Inevitable War

Inevitable War
Episode 61 : Masa Lalu



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 


 



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


 


 


 


 



 


“A… aku tidak kedinginan,” ucap Mischa akhirnya. Punggungnya menegang ketika telapak tangan Aslan yang lebar mengusap kedua sisi pinggangnya dengan gerakan menggoda.


Aslan seolah tidak mendengarkan jawaban dari Mischa, lelaki itu sibuk menunduk dan mengecupi lekukan leher Mischa dan juga pundaknya, mengecupnya di sana sini. Mischa merasakan bulu kuduknya meremang karena ciuman dan sentuhan yang disertai kedekatan nan dipaksakan itu, dia menggeliat, berusaha menjauh dan melepaskan diri dari bawah guyuran shower supaya bisa melepaskan diri dari sentuhan Aslan.


Aslan menggeram karena pemberontakan Mischa, Kedua tangan Aslan berhenti di pinggang Mischa, mencengkeramnya dan menarik Mischa mendekat sekali lagi ke tubuhnya untuk meredam usahanya melepaskan diri.


“Mau kemana?” Aslan menggosokkan hidung ke sisi telinga Mischa. “Siapa yang bilang kau boleh pergi, kelinci kecil?”


Mischa menggertakkan gigi, berusaha membuat tubuhnya menegang kaku di bawah sentuhan Aslan meskipun sulit karena lelaki itu sengaja menggerakkan tangannya kemana-mana dan meninggalkan jejak panas di balik sentuhannya.


“Lepaskan aku,” Mischa mendesis. “Apakah kau memang jenis makhluk yang tidak pernah puas?” hinanya dengan nada mencemooh yang kentara.


Tidak sesuai dengan keinginannya, Aslan malahan terkekeh mendengar perkataan Mischa, lelaki itu membalikkan tubuh Mischa dengan cepat, memaksa perempuan itu berhadapan dengannya. Mischa sendiri memalingkan muka, tidak mau menatap tubuh Aslan yang meskipun tertutupi oleh guyuran air shower dan kabut hangat yang mulai menguap di udara, tetap saja membuatnya merasa tidak nyaman.


Aslan mendorong punggung Mischa supaya merapat di dinding sementara lelaki itu menggunakan tubuhnya untuk mendesak Mischa supaya tidak bisa bergerak. Mischa tetap memalingkan wajah dan itu membuat Aslan berdecak gusar. Dengan kedua jemari, lelaki itu menangkupkan telapak tangan di wajah Mischa dan membawa wajah Mischa supaya dekat ke arahnya, menatap langsung ke arah mata hitamnya yang legam.


Mata legam itu menghujam tajam, membuat Mischa terkesiap, sedikit begidik dan bergerak menjauh secara refleks, hanya untuk menemukan punggungnya terbentur dinding.


Aslan bukannya tidak melihat nyala ketakutan yang muncul di sana seolah menghantui, lalu berusaha ditarik mundur lagi untuk ditutup sekuat tenaga. Sejak di padang pasir tadi, Mischa menyimpan ketakutan yang aneh, dan Aslan tentu masih belum lupa akan teriakan yang dilontarkan dari bibir Mischa ketika perempuan itu seolah hilang akal dan terbawa dalam trauma masa lalunya.


Mischa menyebut bahwa Bangsa Zodijak, bahwa dirinya, adalah pembunuh ayahnya.


Selama ini Aslan belum pernah berhasil mengorek asal usul Mischa, tentang siapa sebenarnya perempuan itu, tentang dari mana asalnya, kenapa bisa berakhir di kelompok kaum penyelinap dan sebagainya. Selama ini mereka hanya mengandalkan informasi dari Yesil, tanpa konfirmasi dari diri Mischa sendiri.


Yah, itu sepenuhnya bukan salah Mischa… mata Aslan menggelap ketika lelaki itu melirik sekilas ke arah tubuh telanjang Mischa yang merapat ke arahnya, membuat darahnya menggelegak.


