
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Yesil memutar kursi, lalu membungkuk ke depan untuk menepuk kursi di dekatnya, kemudian mendongak dan tersenyum lembut ke arah Mischa.
“Duduklah di sini supaya kita lebih enak berbicara,” ujarnya dengan nada misterius yang entah kenapa membuat Mischa berdebar.
Karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya, Mischa kemudian mendekat dan duduk di kursi yang tersedia, lalu diam dan menatap Yesil dengan tatapan menunggu.
“Sasha bilang ayahmu adalah seorang peneliti,”
Pertanyaan itu diajukan dengan lembut tetapi langsung berhasil membuat wajah Mischa pucat pasi. Mendengar tentang ayahnya diucapkan dari mulut seorang Bangsa Zodijak, bangsa yang menghabisi nyawa ayahnya, tentu saja membuka kembali kenangan menyakitkan ketika Mischa melihat ayahnya dibunuh dengan mata kepalanya sendiri.
Perubahan ekspresi Mischa yang mencerminkan ketakutan di matanya tentu saja tidak luput dari pandangan Yesil, lelaki itu yang tadinya ingin mengorek informasi dari Mischa dengan harapan bisa menemukan setitik petunjuk tentang keanehan tubuh Mischa yang memiliki keterikatan erat dengan air suci Zodijak, langsung berubah tujuan dan memilih cara pendekatan lain yang lebih halus.
“Aku hanya bertanya karena hal itu menarik untukku. Aku juga seorang peneliti, dan cukup jarang ada seorang peneliti di kalangan Bangsa Zodijak. Kau pasti tahu sendirilah bahwa Bangsa Zodijak sebagian besar memilki hasrat untuk bertarung, berperang dan mengolah raganya dengan berbagai cara, tidak seperti diriku,” tatapan Yesil tampak begitu tenang dan mengirimkan sinyal yang sama ke perasaan Mischa. “Jika kau merasa tidak nyaman membahasnya, maka tidak usah dibahas.”
Ucapan Yesil yang penuh kebaikan itu tentu saja membuat perasaan Mischa tidak enak, seolah-olah dia telah berprasangka buruk pada Yesil yang tidak tahu apa-apa.
Yah, Yesil seorang peneliti dan meskipun Bangsa Zodijaklah yang menyebabkan ayahnya terbunuh, begitu juga dengan kenyataan bahwa Yesil adalah bagian dari Bangsa Zodijak yang merupakan salah satu dari pemimpin tertinggi, kemungkinan besar perintah penyerangan itu tidak datang dari Yesil langsung.
Mischa sudah melihat bahwa di antara para pemimpin Bangsa Zodijak sendiri, koordinasi penyerangan ada di tangan Akrep… dan juga Aslan.
Memikirkan bahwa Aslan-lah kemungkinan besar yang secara tidak langsung menyebabkan kematian ayahnya membuat Mischa mengerutkan kening ketika dadanya tiba-tiba saja terasa sesak.
“Ayahku juga seorang peneliti sepertimu, hampir mirip meskipun memiliki ketertarikan yang berbeda,” Mischa berucap untuk mengalihkan pikirannya dari Aslan, dan sengaja tidak menyebutkan bahwa ketertarikan ayahnya adalah untuk mempelajari bangsa Zodijak karena Mischa tahu bahwa Yesil mungkin sudah menduganya.
Tatapan Yesil menajam meskipun lelaki itu berhasil menyembunyikannya dengan cepat sebelum bertanya kembali.
“Apakah kau pernah mendapatkan obat atau sesuatu dari ayahmu yang berasal dari hasil penelitiannya?”
Mischa mengerutkan kening, menatap Yesil dengan curiga.
“Apa maksudmu?”
Yesil menggelengkan kepala sedikit menyadari sikap defensif Mischa yang langsung muncul. “Aku tahu bahwa kau sakit, Mischa, dan penyakitmu itu bukanlah penyakit main-main, penyakitmu itu parah dan selalu bertambah parah seiring berjalannya waktu. Aku juga tahu bahwa penyakitmu ini berangsur sembuh karena sentuhan Aslan.”
