Inevitable War

Inevitable War
Episode 52 : Perjalanan



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


 



 


Ketika Aslan memasuki ruangan, Mischa sudah mengenakan pakaian sesuai yang diperintahkan, dia juga dengan patuh telah masukkan pakaian cadangan ke dalam kantong.


Aslan melangkah perlahan menyeberangi karpet seperti predator yang sedang mengitari dan menilai mangsanya. Baju yang dipilihkannya untuk Mischa sangat pas, membalut tubuh Mischa dengan tepat. Mischa memiliki tubuh kurus yang terlalu mungil jika dibandingkan dengan perempuan-perempuan Zodijak, karena itulah Aslan kerepotan menyiapkan baju Ketika untuk Mischa. Tubuh Bangsa Zodijak lebih besar dari tubuh manusia, bahkan anak-anak serta kaum perempuan Bangsa Zodijak pun lebih tinggi dan tegap dibandingkan dengan manusia.


Beruntung ada pakaian-pakaian baru untuk anak-anak perempuan Zodijak yang tersedia dan rupanya itu sangat pas di tubuh Mischa.


Mata Aslan menelusuri tubuh Mischa dengan lapar. Meskipun kurus, tubuh Mischa sangat menggoda baginya, perempuan itu berisi tepat di bagian-bagian tertentu, di pinggulnya dan juga di dadanya, dan itu terasa sangat pas bagi Aslan.


Gairah langsung muncul dan merambat di tubuh Aslan, membuat lelaki itu harus menggertakkan gigi supaya tidak menyeret lalu membaringkan tubuh Mischa ke ranjang dan membuyarkan semua rencana yang telah dia susun sebelumnya.


Mata Aslan menelusuri jemari Mischa yang rapuh, mengalihkan perhatiannya dari gairah yang membuatnya nyeri, lalu bergerak mendekat dan meraih tangan Mischa untuk kemudian menahan dalam genggaman.


Mischa terkesiap dan berusaha menarik tangannya, tapi tentu saja dia tidak berhasil karena cengkeraman Aslan begitu kuat. Mata itu menatapnya dingin, membuat Mischa gemetar.


Ekspresi Mischa sendiri begitu terkejut ketika baru menyadari bahwa Aslan menggunakan lensa mata manusia yang memberikan warna putih di matanya, membuatnya tampak seperti manusia biasa saat ini.


Kenapa Aslan menyamar menjadi manusia?


Mischa mengerutkan kening dan tak sempat berpikir lebih lanjut ketika merasakan tangannya diangkat ke atas dalam genggaman Aslan.


Dengan panik, sekali lagi Mischa berusaha menarik tangannya untuk melepaskan diri.


“Aku hanya hendak melepaskan cincinmu,” tangan Aslan bergerak gesit meloloskan cincin itu dari tangan Mischa, dan memasukkannya ke kantong. “Jika cincin itu tidak mengikat jarimu, maka dia tidak akan berfungsi serta tidak akan memicu peledak ketika aku membawamu jauh dari area istana.”


Mischa hanya setengah mendengarkan perkataan Aslan, dirinya masih tak habis pikir kenapa Aslan bisa dengan mudah melepaskan cincin itu dari jemarinya, sementara ketika Mischa  sendiri berusaha melepas cincin itu dengan kekuatannya, cincin itu mengikat erat, menggigit kulitnya seolah tak mau dilepaskan dan menyakiti ketika ditarik paksa, seolah-olah cincin itu telah menyatu dengan kulitnya dan tak bisa digeser sedikitpun.


Aslan sendiri menatap wajah Mischa, lalu memalingkan muka seolah tak tahan, cengkeraman tangannya di tangan Mischa tidak dilepaskan ketika lelaki itu setengah menyeret Mischa meninggalkan kamar.


 


 



 


Kali ini Kaza bersikap sabar, menunggu pintu dibukakan dan melangkah masuk dengan tenang.


Ketika dia sampai di ruang penelitian tempat Yesil hampir selalu berada, lelaki itu mengendus udara dan memasang wajah waspada.


“Anak kecil itu masih ada di sini,” geramnya.Yesil yang sedang duduk mendongak menatap Kaza, lalu mengangkat bahu.


“Aslan menyuruhku untuk mengembalikannya ke kamar tahanan di area budak. Tapi Sasha tertidur dan Kara memintaku untuk setidaknya membiarkan Sasha tidur dulu. Aku menidurkannya di ranjang perawatan yang terletak di samping ruangan perawatan Kara.”


Yesil tampak tenang menerima informasi itu, hanya mengerjap tanpa ekspresi.


“Bilang pada Akrep dan yang lainnya untuk tenang saja. Hal terakhir yang akan dilakukan Aslan adalah melukai Mischa, dia membutuhkan Mischa sama seperti Mischa membutuhkan Aslan, mereka berdua hanya belum menyadarinya,” tatapan Yesil berubah serius. “Dari penelitian dan pengamatanku, aku menyimpulkan bahwa bagaimanapun Aslan dan Mischa berusaha berlari sekuat tenaga ke arah berlawanan, mereka akan selalu tertarik untuk kembali bersama.”


“Apakah aku juga akan seperti itu?” Kaza mendesis, langsung mencerminkan diri sendiri dan ketakutan di wajahnya berubah semakin kental.


“Kau akan seperti itu, Kaza. Kau tidak bisa mengelak, kecuali kalau kau memutuskan membunuh Sasha, mungkin itu satu-satunya jalan bagimu untuk melepaskan diri”


Pemikiran itu membuat Kaza mengerutkan kening, sebelum kemudian dia mendengus kasar.


