Inevitable War

Inevitable War
Episode 105 : Imhotep



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 


 



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )


 


 


 


 


 



Tentu saja apa yang dijelaskan olehYesil kepadanya membawa pemikiran yang sama, bahwa Sang Dokter memiliki makna yang sama dengan Sang Penyembuh dan semakin memperbesar dugaan mereka akan identitas sebenarnya dari musuh misterius yang sampai dengan saat ini belum terungkap.


“Aku mempelajari keseluruhan tentang manusia. Bukan hanya dari segi ilmiah, tetapi aku juga memelajari seluruh aspek yang berhubungan dengan mereka, kebudayaan mereka, sejarah mereka, teknologi mereka dan segala hal yang berhubungan dengan terbentuknya manusia hingga bisa disebut sebagai seorang manusia,” Yesil mengerutkan kening seolah mengingat-ingat.



“Dalam buku sejarah kuno, aku pernah mendengar nama Imhotep, yaitu pada sejarah Mesir Kuno di masa piramida sekitar tahun dua ribu sembilan ratusan Sebelum Masehi menurut penanggalan bumi. Dia dianggap sebagai figur penyembuh yang pertama kali ada. Imhotep merupakan dokter pertama yang membuat rekam medis dengan sebutan Sang Penyembuh setengah dewa, bahkan pada akhirnya, setelah segala kemampuannya diakui, Imhotep mendapatkan gelar Dewa Pengobatan. Imhotep juga yang membuat Ebers atau Edwin Smith Papyrus, yaitu dokumen ilmu kedokteran kuno yang berisi empat puluh tiga kasus pembedahan yang berisi observasi cermat mengenai penyakit dan pengobatan yang dikerjakan secara teliti dan mendalam. Bayangkan… itu dibuat di masa kebudayaan kuno manusia. dimana secara nalar dan pengetahuan, teknologi dan pengetahuan manusia kuno seharusnya belum mencapai titik itu.”Yesil menghentikan kalimatnya, melemparkan tatapan mata penuh arti ke arah Akrep dan Aslan yang kedua-duanya mengerutkan kening semakin dalam.


 



 


Yesil kemudian menyambung kembali kalimatnya. “Kekuatan penyembuhan Imhotep sangat luar bisa di jamannya, sesuatu yang tidak dimiliki oleh manusia-manusia pada masa kuno. Bahkan aku membaca bahwa dia adalah sosok yang menjadi arsitek dari Piramida Saqqara dan disebut sebagai arsitek pertama di Mesir….”


Yesil menghela napas panjang. “Manusia jaman Mesir Kuno memberinya julukan ‘Dia yang datang dengan damai’. Aku selalu mengerutkan kening ketika membaca tentang Imhotep di sejarah bumi dan teringat akan nama Sang Penyembuh Abadi dari bangsa kita, tetapi aku berpikir bahwa itu adalah suatu kebetulan. Tetapi sekarang setelah dipikir kembali… melihat kemampuan penyembuh Imhotep yang luar biasa, teknologi arsitektur yang lebih maju di jamannya dan julukannya yang menyatakan bahwa Imhotep datang dengan damai jelas-jelas menyiratkan bahwa Imhotep dari jauh, bukan sebagai manusia bumi… “


“Dan juga tanda di peluru itu,” Akrep menyela, menyimpulkan  dengan tenang. “Imhotep selalu dihubungkan dengan ular… lambang rasi bintang ketiga belas. Mendengar penjelasanmu itu aku jadi semakin yakin bahwa Sang Dokter yang kita hadapi adalah salah satu tetua abadi Bangsa Zodijak,” Akrep menghela napas panjang. “Itu akan sangat sulit, Yesil. Kita akan kesulitan menghadapinya.”


Yesil menunjukkan persetujuannya dalam kediaman yang hening.


“Apakah menurutmu, jika benar ini Imhotep kita, dia ada hubungannya dengan fenomena manusia-manusia perempuan seperti Natasha, Mischa dan Sasha?” kali ini Aslan yang bertanya, tidak bisa menyembunyikan nada menuntut dalam suaranya.