Yesil pura-pura tidak menatap pipi Mischa yang memerah. “Kau dan keterikatanmu dengan Aslan inilah yang ingin kuketahui penyebabnya. Kau sendiri juga ingin tahu kenapa kau bisa berakhir di sini dan terikat dengan, Aslan, bukan? Maka bantulah aku menemukan jawaban, apakah mungkin ayahmu menggunakan eksperimen untuk menemukan obat dalam usaha untuk menyembukanmu?”
Mischa mencerna kalimat Yesil dan menyadari kebenaran dibalik kata-kata lelaki itu, dia lalu menganggukkan kepala.
“Tidak terhitung jumlahnya,” Mischa memberi jeda sejenak dan menatap wajah Yesil yang penuh dengan ingin tahu. “Ayahku mencobakan berbagai macam obat dari hasil penemuannya, aku bahkan tidak ingat dan sampai tidak bisa menghitungnya lagi,” sambung Mischa kemudian dengan jujur.
“Apakah ada salah satu obat yang memiliki efek spesifik yang kau rasakan? Membuatmu merasa lebih baik, misalnya?”
Mischa berpikir sejenak, mengingat-ingat, tetapi yang muncul di sana adalah kenangan ketika dia meringkuk dilanda rasa sakit yang amat sangat, rasa sakit mengerikan yang nyaris tak tertahankan hingga ketika Mischa berada di titik putus asa, rasanya dia ingin mati saja. Sayangnya, seolah-olah belum ditakdirkan untuk mati, pada akhirnya ketika rasa sakit itu berakhir, nyawa Mischa tetap menempel lekat di raganya seolah tak mau pergi.
“Tidak,” Mischa menjawab sambil menggeleng perlahan, menyimpulkan dengan mantap sesuai dengan apa yang diingatnya. “Rasa sakitku tidak berkurang… bahkan pada akhirnya karena sumber obat hampir tidak ada, aku tidak pernah diberikan obat lagi, sampai kemudian, keadaan memaksaku harus bertahan sendirian tanpa obat,” Mischa menyambung dengan hati-hati, memilih melewatkan peristiwa kematian ayahnya akibat serangan Bangsa Zodijak.
Seolah mengetahui apa yang ada di benak Mischa, Yesil memilih tidak mendesak lebih lanjut, ekspresinya sendiri tampak serius, seolah sedang berpikir keras. “Tapi kau bisa bertahan hingga umurmu sekarang… penyakit itu memakan kesehatanmu, tetapi dia bergerak lambat setiap waktunya dan baru sampai di titik kritis ketika kau bertemu dengan Aslan. Seolah-olah penyakit itu diatur untuk menunggu. Tahukah kau bahwa terlambat saja kau bertemu dengan Aslan, kau mungkin saat ini sudah mati?”
Mischa tertegun, dirongrong oleh rasa tak rela karena seolah dipaksa menerima kenyataan bahwa Aslanlah yang menyelamatkan nyawanya. Tetapi tidak ada kata lain yang bisa diucapkannya, apalagi dia mengingat dengan jelas bagaimana interval rasa sakit itu semakin sering terjadi di akhir-akhir masa sebelum dirinya bertemu dengan Aslan dan langsung menghilang perlahan semakin sering Aslan menyentuhnya.
Memikirkan Aslan membuat pikiran Mischa teralihkan, dia teringat akan perjanjian mereka tadi pagi, bahwa Aslan akan melindungi Sasha dan sebagai ganti ruginya dia harus melakukan apa yang diinginkan oleh Aslan.
Aslan ingin Mischa menyentuhnya dan menunjukkan dedikasi? Bagaimana caranya? Mischa bahkan tidak pernah membayangkan akan menyentuh laki-laki lebih dulu jika bukan karena paksaan.
