
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira.
Mischa duduk di pinggir tempat tidur, memandangi meja di samping ranjang yang penuh dengan makanan. Seorang budak tadi datang mengantarkan menu makanan lengkap untuk manusia, untuk dirinya, lalu menguncinya kembali di ruangan ini.
Makanan yang dibawakan untuknya itu menggoda, semua adalah makanan-makanan yang dirindukan oleh Mischa dan hampir dilupakannya. Bahkan ada beberapa menunya yang bahkan Mischa belum pernah menyantapnya seumur hidup.
Mischa dilahirkan pada jaman perang sudah mulai bergolak, ketika itu negaranya masih ada dan masih berjuang menghadapi Bangsa Zodijak. Masa kecilnya dipenuhi dengan pelarian dari satu tempat ke tempat lain dalam suasana mencekam, sarat akan pertaruhan antara hidup dan mati.
Namun dia kehilangan ayahnya dalam sebuah serangan fatal dari Bangsa Zodijak dan akhirnya harus bertahan hidup sebatang kara, bergabung dengan Kaum Penyelinap lalu membiasakan diri dengan makan makanan seadanya.
Serangga, lumut dan hewan-hewan kecil lainnya, apapun itu yang penting bisa dia telan untuk menyambung hidup, sedangkan rasa dan tampilan makanan sudah pasti berada di urutan terakhir.
Sekarang di hadapannya terbentang berbagai macam menu makanan, ayam panggang yang tampak menggiurkan, daging steak dengan aroma harum, kentang tumbuk bercampur krim kental segar dan buah-buahan warna warni yang dipotong dadu menggugah selera, tak lupa segelas susu bercampur potongan stroberi segar di dalam sebuah gelas transparan yang menampilkan keindahan kontras warna putih dan merah yang menyatu.
Mischa lapar, amat sangat lapar.
Perutnya sudah berbunyi gaduh sejak tadi ingin segera diisi. Tapi Mischa takut untuk makan. Dia takut makanan ini adalah pengantar supaya dia bisa lebih gemuk, lebih sehat dan kuat sehingga Aslan bisa melakukan keinginannya yang mengerikan.
Saat kau siap nanti, aku akan memanenmu…
Mischa begidik ketika mengingat kata-kata Aslan. Rasa takutnya berhasil mengalahkan rasa lapar hingga Mischa memilih tak usah makan, menguatkan diri supaya tak tergoda oleh tampilan dan aroma yang menggugah selera dari makanan di depannya.
Lebih baik dia tetap kelaparan dan lemah daripada menjadi kuat sehingga Aslan bisa memanennya.
Tiba-tiba kenop pintu berputar, terdengar suara klik pelan ketika pintu itu membuka perlahan sementara Mischa menatap pintu dengan tubuh tegang waspada.
Lalu sosok Lelaki Zodijak yang berbeda muncul di sana, bukan Aslan, tetapi Mischa mengenalinya sebagai sosok yang berusaha menyentuhnya dan kemudian bersitegang dengan Aslan.
Kara?
Kara menutup pintu di belakangnya perlahan, sambil matanya tak lepas dari wajah Mischa yang ketakutan.
Hening yang mencekam, sebelum kemudian Kara menyeringai dengan tatapan tajam penuh arti ke arah Mischa.
﴿﴿◌﴾﴾
Mischa mengenali lelaki ini sebagai Kara, bukan saudaranya satu lagi yang memiliki wajah kembar dengannya, karena dalam pertemuan singkat sebelumnya, Mischa menyadari bahwa rambut si kembar berbeda.
Rambut Kara sedikit panjang, menyentuh kerah kemejanya, sementara yang satunya lagi berambut pendek.
Dan lelaki Zodijak ini yang sebelumnya menyerangnya di insiden sebelumnya.
Tidak seperti dengan Aslan, Mischa tahu bahwa dia tidak bisa melukai lelaki di depannya ini….
Tubuh Mischa langsung menegang. Dirinya berpikir untuk lari ke kamar mandi, tapi pikiran rasionalnya langsung mengingatkan kembali bahwa tidak ada gunanya dia lari.
Lelaki Zodijak ini lebih gesit, lebih kuat dan pasti akan menangkapnya sebelum dia mencapai pintu, seperti yang dilakukan Aslan kepadanya tadi.
Mata Mischa menatap waspada, siap beringsut menjauh ketika langkah Kara semakin dekat kepadanya.
