Inevitable War

Inevitable War
IW eps1 : Bangsa Zodijak



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira.


 


 


 


 


 



"Hati-hati!"


Mischa berseru dalam bisikan sambil menarik tangan Sasha supaya kembali masuk ke balik reruntuhan ketika suara pesawat-pesawat pengintai terdengar di atas langit. Suara itu begitu menakutkan, bagaikan raungan monster siang dengan mata merah tajamnya berwujud lampu radar yang dengan teliti mampu menemukan seluruh makhluk hidup yang tersapu oleh jangkauannya.


Mischa menarik Sasha supaya rebah di tanah sementara jantungnya berdebar mengiringi keringat yang menetes di pelipisnya.


Hari ini sangat panas, dan seharusnya Mischa telah terbiasa. Karena hari ini sama seperti hari-hari yang lain ketika hawa panas membasuh bumi akibat lapisan pelindung langit yang telah rusak total dalam perang besar yang tak terhindarkan. Kerusakan itu menyebabkan matahari menjadi garang dan tak kenal ampun, menyengat siapapun yang berani muncul di bawah teriknya.


Udara yang mereka hirup pun sama tak bersahabatnya, membaurkan butiran debu yang membuat hidung pedih ketika menghirupnya, bahkan mata mereka pun menjadi merah dan terasa perih ketika debu itu menyapa area mata mereka.


Beginilah kehidupan mereka sekarang, di jaman yang penuh racun akibat serangan bangsa asing yang menghancurkan bumi, menciptakan perang berlarut-larut yang tak terelakkan dan sepertinya tidak akan pernah berakhir. Mereka menjadi korban serangan Bangsa Zodijak, alien jahat yang berniat merebut bumi dari umat manusia.


Kehidupan umat manusia dulu dipenuhi kemakmuran dan ketenangan sebelum Bangsa Zodijak menyerang. Makhluk tak kenal ampun itu berasal dari luar planet Bumi. Mereka datang mengendarai beribu-ribu pesawat berukuran raksasa yang ternyata berisi pasukan perang nan kejam yang dilengkapi dengan persenjataan modern yang tak ada habisnya.Bangsa Zodijak ternyata adalah bangsa penjajah dan pengelana.


Mereka mengelilingi seluruh galaksi untuk mencari dan menguasai sumber daya yang mereka butuhkan : air.


Dan bumi serta penduduknya benar-benar tidak beruntung karena planet yang mereka pijak ini, memiliki sumber air yang melimpah dan menggiurkan bagi Bangsa Zodijak.


Ya, Bangsa Zodijak membutuhkan air untuk bertahan hidup, sementara Planet Zodijak mereka yang hancur telah memaksa mereka menyeberang antar galaksi untuk mencari planet yang bisa dijajah. Bangsa itu membangun kerajaan mereka sendiri di atas planet makhluk lain dan menghancurkan penduduk asli.


Ketika serangan pertama terjadi dan disusul dengan serangan-serangan selanjutnya yang seolah tiada akhir, seluruh makhluk bumi bersatu untuk melawan bangsa itu. Tetapi, akhirnya mereka semua kalah dengan mudah, kalah persenjataan, kalah kekuatan, kalah teknologi, kalah jumlah dan juga kalah dalam ketahanan tubuh.


Meskipun secara sekilas penampilan Bangsa Zodijak mirip dengan manusia, tubuh mereka sepenuhnya berbeda. Mereka lebih tinggi, lebih tegap dan kuat. Dilengkapi dengan permukaan kulit yang begitu keras tetapi lentur, memungkinkan mereka bergerak dengan mudah, tapi mampu melindungi tubuh mereka, bahkan dari tembakan peluru sekalipun.


Sangat sulit untuk melukai bangsa Zodijak karena seluruh tubuh mereka dilapisi oleh sistem pertahanan diri yang efektif dan sulit ditembus. Manusia bagaikan melawan tembok baja yang bahkan tidak bisa digores, membuat pertarungan ini laksana semut melawan gajah.