Tetapi ini semua demi Sasha, kalau nanti Aslan merasa Mischa tidak berdedikasi… bukan tidak mungkin alien culas seperti Aslan mengurungkan niat dan malahan mengancam Mischa dengan cara lain yang lebih tidak menyenangkan.
Ekspresi Mischa yang kalut ditambah dengan kedua tangannya yang menyatu dan saling meremas satu sama lain membuat Yesil yang memiliki perhatian tajam menyipitkan mata.
“Adakah yang mengganggu pikiranmu?” tanya Yesil kemudian untuk menarik Mischa dari lamunannya.
Mischa sendiri mendongakkan kepala mendengar pertanyaan Yesil, menyadari bahwa pertanyaan itu mirip dengan pertanyaan yang tadi diajukan oleh Sasha kepadanya.
Sebegitu jelaskah kekalutannya ini tampak mata sehingga semua orang bertanya kepadanya?
Sejenak Mischa merasa ragu dan malu, tetapi dia berpikir bahwa tidak ada orang lain yang bisa ditanyai selain Yesil di sini. Yesil adalah salah satu dari Bangsa Zodijak, tentu dia bisa memberi masukan tentang apa yang harus Mischa lakukan kepada Aslan.
Yesil langsung memiringkan kepala. “Dan apa yang membuatmu berpikir bahwa Kaza cukup mengancam bagi Sasha sehingga Sasha harus dilindungi darinya?”
Mata Mischa langsung melebar mendengar pertanyaan itu. “Aslan bilang kepadaku bahwa Kaza menyangkal perasaannya kepada Sasha dan bahwa Kaza akan lebih senang kalau Sasha mati. Sasha meskipun adik angkatku, tetapi aku begitu meyayanginya dan ingin menjaganya.”
“Karena itulah Sasha dimanfaatkan untuk menahanmu,” Yesil berucap dengan nada ironis, melirik ke arah jari tangan Mischa sebelum kemudian menyambung kembali.
“Jadi apa yang dikatakan oleh Aslan ketika kau memintanya melindungi Sasha? Aku duga dia tidak akan menurutimu semudah itu.”
Ekspresi Mischa langsung berubah masam. “Memang…. Aslan meminta satu syarat….” Mischa tampak bingung merangkai kata, tetapi akhirnya berani berbicara. “Apakah… apakah kau tahu bagaimana caranya supaya bisa dinilai berdedikasi ketika… ketika menyentuh laki-laki?”
“Berdedikasi?” Yesil mengerutkan kening semakin dalam. “Berdedikasi dalam menyentuh….?” suara Yesil terhenti ketika lelaki itu merenung untuk memahami kata-kata Mischa, dan begitu dia mengerti artinya, matanya membelalak lebar, dipenuhi keterkejutan yang amat sangat. “Aslan memintamu menyentuh dirinya?” serunya hampir berteriak.
Pada saat yang sama, sebuah gerakan terasa di belakang mereka, dan sebelum Mischa bisa membuka mulut, sosok Kara muncul di sana, masih dibalut perban di dada tetapi bisa berjalan dengan bantuan kruk di kedua sisi tubuhnya.Mischa menoleh dan menatap ekspresi Kara yang sama-sama terkejutnya seperti Yesil sebelum kemudian Kara berucap seolah tak percaya.
“Aslan mengizinkanmu menyentuhnya?” tanya Kara perlahan.
“Puas?”
Akrep memegang senjatanya, berjalan di antara reruntuhan yang luluh lantak akibat bom dahsyat yang mereka jatuhkan serentak di tempat-tempat vital Negara Timur Jauh ini. Mereka berhasil mendesak seluruh tentara musuh hingga bersatu dan mundur di benteng terakhir pertahanan mereka.
Tinggal satu langkah lagi untuk memusnahkan semuanya.
Aslan yang baru saja tiba, memandang ke sekeliling dan mengerutkan kening. Peperangan yang mereka kobarkan hampir selesai bahkan tanpa dirinya datang membantu.
