Inevitable War

Inevitable War
Episode 126 : Melarikan Diri



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )




 


Apakah jangan-jangan kekerasan kulitnya itu benar-benar muncul dari anak di dalam kandungannya? Sebuah usaha melindungi diri dari kekejaman yang hendak dilakukan Imhotep kepadanya?


Mata Mischa perlahan menyapu ke arah Natasha yang terbaring masih tak sadarkan diri di tempat tidur tak jauh dari Mischa berbaring. Natasha tidak dibelenggu, tetapi sepertinya itu tidak perlu karena saat ini kondisi Natasha seperti cangkang mati yang sama sekali tidak mampu bergerak, kehilangan kesadaran yang direnggut dan ditenggelamkan dengan paksa begitu lama.


Apakah pada akhirnya Mischa akan berakhir seperti Natasha? Terbaring layaknya sebuah benda yang dimaanfaatkan oleh Imhotep demi mewujudkan kepentingan jahatnya?


Pertanyaan demi pertanyaan yang bercampur dengan bayangan mengerikan akan masa depan bergolak di dalam pikiran Mischa, membuat dadanya semakin sesak dan rasa sakit makin menyelimuti tubuhnya. Pada akhirnya tubuhnya mengambil alih kendali diri, menenggelamkan Mischa dalam ketidaksadaran yang nyaman dan menyelimutinya dalam kegelapan dari alam bawah sadar.


 



 


 


Imhotep sedang mondar-mandir di ruangannya dengan sangat marah.


Dia sama sekali tidak menduga akan begini jadinya. Segala rencana yang telah dia susun dan tampak mudah saat ini jadi berantakan gara-gara kehadiran seorang anak yang tidak diinginkan.


Bagaimanapun caranya, dia harus menyingkirkan anak itu dari perut Mischa sebelum kemudian mencari cara untuk memurnikan darah Mischa akibat kehadiran anak yang menjadi parasit di tubuh Mischa tersebut.


Darah Mischa sangat berharga, akan menjadi yang paling kuat dari semua saudarinya dan juga bisa digunakan untuk memanggil semua saudarinya yang tersisa dan tercerai berai di seluruh penghujung bumi. Imhotep tidak akan membiarkan darah Mischa terbuang sia-sia hanya karena bayi sialan yang muncul tanpa diduga serta tidak diharapkan.


Bisakah dia meracuni Mischa dengan darah Natasha?


Mata Imhotep tiba-tiba tertuju pada tabung-tabung yang dikumpulkan di ruang pribadinya. Ada puluhan tabung yang disusun di sana. Terdapat dua sisi yang saling berseberangan, yang satu adalah tabung berisi darah berwarna biru bening berkilauan yang merupakan darah murni yang diambil dari tubuh Natasha yang telah berubah menjadi air suci Zodijak. Darah inilah yang digunakan sebagai serum penguat untuk pasukan Imhotep.


Sementara di sisi lain, ada tabung berisi cairan yang lebih gelap dan keruh, ini adalah cairan khusus dari darah Natasha yang telah mengalami perubahan struktur atas prakarsa Imhotep sehingga berubah menjadi racun mematikan bagi Bangsa Zodijak.


Racun darah inilah yang baru-baru ini berhasil diciptakan oleh Imhotep setelah penelitian tak terhingga, dan ternyata setelah dimasukkan ke dalam senjata, peluru serta peledak pasukannya, terbukti bisa melukai Bangsa Zodijak dengan fatal.


Dia bisa saja mencoba menembak Mischa dengan pistol berisi racun darah Natasha tepat ke perut Mischa. Tetapi kemungkinan besar hal itu akan gagal karena kulit perut Mischa begitu kuat, bahkan tak tertembus oleh pisau bedah dari batu Lonsdaleite sekalipun.


Kalau begitu satu-satunya cara adalah memaksa Mischa meminum racun darah ini. Imhotep dengan cerdik telah membiarkan Mischa kelaparan serta kehausan untuk melemahkan anak itu. Dan ketika nanti dalam kondisi lemah ternyata perut Mischa masih juga tak tertembus. Maka satu-satunya jalan adalah memaksakan cairan ini diminum oleh Mischa.


Senyum kejam tampak di bibir Imhotep.


Ya.. anak di dalam perut Mischa sudah pasti kehausan dan dengan bodohnya akan menyerap rakus cairan apapun yang diminum oleh ibunya. Itu berarti anak dalam kandungan Mischa akan menyerap cairan racun ini sebanyak-banyaknya dan bisa membunuhnya dari dalam.