Satu-satunya yang membedakan secara mencolok dari penampilan Bangsa Zodijak dengan manusia adalah mata mereka. Mata mereka hitam legam, keseluruhannya. Tidak menyisakan warna putih sedikit pun layaknya mata manusia. Dan yang paling fatal. Bangsa Zodijak juga menyebarkan virus mengerikan yang membuat manusia tak berdaya, jika Bangsa Zodijak menggigit manusia, maka virus itu akan menguasai otak manusia, menjajahnya dan membuat kaum manusia menjadi selayaknya robot yang mudah untuk diperbudak.


Itulah yang terjadi pada Presiden yang memimpin sebuah negara adidaya, negara kuat yang menjadi salah satu harapan mereka untuk melawan Bangsa Zodijak. Negara itu termasuk pemimpin sekaligus pasukannya akhirnya tumbang juga karena virus dan kalah persenjataan. Kejatuhan negara adidaya itu menciptakan ketakutan maha dasyat di antara seluruh bangsa, memaksa bangsa-bangsa di bumi yang tersisa untuk bersatu padu, menyatukan kekuatan untuk melawan penjajah asing tersebut.


Mischa mendengar dari desar-desus yang dibawa oleh anggota kelompok mereka ketika pulang dari berkelana bahwa masih banyak kaum manusia masih bertarung jauh di sana, di belahan bumi lain, mencoba memperjuangkan apa yang tersisa dari harapan hidup umat manusia.


Mischa sendiri tidak pernah tahu pasti apa yang terjadi di negara lain. Seluruh sistem informasi di negara tempatnya berada telah musnah sehingga mereka bahkan kesulitan untuk berhubungan dengan saudara satu bangsa mereka sendiri.


Mungkin saja di luar sana masih banyak yang melawan, mungkin saja masih ada harapan untuk negara-negara lain yang masih bertahan. Sayangnya negara tempat Mischa berada sudah tumbang sejak lama. Hancur berkeping-keping dan menyisakan reruntuhan tanpa daya, pasrah untuk diluluh lantakkan sebagai pondasi baru bagi peradaban Bangsa Zodijak yang kejam.


Mereka semua bagaikan makhluk buruan yang tak berdaya, hanya tinggal menunggu waktu sebelum tertangkap dan dijadikan budak tanpa jiwa bagi kaum penjajah.


Deru pesawat pengawas yang sangat canggih itu masih terdengar beberapa lama di permukaan langit, mencari-cari siapapun yang mencoba menyelinap di balik reruntuhan. Mischa memeluk Shasha, anak perempuan kecil yang memiliki nasib sama seperti dirinya.


Mereka yang tinggal sebatang kara bertahan hidup sendirian, kehilangan seluruh keluarganya dan menggantungkan hidup satu sama lain dengan kaum penyelinap, sebutan bagi warga sipil yang mencoba bertahan secara diam-diam, bergerak gerilya di bawah tanah, berpikir bahwa lebih baik hidup dalam pelarian tapi berjiwa merdeka daripada hidup terjamin tetapi menjadi budak dan kehilangan pemikiran bebas.


Mereka yang tak mau menyerah ini dijuluki Kaum Penyelinap, kaum terbuang yang memilih berjuang secara sembunyi-sembunyi. Keberadaan mereka mungkin merupakan gangguan yang tidak disukai oleh Bangsa Zodijak, terutama oleh kaum bangsawan yang menjadi pemimpin di antara mereka.


Bangsa Zodijak dipimpin oleh tujuh pemimpin utama yang masing-masing memiliki pasukan dengan keahlian khusus nan mengerikan. Tujuh pemimpin utama itu merupakan tujuh saudara dengan karakteristik masing-masing. Aslan, Akrep, Khar, Sevgil, Yesil, serta si kembar Kaza dan Kara.


