
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Bantingan itu begitu keras hingga menimbulkan suara menggema yang memekakkan telinga, hingga sampai ke telinga tajam Khar yang masih berada di area luar ruang bawah tanah tersebut.
Setelah Aslan menghajar Kara tanpa ampun tadi, saudaranya itu melarang siapapun untuk masuk kembali ke ruang bawah tanah.
Khar bisa melihat sinar buas pemangsa yang menyala di mata Aslan sebelum saudaranya itu masuk kembali ke pintu ruang bawah tanah, tanda bahwa Aslan telah merasakan buruannya dan yakin dapat menjangkaunya
Gadis yang malang…
Khar sempat memikirkan tentang Mischa -dimanapun perempuan itu bersembunyi sekarang- ketika menatap punggung Aslan yang menghilang di balik pintu ruang bawah tanah.
Mischa tidak akan punya kesempatan untuk lolos ketika Aslan sudah bertekad untuk mengejarnya. Aslan selalu berhasil mendapatkan buruannya, karena dialah yang terkuat dan pemburu terbaik dari seluruh Makhluk Zodijak yang ada.
Kekuatan Aslan memang seperti sudah ditakdirkan sejak awal, bahkan mungkin sejak Aslan dilahirkan, ditandai dengan bintang yang menaunginya. Leo, Si Singa, satu-satunya rasi bintang yang membawa predator buas bertubuh besar di antara semua rasi bintang lainnya. Seluruh bangsa Zodijak dalam perwujudan rasi bintangnya seperti banteng, kambing, ikan, kalajengking dan sebagainya, hanyalah wujud mangsa empuk dari Si Singa itu sendiri.
Khar masih larut dalam lamunannya, sambil mengurus tubuh Kara yang tak sadarkan diri dalam kondisi hancur lebur dan menyedihkan untuk kemudian mengangkat tubuh Kara ke atas pesawat. Dia juga memastikan tubuh gadis kecil yang dititipkan Kara kepadanya juga diangkut ke pesawat dalam kondisi aman.
Bagaimanapun juga, Kara telah dengan sungguh-sungguh memintanya menjaga anak perempuan itu, jadi Khar akan menjaganya sampai setidaknya Kara bisa sadarkan diri dan bisa menjelaskan kepada Khar kenapa Khar jadi harus repot-repot membawa satu anak manusia perempuan lagi untuk masuk ke dalam wilayah mereka.
Kali ini sama, anak perempuan itu masuk ke wilayah mereka bukan sebagai budak karena dilihatnya Kara tidak menggigit anak kecil ini, hanya menyentuh titik nadi khusus di lehernya untuk merenggut kesadarannya. Lagipula sungguh konyol kalau Bangsa Zodijak sampai menggigit anak sekecil ini untuk dijadikan budak, Seorang budak yang menerima racun Zodijak akan otomatis berhenti usianya di titik ketika dirinya digigit dan seorang anak kecil yang menjadi budak tidak akan berguna apapun.
Mata Khar mengamati tubuh Kara yang terbujur kaku, penuh luka luar yang mengerikan dan luka dalam yang mungkin dua kali lipat lebih mengerikan dari apa yang terlihat dari luar.
Yesil tidak akan suka dengan kondisi Kara yang separah ini….
Khar mengerutkan kening ketika memikirkan Yesil yang mengemban tugas sebagai penyembuh di antara mereka. Tugas Yesil yang satu itu jarang dilakukan karena mereka sebagai Lelaki Zodijak memang sangat jarang terluka hingga hampir tidak memerlukan penyembuhan sama sekali.
Tapi sekarang untuk kasus Kara, sepertinya Yesil harus bekerja ekstra keras dalam membantu proses penyembuhannya.
Meskipun Khar berhasil menghentikan Aslan tepat sebelum Aslan menewaskan Kara, Khar tidak bisa menahan Aslan untuk menghajar Kara sampai babak belur. Kara sendiri yang memberikan tantangan konyol itu terhadap Aslan, mungkin saudaranya yang bodoh ini berharap bisa mengalihkan perhatian Aslan dari Mischa, tapi itu hanyalah harapan yang sia-sia belaka. Tanpa disadari oleh Aslan sendiri, saudaranya itu telah terobsesi kepada Mischa dengan begitu dalam hingga tampaknya nyaris kehilangan kewarasannya.
