Inevitable War

Inevitable War
Episode 24 : Sasha



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


 



 


“Sasha!”


Tanpa bisa menahan diri, Mischa menghambur ke arah bocah perempuan kecil yang sedang tidur pulas, meringkuk diantara perempuan-perempuan lainnya.


Suaranya, berikut gerakan Mischa membuat perempuan-perempuan yang sedang lelap di sana terbangun, tapi perhatian Mischa hanya tertuju pada Sasha yang duduk sedikit bingung sambil mengucek matanya.


Ketika Sasha sudah mendapatkan kesadarannya untuk kemudian menatap Mischa, anak perempuan itu ternganga,


“Kak Mischa?”


Pengenalan itu membuat Mischa yakin benar bahwa yang ada di depannya ini benar-benar Sasha, bukan anak lain yang mirip atau apa. Dengan penuh rasa lega, dipeluknya Sasha erat-erat ke dalam rengkuhan lengannya, Sasha sendiri membalas pelukan Mischa dengan senang,


“Apa yang terjadi padamu? Bagaimana kau bisa ada di sini?” Mischa menggunakan kedua telapak tangannya untuk menangkup wajah Sasha masih dengan dipenuhi rasa tak percaya, “Bagaimana kau bisa selamat?”


“Monster itu….” Sasha berbisik pelan sementara suaranya tercekat di tenggorokan, “Monster itu membunuh semuanya, tetapi dia tidak menyentuhku, katanya aku masih terlalu kecil dan lemah untuk dibunuh dan itu tidak menyenangkan…. ” suara Sasha makin gemetar seiring dengan ketakutan yang membayangi wajahnya.


Ketika itu, sebuah suara langkah berderap mengalihkan perhatian mereka semua, Mischa yang tadinya mengabaikan sekelilingnya akhirnya menyadari bahwa ada beberapa pasang mata menatapnya, laki-laki dan perempuan, semuanya menatapnya dengan pandangan curiga bercampur bingung.


“Kau mengenal Sasha?”


Sosok lelaki setengah baya yang datang kemudian akhirnya memecah keheningan, dilihat dari sikap semua orang yang memandang segan kepadanya, sepertinya sosok lelaki ini adalah pemimpin di kelompok tersebut.


Mischa mengamati sosok di depannya, lelaki ini mungkin berusia pertengahan lima puluhan, dengan tubuh yang masih tegap meskipun sebagian besar rambutnya sudah berwarna kelabu, sebuah kacamata model kuno yang bulat berbingkai tebal bertengger di hidungnya dengan posisi sedikit melorot, dan kebijaksanaan nampak terpancar dari wajahnya.


“Sasha adalah bagian dari kelompok kami sebelum seluruhnya dihabisi oleh Bangsa Zodijak,” Mischa melirik ke arah Kara yang sejak tadi berdiam dan mengamati, sedikit merasa tidak enak. “Kami kemudian terpisahkan…” jelas Mischa perlahan.


“Kami menemukan Sasha ketika salah satu pencari makanan kami menjelajah ke area stasiun kuno dan menemukan beberapa mayat. Mereka semua tewas dengan mengerikan dan hampir dipastikan tidak ada yang selamat,” pemimpin kelompok itu memandang Mischa dengan curiga. “Sasha wajar untuk selamat karena dia masih terlalu kecil, sehingga tidak bisa memuaskan insting berburu bangsa Zodijak, tapi kau… bagaimana mungkin kau selamat dari serangan itu…?”


Mischa menelan ludah mendengar pertanyaan itu, bingung harus menjawab apa.


Dia tidak mungkin bicara bahwa dirinya dibawa oleh Aslan yang kejam ke markas untuk kemudian menjalani ritual kontrak pernikahan, lalu melarikan diri dan membawa seorang lelaki Zodijak yang menyamar menjadi manusia bersamanya, bukan?


“Aku menyelamatkannya,” Kara berucap perlahan, menyela sekaligus mengalihkan perhatian semua orang kepadanya. “Mischa, dia adikku, kami menyelamatkan diri bersama-sama.” Suara Kara terdengar begitu tenang dan meyakinkan, hingga terasa seperti kebenaran.


Sasha tentunya sudah melihat Aslan yang menyamar menjadi manusia sebelum pembantaian mengerikan itu, dan Kara, sedikit banyak memiliki kemiripan dengan Aslan meskipun dibungkus dengan pakaian ala kaum penyelinap dan debu pasir yang mencoreng wajahnya.


Sasha menoleh ke arah Mischa dengan mata penuh pertanyaan, dan Mischa memberi isyarat dengan matanya, mengatakan bahwa dia akan menjawab semua pertanyaan Sasha nanti. Beruntung Sasha mengerti dan memilih untuk menutup mulutnya.


Perhatian pemimpin kelompok itu beralih ke arah Kara yang bertubuh tinggi dan tegap, lebih tegap dan tampak lebih kuat dari manusia lelaki manapun yang pernah ada. Sang Pemimpin itu menimbang-nimbang, kemudian memutuskan bahwa lelaki bertubuh kuat ini mungkin saja berhasil menyelamatkan diri dari serangan Bangsa Zodijak.


“Namaku Kiraz, aku adalah pemimpin kelompok ini.” Mata Kiraz berpendar ke sekeliling ruangan, menatap beberapa anggotanya. “Seperti yang kalian lihat, kelompok ini lebih besar daripada kelompok-kelompok Kaum Penyelinap regular yang pernah ada. Ini semua karena kami menampung dan menyelamatkan manusia-manusia yang terpisah atau kehilangan kelompoknya akibat serangan bangsa Zodijak.”


