Inevitable War

Inevitable War
Episode 139 : Misteri Kekuatan



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M ER


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )


 


 


 




"Apakah kau tertidur?”


Suara Aslan sedikit serak ketika dia beringsut dari atas ranjang, berguling miring mendekat ke arah Mischa yang berbaring dengan posisi miring yang sama membelakanginya.


Sejenak tidak ada jawaban. Tetapi Aslan bisa melihat pundak telanjang Mischa yang menegang mendengar pertanyaannya.


Lama kemudian, Mischa barulah menjawab pertanyaannya, suaranya ketus dan tak bersahabat.


“Apa pedulimu?”


Aslan menipiskan bibir, sama sekali tidak terpengaruh dengan sikap bermusuhan yang dilemparkan oleh Mischa kepadanya. Dia bergerak semakin dekat, merangkulkan tangannya tanpa izin ke pinggang Mischa yang tertutup selimut tebal yang membalut dari bawah lengan sampai ke kaki, dan merapatkan Mischa mundur ke arahnya sehingga punggung Mischa menempel ke dadanya yang telanjang.


Aslan sengaja menundukkan kepala, membiarkan bibirnya dekat dengan telinga Mischa untuk menggoda.


“Karena jika kau tidak tidur, aku ingin bercinta lagi,” bisiknya dengan suara serak merayu.


Aslan bisa melihat dengan jelas rona merah yang menjalari pipi Mischa hingga turun ke leher dan bahunya. Hal itu membuatnya tidak bisa menahan diri, menundukkan kepala lalu membenamkan bibirnya untuk mengecup rona menggoda di sisi pundak Mischa.


Tubuh Mischa menegang, tetapi perempuan itu tidak memberontak. Mischa tetap menolak untuk menoleh ke arah Aslan, memastikan bahwa lelaki itu tidak bisa melihat ekspresi wajahnya saat ini.


“Aku lelah,” akhirnya Mischa bersuara, menyerukan penolakan tak langsung.


Aslan tidak tersinggung dengan penolakan itu. Toh sudah berjam-jam berlalu dan Mischa mau melayaninya tanpa perlawanan. Perempuan itu bersikap memusuhi, tetapi tidak bisa menyembunyikan hasrat dan kerinduan tertahan yang meluap secara alami di antara mereka berdua akibat perpisahan yang dipaksakan.


Aslan sangat merindukan Mischa, dia tidak bisa menahan diri untuk terus menerus memeluk perempuan itu, mendekatkan tubuh perempuan itu ke tubuhnya dan memanennya tanpa henti untuk memuaskan dahaga yang menggelegak. Dan kerinduan itu masih belum terpuaskan bahkan sejak berjam-jam berlalu. Tubuhnya menerima penyatuan mereka dengan baik, seluruh lukanya telah sembuh bahkan luka dalam yang tidak tampak di permukaan.


Mengingat itu semua, Aslan mengambil pergelangan tangan Mischa untuk memeriksanya. Dia masih ingat bahwa pergelangan tangan itu terluka ketika dia membebaskan Mischa. Imhotep telah membelengu tangan Mischa dengan borgol khusus dan sudah pasti dengan kekeraskepalaannya, Mischa berusaha memberontak sehingga membuat tangannya terluka.


Dia akan membalas apa yang dilakukan Imhotep pada Mischa nanti ketika mereka bertemu lagi.Aslan memutuskan tekad membalas dendamnya dengan dingin dan dipenuhi kemarahan. Tetapi matanya kemudian melembut ketika menemukan bahwa luka di pergelangan tangan Mischa sudah memudar dan hampir sembuh.


Rupanya dugaannya benar, percintaannya dengan Mischa memiliki imbas dua arah. Bukan hanya Aslan yang tersembuhkan, tetapi Mischa juga.


Hal ini membuat Aslan semakin yakin bahwa mereka memang ditakdirkan bersama. Aslan membutuhkan Mischa untuk tetap kuat, sementara Mischa, meskipun kekeraskepalaannya menahan perempuan itu untuk mengaku, tetap saja perempuan itu membutuhkan Aslan untuk menyembuhkan diri dari penyakit kronis yang dideritanya sejak lama.


