Inevitable War

Inevitable War
Episode 57 : Tantangan



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserve


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


 



 


“Tunggu dulu,”


Tanpa diduga, bukannya melayani pertarungan dengan cara barbar seperti yang biasa Aslan lakukan, lelaki itu memilih untuk mengusahakan sebuah percakapan.


Rupanya apa yang dilihat oleh Mischa sama seperti yang dilihat oleh mata Aslan nan jeli. Manusia-manusia di depannya ini mungkin tidak memiliki kemampuan indra sebaik Bangsa Zodijak, buktinya bahkan pemimpin mereka sekalipun tidak mengetahui bahwa Aslan adalah lelaki Zodijak yang menyamar sebagai manusia.


Kalau Bangsa Zodijak yang ada di depan mereka, mereka pasti akan langsung tahu karena aroma manusia dan aroma Bangsa Zodijak cukup berbeda sehingga sebenarnya bisa diidentifikasi dengan mudah oleh indra penciuman Bangsa Zodijak yang peka.


Manusia-manusia di depan mereka mungkin tidak memiliki indra sebaik bangsa Zodijak, tetapi kondisi fisik mereka, yang tampak lebih kuat dibanding yang lainnya dengan tubuh tinggi gempal penuh otot bertonjolan membuktikan bahwa mereka sangat kuat.


Aslan mempelajari seluruh ras yang ada di bumi secara terperinci sebelum Bangsa mereka melakukan penyerangan ke bumi, dia menyadari seluk beluk berikut ciri fisiknya, kebanyakan dari ras manusia ini memiliki ukuran tubuh bervariasi meskipun berada dalam satu ras atau suku bangsa, Tetapi Aslan tidak ingat menemukan satu suku dengan ciri fisik bertubuh besar dengan ciri dan ukuran yang hampir seragam seperti ini. Dan yang cukup aneh adalah guratan khusus serupa akar berwarna biru yang tampak mencolok menyebar di permukaan kulit mereka, terutama di bagian wajah.


Perkataan si pemimpin manusia yang ingin membawa Mischa ke ranjangnya tentu membuat Aslan marah hingga ingin memukul mereka semua menjadi kepingan tanpa sisa. Tetapi Aslan berhasil menahankan kesabaran.


Ada sesuatu pada diri orang-orang ini yang mencurigakan, mengaktifkan insting waspadanya. Aroma orang-orang ini menyimpan sesuatu yang samar, terhirup manis dan familiar dengan indra penciumannya…


Suara Aslan yang tenang dan tak terduga itu membuat manusia-manusia yang hendak menyerang mereka berhenti lalu menoleh dengan ragu lalu menatap ke arah pemimpin mereka untuk menerima instruksi selanjutnya.


Entah karena suara Aslan yang begitu tenang dan tidak terduga, entah karena Aslan memang sudah terbiasa memimpin anak buahnya sehingga nada suaranya terdengar tak terbantahkan hingga tanpa sadar tubuh mereka berhenti dan menuruti apa yang dikatakan oleh Aslan.


Pemimpin manusia yang sekarang menatap Aslan dengan pandangan penuh penilaian itu pun sepertinya menyadari, dan dia tidak bisa menyembunyikan ketidaksukaannya akan hal itu.


“Tidak ada negosiasi,” desis pemimpin manusia itu sambil sekali lagi menampilkan seringaiannya yang mengerikan kepada Aslan, tampak begitu sombong.  “Kami tidak mengenal negosiasi. Aku menginginkan perempuanmu dan aku akan mendapatkannya.”


Aslan menyipitkan mata, menatap pemimpin yang pongah itu dengan pandangan menilai sebelum kemudian berucap tenang.


“Perempuan ini milikku. Istriku,” desisnya perlahan, sementara tubuhnya bergerak menamengi tubuh Mischa supaya bersembunyi di belakang punggungnya dan menutupi Mischa dari pandangan pemimpin manusia yang terus menatap dengan lapar.


Suara Aslan mungkin terdengar tidak mengancam, hanya seperti pembelaan diri terhadap hak miliknya. Tetapi manusia-manusia itu tidak menyadari ada kemurkaan tertahan di sana yang tersimpan dan siap meledak.


“Sebentar lagi akan menjadi milikku,” pemimpin manusia itu melanjutkan kata-kata Aslan sambil tertawa meremehkan. “Apa yang kalian tunggu? Serang dia!” bentaknya kemudian ke arah anak buahnya yang dari tadi berdiri ragu. “Binasakan yang laki-laki, tapi jaga supaya yang perempuan tidak lecet sedikitpun, aku ingin menikmati kulitnya yang mulus malam ini di ranjangku.” sambungnya kemudian dengan nada rendah penuh nafsu.