Kara tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepala. “Kalau begitu, apakah kami boleh bergabung di sini? Kami berdua, aku Ankara, dan adikku bernama Mischa, berjanji tidak akan merepotkan. Kami akan menggunakan tenaga kami untuk membantu di sini,” janjinya dengan tenang sementara Mischa menyadari bahwa Kara secara bijaksana telah mengubah sedikit namanya untuk menghindari kemungkinan dikenali.


Kiraz menatap ke arah Kara dan mengerutkan kening, lalu menganggukkan kepala setelah menimbang keuntungan yang bisa diterima oleh kelompok mereka dengan kehadiran Ankara dan Mischa di sini.


“Baiklah, kalian boleh bergabung. Kami tidak punya apapun untuk ditawarkan, hanya perlindungan dan ikatan erat antar kelompok manusia untuk bekerjasama bertahan hidup,” ucapnya.


“Itu sudah cukup bagi kami,” Kara berucap pelan. “Tanpa perlindungan dari kelompok, kami akan mati di luar sana. Jadi terima kasih sudah bersedia menampung kami,” gumamnya dengan nada sopan yang ramah.


Sikap Kara yang cukup persuasif itu membuat Mischa sedikit terkejut, dulu dia berpikir bahwa Bangsa Zodijak. terutama kaum lelakinya adalah golongan makhluk buas yang liar dan tak beradab. Ternyata bahkan Kara sebagai lelaki Zodijak memiliki kemampuan berdiplomasi yang mumpuni.


“Kalau begitu kalian boleh beristirahat, kalian bisa memilih ruang dimana saja di stasiun bawah tanah ini untuk tidur. Tetapi ruangan ini memang yang paling hangat, jadi sebagian besar memilih tidur di sini. Besok pagi-pagi sekali kita akan berangkat mencari persediaan makanan.” ucap Kiraz tenang sebelum kemudian membalikkan badan dan melangkah pergi.


 


 



 


Semua orang sudah kembali tertidur, seakan peristiwa kedatangan orang baru yang bergabung dengan kelompok mereka adalah hal yang biasa dan bukan sesuatu yang terlalu penting sehingga bisa mengganggu waktu istrirahat mereka yang berharga.


Mischa duduk bersandar di dinding di sudut ruangan dengan kaki berselonjor, sementara Sasha juga sudah kembali tertidur dengan kepala rebah di pangkuannya. Kara sendiri duduk di sebelah Mischa dengan posisi yang sama, bersandar di dinding dan berselonjor kaki dengan sebelah kaki ditekuk, tubuhnya yang kokoh seakan menjadi penghalang udara dingin yang memastikan Mischa dan Sasha tetap hangat.


“Apakah kita bisa berlindung di sini seterusnya?” Mischa bertanya perlahan dengan ragu sementara tangannya dengan hati-hati tetap mengusap rambut Sasha yang tertidur dengan nyaman di pangkuannya.


Kara langsung menggelengkan kepala tegas. “Ini hanya perhentian sementara. Kita harus berdiam untuk memahami situasi. Aku harus mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh Aslan, setelah itu dengan amat sangat terpaksa, kita harus bergerak pergi.”


Mischa mengeryitkan dahi sementara matanya memandang ke seluruh ruangan, tempat semua orang sedang tertidur.


“Dan meninggalkan mereka semua?” ucapnya ngeri. “Tidak bisakah kita bertahan bersama-sama supaya bisa selamat bersama-sama?” mohonnya.


Kara menghela napas panjang. “Mischa, jika kelompok ini bertemu dengan Aslan, mereka akan habis. Begitupun kita kalau masih tertinggal di sini. Jika kau ingin menyelamatkan semua orang, itu sama saja kau menyerahkan dirimu sendiri. Aku merelakan diriku untuk menyelamatkanmu, kau tentu tidak ingin membuat hal itu menjadi sia-sia, bukan?” mata Kara menelusuri wajah Mischa dengan lembut, lalu beralih ke arah Sasha yang sedang tertidur dan ekspresinya berubah. “Tapi kita bisa membawa Sasha kalau kau mau….” Kara mengerutkan dahinya. “Apakah kau tahu asal-usul Sasha sebelum bergabung di kelompokmu?” tanyanya perlahan.


Mischa ikut menunduk dan menatap ke arah Sasha. “Yang aku tahu, dia sama sepertiku, yatim piatu dan kehilangan orang tua kami karena perang…. hanya itu… sejak aku melihatnya aku langsung mengadopsinya menjadi adikku, mungkin karena kami mirip…”


“Kalian memang mirip secara fisik, terlalu mirip malahan. Sasha seperti versi kecil dirimu. Kalau kau bilang bahwa Sasha adalah adik kandungmu, aku akan percaya,” Kara menyipitkan mata dan mengendus udara perlahan. “Bahkan aroma kalian mirip… hanya saja… Sasha… aromanya terasa lebih familiar…” ekspresi Kara berubah gelap. “Mungkin akan kita pikirkan nanti. Sekarang kau harus tidur, Mischa. Kumpulkan tenagamu, aku tahu kau pasti lelah,” ucapnya tegas.


Mischa sendiri sama sekali tidak berpikir untuk membantah. Dia lelah dan tidur terasa sangat menggoda untuk dilakukan. Tanpa perlawanan, akhirnya Mischa memejamkan mata dan larut dalam lelap hanya beberapa detik kemudian.