Suara berdebum yang begitu keras membuat Khar langsung menoleh waspada, secepat kilat, setelah memastikan tubuh Kara dan anak kecil yang dititipkan Kara kepadanya – dimana keduanya sama-sama lunglai – ada dalam penjagaan anak buah Aslan yang sudah siaga di dalam pesawat mereka.
Khar langsung melesat masuk ke dalam ruang bawah tanah, mengabaikan larangan yang sempat diteriakkan oleh Aslan tadi sebelum berbalik masuk kembali ke ruang bawah tanah setelah menghajar Kara yang mengatakan bahwa apapun yang terjadi, tidak ada satu makhlukpun yang boleh mengganggu perburuannya terhadap Mischa.
Begitu Khar memasuki ruangan, dirinya tertegun menatap pemandangan di depannya.Aslan tampaknya sedang menggunakan tubuhnya sebagai tumpuan, untuk melindungi Mischa dari bantingan keras karena terjatuh. Mau tak mau Khar mendongakkan kepala, menatap ke atap tinggi yang mungkin mencapai ketinggian hampir sepuluh meter, dimana banyak teralis-teralis besi berjalinan dengan pipa udara raksasa di atas sana.
Jadi Mischa berhasil memanjat setinggi itu dan bertahan di langit-langit untuk bersembunyi?
Khar mengukur-ukur kekuatan tekad Mischa untuk memanjat dan juga usaha yang dilakukan Mischa untuk menyembunyikan dirinya dari Aslan hingga mau tak mau muncul rasa kagum di dalam hatinya terhadap tekad bulat Mischa melawan Aslan.
Mischa mungkin memang benar-benar lawan yang sepadan untuk Aslan, seperti yang tertuliskan dalam mitologi masa lampau Bangsa Zodijak.
Tak perlu menunggu lama bagi Aslan untuk bangkit. Jatuh dari ketinggian sepuluh meter bukanlah apa-apa bagi Bangsa Zodijak yang bertubuh luar biasa kuat. Seluruh struktur tubuh mereka seolah disusun untuk berperang dan menaklukkan mangsa, tahan banting sekaligus luar biasa mematikan.
Tubuh Mischa terasa lunglai di lengannya, membuat Aslan membungkuk dengan waspada sambil menatap mata Mischa yang terpejam rapat.
Tidak ada luka di tubuh Mischa, hanya sedikit goresan yang melukai kulit, mungkin akibat gesekan keras dengan pakaian Aslan ketika mereka terjatuh tadi, tapi Mischa tampak kehilangan kesadaran, dengan tubuh lunglai tak berdaya.
Dengan sigap Aslan membuka mantel tebal yang dipakai oleh Mischa, merenggutnya kasar hingga beberapa kancingnya lepas berceceran di lantai. Napas Mischa begitu lemah hingga gerakan dadanya nyaris tak terlihat. Aslan menyentuhkan tangannya di nadi Mischa untuk mengukur aliran darahnya, sementara telinganya menajam untuk memastikan detak jantung Mischa masih terdengar.
Agak lemah memang, tapi Mischa baik-baik saja, perempuan ini mungkin hanya pingsan karena shock yang melanda ketika jatuh dari tempat begitu tinggi.
Mau tak mau Aslan mengernyit, memandang Mischa dengan marah ketika teringat bahwa Mischa lebih memilih mati daripada jatuh ke dalam kuasanya.
“Dia tidak mati, bukan?”
Suara Khar yang terdengar cemas membuat Aslan menolehkan kepala dan langsung memasang ekspresi muram.
“Jaga bicaramu, Khar.” desisnya geram.
Nada suara Aslan sepertinya tidak mempan terhadap Khar karena mereka semua memang sudah hapal dengan sifat Aslan yang kasar baik dalam perkataan maupun perbuatan.
