
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira.
Mischa memejamkan mata, harapannya pupus sudah.
Pintu ini ternyata terkunci. Dengan takut Mischa mencoba menilai situasi, ditolehkannya kepala perlahan ke arah Aslan dan Mischa terperanjat ketika mendapati bahwa Aslan ternyata sudah bangun.
Entah sejak kapan, lelaki itu duduk di pinggir ranjang, kedua lengan di sisi tubuh, punggungnya tegak dan mata hitamnya terbuka, menatap mengerikan ke arah Mischa.
Rasa takut langsung merayapi diri Mischa, dia segera membalikkan tubuh untuk melindungi diri, menempelkan punggungnya ke pintu dan menjaga kedua tangannya di dada.
Dari pengalaman sebelumnya, Mischa tahu lelaki itu bisa terluka karena serangannya… itu berarti di saat-saat genting, Mischa harus berusaha menyerang sekuat tenaga untuk mempertahankan diri.
Mata Mischa mengamati pipi Aslan dimana bekas cakarannya masih ada tapi sudah sembuh secara ajaib, menyisakan gurat merah yang hampir pudar.
Aslan tiba-tiba bangkit dari duduknya tanpa suara dan berdiri, membuat Mischa tersentak.
Mereka berdua bertatapan, yang satu dipenuhi teror ketakutan, yang lainnya lagi gelap dan tak terbaca.
“Kenapa kau diam? Jika kau ingin membunuhku, maka lakukan saja!” akhirnya Mischa yang berseru memecah keheningan, mendongakkan dagu dengan sikap berani meski hatinya ketakutan setengah mati
Seulas senyum kejam muncul di bibir Aslan sementara lelaki itu masih berdiri sambil tetap menjaga jarak dari Mischa dan matanya menatap tajam ke arah Mischa.
“Kalau aku ingin membunuhmu, kau sudah mati sejak semalam,” Aslan tiba-tiba melangkah mendekat sementara Mischa kembali terkesiap.
“Jangan mendekat!” teriaknya keras sambil mengulurkan kedua lengannya di depan dada.
“Mendekat atau bukan, itu bukan berasal dari kehendakmu. Itu berdasar dari kehendakku,” Aslan mendesis kasar, lalu melompat untuk menangkap Mischa.
Seketika Mischa berkelit, tubuhnya yang kurus memang memungkinkannya bergerak gesit. Mischa lalu berlari secepat dia bisa untuk menghindari kejaran Aslan.
Pintu kamar mandi…. Dia harus bisa mencapainya dan mengunci dirinya di dalam supaya Aslan tidak bisa meraihnya!
Mischa menyeberangi ruangan itu dan memaksa langkahnya bergerak cepat. Napasnya terengah beriringan dengan debar jantungnya, tahu bahwa Aslan menggeram dengan tidak sabar lalu bergerak mengejarnya.
Dirinya hampir meraih pintu kamar mandi ketika pundaknya dicengkeram dan tubuhnya ditarik ke belakang, hingga terbanting mundur ke atas karpet. Mata Mischa berkunang-kunang karena bantingan yang cukup keras, dan ketika dia berhasil menjernihkan pandangannya, Aslan sudah melompat, membungkuk di atas tubuhnya.
Seketika itu, didorong oleh ketakutannya Mischa menjerit, berusaha memukul dan menendang sekuat tenaga dengan histeris. Tapi kali ini Aslan tidak lengah, ditambah oleh pengetahuannya bahwa Misha bisa melukai dirinya, dia sekarang lebih berhati-hati dan tidak meremehkan perempuan di depannya ini.
“Diam, kelinci kecil pemberontak, Jangan sampai aku mematahkan lehermu,” Aslan menekan kedua tangan Mischa di karpet sementara dirinya menunduk, menghidu aroma manis yang menguar menggoda dari tubuh Mischa.
Aslan memejamkan mata sementara dahinya berkerut dalam. Dia tidak bisa menahan diri untuk menundukkan kepala, menempelkan hidungnya ke sisi leher Mischa dan menghirup aromanya yang mengikat laksana candu, membuat tubuh di bawahnya semakin gemetar ketakutan.
Tangan Aslan bergerak menelusuri lengan Mischa ke pundaknya, sementara Mischa berbaring kaku ketakutan dengan kepala dimiringkan dan mata dipejamkan rapat-rapat, tak kuat menanti apa yang akan terjadi pada dirinya.
“Terlalu kurus. Kau akan remuk kalau aku menidurimu,” Aslan bergumam dengan nada tidak suka, dan gumamannya itu membuat Mischa terpaku dalam kengerian yang amat sangat.
Menidurinya? Lelaki Zodijak ini berpikir untuk menidurinya?