Mischa memang tidak pernah melihat langsung dan hanya pernah mendengar nama mereka dan kengerian yang ditebarkan setiap nama-nama itu disebut, tetapi Mischa tahu bahwa mereka adalah makhluk jahat, makhluk kejam yang menghancurkan sebuah dunia hanya demi membangun dunia baru milik mereka sendiri.


Saat ini Mischa sedang menundukkan kepala, rata dengan tanah, sebelah tangannya yang dibungkus sarung tangan tebal berwarna cokelat menekan kepala Shasha supaya ikut menundukkan kepala. Mereka memakai pakaian cokelat pasir yang memang disengaja supaya sewarna dengan tanah. Meskipun begitu, mereka harus tetap berhati-hati karena pesawat milik Bangsa Zodijak sangat canggih hingga kamuflase kadang tidak ada gunanya.


Setelah beberapa waktu dalam suasana mencekam, rupaya keberuntungan masih berada di pihak mereka. Pesawat itu tampaknya memutar arah dan menjauh pergi karena tidak menemukan apa-apa. Mischa menajamkan telinga, memastikan bahwa pesawat itu telah benar-benar menjauh sebelum kemudian dia menghembuskan napas lega, mengangkat tubuhnya ke posisi duduk dan mengangkat tangannya dari kepala Sasha.


“Lain kali jangan pernah keluar dari gua reruntuhan ketika matahari sedang terik-teriknya seperti ini. Pesawat-pesawat musuh sedang berkeliaran tanpa henti, dan di siang hari kita sangat mudah terlihat,” Mischa memberi nasehat dengan lembut kepada Sasha yang tampak menundukkan kepala penuh rasa bersalah.


Anak itu memang memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi, dan rasa ingin tahunya itu kadang tak tentu arah membuatnya lupa akan bahaya yang mengancam.


Mischa memang tidak mungkin bisa menyalahkan Sasha sepenuhnya. Sasha baru berusia sepuluh tahun dan dunia luar yang hancur lebur dan tampak menyedihkan di mata Mischa yang sudah menginjak usia sembilan belas tahun, tentu tampak begitu menarik layaknya rangkaian puzzle yang harus dijelajahi di mata Sasha.


Sayangnya keingintahuan Sasha kadang tak tepat waktu hingga bisa saja membahayakan mereka semua.


Setelah yakin keadaan benar-benar aman, Mischa lalu berdiri, menepuk-nepuk debu dari pakaian tebalnya yang berlapis-lapis dan terasa berat di tengah udara terik itu. Tangannya terulur, memberi isyarat tanpa kata supaya Sasha menggandeng tangannya.


Ketika Sasha menyambut uluran tangan itu, Mischa langsung menggengamnya erat, menatap Sasha dengan lembut supaya Sasha tahu bahwa dia sudah memaafkan keteledoran Sasha sebelumnya.


“Ayo, kita harus segera masuk ke tempat persembunyian. Kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan.” Mischa menepuk kantong kulit yang diikat di pinggang dan dijaganya layaknya barang berharga.


Pada masa pelarian ini, apapun yang bisa dimakan sangatlah berharga. Mereka harus bertahan hidup dengan apapun yang mereka bisa dapatkan, demi kebebasan dan kemerdekaan pikiran mereka.


﴿﴿◌﴾﴾



"Hanya tinggal menunggu waktu sampai mereka semua menyerah. Saat ini mereka sedang mengerahkan senjata terkuat mereka, dan setelah itu mereka tidak akan punya apa-apa lagi.” Akrep adalah yang tertua dari tujuh bersaudara berucap dengan dahi berkerut.


Akrep hampir tidak pernah tertawa, dia adalah pemimpin strategi yang menentukan kemenangan Bangsa Zodijak dalam setiap invasi yang mereka lakukan di planet-planet jajahan. Yang ada di pikirannya hanyalah memperluas kekuasaan dan mengalahkan musuh.


