
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
***
Sepeninggal Aslan, enam bersaudara yang tersisa itu saling melempar pandang, lalu akhirnya Yesil menyikut Akrep yang duduk di sampingnya perlahan sambil melemparkan tatapan mata mencela.
“Kau tidak benar-benar berpikir untuk mengikat perempuan manusia itu, bukan?” tanyanya.
Semua orang tahu persis bahwa Akrep yang memiliki pikiran dan perencanaan panjang tentu saja memiliki rencana untuk memiliki keturunan yang sehat di masa depan nanti. Akrep tidak akan begitu saja mengambil keputusan untuk menikahi manusia perempuan dengan resiko tidak bisa memiliki keturunan nantinya,
Akrep memasang wajah datar sementara ekspresinya seperti menahan senyum.
“Awalnya tidak, tapi setelah mendengarkan keterangan susulanmu, bisa saja aku menjadi serius dengan tawaranku sebelumnya,” jawabnya jujur. “Aku tadinya hanya berpikir untuk memancing Aslan melakukannya. Bagaimanapun juga dialah yang menemukan manusia perempuan itu dan membawanya kemari, lagipula manusia perempuan itu hanya bisa melukai dia, hal itu menunjukkan keterikatan yang erat, bahwa Aslan-lah yang harus mengikat manusia perempuan itu.”
“Kau hanya memancing Aslan mengingat dia memiliki rasa bersaing yang tinggi denganmu?” Yesil memperjelas sambil mengangkat alisnya.
Akrep tersenyum masam. “Aslan selalu berusaha melebihiku di semua bidang, mengingat aku yang tertua di antara kalian, dan dia memang berhasil karena kalian semua juga pasti tahu bahwa dia adalah yang terkuat di antara kita,” Akrep berucap, menyetujui kalimatnya sendiri. “Aku menduga, ketika aku mengatakan akan mengikat perempuan itu kalau Aslan tidak bersedia, maka Aslan otomatis tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”
“Dia memang tidak akan membiarkannya. Sikap posesif Aslan terhadap perempuan itu begitu kuat hingga terasa menggelikan,” Kara menyela, setengah terkekeh. “Kau tahu, aku mencoba menemui perempuan itu di kamarnya hanya untuk mengajak berbicara dan Aslan sepertinya sudah siap membunuhku seketika itu juga ketika mengetahuinya.”
Yesil kali ini menoleh ke arah Kara dan melemparkan tatapan mata mencela yang sama seperti yang diberikannya kepada Akrep.
“Kau juga tidak berniat mengikat perempuan itu, bukan?” tebaknya.
Kara sendiri malahan melemparkan tatapan penuh misteri ke arah Yesil.“Siapa bilang? Aku sungguh-sungguh tentang perkataanku mengenai perempuan itu. Dia cantik, menyenangkan dan sepertinya aku akan mudah menyukainya.”
“Karena dia sangat mirip dengan Natasha,” Kaza menyela, tidak memedulikan tatapan marah yang dilemparkan Kara kepadanya. “Oh, ayolah, Kara. Kau masih saja mencari sosok Natasha di antara semua budak-budak yang kau tiduri. Apakah kau tidak sadar bahwa kau memiliki selera yang hampir serupa dengan budak-budakmu? Berambut cokelat karamel dan bermata biru jernih.”
Ekspresi Kara mengeras mendengar perkataan saudara kembarnya, lelaki itu tiba-tiba bangkit berdiri dan menghindari menatap saudara-saudaranya.
“Aku akan memeriksa gudang senjata,” ucapnya cepat lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
“Bagus sekali, Kaza.” Sevgil yang sedari tadi diam mengamati menyeletuk cepat, “Memukul saudara kembarmu sendiri dengan pukulan telak.” sambungnya sinis.
Kaza mengangkat bahu. “Kadang-kadang Kara perlu diingatkan bahwa dia tidak bisa membawa perasaan sentimentilnya ke semua hal yang dia temui. Natasha, manusia perempuan di masa lalunya itu bukan hanya meninggalkan bekas luka fisik tetapi juga luka di jiwa Kara. Kara bersedia merelakan segalanya bahkan nyawanya sekalipun demi melindungi Natasha, tetapi apa yang dilakukan perempuan itu? bukannya berterima kasih pada Kara, dia malah pergi meninggalkannya,”Mata Kaza bersinar penuh kemarahan. “Natasha menyakiti Kara hingga Kara menyimpan dendam, dendam karena dikhianati. Dan karena aku adalah saudara kembarnya, aku bisa merasakan kesakitan yang sama yang dirasakan oleh Kara. Bagiku semua manusia adalah makhluk rendahan, pengkhianat yang akan menusuk kita dari belakang meskipun kita memberikan belas kasihan kepadanya.