Sekali lagi Yesil menganggukkan kepala. “Aku menduga begitu. Imhotep mengetahui rahasia air suci Zodijak, dia adalah seorang peneliti dan alkemis yang sangat hebat, bukannya tidak mungkin dia menciptakan manusia-manusia khusus yang bereaksi dengan air suci Zodijak dan juga bereaksi terhadap masing-masing dari kita.”


“Untuk tujuan apa menurutmu?” Aslan bertanya lagi, menginginkan pencerahan.


“Entahlah. Aku masih menduga-duga di sisi mana dia berada. Tetapi melihat senjata yang diciptakan untuk melukai kulit kita dan menimbulkan kerusakan parah, aku menduga dia tidak berada satu halauan dengan kita,” Yesil melemparkan tatapan mata tajam ke arah Aslan. “Kau harus menjaga Mischa dengan baik, Aslan. Kami semua yang belum menemukan manusia perempuan kami sangat rentan terbunuh jika memang senjata-senjata itu nanti digunakan untuk melawan kita. Kaza… meskipun memiliki Sasha tetap saja tidak bisa menyembuhkan diri dengan memanen Sasha mengingat usia perempuan itu yang belum matang. Hanya kau yang memiliki kekebalan karena adanya Mischa di sampingmu. Aku akan berusaha mencari tahu racun yang ada di peluru ini dan memberitahu padamu hasilnya kemudian.”


 


 



 


Mischa tertidur lagi.


Aslan memutuskan memberikan waktu pribadi untuk Mischa supaya bisa menikmati makanannya dengan bebas karena perempuan itu sepertinya merasa canggung ketika Aslan berada di dalam kamar dan menatapnya makan.


Sekarang setelah Aslan menyelesaikan segala urusannya, dia kembali lagi ke kamar untuk melihat keadaan Mischa dan menemukan bahwa perempuan itu sedang tertidur lelap.


Mischa tidur dengan gaya serampangan, berbaring miring sambil memeluk sebuah bantal besar yang menempel ke pipinya. Kepalanya miring dan matanya terpejam rapat dengan mulut sedikit menganga, rambutnya sendiri berantakan, sebagian menutup pipinya dan sebagian lagi terurai di belakang kepalanya.


Aslan memasukkan kedua tangannya di saku celana, matanya menatap lurus ke arah Mischa sementara langkah kakinya tak bersuara mendekat sebelum kemudian berhenti di tepi ranjang.


Tidak disangka diantara semua makhluk yang ada, manusia perempuan lemah inilah yang menjadi obat penyembuhnya.


Seperti yang dikatakan oleh Yesil, Mischa sekarang menjadi kunci penting untuk dirinya, sebuah tameng penyembuh yang akan menentukan hidup dan mati dirinya. Hal itu mengusik jiwa Aslan karena dia sebagai yang terkuat sangat tidak suka dihadapkan pada posisi harus tergantung pada makhluk lain, apalagi makhluk yang lebih lemah.


Aslan menyeringai sambil menatap ekspresi Mischa yang damai, dia tidak bisa menahan diri untuk duduk di tepi ranjang lalu menyentuhkan jemarinya untuk menyingkirkan anak-anak rambut yang menutupi sebagian pipi Mischa untuk kemudian menyelipkan anak-anak rambut itu di belakang telinga Mischa.


Sentuhan Aslan yang lembut di kulitnya membuat Mischa menggeliat, tetapi hal itu tidak cukup kuat untuk membangunkan Mischa dari tidurnya nan lelap, perempuan itu hanya bergerak sedikit, lalu kembali bergelung dengan nyaman sementara matanya masih terpejam rapat.


Mata Aslan menyipit setengah murka ketika menyadari bahwa Mischa menyembuhkan dirinya karena tidak punya pilihan lain, karena adik angkatnya, Sasha berada di bawah ancamannya dan karena perkataan Yesil mengenai kehamilannya yang tentu membuat Mischa berada di dalam situasi terjepit.


Dalam kondisi setengah sadar meregang nyawa, Aslan mendengar bagaimana Mischa meneriakkan dengan lantang bahwa dia menolak memberikan kekuatannya untuk penyembuhan Aslan dengan sukarela, bahwa dia lebih ingin Aslan mati saja.