Saat ini Akrep tampak serius dengan pakaian gelap khas prajurit Bangsa Zodijak yang membungkus tubuh tingginya. Matanya memandang lurus ke arah sebentuk bola bumi yang melayang dan transparan di depan mereka, bentuk refleksi hologram dari planet yang saat ini mereka duduki.


Bola bumi itu terbagi menjadi dua warna, warna merah menunjukkan area-area yang sudah berhasil mereka taklukkan, sedang warna biru menunjukkan daerah-daerah yang masih memberikan perlawanan menyedihkan di titik akhir, dan dengan kata lain akan kalah sebentar lagi.


“Aku tidak pernah menemukan bangsa yang begitu gigih mempertahankan diri seperti makhluk bumi ini. Pemimpin mereka hancur lebur dan mereka tercerai berai entah kemana, tetapi mereka tetap tidak menyerah,” kali ini Yesil yang bergumam di belakang Akrep, tubuhnya sedikit lebih pendek dan dia adalah yang paling muda di antara tujuh bersaudara, rambutnya sendiri gelap, sama seperti saudara-saudaranya yang lain, ekspresinya jauh lebih lembut dibandingkan dengan Akrep yang begitu kaku.


“Mereka hanya bertahan di dalam kesia-siaan,” Kaza yang sejak tadi duduk dan memperhatikan kedua saudaranya, menyela dengan suara meremehkan. “Kita masih berbaik hati dengan mengubah mereka menjadi budak, bukannya langsung menghabisi mereka. Setidaknya dari milyaran manusia yang menduduki bumi, kita masih menyisakan beberapa ratus juta dari kaum mereka untuk bertahan hidup.”


“Suatu saat aku akan menghabisi mereka tanpa sisa jika kita sudah tidak membutuhkan budak lagi untuk melayani kita,” Akrep melirik dengan ekspresi jijik ke arah sosok budak manusia yang sejak tadi berlutut dengan tatapan mata kosong tak berdaya, kepala budak itu menunduk seolah tidak ada tanda kehidupan. Meskpun tampak seperti boneka tanpa nyawa, jika diberi perintah, budak manusia itu akan patuh tanpa membantah. Begitulah manusia yang telah diprogram menjadi budak, mereka tiada guna di dunia ini selain menjadi hamba Bangsa Zodijak.


“Aku sudah tahu kau akan melakukan itu, Akrep. Kau sangat suka menumpahkan darah musuh-musuhmu yang kau anggap tidak berguna,” Yesil menyahut dengan ekspresi tak setuju di wajahnya. “Tetap saja aku tak habis pikir menyangkut Aslan. Dia membabi buta membunuh manusia. Semua dia habisi tanpa membedakan mana yang seharusnya dipertahankan untuk menjadi budak dan mana yang tidak berguna dan boleh di bunuh.”


“Karena kau menyebut nama Aslan, aku jadi ingin tahu. Dimana Aslan dan yang lainnya? Apakah mereka sedang berburu?” Akrep mengangkat alis dan mengajukan pertanyaan yang sebenarnya sudah dia duga jawabannya.


Berburu yang dia maksud adalah berburu manusia, hanya sebagai olahraga untuk bersenang-senang menghapus kebosanan. Aslan adalah salah satu yang paling aktif berburu di antara ketujuh bersaudara. Biasanya mereka pergi ke daerah-daerah reruntuhan di negara-negara yang telah tumbang, lalu turun dan menyamar menjadi manusia.


Penampilan Bangsa Zodijak memang sama persis seperti manusia, kecuali mata mereka yang hitam legam.Untuk menyamar menjadi manusia, mereka tinggal memasang alat khusus untuk mengganti warna mata mereka secara sempurna. Biasanya mereka berburu dengan masuk ke sela-sela reruntuhan guna mencari kaum penyelinap.


Kaum penyelinap adalah kelompok gerilyawan dari kalangan manusia yang menolak menjadi budak dan tidak pernah kehilangan  asa untuk bertahan hidup di tengah gempuran Bangsa Zodijak.