Bukan salah Mischa jika Aslan tidak berhasil mengorek informasi lebih jauh darinya, Aslan selalu tidak bisa menahan diri jika berdekatan dengan Mischa, perempuan itu membuatnya lupa diri, membuatnya lepas kendali hingga Aslan seolah melupakan segalanya.


Sekarang Aslan harus bisa menahan diri, jika dia ingin memecah semua misteri yang meliputi dan datang beruntung sejak dia membawa Mischa memasuki istana, maka dia harus mencoba bersabar, menahan nafsu dan mengorek informasi dari Mischa.


“Kau bilang bahwa aku adalah pembunuh ayahmu,” Aslan menundukkan kepala, hampir menempelkan hidungnya ke hidung Mischa. “Mungkin saja itu benar… tetapi aku tidak pernah membunuh manusia secara khusus meskipun ada banyak sekali yang mati di tanganku. Aku tidak bisa mengingat semua korban-korbanku karena mereka sangat banyak,” Aslan tahu bahwa ketakutan itu merayap di mata Mischa, menguasai perempuan itu sedikit demi sedikit, dan membuat perempuan itu gemetaran. “Bisakah kau mengingatkanku secara spesifik?” sambungnya lagi.


Gemetar yang menguasai tubuh Mischa semakin kuat ketika perkataan Aslan memaksanya membawa memori mengerikan itu. Mischa ingin memalingkan wajah dari mata hitam yang mengintimidasi tersebut yang mau tak mau menumbuhkan kembali traumanya, tetapi dia tidak bisa karena kedua telapak tangan Aslan menangkup wajahnya dan menahannya di sana.


Pada akhirnya Mischa menggigit bibir, mencoba mengusir bayangan gelap mengerikan yang mulai menguasai jiwa dan akhirnya mengangkat pandangan untuk menatap Aslan dengan air mata menetes di pipi.


“Kalian semua… kalian Bangsa Zodijak… kalian pembunuh. Kalian membunuh ayahku dengan kejam di depan mataku…” Mischa merasakan kakinya lemas dan hampir saja terpuruk di lantai.


Aslan langsung menggunakan sebelah tangan untuk menahan pinggang Mischa supaya tidak jatuh.


“Membunuh ayahmu di depan matamu dan kau masih berdiri di sini dalam kondisi hidup? Jika memang prajurit Zodijak yang kau bicarakan, maka sudah pasti kau tidak akan selamat,” sambar Aslan tajam, tangan yang satu lagi bergerak dari mencengkeram pipi Mischa menjadi menangkup lehernya. “Bagaimana kau bisa selamat kalau memang apa yang kau katakan benar?”


Mischa memejamkan mata dan membuat bulir air mata menetas kembali membasahi pipi, beruntung air hangat masih menyiram tubuh mereka, membuat air matanya tersamarkan.


“Aku tidak mau mengatakan apapun kepadamu,” ucap Mischa kemudian dengan keras kepala.


“Kalau kau tidak mau memberikan informasi, maka kau akan menerima hukuman,” Aslan membungkuk, tidak memberi kesempatan Mischa memberontak dan bibirnya langsung menguasai bibir Mischa.


Aslan menurunkan tangan, lalu mengangkat tubuh Mischa dengan masih menyandarkan punggung Mischa ke dinding, dirinya lalu mendesak perempuan itu semakin rapat, tidak bisa menahan dorongan untuk menyatu.


“Hukuman… aku akan memberimu hukuman,” Aslan berbisik di bibir Mischa sebelum setengah menggigit bibir itu ketika akhirnya memiliki Mischa tanpa ampun.


 


 


 



 


Akrep termenung, bibirnya menipis sementara kedua tangannya besedekap sambil mengamati sosok Vladimir yang tak sadarkan diri, terbaring dengan tubuh babak belur di atas meja besi panjang di ruangan khusus yang digunakan oleh Yesil sebagai tempat eksprerimennya.


Ruangan ini berada cukup jauh di dalam area tempat tinggal Yesil, penjagaannya berkali-kali lipat lebih ketat dibandingkan penjagaan di area depan karena penelitian yang dilakukan Yesil di sini biasanya bersifat rahasia dan melibatkan makhluk hidup…. terutama manusia.