“Aku tidak akan merusak kredibilitasku dengan membunuh anak kecil yang tidak bisa melawan. Nanti… nanti kalau dia lebih besar aku mungkin akan melakukannya,” Kaza berucap janji kepada dirinya sendiri dengan nada sombong, tapi kemudian tampak kesal melihat ekspresi Yesil yang menahan senyum, lalu  mengalihkan pembicaraan dengan sengaja. “Kau bilang Aslan dan Mischa akan selalu menyatu meskipun berusaha menjauh, dan kau bilang aku juga akan mengalami seperti itu dengan manusiaku. Lalu apa penjelasanmu tentang Kara dan Natasha? Mereka berpisah, saling berlawanan arah tetapi sampai saat ini tidak ada tanda-tanda Natasha kembali kepada Kara padahal Kara hampir gila untuk mencari.”


Mendung langsung merayapi wajah Yesil, dia menghela napas sebelum menjawab. “Kurasa… ada sesuatu yang menghalangi Natasha untuk kembali kepada Kara… sesuatu yang tidak bisa dilawan oleh kehendak makhluk hidup…”


Kaza menatap ekspresi Yesil dan ketika kesimpulan yang sama merayapi hatinya, matanya membelalak.


“Apakah menurutmu Natasha sudah mati?” Kaza merendahkan suaranya, berbisik supaya kata-katanya ini tidak sampai terdengar ke ruangan tempat Kara dirawat. Pendengaran luar biasa Kara sebagai Bangsa Zodijak mungkin berkurang akibat luka-lukanya, tetapi tetap saja kemampuan pendengaran Kara memiliki kemungkinan masih tajam jika hanya dalam jarak sedekat ini.


Yesil tidak menyawab, hanya menganggukkan kepala, memberi isyarat supaya Kaza tidak bersuara lagi karena Kara masih terjaga di ruang perawatan. Kaza sendiri balas mengangguk penuh penengertian, lelaki itu menelan ludah dan menutup mulutnya, lalu menghela napas panjang untuk melepaskan rasa berat yang sesak di dada.


Dirinyalah yang paling bisa memahami perasaan Kara. Saudara-saudara mereka yang lain meskipun dikandung dan dilahirkan dalam waktu relatif sama dari ibu yang sama, masing-masing berasal dari sel jantan dan betina yang menyatu lalu berkembang sendiri-sendiri menjadi individu yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Sementara, dia dan Kara berasal dari sel jantan dan betina yang menyatu, lalu terpecah dua menjadi dua individu yang sama persis.


Ikatan hati Kaza dan Kara lebih kuat satu sama lainnya. Dan menyadari bahwa harapan Kara untuk menemukan pengobat lara hatinya kemungkinan besar sudah mati… bahwa Natasha mungkin sudah mati, ikut membuat perasaanya sakit.


“Aku akan menemui Kara,” ujar Kaza serak, tidak menunggu izin dari Yesil dan langsung melangkah ke ruang perawatan Kara.


Ketika sampai di depan ruang perawatan Kara, Kaza berhenti dan tertegun. Indra penciumannya yang tajam langsung berpesta pora menghirup aroma tubuh Sasha yang terpindai jelas dari tempatnya berdiri sekarang.


Mata gelap Kaza tertuju ke arah tirai lain yang berada di sebelah ruangan tempat Kara dirawat.


Dan seluruh dirinya… seluruh tubuhnya langsung menyadari bahwa Sasha ada di ruangan itu, sedang terbaring tidur.


 


 



 


Pesawat itu berwarna hitam, terletak di tengah hanggar seolah sudah disiapkan untuk mereka. Ujung-ujung pesawat itu runcing seperti paruh burung yang menukik dengan sayap-sayapnya yang tajam, sementara warna hitamnya yang berkilauan tampak semakin mengintimidasi.


Mischa membayangkan jika pesawat ini mengudara, akan tampak seperti burung raksasa di langit yang akan membuat takut lawan-lawannya.


Mischa teringat ketika melarikan diri dengan Kara, dia mengendarai pesawat kecil yang cukup sederhana, sebuah kendaraan yang cukup beruntung bisa disabotase oleh Kara, dan ukurannya tidak sebesar ini serta lapisan permukaannya tidak segelap ini.


Aslan berdiri di hangar kosong itu, melirik sedikit ke arah pesawat-pesawat lain yang diparkir di area raksasa tersebut, lalu melangkah mendekat dan menyentuhkan jarinya menyusuri bagian pesawat yang rendah.


“Pesawat ini dibuat dari batu mulia hitam yang ada di planet Zodijak, semacam berlian hitam kualitas terbaik di bumi, dengan kualitas yang ratusan kali lebih baik,” mata Aslan menyipit, “Kalian Bangsa Manusia tidak akan mempunyai harapan jika harus berhadapan dengan kami dan persenjataan kami.,” ejeknya.


Mischa sendiri menelan ludah, memilih tidak berkata-kata. Sekali lagi, pergi keluar dari sini memberikan harapan dan Mischa tidak mau harapannya pupus hanya karena dia salah berkata.


Yang paling dihindari oleh Mischa adalah kejadian yang membuat dirinya diseret kembali untuk dikurung di dalam kamar dan melayani keinginan Aslan.


Aslan tampak menunggu jawaban Mischa dan ketika Mischa tidak berkata apa-apa, lelaki itu mengangkat alis mencela.


“Mencoba untuk bersikap baik, eh?” tanpa kata Aslan menaiki tangga pesawat yang langsung menjulur ke bawah menyambut mereka, lalu mengulurkan tangannya ke arah Mischa. “Ayo,” perintahnya tegas, membuat Mischa mau tak mau menerima uluran tangan lelaki itu.Aslan menggenggam tangan Mischa, membantunya naik ke atas tangga sebelum kemudian tangga itu langsung menarik diri, mengangkat mereka berdua untuk memasuki pesawat.