Prajurit Zodijak tingkat paling rendah pun sebenarnya bisa menumpas kaum penyelinap dengan mudah. Tetapi, mereka sengaja mempertahankan kaum lemah itu untuk kepentingan olah raga dan bersenang-senang.


Berburu kaum penyelinap cukup meyenangkan dilakukan setelah berperang dan menghabisi negara-negara yang melawan. Dan yang menyedihkan, kaum penyelinap mengira bahwa mereka berhasil berjuang mempertahankan nyawa mereka, padahal sebenarnya mereka semua dibiarkan bertahan hidup hanya karena keberadaan mereka dibutuhkan sebagai manusia buruan yang bisa digunakan untuk olahraga dan bersenang-senang bagi Bangsa Zodijak.


Bangsa Zodijak diciptakan sebagai bangsa pemburu dan pemusnah, jadi kegiatan apapun yang berhubungan dengan perburuan sangat menyenangkan bagi mereka. Dan Aslan, salah satu dari saudara mereka, pemimpin dari tujuh bersaudara dan tidak diragukan lagi adalah yang terkuat dari Bangsa Zodijak, adalah yang paling senang berburu manusia atau makhluk apapapun yang kebetulan sedang sial karena planetnya dijajah oleh Bangsa Zodijak.


“Hanya Aslan yang memilih pergi berburu di area reruntuhan yang ditinggalkan di area barat. Yang lainnya memilih menghabiskan waktu di istana untuk rehat sejenak setelah peperangan berhari-hari di timur jauh,” Yesil menjawab pertanyaan Akrep dengan nada datar.


“Aslan selalu menghibur diri dengan cara yang aneh,” Kara yang dari tadi diam memerhatikan percakapan saudara-saudaranya menyela dengan senyuman sinis di bibir. “Aku tak sabar menanti perang ini berakhir dan seluruh perlawanan ditumpas habis, sehingga aku bisa bersenang-senang dengan caraku sendiri.”


“Cara bersenang-senangmu memang berbeda dengan yang lain,” Akrep mencibir sinis. “Apakah sebegitu menyenangkannya mencicipi perempuan bangsa bumi?”


Kali ini Kara tertawa terbahak-bahak sebelum menjawab.“Bukankah kau sudah mencoba mereka? Perempuan bumi menyenangkan, mereka lembut dan lemah, mudah untuk dikuasai, jauh berbeda dengan perempuan bangsa kita.”


“Dan para perempuan bumi itu remuk redam berkeping-keping segera setelah kau selesai meniduri mereka,” Akrep menyela dengan nada dingin. “Aku tidak tahu kenapa kau berselera dengan perempuan bumi. Tetapi, jangan sampai kau terlibat terlalu jauh dengan perempuan-perempuan bumi, Kara. Jangan sampai kau mengulangi kesalahan yang sama,” Akrep langsung memberi nasehat dengan nada serius, membuat tawa Kara terhenti, tergantikan oleh anggukan singkatnya yang tampak getir.


“Jangan khawatir, Akrep. Aku hanya menganggap mereka semua budak rendahan yang tidak sebanding dengan bangsa kita. Aku sudah mendapat pelajaran di masa lampau, tidak akan mungkin aku jatuh di lubang yang sama,” Kara meringis dengan ekspresi sedih, menyimpan sendiri pemikiran menyakitkan tentang satu-satunya perempuan bumi yang tidak hancur lebur setelah ditiduri olehnya, perempuan bumi yang berkhianat dan melarikan diri dari sisinya.


“Bagus kalau kau sadar akan kesalahanmu. Kau boleh bersenang-senang dengan mereka, tapi setelah kau puas, bunuh mereka. Jangan biarkan mereka hidup terlalu lama hingga memiliki kesempatan untuk menawan hatimu.” Akrep memberikan ultimatum lalu mengalihkan perhatian kembali ke tampilan hologram bola bumi di depannya.


Pembahasan tentang perang dan pertempuran selalu lebih menarik bagi Akrep daripada pembahasan tentang perempuan, jenis apapun itu.