Tubuh Vladimir tentu sudah dibersihkan dan Yesil berhasil menjaganya supaya tetap hidup hingga beberapa waktu ke depan, setidaknya sampai dia mendapatkan hasil dari penelitiannya dan menemukan benang merah yang diinginkan oleh Aslan.


Semua tampak seperti serba kebetulan yang tidak berhubungan satu sama lain, tetapi Yesil tahu pasti bahwa ada benang merah yang tak kasat mata, bersimpulan dan saling mengikat meskipun saat ini belum terlihat dan tertutup kabut.


Yesil sudah memerintahkan para asistennya membersihkan tubuh Vladimir yang berlumuran darah. Dirinya mengetahui nama Vladimir dari pakaian yang tadu dikenakannya. Lelaki itu memakai pakaian yang mirip dengan seragam tentara manusia dari beberapa negara yang pernah mereka musnahkan. Pakaian itu berwarna serupa tanah, mirip dengan pasir tetapi berpadu dengan warna lain yang lebih gelap, sudah tentu hampir sama dengan pakaian tentara yang digunakan untuk menyaru di antara padang pasir nan tandus.


Di pakaian itu terdapat nama yang dijahit dengan rapi di dada sebelah kiri, menyebutkan nama Vladimir, dari situlah Yesil mengetahui nama sampel yang dibawakan oleh Aslan untuknya ini.


Vladimir berbaring telanjang dengan selimut putih yang menutupi tubuhnya di bagian pinggang. Yesil telah memeriksa semua tanpa ada yang terlewat, mengambil sampel di sana sini dengan dingin meskipun itu berarti dia menambah beberapa sayatan lagi di atas luka-luka Vladimir.


Yah, lagipula jika dia memutuskan sudah membutuhkan nanti, kemungkinan besar Yesil akan membunuh Vladimir dan membedahnya untuk memeriksa organ dalamnya. Sekarang memang belum perlu, tetapi nanti hal itu kemungkinan besar akan terjadi.


Akrep menoleh ke arah Yesil dengan pandangan sulit diartikan.


“Selain beraroma kuat air suci Zodijak, tubuhnya juga mirip dengan kita. Lebih kuat dari manusia kebanyakan. Itu berarti kemungkinan besar dia mengkonsumsi air suci Zodijak hingga struktur tubuhnya berubah.” Kerutan di dahi Akrep semakin dalam, “Tetapi bagaimana mungkin prosesnya bisa sedemikian cepat? Air suci Zodijak bisa mempengaruhi struktur tubuh manusia bukan hanya dengan sekali minum, membutuhkan waktu bertahun-tahun dan juga dalam jumlah banyak untuk dikonsumsi setiap hari…. sementara kita tahu persis bahwa mereka tidak memiliki air suci itu. Jika yang kau membicarakan tentang air suci yang dibawa oleh Natasha… memang itu diambil bertahun-tahun yang lalu,  tetapi jumlahnya sangat sedikit, hanya satu liter lebih dan tidak mungkin… bahkan untuk mencukupi kebutuhan satu prajurit saja tidak akan cukup untuk bisa mengubahnya menjadi seperti ini… dan kau bilang Aslan mengatakan bahwa mereka ada banyak.”


Yesil menganggukkan kepala. “Mereka ada banyak dan Aslan memusnahkan semua, hanya menyisakan satu yang katanya paling kuat yang menjadi pemimpin mereka. Aku sudah mengirim pasukan pembersih untuk membersihakn mayat-mayat yang tertinggal di padang tempat pribadi Aslan, siapa tahu kita mendapatkan petunjuk tambahan di sana,” Yesil menatap Akrep dengan serius. “Dengar, jika memang ini sama seperti yang kupikirkan… aku menduga Natasha hampir mirip dengan Mischa… dalam hal struktur darah…”


Akrep balas memandang Yesil dan menipiskan bibir. “Maksudmu kemungkinan besar Natasha meminum air suci Zodijak dan menjadikan darahnya berubah struktur menjadi seperti air suci Zodijak, sama seperti darah Mischa?”