapasan dengan Kaza, sebab begitu menjejakkan kakinya turun dari pesawat, Kaza langsung meloncat dan bergerak secepat kilat untuk menuju area Yesil.


Ada dua makhluk yang sangat ingin dilihatnya saat ini. Yesil adalah salah satunya, dan yang satunya lagi… adalah monster mungil yang sangat ingin dibencinya…


Kara mengangkat alis melihat betapa tergesanya Kara menuju ke arah yang berlawanan dengannya. Saudara kembarnya ini bagaikan buku yang terbuka, mudah dibaca tetapi selalu bersembunyi di balik sikap tertutup yang bertolak belakang dengan  minat aslinya. Karena itulah Kara memutuskan untuk sedikit mengganggu Kaza.


“Apakah kau tidak ingin menceritakan kepadaku hasil penyerangan kalian?” tanyanya tenang, sengaja menunda.


Ekspresi Kaza tampak tidak sabar. Lelaki itu mendengus seolah kesal akan sikap Kara yang malahan menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan juga.


“Kau bisa bertanya kepada Akrep dan yang lainnya nanti. Mereka ada di ruang pertemuan,” Kaza memiringkan kepala, menatap Kara dengan tajam. “Apakah kau sengaja menunda menjawab pertanyaanku tadi?” ujarnya dengan suara tak kalah tajam.


Kara tersenyum tipis menanggapi sikap Kaza. Tetapi ketika akhirnya menjawab pertanyaan Kaza, suaranya terdengar serius.


“Kondisi Yesil masih sama. Sampai saat ini stabil, dia tidak membaik tetapi juga tidak memburuk. Tetapi aku cemas kalau sampai batas waktu tertentu kita tidak bisa menemukan manusia perempuan yang menjadi pasangan air sucinya, kondisi Yesil akan menurun.”


Ekspresi Kaza turut mengeras mendengar jawaban Kara.


“Segera setelah ini, kita akan menyusun strategi untuk menemukan pasangan air suci Yesil. Aku akan melakukan beberapa hal dulu, melihat keadaan Yesil, membersihkan diri,  lalu mengikuti pertemuan dengan saudara-saudara kita di ruang pertemuan.”


“Aku akan kesana lebih dulu,” Kara memiringkan kepala, menatap Kaza dengan penuh rasa ingin tahu. “Apakah kau tidak ingin melihat kondisi Sasha?”


Pertanyaan Kara langsung membuat ekspresi Kaza berubah masam.


“Dia pasti juga baik-baik saja, bukan? Lagipula, jika aku menengok Yesil mau tak mau aku juga akan terpaksa melihat monster kecil itu.”


Sebutan ‘monster kecil’ yang meluncur kasar dari bibir Kaza dibarengi dengan sikap terpaksanya yang tidak tulus membuat Kara harus menahan diri kuat-kuat supaya tidak terkekeh. Tetapi kemudian, ketika dirinya teringat pada Sasha dan keanehan misterius yang baru saja terjadi sebelum kedatangan saudara-saudaranya terhadap Sasha, senyum Kara langsung hilang. Ditatapnya Kaza dengan ekspresi serius.


“Apakah ada sesuatu yang terjadi di sana? Menyangkut Mischa?” tanya Kara tiba-tiba memutuskan untuk menahan informasi dan memberitahukan tentang keanehan yang terjadi pada Sasha nanti di saat pertemuan dengan seluruh saudara-saudaranya.


Seketika itu juga Kaza mengerjapkan mata. Pertanyaan menyangkut Mischa membuatnya langsung teringat kepada Natasha.


Astaga! Entah kenapa dia melupakan tentang Natasha dan sama sekali tidak terpikirkan untuk menyampaikan kabar menggembirakan itu kepada Kara segera setelah mereka bertatapan muka. Pikirannya terlalu tersita oleh Sasha.


Ya, sejak turun dari pesawat tadi, Kaza menghambur ke area ini karena dia ingin melihat keadaan Sasha.


Perasaan bersalah langsung meliputi diri Kaza ketika menyadari bahwa kabar sepenting itu, menyangkut ditemukannya Natasha kembali, malahan terlambat dia sampaikan kepada Kara.


Kaza langsung menggerakkan kedua tangannya, lalu menyentuh kedua bahu Kara yang memiliki tinggi sama persis dengannya. Kedua mata mereka sejajar bertatapan. Yang satu bingung akan perubahan tingkah saudaranya yang tiba-tiba, sementara yang lainnya tampak tajam seolah berusaha menguatkan.


“Mischa baik-baik saja. Semua saudara kita baik-baik saja. Imhotep berhasil melarikan diri tetapi kita semua akan menyusun strategi untuk mengejar, menemukan dan mengalahkannya. Kau harus segera ke ruang pertemuan. Akrep dan yang lainnya ada di sana, dan satu lagi, seseorang yang sangat ingin kau temui juga ada di sana.”


Mata Kara langsung melebar. Darah seolah surut dari kepalanya, membuat permukaan kulitnya berubah sedikit pucat.


“Apakah maksudmu…?” pertanyaan itu hilang, tertelan di tenggorokan, seolah-olah Kara tidak berani melanjutkan karena takut terhempas dalam kekecewaan.


Tetapi Kaza langsung menganggukkan kepala, memupuskan bayangan keraguan yang terpancar jelas dari mata Kara.


“Ya, Kara. Natasha ada di sana…”


Kaza bahkan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, karena Kara langsung melepaskan diri hanya dalam sepersekian detik yang tak terbaca, gerakannya begitu cepat, seperti kilat meloncat, menerjang dan berlari meninggalkan Kaza menuju ruang pertemuan.


