Inevitable War

Inevitable War
Episode 110 : Kebenaran



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira



Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )




Aslan tengah mengambil botol air dan menuangkannya ke gelas, lalu meminum beberapa teguk sebelum matanya mengawasi Akrep dengan tajam.


“Kau benar-benar tampak kusut Akrep.” gumam Aslan perlahan, “Dan mengenai keributan di kalangan kaum perempuan kita, tentu saja aku tidak peduli. Aku adalah pemimpin Bangsa Zodijak dengan kekuasaan tertinggi dan aku berhak memilih perempuanku sendiri.”


“Mereka bukannya ingin menentangmu,” Akrep berucap perlahan, mengalihkan pikirannya dari Imhotep yang memberatkan. “Hanya saja mereka merasa cemas. Seorang perempuan manusia masih meragukan bisa membawa anakmu ke dunia dengan selamat padahal keturunanmu adalah apa yang diharapkan menjadi pemimpin Bangsa Zodijak selanjutnya, di atas sana ada seorang perempuan sempurna yang sudah disiapkan untukmu, kau pasti tahu itu. Selain itu yang mencemaskan semuanya, mereka semua, bangsa kita dilanda kecemasan akan kemungkinan dipimpin anakmu yang berdarah campuran di masa depan. Kau tahu bahwa belum pernah ada anak berdarah campuran dengan manusia sebelumnya, bahkan aku sendiri juga cemas. Anakmu bisa saja menjadi sangat lemah… atau bahkan sangat lemah.”


Aslan menyipitkan mata, menatap Akrep dengan tatapan mata mencela.


“Sekarang baru kau mencemaskan ini padahal dulu kau dan yang lainnyalah yang mendorong… bukan, aku akan menggunakan kata memaksa karena itu yang lebih tepat. Apakah kau sudah lupa bahwa kalianlah yang mendorong pernikahan dan penyatuanku dengan Mischa? Ketika itu aku menolak habis-habisan dan kalian memaksa. Sekarang ketika Mischa hamil, hal itu bukan hanya menjadi masalahku melainkan juga tanggung jawab kalian semua,” Aslan tidak bisa menyembunyikan nada sinis di dalam suaranya.


Akrep menganggukkan kepala perlahan, melemparkan pandangan penuh penyesalan ke arah Aslan.


“Memang kami yang memaksa dan kami rasa keputusan itu tepat bahkan sampai dengan saat ini. Kita tidak akan menemukan anomali dan penemuan-penemuan baru menyangkut manusia perempuan istimewa jika bukan karena Mischa,” Akrep menatap Aslan dengan serius. “Hanya saja selalu ada perasaan tidak nyaman dan cemas ketika kita menghadapi sesuatu yang tidak kita tahu. Bukankah kau juga begitu, Aslan? Bagaimana perasaanmu menghadapi kehamilan Mischa dan juga musuh yang kemungkinan berasal dari tetua yang lebih hebat dari kita?”


“Kehamilan Mischa tidak mengangguku, dan aku yakin dia akan baik-baik saja dalam pengawasanku,” Aslan menyeringai, tidak bisa menyembunyikan sinar kebanggaan di matanya ketika membahas mengenai kehamilan Mischa. “Dan mengenai anakku yang berada di perut Mischa, mereka akan menjadi keturunan yang hebat. Bukankah kau sendri yang membawa legenda Sang Singa dan Dewi Pembawa Air yang menjadi kisah yang dipercaya sebagai awal Bangsa Zodijak?”


“Maksudmu, kalian akan menghasilkan keturunan murni Zodijak seperti kisah awal Bangsa Zodijak?” Akrep menyambar dengan cepat, memahami maksud perkataan Aslan.


Aslan sendiri langsung menganggukkan kepala. “Keturunan kita yang sudah jutaan tahun dari kisah awal Sang Singa dan Dewi Air bisa dikatakan sudah bukan keturunan murni lagi, kau pasti tahu itu. Semua itu disebabkan oleh jumlah air suci Zodijak yang semakin menurun hingga setiap laki-laki dan perempuan yang sedang berada dalam proses pembuahan tidak mendapatkan air yang cukup untuk menghasilkan keturunan yang berdarah murni. Berbeda dengan aku dan Mischa, seluruh darah perempuan itu adalah air suci Zodijak, menurutmu bagaimana keturunanku dengan Mischa?  Bagaimana mungkin kau meragukan kekuatan anak-anakku yang dikandung dalam perut Mischa? Tentu dia akan menjadi darah murni Zodijak yang pertama kali dilahirkan setelah jutaan tahun berlalu.”


Mata Aslan menyipit sementara ekspresinya berubah semakin serius. “Menurutku, penciptaan Mischa dan perempuan-perempuan lain yang misterius itu adalah salah satu cara alam untuk menghasilkan kembali Bangsa-bangsa Zodijak berdarah murni yang sangat kuat.”


“Dengan bereproduksi dengan manusia perempuan?” sela Akrep sedikit skeptis.


“Manusia perempuan dengan darah misterius seperti Mischa tentu saja,” Aslan menganggukkan kepala dengan tenang. “Musuh kita, Imhotep, adalah Bangsa Zodijak berdarah murni, dia adalah tetua dengan kekuatan yang bahkan kita sendiri tidak mampu mengukurnya. Jika kita tidak bisa ternyata tidak bisa melawannya karena kalah kekuatan, maka anak-anak kita seharusnya bisa…”


Sebelum Aslan bisa menyelesaikan kalimatnya, sebuah ledakan terdengar dahsyat dari ruang bawah tanah, mengguncangkan mereka semua dan meruntuhkan dinding-dinding dalam getaran dahsyat yang menyusul kemudian.