"Karena itu kau tidak mau mengajukan diri untuk mengikat manusia perempuan milik Aslan? Karena menurutmu dia juga sama seperti Natasha?” Sevgil menyimpulkan dengan cepat, lalu melirik ke arah Yesil. “Bagaimana dengan kata-kata Yesil tadi yang menyatakan bahwa perempuan itu kemungkinan besar adalah dewi air dalam mitologi Bangsa Zodijak?” tanyanya kemudian.
Kaza mengangkat bahu. “Aku akan tetap pada pendirianku sampai waktu yang akan membuktikan dan memutuskan yang sebaliknya,” ditatapnya Sevgil dengan penuh rasa ingin tahu. “Kau sendiri mengajukan diri untuk mengikat perempuan itu, apa alasanmu?”
Sevgil langsung tertawa mendengar pertanyaan yang diajukan dengan nada menyelidik itu.“Kurang lebih sama seperti yang ingin dilakukan oleh Akrep,” Sevgil mengerjapkan mata dengan jenaka. “Aku hanya ingin mengganggu Aslan, dia terlalu cepat naik darah dan kurasa akan menyenangkan melihatnya meledak sekali-kali.”
“Kalian semua memang gila,” Khar yang paling pendiam di antara mereka akhirnya memutuskan untuk berbicara. “Kurasa aku akan berdiam di sini dan memutuskan menjadi pengamat saja.” putusnya kemudian.
“Apapun yang akan kalian lakukan, kurasa kita akan tetap pada penilaian awal. Manusia perempuan itu sudah pasti merupakan sesuatu yang penting bagi bangsa kita, entah dia senjata yang akan menghancurkan kita, atau dia adalah penyelamat yang akan membawa kemakmuran bagi bangsa kita. Apapun itu, yang pasti saat ini, kita harus mengikat perempuan itu supaya ada bersama kita. Entah kenapa aku meyakini hal itu dari dalam hatiku dan itu merupakan pengecualian karena kadang aku lebih mengutamakan logika,” Akrep menyela, suaranya terdengar serius. “Dan aku serius dengan kata-kataku tadi, jika Aslan tidak mau mengikat perempuan itu. Maka aku bersedia.” ulangnya, kali ini dengan suara yang lebih mantap daripada sebelumnya
﴿﴿◌﴾﴾
Dipaksa mengikat manusia perempuan hanya karena sebuah mitologi kuno?
Aslan menggertakkan gigi menahankan rasa jengkel. Tanpa sadar dia menggerutu kepada dirinya sendiri, menyesal kenapa dia harus menemukan Mischa dan membawanya kemari hingga malah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam permasalahan pelik seperti ini.
Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apakah dia harus mengikuti paksaan saudara-saudaranya untuk mengikat perempuan itu dan mengorbankan dirinya? Sebab jika dia tidak mau melakukannya saudara-saudaranya pasti akan mengambil alih dan memiliki perempuan itu.Memiliki perempuan itu?
Memikirkan itu membuat rasa posesif yang begitu kental langsung menggelegak tanpa bisa ditahan dan memenuhi darahnya, membuat langkahnya semakin cepat untuk menuju kamarnya. Dirinya bahkan bertindak di luar akal sehat dengan menempatkan manusia perempuan itu di kamarnya sendiri.
Lagipula apa yang harus dia lakukan? Aslan tidak pernah memiliki budak perempuan sebelumnya. Seluruh budaknya adalah laki-laki, dan tempat tinggal para budaknya adalah kamar raksasa serupa asrama dengan ranjang-ranjang saling berdampingan untuk tidur bersama. Aslan tidak mungkin membiarkan Mischa tidur di area para budak yang seluruhnya laki-laki.
Lalu kenapa dia harus peduli? Kenapa dia harus memikirkan Mischa?
Pertanyaan itu menyeruak di dalam jiwa Aslan dan mengganggunya, membuatnya menggertakkan gigi ketika menemukan jawaban yang sedari tadi bersembunyi di dalam benaknya dan menunggu untuk ditemukan.
Itu semua karena dia ingin memiliki Mischa. Karena dia ingin memiliki Mischa untuk dirinya sendiri.
Penemuan jawaban itu membuat Aslan yang tadinya ingin kembali ke kamarnya membalikkan arah, dengan mantap melangkah untuk kembali menuju ruang pertemuan tempat saudara-saudaranya berkumpul.