Seharusnya dia tidak perlu datang kemari karena saudara-saudaranya bisa menyelesaikan semua tanpanya, seharusnya dia bisa tinggal di istana dan menghabiskan waktu bersama Mischa.
“Aslan,” Akrep menegur dengan suara sedikit lebih keras karena Aslan mengabaikan pertanyaannya tadi.
Aslan mengerjapkan mata, menoleh ke arah saudaranya untuk kemudian menjawab ketus.
“Apa yang kau tanyakan tadi?” ujarnya bertanya.
Akrep mengamati ekspresi Aslan dan sengaja memasang wajah menjengkelkan,“Aku bertanya apakah kau puas?”
Pertanyaan itu membuat ekspresi Aslan berubah masam karena dia tahu bahwa Akrep bertanya hanya untuk membuatnya jengke
l“Bukan urusanmu,” ujarnya ketus, mengangkat senjata lagi sebelum kemudian melemparkan pandangan seolah bosan menatap kehancuran di sekelilingnya. “Hanya seperti ini? Tidak ada lagikah yang bisa kita lakukan? Perang terasa tidak menyenangkan lagi sekarang karena musuh-musuh sudah kehabisan daya.”
Akrep menyeringai mendengar perkataan Aslan. “Dan karena kau memiliki hal menarik lain untuk dilakukan, bukan begitu?”
Aslan langsung melemparkan tatapan mata membunuh ke arah Akrep. “Dan kenapa kau terus menerus menyinggung hal itu, Akrep? Sebegitu ingin tahunyakah dirimu tentang diriku dan Mischa?”
Akrep mengangkat bahu. “Mungkin sebenarnya aku lebih tertarik tentang ikatan di antara kalian, mengingat kemungkinan besar aku akan mengalami hal yang sama dengan manusia perempuan kalau aku sesial kalian,” ekspresi ngeri tampak muncul di wajah Akrep. “Bagaimana perasaanmu ketika kau memutuskan tertarik pada Mischa? Apakah seperti tak bisa lepas meskipun mencoba dan tertarik kepadanya seperti magnet?”
Aslan melirik ke arah Akrep dan menyadari tatapan penuh ingin tahu saudaranya itu. Mereka berdua melangkah di belakang pasukan yang dipimpin di garis depan oleh Kaza, sekeliling mereka penuh dengan puing bangunan yang menyedihkan, beberapa bahkan masih berasap.
Tidak ada satu manusiapun yang tersisa di sini, sepertinya seluruh penduduk sudah bersembunyi di bawah bunker di dalam benteng pelindung yang tersisa dan pasukan-pasukan musuh sudah menyiapkan diri untuk pertahanan terakhir di benteng mereka.
“Aku merasakan semuanya, perasaan tertarik sekaligus hasrat ingin menjauh,” Aslan menyentuh tengkuknya tanpa sadar. Kemudian ketika menoleh ke arah Akrep ekspresinya berubah. “Aku sudah menjawab pertanyaanmu, jadi berhenti menggangguku dan kita selesaikan perang ini secepatnya karena aku ingin segera pulang.”
Aslan sungguh-sungguh tidak sabar ingin pulang dan menghabiskan malamnya bersama Mischa.
Suara pertanyaan Kara menggema di udara, bercampur keterkejutan yang langsung menyebar ke penjuru ruangan. Mischa mengerutkan kening menatap ke arah Kara dan Yesil berganti-ganti.
Kenapa mereka tampak begitu terkejut ketika mendengar bahwa Aslan ingin Mischa menyentuhnya?
Yesil sendiri seolah baru tersadar ketika melihat kehadiran Kara, ekspresinya langsung waspada dan melemparkan tatapan penuh peringatan ke arah Kara yang masih bersandar di ambang pintu, seolah-olah masih membutuhkan bantuan untuk berdiri lama.
“Kau tidak boleh berjalan-jalan dengan tubuh lemah seperti itu, Kara. Dan kau juga tidak boleh berada di sini,” Yesil melirik ke arah Mischa lalu melemparkan isyarat ke arah Kara kembali.