Sementara itu, mata hitam Kara mengawasinya, lalu lelaki itu menghentikan langkah dalam jarak beberapa langkah lagi dari Mischa, telapak tangannya diangkat menghadap Mischa dalam posisi menyerah.
“Jangan takut,” Kara berucap pelan. “Aku tak akan mendekatimu kalau itu bisa membuatmu nyaman. Aku hanya ingin bicara.”
Bicara? Mischa mengerutkan kening. Apa yang ingin dibicarakan lelaki Zodijak ini dengannya?
Mata Mischa mengamati dengan curiga ketika Kara beranjak duduk di atas karpet, melipat kakinya dalam posisi bersila, masih dengan senyuman di bibir.
Saat ini mereka dalam posisi berhadapan, Mischa duduk di tepi ranjang dengan tubuh tegang, sementara Kara duduk bersila di bawah sambil menjaga jarak darinya.
Mischa tidak tahu harus menjawab apa, dia tidak tahu apa tujuan lelaki ini dan apa yang akan dilakukannya. Jadi sekarang Mischa hanya bisa waspada dan menanti.
“Namaku Kara. Kau pasti sudah melihat saudaraku, Kaza. Kami saudara kembar di bawah naungan rasi bintang yang sama, gemini,” Kara memperkenalkan diri perlahan, lelaki itu tidak tahu bahwa Mischa cukup familar dengan tujuh pemimpin Bangsa Zodijak dan sudah tahu bahwa si bungsu dari mereka adalah saudara kembar, semua pengetahuan itu dipelajari Mischa dari jurnal penelitian Sang Ayah.
Mata Kara menelusuri Mischa, menemukan ketakutan bercampur ketegangan di sana. Ekspresi sedih muncul di wajahnya.
“Siapa namamu?” Kara bertanya kembali, menatap Mischa dengan penuh rasa ingin tahu, sungguh dia ingin mendengar perempuan ini mengucap nama dengan mulutnya sendiri.
Mischa mengerutkan kening mendengar pertanyaan itu, menatap Kara tanpa mengendorkan kewaspadaannya, membuat Kara tersenyum miring.
“Memberitahuku namamu tidak akan melukaimu,” ujarnya kemudian dengan nada bersahabat.
Mischa mempertimbangkan hal itu, kemudian memutuskan untuk menjawab karena menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Kara benar adanya.
“Mischa,” Mischa berucap singkat, lalu mengunci kembali mulutnya rapat-rapat.
Jawaban itu membuat senyum Kara melebar.
“Mischa. Nama yang indah untuk diucapkan dan didengar,” pujinya pelan. “Aku mendatangimu karena kau mirip dengannya, seorang manusia perempuan dari masa laluku yang bermata biru dan berambut karamel. Wajah kalian berdua sangat mirip. Tapi dia sedikit lebih tua darimu,” Kara memiringkan kepala, melemparkan tatapan menilai pada Mischa sambil berpikir. “Mungkin dua atau tiga tahun lebih tua,” mata Kara menatap Mischa dengan penuh rasa ingin tahu. “Apakah mungkin kau pernah bertemu orang yang seperti itu?”
Mischa mengerutkan kening semakin dalam, bingung dengan apa yang diharapkan Kara darinya.
Bagaimana mungkin pria itu menanyakan dengan ciri yang sangat tidak spesifik?
Ada ribuan wanita lain dengan mata biru dan rambut karamel yang berusia lebih tua dari Mischa di negara ini dan perempuan yang dimaksudkan oleh Kara bisa saja merupakan satu di antara ribuan itu.
Mischa menyadari bahwa setiap Kara menyebutkan tentang perempuan itu, ekspresinya berubah sangat lembut seolah menahan rindu.
Mungkinkan manusia perempuan yang dibicarakan oleh Kara cukup penting baginya? Bagaimana bisa?
Karena Mischa tidak tahu harus menjawab apa, akhirnya dia hanya menggelengkan kepala.
Ada kekecewaan di mata dan ekspresi Kara, begitu dalam hingga mau tak mau hati Mischa sedikit terenyuh karena baru kali ini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Bangsa Zodijak memasang ekspresi sedih.
“Tidak tahu ya?” Kara menghela napas panjang. “Ah lupakan. Sebenarnya aku hanya ingin tahu kabarnya, memastikan dia baik-baik saja.”
“Siapa?” tanpa sadar Mischa bertanya, didorong oleh rasa ingin tahu. Seketika itu juga dia langsung menyesal telah melemparkan pertanyaan tersebut tanpa pikir panjang.