Imhotep menggenggam tabung berisi cairan racun darah itu di tangannya dan bertekad menunggu sampai Mischa benar-benar kelaparan sebelum hendak mendatangi Mischa kembali.


Tetapi sebelum dia bisa mencapai maksudnya. Tiba-tiba saja sebuah ledakan terjadi di kejauhan, bersusul-susulan dengan dahsyatnya hingga menggetarkan dataran tempat kakinya berpijak saat ini.


Mata Imhotep melotot ke arah dinding kaca tebal satu arah yang membatasi ruang rahasia pribadinya ini dari markasnya di luar.


Kemarahan tampak memenuhi wajah Imhotep ketika melihat ledakan itu begitu kuatnya di luar sana, menciptakan kehancuran dan puing berserakan tanpa ampun di balik kobaran lidah api yang membakar.


Pasukan Bangsa Zodijak! Kurang ajar!


Terlalu fokus pada Mischa rupanya membuat Imhotep melupakan kecermatan dan ketelitiannya hingga lengah dan membiarkan pasukan sialan itu menyusup ke markasnya dan memasang peledak yang begitu banyak. Saat ini Imhotep berada di ruang rahasia yang tak tersentuh dan tersembunyi sehingga keberadaannya aman dan lepas dari ledakan bom tersebut. Tetapi sekarang situasi berbalik baginya.


Melalui pandangan matanya yang menyapu kamera-kamera pengawas, terlihat keributan terjadi di seluruh penjuru markas, pasukan-pasukan yang dibangunnya dengan penuh ketekunan dan waktu yang lama sekarang bergelimpangan berkeping-keping kehilangan nyawa akibat ledakan besar yang tak terduga, beberapa yang masih bertahan tampak menyeret-nyeret tubuh dengan luka parah dan tak tertolong, beberapa lagi terjebak dalam kebakaran yang mulai menjalari seluruh lokasi.


Mereka semua habis dan tak tertolong karena serangan dari dalam.


Imhotep menggertakkan gigi dengan kemarahan yang amat sangat melihat apa yang telah dia bangun dengan susah payah dihancurkan sekejap mata.


Tetapi saat ini Imhotep tidak akan bersikap melankolis dan menangisi kehilangannya. Pasukan Zodijak yang dipimpin tujuh pemimpin Zodijak yang bodoh tersebut tidak tahu bahwa di belahan lain bumi, Imhotep memiliki markas cadangan lain yang dibangunnya dengan lebih besar, lebih kuat dan lebih menyeramkan, begitupun dengan pasukan yang dikembangkannya beserta senjata canggih yang dia siapkan, semuanya lebih banyak dari yang ada di markas ini.


Di sana cadangan darah Natasha telah tersedia dalam jumlah banyak… meskipun saat ini Imhotep seharusnya tetap mengambil Natasha dan juga Mischa untuk menjamin pasokan persediaan darah bagi pasukannya.


Mata Imhotep menatap kobaran api yang berubah begitu besar menyeramkan di luar markasnya dan pada akhirnya dia memutuskan bahwa menerobos keluar demi manusia-manusia perempuan tak berharga itu tidak sepadan dengan kemungkinan dirinya terluka atau kehilangan nyawa.


Lagipula bukan tidak mungkin saat ini Natasha dan Mischa telah hangus terbakar api ledakan.


Itu berarti Imhotep harus fokus untuk menemukan lima manusia perempuan lainnya, anak-anaknya yang tersisa lebih dulu daripada Bangsa Zodijak untuk menjamin kemenangannya.


Hal itu akan dia pikirkan nanti. Sekarang waktunya menyelamatkan diri sendiri dulu.


Imhotep menekan tombol hitam yang terletak di dinding ruang pribadinya dan dalam sekejap, lampu-lampu menyala dan dinding terbuka, menampilkan papan navigasi dengan banyak tombol rumit di sana.


Ya, ruang pribadi Imhotep ini sebenarnya adalah pesawat kamuflase yang ditanam di markas ini untuk persiapan jika Imhotep harus pergi dalam keadaan genting seperti sekarang. Dengan suara tenang Imhotep memberikan instruksi-instruksi kepada pesawatnya untuk persiapan terbang sebelum kemudian pesawat tersebut siap mengudara.Imhotep melemparkan pandangan ke markasnya yang saat ini hancur lebur oleh ledakan dan kobaran api dan menggertakkan gigi dengan marah, bersumpah bahwa dia akan kembali dengan rencana dan kekuatan yang lebih besar nanti sebelum kemudian pesawat tersebut langsung naik ke udara, menembus bagian atas markasnya yang telah hancur lebur dan naik melesat ke langit dalam kondisi tak kasat mata.