Kaza ditinggalkan sendirian di lorong, menatap bayangan saudaranya yang hilang ditelan kelokan lorong di ujung sana.


Ada senyum ironi di bibirnya sebelum dia menghela napas panjang.


Kara bahkan sama sekali tidak terlihat seperti habis terluka karena ledakan bom pada peristiwa sebelumnya. Lelaki itu tampak seperti prajurit, yang berlari gagah dan membusungkan dada untuk bertemu kekasih hatinya.


 



 


Pintu ruangan besar tempat Yesil dirawat terbuka perlahan, sementara Kaza melangkahkan kakinya masuk. Mata gelapnya langsung terpaku pada sosok Yesil yang tampak pucat tak sadarkan diri.


Beberapa alat pemantau kehidupan terpasang di tubuh Yesil, menunjukkan bahwa dibalik tubuh kaku tak bergerak seperti mayat itu, Yesil masihlah hidup.


Yesil adalah saudaranya, dan melihat bagaimana saudaranya terkapar tak berdaya membuat Kaza seolah merasakan kesakitan yang sama.


Mereka akan melakukan sesuatu. Yesil tidak boleh dibiarkan berbaring seperti ini dan semakin lemah dari waktu ke waktu.


Entah bagaimana caranya, segera setelah ini mereka akan mencari cara untuk menemukan perempuan pasangan air suci Yesil, satu-satunya makhluk di dunia ini yang mungkin bisa menyelamatkan saudaranya tersebut.


“Aku akan menyelamatkanmu, Yesil. Kau hanya harus bersabar, berjuang dan menunggu sedikit lebih lama lagi.” ujar Kara setengah berbisik


.“A… apa yang terjadi pada… Yesil?”


Suara lemah bercampur gemetar ketakutan itu membuat Kaza langsung menolehkan kepala dengan tajam. Tetapi segera, sebelum Sasha melihat matanya, Kaza menyadari bahwa dia tidak mengenakan lensa mata palsu.


Ketika memasuki ruangan ini, Kaza sama sekali tidak berpikir bahwa Sasha akan sadarkan diri, karena itulah dia tidak menjaga diri dengan memakai lensa mata palsu.


Monster kecil ini bisa saja histeris ketakutan ketika melihat matanya dan menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan Bangsa Zodijak.


Saat ini, satu-satunya hal yang tidak diinginkan Kaza adalah melihat Sasha menjadi histeris lalu merepotkannya hingga memancing kesabarannya.


“Ka…ra?” Sasha bertanya perlahan, terdengar sedikit takut-takut. Dia baru saja memperoleh kesadaran, membuka mata dan menemukan punggung lebar sosok seperti Kara yang sedang membelakanginya. Ketika mendengar sosok itu berkata, barulah Sasha menolehkan kepala dan menemukan Yesil yang terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang.


Ingatan Sasha masih kabur dan saling tumpang tindih satu sama lain akibat dirinya yang baru terbangun dari ketidaksadaran panjang, tetapi satu hal yang diingatnya, terakhir kali ketika bertemu dengan Yesil, lelaki baik yang sangat kebapakan itu tampak baik-baik saja dan tidak terluka suatu apapun.


Apa yang terjadi? Sasha mengerutkan kening, kepalanya tiba-tiba terasa pening ketika dia berusaha menyatukan potongan-potongan ingatannya yang tercerai berai.


Sayangnya pertanyaan ragu Sasha itu malahan menyulut kemarahan Kaza hingga membuatnya menggeram dengan nada tidak bersahabat.


“Aku bukan Kara. Aku Kaza,” jelasnya kasar tanpa menolehkan kepala ke arah Sasha.


Kalimat Kaza itu seolah menjadi titik kunci rangkaian ingatan Sasha supaya menyatu kembali.


Ingatannya langsung terlempar pada detik sebelum dia kehilangan kesadaran. Sosok lelaki ini, yang memiliki wajah sama persis dengan Kara yang baik, tetapi sangat pemarah berkebalikan dengan Kara.


Dan Kaza terakhir kali mendatanginya dengan kemurkaan tak terjelaskan sebelum gempa besar itu terjadi.Ketakutan langsung menyelimuti Sasha, membuatnya beringsut menjauh dari ranjang dan memeluk selimut rapat di dadanya seolah-olah selimut tak berguna itu adalah tameng yang bisa melindungi dirinya.


Kaza bukannya tidak mendengar suara gemerisik kain di belakangnya ketika dia dengan jelas menyatakan identitasnya kepada Sasha.


Monster kecil ini bersikap bersahabat kepada Kara, tetapi ketakutan kepadanya.


Hal itu membuat Kaza mendengus marah, tetapi saat ini dia sedang tidak ingin melampiaskan kemarahannya karena ada hal yang lebih penting yang harus dia pikirkan.


Saat ini Sasha belum melihat mata aslinya yang gelap dan hitam pekat, dan Kaza bertekad bahwa Sasha tidak akan melihat mata aslinya… setidaknya untuk saat ini.


 



 



 


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author yang berjudul Essence Of The Darkness selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD telah tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


Diterbitkan oleh projectsairaakira.


Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :


EOTD Bonus 1 : Morning Sick


EOTD Bonus 2 : Penyesalan


EOTD Bonus 3 : Anti Akram


EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak


EOTD Bonus 5 : Perpisahan


EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi


EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi


EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri


EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah


EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia


Terima Kasih.


AY