Hanya beberapa langkah keluar dari areanya, Aslan menghentikan langkah dan mengangkat alis ketika mendapati Kara yang sedang berjalan ke arahnya.
“Sepertinya kau jadi rajin berkunjung ke areaku, padahal sebelumnya kau hampir tidak pernah menginjakkan kakimu di sini,” Aslan bergumam dengan sinis, melemparkan wajah mencemooh ke arah Kara.
Kata-kata Aslan sama sekali tidak mempengaruhi Kara karena dia sudah terbiasa dengan mulut Aslan yang selalu melemparkan kata-kata kasar dan pedas.
“Aku hendak menemui Mischa dan memastikan dia sudah makan,” dengan tenang Kara menjawab sambil menunjukkan sebuah kotak putih yang dibawanya. “Salah seorang budakku membuatkan makanan manusia untuknya dan aku datang mengantarkannya.”
“Kau tidak dalam kapasitas untuk ikut campur dalam urusan budakku,” Aslan menggeram sementara matanya menyipit waspada. “Budakku adalah urusanku,” sambungnya.
“Tapi kau bisa membunuhnya kalau kau tidak membiarkannya makan. Kau pasti tahu bukan bahwa manusia berbeda dengan kita? Mereka butuh makan,” Kara menyela dengan berani. “Kau bisa membunuh budak-budakmu yang lain dan aku tidak peduli, tapi tidak dengan yang satu ini, Aslan. Aku tidak akan membiarkan kau menyiksanya sampai mati kelaparan, yang lain pasti juga setuju denganku.
”“Kalian semua bisa pergi ke dunia lain dan mati di sana!” Aslan meraung marah. “Manusia perempuan itu milikku, budakku! dan aku akan mengikatnya. Setelah itu kau tidak punya kesempatan lagi, Kara. Lupakan Mischa karena dia akan segera menjadi milikku lalu segeralah beralih untuk mencari mainan baru dari budak-budak perempuanmu!” Aslan membentak kasar, lalu melangkah melewati Kara yang tertegun mendengar perkataannya.
Beberapa langkah setelah Aslan melewati Kara yang masih tertegun, Aslan menyempatkan diri untuk berhenti, menoleh ke belakang sementara matanya tertuju pada kotak putih yang berada di tangan Kara yang berisi makanan untuk Mischa. Rasa posesif kembali memenuhi jiwanya tanpa bisa ditahan dan membuat darahnya mendidih.
“Dan ngomong-ngomong, Mischa sudah makan. Aku sudah memberinya makan. Jadi kau bisa membuang apapun yang ada di tanganmu itu ke tempat sampah,” ujar Aslan kejam sebelum kemudian melanjutkan langkahnya kembali dan meninggalkan Kara yang masih terdiam tanpa kata.
***
“Aku akan mengikatnya.”Aslan memasuki ruangan, tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh saudara-saudaranya yang masih berada di ruangan itu dan langsung menyemburkan keputusannya.
Akrep sedang mempelajari tentang persediaan senjata mereka, sementara yang lainnya, kecuali Yesil sudah menyiapkan diri untuk bersiap-siap mengendarai pesawat tempur mereka untuk menggempur musuh di timur jauh yang masih belum tertaklukkan.
Semuanya langsung tertegun mendengar kalimat yang diucapkan oleh Aslan dan apapun kegiatan yang mereka lakukan, terhenti seketika karenanya.
“Apakah kau yakin?” Akreplah yang pertama kali bisa berkata-kata, menatap Aslan dengan pandangan menyelidik.
Aslan menganggukkan kepala, “Kau bisa memanggil para pendeta untuk mempersiapkan upacara dan kontrak pernikahan,” jawabnya dingin.
Akrep menganggukkan kepala. “Aku akan segera menyiapkannya, dalam waktu singkat,” ucap Akrep tenang, lalu memandang Aslan hati-hati. “Mengikat perempuan itu hanyalah insting yang kami rasakan, Aslan, dan kami masih tidak tahu kenapa insting itu mendorong kami untuk melakukannya, untuk memaksamu melakukannya. Tapi yang perlu kau tahu, kami tidak ingin membuatmu merasa terpaksa, jika kau benar-benar tidak mau, kau tinggal bilang dan aku yang akan mengambil peran itu dengan penuh tanggung jawab… untuk mengikat manusia perempuan itu.”
“Manusia perempuan itu milikku!” Aslan meraung marah, melemparkan tatapan mata membunuh ke arah Akrep dan membuat Akrep terdiam seketika.
***