Mischa tahu, juga dari ayahnya, bahwa kekuatan lelaki Zodijak kadang bisa meluluh lantakkan pasangannya, karena itu wanita-wanita Zodijak biasanya tercipta dengan kondisi fisik kuat sehingga bisa melayani lelakinya tanpa remuk redam.
Jika lelaki Bangsa Zodijak meniduri manusia perempuan, seperti yang dilakukan kebanyakan pria Zodijak pada budak-budaknya, kadang-kadang hal itu bisa berakibat kematian bagi manusia perempuan lemah yang tidak memiliki kekuatan. Jika manusia perempuan itu bertahan selepas percintaan, hanya ada dua kemungkinan, yang pertama, manusia perempuan itu sangatlah kuat dan yang kedua, lelaki Zodijak tersebut bersikap luar biasa lembut, melawan kodratnya sendiri.
Lamunan Mischa tersentak karena tangan Aslan bergerak menyentuh pinggang dan pahanya, meraba di sana seolah memeriksa. Seketika itu juga Mischa mencoba mencakar sementara lututnya menekuk, otomatis berusaha menendang ************ lelaki itu untuk mencari titik lemahnya.
Tendangannya mengenai ************ Aslan, sayangnya lelaki itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kesakitan, malahan menyeringai dengan tatapan mengejek ke arah Mischa.
Sepertinya meronanya warna kulit Mischa membuat Aslan tergoda hingga lelaki itu menggeram, menundukkan kepala lalu ******* bibir Mischa dengan kasar tanpa permisi. Mischa langsung meronta, menendang, memukul dan berusaha mendorong dada lelaki itu sekuat tenaga.
Dan ketika semua usahanya untuk menjauhkan Aslan tidak berhasil, Mischa menggunakan giginya untuk menggigit bibir Aslan sampai terluka, tahu bahwa dia memiliki kekuatan untuk menyakiti Aslan.
Rasa darah Aslan dan aromanya membasahi lidah Mischa ketika Aslan mengumpat dan melepaskan ciumannya dengan kasar. Lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Mischa sementara mata hitamnya dipenuhi kemarahan mengerikan dan bibirnya meneteskan darah.
“Apakah kau sudah lupa apa yang kukatakan tentang hukumanmu jika kau menggigitku lagi?” geramnya murka.
Tentu saja Mischa ingat, dan hal itu membuatnya semakin ketakutan. Aslan bilang akan merontokkan semua gigi Mischa jika dia menggigit lagi. Air mata Mischa hampir menetes karena takut dan ngeri, tapi Mischa menahannya, memejamkan mata dan menggigit bibir untuk membendung isakannya yang sudah berada di ujung tenggorokan.
Aslan menunduk, sementara sebelah tangannya mencengkeram dagu Mischa.
“Buka matamu, kelinci,” desisnya mengancam.
Mau tak mau Mischa membuka mata, membuat Aslan bertemu dengan mata biru indah yang berkaca-kaca.
“Satu-satunya alasan kau masih hidup adalah karena aku memutuskan untuk menjadikanmu mainanku,” geram Aslan dingin. “Kau harus makan banyak supaya kuat melayaniku, dan pada saat kau siap nanti, aku akan memanenmu.”
Sambil mengucapkan kata-kata mengerikan di telinga Mischa, Aslan bangkit, lalu berdiri tegak di atas karpet, menatap Mischa yang masih terbaring tanpa daya. Mata hitamnya menelusuri seluruh tubuh Mischa dan lelaki itu menggertakkan gigi sebelum kemudian melangkah menuju pintu dan pergi meninggalkan Mischa sendirian di kamar yang terkunci.
﴿﴿◌﴾﴾
“Yesil.”
Aslan melambaikan tangan ke kamera pengawas yang terpasang di bagian depan area istana yang ditempati oleh Yesil. Yesil menjaga ketat area ini karena di dalamnya sekaligus ada laboratoriun penelitiannya yang berharga. Saudaranya itu sudah pasti mengawasi sendiri kamera ini dan akan mengirimkan budaknya atau pengawalnya untuk menjemput Aslan.
Sesuai dugaan Aslan, pintu terbuka tak lama kemudian dan dua orang pengawal dari bangsanya memberi hormat sebelum mengantarkannya ke Laboratorium milik Yesil lalu meninggalkannya di sana karena area laboratorium Yesil termasuk area terlarang yang tidak boleh dimasuki sembarang orang.
Aslan langsung membuka pintu kaca pembatas dan menatap punggung Yesil yang membungkuk ke arah meja, sibuk memeriksa sesuatu sambil duduk di atas kursi kerjanya.
Ruang lab ini hampir sama dengan ruang lab pada umumnya, bersih, steril dan berbau cairan kimia. Yang membedakannya adalah karena banyak alat-alat yang begitu canggih beserta suasana menyeramkan bagi manusia, karena di toples-toples yang terpajang memenuhi rak, banyak sampel bagian-bagian tubuh manusia yang direndam di air pengawet khusus sebagai bahan penelitian.