Mischa merasa bulu kuduknya meremang mendengar kata-kata si pemimpin manusia dengan aura aneh itu, tanpa sadar dia beringsut menempel ke punggung Aslan, tahu bahwa lelaki yang dibencinya tersebut dalam situasi ini mau tak mau menjadi satu-satunya harapan untuk melindungi dirinya.


Entah kenapa jauh di dalam hatinya Mischa tahu bahwa dia lebih aman berada di dalam perlindungan Aslan daripada di antara manusia-manusia yang tampak begitu keji ini.


Mereka seolah manusia tapi bukan manusia… terasa asing sekaligus membangkitkan rasa ngeri.


Meskipun begitu, Mischa meragu apakah pertarungan ini adil atau tidak. Aslan memang kuat, tetapi manusia-manusia ini juga tampak sangat kuat, tidak seperti manusia kebanyakan dan… jumlah mereka lebih banyak.


Akankah Aslan berhasil melawan mereka?


Pikiran Mischa terpecahkan ketika Aslan mencekal lengannya, dalam waktu sempit karena kelompok manusia itu sudah mengelilingi mereka membentuk lingkaran, siap menyerang dan tidak menyisakan ruang untuk lari.


“Apapun yang terjadi, jangan lepas dari pandanganku. Kau harus menjaga dirimu supaya selalu ada dalam jangkauanku. Merunduk, berlutut dan lindungi kepalamu dengan kedua tangan, tetap di dekatku dan jaga dirimu supaya tidak terpukul atau tertendang,” Aslan memberi instruksi singkat kemudian membalikkan badan, memberi isyarat tangan dengan pongah supaya kelompok manusia itu mulai menyerang.


Sejenak kelompok manusia itu tampak ragu, saling memandang dengan bingung, bertanya-tanya kenapa sosok manusia di depan mereka ini sama sekali tidak tampak takut.


Tetapi pada akhirnya mereka memutuskan untuk memenuhi perintah pimpinan mereka, manusia-manusia itu bergerak menyerang, satu persatu menyerbu ke arah Aslan, mereka menggunakan tangan kosong karena yakin bahwa kekuatan mereka, apalagi digunakan bersama-sama sudah pasti bisa mengamati satu manusia di depan mereka.


Aslan menghitung dengan cepat, matanya mempelajari lawan-lawannya, memindai dengan singkat gerakan tubuh mereka dan dalam kecepatan kilat langsung menemukan kelemahan masing-masing.


Dia membawa pistol di balik sakunya, tetapi sengaja tidak mengunakannya. Akan lebih menarik bertarung dengan tangan kosong dan menguji kemampuannya bertarung. Lagipula sudah lama dia tidak menemukan lawan kuat di luar Bangsa Zodijak sendiri, dan jika sesuai dugaannya lawan manusia di depannya ini cukup kuat, mungkin dia bisa sekedar berolahraga dan memuaskan keinginannya untuk bertarung dengan melayani mereka dan bersenang-senang.


Satu orang maju untuk memberikan pukulan, tetapi Aslan menangkisnya dengan mudah, memberikan sedikit tenaga hingga tubuh orang itu terbanting di tanah. Yang lain tidak mau menyerah, maju bersamaan dan Aslan menggunakan keahliannya untuk menangkis serta menghadiahkan pukulan yang cukup keras kepada mereka semua.


Musuh-musuhnya kuat dan memiliki tubuh tahan banting, karena manusia biasa pasti akan remuk ketika menerima pukulan Aslan yang sekuat itu. Manusia-manusia asing ini masih bisa bangkit meskipun sempoyongan dan berusaha menyerang tanpa menyerah hanya untuk dipukul mundur kembali oleh Aslan.


Selama proses pertarungan yang menghamburkan debu pasir ke udara, membuat pandangan terhalang kabut pasir dan menjadikan napas penuh sesak karena paru-parunya dipenuhi debu, Mischa berlutut di tanah, menekuk tubuh dengan kedua tangan melindungi kepala.


Mischa memejamkan mata, mengernyit dan selalu terkesiap ketika mendengar suara bedebum keras pukulan demi pukulan yang menghantam tulang, menghancurkan kulit dan terdengar mengerikan memenuhi udara.