Kara sendiri mengangkat alis, tampak senang karena akhirnya Mischa mau bersuara.
“Manusia perempuan itu…. Dia pergi setelah mematahkan hatiku,” Kara menatap Mischa dalam. “Kau mengingatkanku padanya.”
Kembali Mischa terkejut menatap ekspresi sedih yang nyata di mata Kara.
Seorang lelaki Zodijak patah hati karena manusia perempuan? Itu adalah sesuatu yang bisa dibilang sangat tidak mungkin.
Keangkuhan lelaki Zodijak sudah mendarah daging, bahkan pada wanita kaumnya sendiri saja mereka tidak menghargai, apalagi pada manusia perempuan?
Apakah Kara sedang mencoba menipunya dengan cara menarik simpati Mischa sebelum menggiringnya ke pembantaian?
Kara menatap Mischa, tersenyum seolah paham akan apa yang sedang berkecamuk di benak Mischa.
“Sudah sejak awal karakeristik manusia perempuan memesonaku,” Kara menggerakkan tangan dengan ekspresif ketika berbicara. “Mereka begitu lembut dan hangat, memberimu kenyamanan. Kelembutan mereka tidak akan pernah kau temukan pada perempuan Zodijak karena kami sudah diciptakan untuk tangguh, pria dan wanita, sama saja, sama kuat dan kerasnya,” Kara menepuk-nepuk punggung tangannya sendiri. “Kau pasti sudah tahu bukan bahwa kulit kami keras dan tak tertembus? Bahkan jika kau sentuh, kulit kami sedingin es. Berbeda dengan kulit manusia yang rapuh, hangat dan lembut, membuatmu merasa damai.”
Mischa tidak menjawab, dan sepertinya hal itu tidak berpengaruh bagi Kara, karena lelaki itu terus berbicara.
“Perkara kulit yang tak tertembus ini, reaksi Aslan berbeda terhadapmu, entah apa yang terjadi padanya, padamu, pada kalian berdua, tapi kupikir kulitnya melembut untukmu hingga bisa kau lukai,” mata Kara sedikit menyipit menatap Mischa. “Tahukah kau bahwa keberadaanmu sekarang menjadi masalah yang sangat penting di antara kami? Kau adalah perempuan, manusia pula, yang bisa melukai Sang Raja.”
“Sang Raja?” Sekali lagi Mischa tidak mampu menahan diri, pertanyaan itu tercetus begitu saja dari bibirnya.
“Aslan - Si Singa. Kami menyebutnya Sang Raja karena dia berada di bawah rasi bintang Leo, menjadikannya yang paling kuat diantara kami. Akrep memang yang paling tua, paling berpengalaman dan paling bijaksana. Tapi tetap saja, pemimpin Bangsa Zodijak dipilih berdasarkan yang terkuat di antara yang lain,” Kara tersenyum ironis. “Karena kau bisa melukai yang terkuat dari kami, kau menjadi sangat berbahaya bagi kami,” suara Kara merendah lirih seolah-olah apa yang dikatakannya adalah sesuatu yang rahasia. Lelaki itu sepertinya tidak menyadari bahwa kata-katanya membuat Mischa sangat ketakutan.“Kecuali aku,” Kara menyambung pelan. “Aku tidak sedang mengincarmu dan aku tidak pernah melukai manusia perempuan seumur hidupku, dan kuharap akan terus begitu,”
Tatapan Kara berubah serius.
“Kalau kau mau, aku bisa membantumu melarikan diri.”
Bibir Mischa terbuka karena terkejut dan tak menyangka bahwa Kara akan menawarkan itu kepadanya. Tapi tentu saja Mischa tak begitu saja memercayainya, bisa saja lelaki Zodijak ini sedang menjebaknya supaya bisa dimangsa oleh dirinya sendiri.
“Aku tahu kau masih tidak memercayaiku,” Kara menganggukkan kepala, memasang ekspresi penuh pengertian. “Tapi suatu saat nanti, ketika kau memutuskan untuk memercayaiku, kau tinggal bilang.”
“Keluar, Kara,”
Suara yang tiba-tiba terdengar dari pintu yang terbuka entah sejak kapan membuat Mischa dan Kara menoleh secara bersamaan.
Mischa sedikit terkesiap ketika melihat Aslan berdiri di pintu dengan ekspresi muram luar biasa.
﴿﴿◌﴾﴾