“Imhotep membelenggu tanganmu di atas ranjang perawatan. Apa sebenarnya yang sedang dia coba lakukan kepadamu di ruang pemeriksaan itu? Apakah dia mencoba mengambil darahmu seperti yang dilakukannya pada Natasha?”  suara Aslan menajam ketika menyebut nama Imhotep dalam pertanyaannya.


Mischa menghela napas panjang. Bayangan tentang Imhotep membuatnya merasakan hal tidak enak yang menggayuti jiwa. Tadi dia bisa melupakannya karena sikap dan tindakan Aslan berjam-jam sebelumnya, tetapi sekarang, mau tak mau dirinya harus menghadapi kenyataan kembali menyangkut sosok mengerikan yang mengaku sebagai ‘ayahnya’ itu.


Mischa menggigit bibir dalam bingung. Apakah dia harus membagi informasi mengenai apa yang dikatakan Imhotep kepada Aslan dan saudara-saudaranya? Jika itu dilakukannya, akan berada di pihak manakah dirinya?


Mischa sampai saat ini masih belum bisa memercayai apa yang dikatakan oleh Imhotep mengenai genetik Bangsa Zodijak dari Imhotep sendiri yang ditanamkan di dalam darahnya. Dia memiliki ayah seorang manusia, memiliki seorang ibu yang meskipun tidak pernah ditemuinya, diyakininya sebagai manusia juga. Bahkan ayahnya yang seorang peneliti tidak pernah mengatakan apapun tentang kemungkinan ini.


Bukankah ayahnya juga sering mengambil sampel darah Mischa untuk mencari obat bagi penyakit autoimun Mischa yang termasuk jenis langka dibandingkan penyakit autoimun lannya?Ayahnya pasti akan memeriksa darah Mischa dengan teliti, bukan? Kalau memang ada sesuatu yang aneh, bukankah ayahnya akan mengatakan sesuatu? Tetapi ayahnya tidak pernah mengatakan apa-apa, selalu bersikap biasa dan memperlakukan Mischa dengan cara biasa pula.


Bagaimana mungkin tiba-tiba saja Mischa harus menghadapi kenyataan bahwa ada genetik Bangsa Zodijak yang turut membentuk dirinya?


Bukti yang dikatakan oleh Imhotep memang tak terbantahkan, ditambah lagi dengan kekuatan tak terduga Mischa ketika menyelamatkan Aslan.Hal itu membuat Mischa semakin bingung mengenai jati dirinya. Tentang siapa dirinya sebenarnya.


Makhluk apakah dia ini? Dimanakah kakinya sekarang harus berpijak? Di pihak manusia yang selama ini dia imani sebagai bangsanya, ataupun di pihak Bangsa Zodijak yang selama ini dia anggap sebagai musuhnya?


Aslan tampak tidak sabar dengan pergulatan batin Mischa yang dilewatkannya dalam keheningan. Lelaki itu bergerak cepat, menarik bahu Mischa hingga perempuan itu berbaring telentang sebelum kemudian bergerak cepat bertumpu pada kedua tangannya hingga Mischa berada di bawahnya.


Mischa mengerutkan kening, masih dalam pergulatan batin untuk memberi Aslan informasi atau tidak. Tetapi, akhirnya memutuskan untuk memberikan jawaban yang diinginkan oleh Aslan.


“Ya, dia ingin mengambil darahku sebagai senjata,” Mischa melirik ke arah perutnya, lalu kembali ke arah Aslan. “Tetapi jarum suntiknya tidak bisa menembus kulitku.”


Mata kelam Aslan melebar ketika mendengar informasi itu, tatapannya menajam, tahu bahwa masih ada hal-hal yang belum diungkapkan Mischa kepadanya. Kemarahannya mulai menggelegak ketika membayangkan apa yang hendak dilakukan Imhotep kepada Mischa, tetapi lelaki itu berhasil menahannya, menggeramkan kalimat setengah mengancam yang menguarkan nuansa mengerikan ke seluruh penjuru ruangan.


“Lanjutkan,” geramnya parau ketika Mischa tak kunjung bersuara.