Manusia-manusia itu benar-benar pantang menyerah dan meskipun mata Mischa terpejam, dia tahu bahwa mereka sangat kuat. Pukulan Aslan sebagai bangsa Zodijak sangatlah merusak jika diterapkan pada tubuh manusia, apalagi ditunjang dengan kulit pelindung tubuhnya nan keras, tidak bisa dibandingkan dengan kulit manusia nan rapuh, Tetapi, manusia-manusia itu secara ajaib bertahan, bahkan ketika bunyi tulang berderak menyeramkan mulai terdengar, mereka tetap tidak menyerah.


Tiba-tiba saja kenangan masa lalu yang penuh trauma langsung menghantui Mischa, mengembalikan ingatannya kepada kenangan ketika laboratorium milik ayahnya yang dibangun di bawah tanah dengan dana pemerintah di serbu oleh sepasukan prajurit Zodijak bersenjata yang buas.


Di detik terakhir dalam kondisi terdesak, ayahnya berhasil menyuntik Mischa dengan cairan khusus yang membuatnya kaku seperti mayat, tidak bergerak layaknya boneka manekin yang tak bernyawa.


Ayah Mischa lalu meletakkan Mischa di meja tempat meletakkan mayat-mayat baik kalangan bangsa Zodijak maupun manusia lain yang diteliti, sebelum kemudian laboratorium persembunyian mereka didobrak paksa.


 


Sang Ayah belum sempat menutupkan kain ke tubuh Mischa, membuat matanya yang terbuka bisa menangkap segalanya meskipun tubuhnya tak bisa bergerak dan seluruh dirinya seakan lumpuh.


Mischa menjadi saksi bagaimana seluruh pegawai laboratorium dipukuli sampai mati, ditembak dengan kejam, membuat darah terciprat dimana-mana, dia melihat sendiri bagaimana salah satu prajurit Zodijak itu menempelkan pistolnya ke kepala ayahnya yang terpejam pasrah, dia melihat sendiri bagaimana pistol yang mengerikan itu merenggut kehidupan dari tubuh ayahnya yang sangat dia cintai.


Ketika pembantaian itu berakhir, para prajurit Zodijak itu memeriksa sekeliling, mencuri berkas-berkas penelitian ayahnya dan menghancurkan peralatan laboratorium yang tersisa supaya tidak bisa digunakan lagi. Mereka melewatkan Mischa karena mengira Mischa adalah mayat sama seperti yang lainnya. Lalu mereka pergi begitu saja, menyisakan bekas pembantaian dan kerusakan mengerikan yang tertinggal.


Mischa masih terbaring di ruang laboratorium itu beberapa jam lamanya, dalam kubangan darah yang beraroma anyir di antara tubuh-tubuh tak bernyawa dalam kondisi mengenaskan. Sampai kemudian efek obat itu habis dan Mischa bisa menggerakkan jari, lalu lengan, lalu kaki dan kemudian seluruh tubuhnya.


Mischa terbangun dengan gemetar, turun dari ranjang tempat mayat diteliti dan menghambur ke tubuh ayahnya yang berlumuran darah dan tak bernyawa. Tubuh ayahnya sudah dingin tentu saja, pun dengan yang lainnya karena beberapa jam telah berlalu.


Di detik itu, dorongan untuk ikut mati bersama yang lainnya sangat kuat tetapi instingnya sebagai manusia menahan dirinya untuk mencabut nyawanya sendiri.


Dia harus bertahan.


Entah kenapa saat itu Mischa merasa dia harus bertahan. Ayahnya sudah sekuat tenaga menyelamatkan dirinya supaya bisa hidup dan Mischa tidak akan menyia-nyiakan usaha ayahnya itu.


Pada akhirnya Mischa tersaruk-saruk dengan tubuh berlumuran darah, bertahan sekuat tenaga meskipun hatinya hancur untuk mencari jalan keluar dari laboratorium yang telah hancur.


Pengalaman itu begitu traumatis sehingga Mischa menguburnya dalam-dalam jauh di ingatannya yang paling tersembunyi, tidak pernah berusaha menggalinya apalagi menyentuh ingatan itu lagi.


Pada akhirnya Mischa berhasil melupakan semuanya sampai pada titik ini, ketika darah salah satu manusia yang dihajar oleh Aslan terciprat mengenai kulitnya, memberikan rasa hangat mengerikan bercampur aroma anyir yang sama seperti waktu itu.


Seketika itu juga kelebatan ingatan demi ingatan mengerikan yang traumatis muncul kembali di benak Mischa, seolah-olah kejadian itu terputar kembali dan Mischa dipaksa mengalaminya lagi…