 


 



 


Kara membuka pintu ruang interograsi yang berada di bawah tanah dan gelap serta sedikit lembab. Ruangan ini cukup nyaman bagi Bangsa Zodijak karena memang tubuh mereka lebih mudah beradaptasi dengan suhu yang rendah, tetapi bagi manusia yang dikurung di sini, ruangan ini lebih seperti siksaan karena begitu dingin dan menggigilkan.


Area tempat interograsi biasanya memiliki dua suhu untuk menyiksa. Satu suhu yang terlalu tinggi dan satu lagi suhu yang terlalu rendah. Baik manusia ataupun Bangsa Zodijak yang membelot biasanya mengalami dua siksaan tersebut meskipun jika manusia bisa mendapatkan siksaan suhu dingin dan suhu panas dengan sama-sama menyakitkan,


Yesil sendiri mengikuti dalam diam di belakang Kara, dia bersikap waspada, menunggu dan menjaga jarak dari tawanan mereka yang saat ini setengah tidak sadarkan diri setelah disuntik dengan serum khusus yang menghilangkan pikiran sadar dan memancing manusia untuk berkata jujur.


Saat ini Kale terikat di atas kursi dengan ikat pinggang dari besi kaku yang melingkari bagian-bagian tubuhnya dan menyatu di kursi. Ikat pinggang besi itu ada di pundak, dada yang membungkus lengan, pinggang dan juga dua lagi di area kaki. keamanan yang cukup tinggi itu sudah pasti tidak memungkinkan Kale untuk bergerak dengan bebas.


Karalah yang mendekat terlebih dahulu, dia mengangkat rambut Kale dan mendongakkan wajah manusia itu, lalu menanyakan pertanyaan yang telah mengganggunya sekian lama.


“Apa yang kalian lakukan kepada Natasha?” geramnya tak tertahankan.


Sejenak mata Kale yang kosong mengerjap. Obat yang disuntikkan anak buah Yesil kepadanya sepertinya telah bekerja karena ekspresinya tampak tak bernyawa ketika berusaha menyerap pertanyaan yang diberikan oleh Kara.


Manusia yang satu ini tidak mau bekerja sama, bersikeras menutup mulutnya demi kesetiaannya kepada Sang Dokter atasannya.


Menyuntik obat penghilang logika ini sebenarnya merupakan salah satu cara yang sangat dihindari oleh Yesil karena cairan yang disuntikkannya ini sangat keras dan bisa merusak otak secara permanen. Segera setelah proses interograsi selesai, Kale tidak akan berguna lagi setelah ini.


Tetapi sikap keras kepala Kale dan dorongan dari saudara-saudaranya yang menginginkan mendapatkan informasi secara akurat untuk menyusun pertempuran berikutnya melawan Imhotep membuat Yesil tidak memiliki cara lain selain menyuntikkn cairan itu kepada Kale.


“Ulang lagi pertanyaanmu, Kara,” Yesil berucap perlahan setelah menyadari bahwa Kale masih kesulitan mencerna pertanyaan dari Kara. “Ucapkan pelan-pelan sehingga dia bisa mencernanya.” sambungnya kemudian.


Kara menghela napas panjang, tetapi tak urung dia menuruti perkataan Yesil dan mengulang kembali pertanyaannya, kali ini setiap suku kata dia ucapkan dengan jelas dan perlahan supaya Kale yang telah berada di bawah pengaruh obat itu mampu mencernanya dengan baik.


“Apa yang kalian lakukan kepada Natasha?” tanya Kara kembali sementara jantungnya berdegup penuh antisipasi akan jawaban Kale.


Sekali lagi mata kosong Kale mengerjap, lalu mulutnya membuka.


“Kami menggunakan Natasha sebagai sumber pemasok darah bagi kelompok kami,” ujarnya kemudian.


Mata Kara melebar penuh sakit hati, lalu mendesiskan pertanyaan yang begitu ditakutinya.


“Apakah Natasha melakukannya dengan sukarela dan bekerjasama dengan kalian?”


“Tidak. Kami menidurkan Natasha dalam ruang pendingin. Tubuhnya berada di ruang bawah tanah dengan penanganan khusus. Dia menjadi benda dengan nama pasien  nomor 1, dia hanya berfungsi sebagai pemasok darah bagi kami.”


Jawaban Kale membuat Kara ternganga, matanya melebar sementara ekspresinya pucat pasi.


Kara akhirnya mampu menoleh ke arah Yesil sementara dia mengeluarkan kata-katanya dengan terbata.


“Yesil… kau mendengarnya, bukan? Natasha tidak mengkhianati kita… kita harus menyelamatkan Natasha! Kita harus menyelamatkan Natasha sebelum terlambat…”


Yesil hendak menjawab, mulutnya sudah membuka. Tetapi matanya yang tajam tiba-tiba melihat bahwa mata Kale yang tadinya kosong berubah warna menjadi biru, warna biru yang pekat seperti warna air suci Zodijak.


Seketika alarm peringatan dalam dirinya berbunyi, membuatnya melompat di depan tubuh Kara untuk melindungi saudaranya itu dengan kecepatan kilat.


“Awas!”


Yesil masih berteriak ketika melingkupi tubuh Kara dan memaksa saudaranya itu membungkukkan tubuh sebelum kemudian seluruh tubuh Kale memancarkan sinar warna biru yang menyilaukan mata.


Bukan… itu ternyata bukan sinar biru… itu adalah bubuk berwarna biru yang berkilauan dalam kegelapan, menyebar memenuhi udara hingga seluruhnya dipenuhi kabut bubuk berwarna biru sebelum kemudian bubuk yang jumlahnya begitu banyak itu meledak secara bersamaan, menimbulkan suara keras nan dahsyat tak terhingga dan meruntuhkan seluruh bangunan yang melingkupi mereka.