﴿﴿◌﴾﴾



Aslan mengamati dalam diam, dalam senyum kejamnya yang mengerikan.


Tubuhnya yang tinggi tampak tersamarkan di balik bebatuan dan puing reruntuhan yang tersaput kabut debu. Sementara bulir debu yang mencemari udara tampak pekat dan tentu menyesakkan bagi makhluk-makhluk menyedihkan di depannya.


Dua anak manusia. Yang satu besar dan yang satu kecil.


Yang kecil tidak menarik perhatiannya karena terlihat lemah, masih butuh beberapa tahun lagi untuk bisa dijadikan budak ataupun buruan untuk bermain-main. Tapi yang lebih besar menarik perhatian Aslan, tampak sehat dan terlihat gesit serta berpengalaman dalam pelarian.


Kenyataan bahwa postur tubuh mangsanya menunjukkan bahwa mereka berjenis kelamin perempuan sama sekali tidak mengganggu Aslan. Dia tidak peduli akan gender musuh-musuhnya. Dia tidak merasa pongah melawan manusia laki-laki, pun dia tidak pernah merasa kasihan melawan manusia perempuan.


Bagi Aslan, makhluk manusia sama saja, hanya kemampuan mereka untuk berlari dan menyenangkan Aslan dalam pengejaranlah yang menjadi pertimbangannya ketika memilih mangsa.


Sayangnya, hampir seluruh manusia perempuan yang diburunya biasanya bergerak lambat dan memilih menjerit-jerit daripada berlari menyelamatkan diri hingga tidak nikmat untuk diburu.


Di dataran tandus penuh dengan puing-puing bangunan yang runtuh dan menjadi penghalang ini, Aslan suka menunggu hingga sosok manusia laki-laki muncul, sebelum mendekati lalu memburu mereka. Penampilan Aslan dalam penyamaran dengan mata manusia kadang membuat manusia laki-laki itu kurang waspada dan baru sadar ketika semua sudah terlambat.


Manusia laki-laki lebih menyenangkan untuk diburu, karena tubuh mereka lebih kuat yang berarti mereka bisa lebih lama bertahan dalam pengejaran. Aslan suka membuat mereka berlari-lari atau kadang melawan dengan menyedihkan, sebuah olahraga yang efektif bagi dirinya untuk membuang sedikit keringat.


Sayangnya, akhir-akhir ini dia jarang menemukan kaum laki-laki naik ke permukaan dan keluar dari tempat persembunyian. Entah karena jenis mereka memang sudah habis diburu, entah karena mereka berubah menjadi pengecut dan menyuruh kaum perempuan yang keluar menantang maut.


Manusia perempuan yang besar itu sedang menjaga anak perempuan yang kecil.


Aslan masih tidak bisa menyingkirkan senyum kejamnya ketika menghitung-hitung. Kalau perempuan itu sehat dan gesit, mungkin Aslan bisa  memisahkan perempuan itu dari anak kecil pengganggu, lalu membuat perempuan itu berlari-lari dalam pengejarannya selama beberapa saat sebelum kemudian membunuhnya. Rencananya terasa menggoda meskipun membunuh perempuan masih terasa kurang menantang baginya.


Apapun itu, sekarang Aslan sudah jauh-jauh datang kemari dengan harapan bisa bersenang-senang dalam perburuan. Dia tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Mangsa apapun yang ditemukannya, akan dilalapnya, meskipun sekarang yang muncul adalah sosok perempuan dan anak kecil yang tak berguna.


Aslan menegakkan tubuh, memastikan lensa mata palsu untuk menutupi mata legamnya terpasang dengan sempurna, lalu melangkahkan kaki untuk menunggu di tempat yang tepat sebelum kemudian menyapa mangsanya.


﴿﴿◌﴾﴾



SORRY ga ada yang matanya item total ahahaha, jadi pakai visual ini aja yak, anggap aja matanya item total. Dilarang protes yak ahahahaha