Mischa menyipitkan mata, menilai reaksi Aslan sebelum kemudian berkata.“Ketika jarum suntiknya tidak bisa menembus kulitku, Imhotep berpikir bahwa anak di dalam kandunganku yang menghalanginya. Dia lalu mengambil pisau dari batu yang katanya paling keras di planet Zodijak untuk membedah perutku dan mengeluarkan bayiku,”


Mischa mengerutkan kening, mencoba mengingat tetapi tidak berhasil melakukannya. “Aku lupa nama batunya, tapi pisau itu berwarna hitam… dan pisau itu tidak bisa menembus kulitku. Pada akhirnya Imhotep marah lalu ada gangguan di luar hingga dia tidak menyelesaikan maksudnya dan meninggalkanku. Saat itulah kau datang.”


Kali ini wajah Aslan dipenuhi kemurkaan. Membayangkan Imhotep menggoreskan pisau untuk mengeluarkan anak dalam kandungan Mischa sudah cukup memberikan amunisi kebencian yang semakin berkobar di dalam jiwa Aslan.


Imhotep boleh saja merupakan salah satu nenek moyang Bangsa Zodijak yang menjadi cikal bakal bangsa mereka yang kuat, dia boleh saja memiliki pengetahuan luas dan sulit dikalahkan, tetapi Aslan tidak akan membiarkan kakek tua itu itu begitu saja. Dia akan memastikan bahwa Imhotep akan dihabisi dengan tangannya sendiri.


Tanpa sadar Aslan menunduk, membiarkan matanya menyapu perut Mischa, keningnya berkerut dalam ketika menyadari informasi yang diberikan oleh Mischa kepadanya.


Jika Mischa berkata bahwa jarum suntik tidak bisa menembus kulitnya, mungkin hal itu masih bisa diterima secara logika, karena dengan seringnya Aslan memanen Mischa, efek saling menyembuhkan itu bisa saja berimbas pada permukaan kulit Mischa yang sama kuatnya dengan kulit Bangsa Zodijak.


Kulit Bangsa Zodijak tidak bisa ditembus dengan jarum suntik, karena itulah metode pengobatan mereka menggunakan tabung serum pengisap khusus yang bisa menarik darah atau cairan sampel lain dari permukaan kulit tanpa perlu menusuk permukaan kulit tersebut dengan jarum suntik.


Kenyataan bahwa Imhotep menggunakan metode jarum suntik kepada Mischa menunjukkan bahwa Imhotep sama sekali tidak menyangka bahwa Mischa menjadi mirip dengan Bangsa Zodiak karena sentuhan Aslan kepada perempuan itu.


Tetapi, yang lebih mengganggu Aslan adalah ketika Mischa berkata bahwa Imhotep menggunakan pisau yang terbuat dari batu terkuat untuk merobek permukaan kulit perut MIscha. Dan Aslan tahu pasti bahwa batu itu adalah batu Lonsdaleite.


Senjata yang dibuat dari batu Lonsdaleite memang menjadi satu-satunya senjata yang bisa menggores permukaan kulit keras Bangsa Zodijak. Meskipun tidak bisa menimbulkan kerusakan maksimal, penggunaan batu Lonsdaleite sebagai senjata tetap harus diwaspadai.


Sekarang Mischa berkata bahwa pisau dari batu Lonsdaleite yang kuat itu bahkan tidak bisa menembus kulit perut Mischa ketika diiriskan langsung ke kulitnya?


Apakah itu berarti permukaan kulit perut Mischa bahkan lebih kuat dari kulit Bangsa Zodijak itu sendiri? Karena apakah? Bukankah pergelangan tangan Mischa tetap terluka ketika perempuan itu mencoba melepaskan diri dari belenggu besi baja biasa? Kenapa hanya bagian-bagian tubuh tertentunya yang terlindungi?


Atau jangan-jangan… apakah anak yang ada di perut Mischa yang bergerak melindungi Ibunya?


Mungkin saja anak itu menghalangi dimasukkannya sesuatu seperti jarum suntik untuk menembus kulit ibunya dan melawan ketika pisau yang sangat kuat mencoba menggores perut ibunya.




 


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author yang berjudul Essence Of The Darkness selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD telah tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


Diterbitkan oleh projectsairaakira.


Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :


EOTD Bonus 1 : Morning Sick


EOTD Bonus 2 : Penyesalan


EOTD Bonus 3 : Anti Akram


EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak


EOTD Bonus 5 : Perpisahan


EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi


EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi


EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri


EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah


EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia


Terima Kasih.


AY