“Apakah kau sudah berhasil meneliti darah itu?”
Yesil membalik kursi putarnya menghadap Aslan dan mengangkat alis melihat bekas gigitan yang berubah warna menjadi merah tua pekat di bibir Aslan.
“Belum. Masih butuh waktu beberapa jam lagi lalu aku akan mengumpulkan semuanya untuk membahas hasil pemindaian darah.” ujarnya sambil melemparkan tatapan mata penuh arti.
“Digigit lagi, eh?”
Aslan otomatis menggerakkan jari untuk menyentuh luka di bibirnya.
“Dia bisa melukaiku dengan mudah,” jawabnya kemudian.
Yesil memiringkan kepala. “Sudah pasti dia berbahaya bagimu. Baru sehari tapi kau sudah luka dimana-mana. Meskipun begitu, kau tetap tidak mau menjauhkan dirinya darimu?”
“Aromanya membuatku… lapar dan hal itu membuatku ingin tahu karena sebelumnya aku tidak pernah merasa seperti ini terhadap siapapun. Anehnya lagi, kemampuan regenerasi penyembuhan diriku melambat kalau luka itu disebabkan olehnya,” Aslan menyahut dengan suara mengambang, membuat Yesil memasang wajah penuh ingin tahu.
“Kau lapar ingin memakannya?” selidik Yesil lagi.
Aslan menggelengkan kepala. “Aku lapar ingin menidurinya. Yang lapar adalah hasratku, bukan perutku. Satu-satunya hal yang menahanku untuk menidurinya sekarang juga adalah karena aku tahu bahwa manusia perempuan seperti dia akan remuk lalu mati kalau kutiduri sekarang.”
“Kau benar, seperti yang Kara bilang, dia terlalu kurus, kurang makan dan lemah, dia tidak akan bisa mengimbangimu. Saranku, biarkan dia kuat dulu, lalu kau boleh melakukan apapun yang kau suka. Hanya, berhati-hatilah, Aslan.”
Aslan menatap Yesil tajam.
“Kenapa?”
“Kau tidak pernah meniduri manusia perempuan sebelumnya, pasangan tidurmu hanyalah perempuan-perempuan Zodijak yang kau ambil dari area perempuan sebagai kekasih. Karena sama seperti kita semua, kau belum mau menjalani kontrak pernikahan untuk meneruskan keturunan. Ingatlah selalu bahwa tubuh manusia berbeda dengan perempuan kaum kita, karena itu kau harus berhati-hati. Kau harus bertindak sangat lembut kalau kau tidak ingin meremukkan tubuhnya.”
Aslan tersenyum getir. “Jadi menurutmu aku harus belajar pada Kara yang berpengalaman meniduri budak-budak perempuannya dalam jumlah tak terhitung?”
“Aku tidak menampik bahwa Kara berpengalaman meniduri manusia perempuan, dia tidak pernah sampai membunuh manusia perempuan yang ditidurinya sampai detik ini,” Yesil mengangkat alis. “Meski aku tetap tidak setuju karena aku tahu bahwa Kara meniduri budak-budak manusia perempuannya sebagai cara melarikan diri dari trauma masa lalunya.”
“Kara masih belum lupa?” Aslan mengerutkan kening, bertanya.
Yesil menggeleng muram. “Kurasa dia tak akan pernah lupa. Bekas luka dihatinya terlalu dalam, sama seperti bekas luka di punggungnya yang tak bisa hilang bagaimanapun aku mencoba mencari cara menghilangkannya,” Mata gelap Yesil menelusuri Aslan. “Jangan sampai kau berakhir seperti Kara, Aslan.”
Aslan menggelengkan kepala. “Tidak akan,” ucapnya yakin, lalu beranjak hendak meninggalkan ruangan. “Aku kemari untuk menanyakan hasil pemeriksaan darah yang ternyata belum selesai. Jika sudah selesai hubungi aku.”
Yesil menganggukkan kepala. “Sudah tentu aku akan menghubungi kalian, Akrep bahkan sudah menanyaiku hampir seratus kali hari ini. Dia sama penasarannya denganmu.”
“Akrep hanya menanti alasan untuk membunuh manusiaku.” Aslan mengangkat bahu, lalu membalikkan badan untuk keluar dari ruangan.
“Aslan,” Yesil memanggil lagi, suaranya terdengar ragu, membuat Aslan menghentikan langkah dan menoleh kembali. “Ini tentang Kara. Kau harus terus mengawasi Kara. Anak manusia yang kau bawa sangat mirip dengan ‘perempuan itu’ dan itu bisa membuat Kara hilang orientasi, aku takut Kara mengincarnya hanya untuk membalas dendam demi masa lalunya.”
﴿﴿◌﴾﴾