Hal itu membuat Aslan tertantang sementara kemarahan membara di dalam dirinya.


Ya, dirinya selama ini selalu menang di atas segalanya, dalam hal kekuatan, dalam hal kehendak dan dalam hal memiliki. Apa yang ingin Aslan miliki akan dia miliki dengan mudah.


Sekarang, ketika Aslan berkehendak untuk memiliki Mischa jiwa dan raga, maka dia akan memiliki perempuan itu, entah bagaimana caranya.Aslan sendiri telah sedikit demi sedikit belajar mengenai manusia perempuan dengan segala emosinya yang tidak bisa ditebak.


Perempuan itu seperti pasir, jika digenggam terlalu erat malahan akan melepaskan diri.


Karena itu Aslan tahu bahwa cara pemaksaan yang selama ini dia gunakan kepada Mischa tidak akan berhasil memenangkan perempuan itu. Aslan akan berganti cara, menjadi sosok yang mungkin tidak dikenali oleh Mischa lagi dan meluluhkan hatinya.


Lalu ketika Mischa lengah karena pesonanya, pada saat itulah Aslan akan mengambil keseluruhan diri Mischa, membuat perempuan itu menyerah dalam kepemilikannya yang absolut tanpa bisa melepaskan diri lagi.


 


 



 


“Kau melepaskan Sasha.”


Suara Kaza langsung terdengar di lorong tempat Aslan berjalan. Dia hendak keluar dari areanya dan menuju ruang pertemuan untuk pembahasan lebih lanjut dengan saudara-saudaranya mengenai dugaan tentang identitas musuh mereka sebagai Sang Penyembuh Abadi.


Aslan menoleh untuk menatap Kaza yang seolah menunggu dirinya dan memasang ekspresi muram nan mengerikan.


“Apa yang kau lakukan di areaku, Kaza?” desisnya mengancam.


Kaza menegakkan punggung, sejenak dia kelihatan sulit berkata-kata, tetapi pada akhirnya berhasil mengeluarkan suara.


“Kau melepaskan Sasha,” ulangnya lagi. “Gelang peledak di kaki Sasha. Mereka bilang kau memerintahkan gelang itu dilepaskan.”


Aslan langsung mengangkat alis mendengar perkataan Kaza. “Kalaupun aku melakukan itu, apa urusannya denganmu?” ujarnya sedikit mengejek.


Ada rona merah yang terselip di wajah Kaza ketika lelaki itu menipiskan bibir dan mencoba menantang mata Aslan.


“Itu berarti Sasha bebas,” Kaza mendongakkan dagu. “Aku hendak meminta dia dialihkan di bawah kekuasaanku,” ujarnya menantang.


“Melepaskan gelang peledak di kaki Sasha bukan berarti aku melepaskannya dari penjagaanku. Dia masih berada dalam perlindunganku,” Aslan menggeramkan suara penuh ancaman, membuat Kaza melangkah mundur tanpa sadar.


“Kau melakukannya demi Mischa, bukan?” ujar Kaza kemudian dengan suara mencemooh. “Kau menolak permintaan saudaramu hanya karena manusia perempuan yang tidak berharga! Tidak kusangka kau menjadi semenyedihkan ini, Aslan, tunduk di bawah kaki seorang manusia perempuan rendahan!” serunya kemudian penuh emosi.


Kata-kata Kaza membuat Aslan menyipitkan mata, suaranya yang terdengar kemudian bernada halus nan tenang, tetapi entah kenapa membuat bulu kuduk berdiri.


“Hati-hati ketika berbicara, Kaza,” Aslan mengepalkan telapak tangannya. “Kalau kau bersikeras bahwa manusia-manusia perempuan itu tidak berharga, kenapa kau bersikeras meminta Sasha berada di bawah kekuasaanmu? Kau bersikap kontradiktif, menolak menerima tapi memaksa memiliki. Kurasa kau lebih menyedihkan dibandingkan diriku,” geram Aslan dengan  nada menohok, membuat Kaza terpaku ditempat, tak bisa berkata-kata ketika Aslan melangkah melewati dan meninggalkan dirinya.