“Dia memilih melompat untuk menghindarimu dan kau menggunakan tubuhmu untuk melindunginya?” Khar mengucapkan pemikirannya dengan nada penuh arti. “Rupanya manusia perempuan ini cukup berarti juga, eh?”
Aslan melemparkan tatapan tajam ke arah Khar.“Aku hanya tidak ingin seluruh usaha pencarian yang sudah kulakukan berakhir sia-sia karena kematian manusia perempuan ini. Dia sudah sangat menyulitkanku, jadi aku layak mendapatkan kesempatan untuk menghukumnya.”
Aslan berucap tenang sambil mengangkat Mischa, lalu memanggulnya layaknya memanggul barang sementara Khar hanya bisa terperangah melihat cara Aslan memperlakukan perempuan selayaknya orang barbar yang tidak beradab.
“Menghukumnya? Kau tidak mungkin menghajarnya seperti yang kau lakukan pada Kara, bukan?” Khar mengejar dengan penuh rasa ingin tahu ketika Aslan membalikkan badan dan melangkah cepat meninggalkan ruang bawah tanah itu.
Aslan hanya melirik sedikit sementara ada seringai tipis muncul di bibirnya.
“Tentu saja tidak, aku akan menghukumnya dengan caraku sendiri,” ucapnya dengan nada penuh arti.﴿
“Ini tidak baik.”
Yesil yang selama ini selalu tampak tenang kini sedikit cemas ketika menatap tubuh Kara yang hampir sepenuhnya dibalut perban hingga menyerupai mumi, mumi adalah sosok mayat diawetkan berasal dari peradaban manusia kuno di masa lampau yang kebetulan termasuk dalam penelitian tentang umat manusia yang sedang didalami oleh Yesil.
“Apanya yang tidak baik?” Kaza yang sejak tadi berdiam sambil mengawasi Yesil menangani Kara, langsung menolehkan kepalanya dengan cemas.
“Aslan telah mematahkan hampir seluruh tulang Kara, belum lagi organ dalamnya, termasuk organ-organ vital juga terluka… butuh waktu yang sangat lama bagi Kara untuk pulih kembali.”Bangsa Zodijak memiliki kemampuan menyembuhkan diri dengan sangat cepat, jadi jika Yesil berkata bahwa Kara membutuhkan waktu lama untuk pulih, itu berarti kondisi Kara benar-benar buruk.
“Tapi dia akan pulih, bukan?” Kaza bertanya memastikan, masih dengan ekspresi meringis karena tidak tahan membayangkan kesakitan yang ditanggung oleh saudara kembarnya itu.
“Dia akan pulih, meskipun akan menjadi tak berdaya selama beberapa waktu sebelum bisa sembuh total dan menjadi normal kembali,” Yesil menjawab dengan nada menenangkan. “Setidaknya Aslan tidak membunuhnya, Kara sungguh beruntung karena itu.”
Kaza menganggukkan kepala dan menatap tubuh Kara yang terbaring di ranjang dengan penuh ironi.
“Mengingat apa yang Kara lakukan, dia memang beruntung tidak sampai kehilangan nyawa karena amukan Aslan. Dan ngomong-ngomong tentang itu, bagaimana dengan anak perempuan yang katanya dititipkan oleh Kara kepada Khar sebelum dia bertarung dengan Aslan?”
Yesil menggelengkan kepala, tampak menyesal.
“Aku sebenarnya tertarik dengan anak perempuan itu, mengingat kemiripannya baik dengan Natasha ataupun Mischa… tapi sebelum aku bisa menelitinya, anak buah Aslan datang merenggutnya, mengatakan bahwa mereka akan mengambil anak kecil itu di bawah kuasa Aslan.” Yesil mengangkat bahu. “Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya, yang bisa kulakukan hanyalah menunggu sampai Aslan melunakkan hati dan membiarkanku meneliti anak kecil itu sama seperti ketika aku meneliti Mischa.”
Kaza menghembuskan napas dengan pandangan nanar.
“Perempuan-perempuan manusia ini entah kenapa tiba-tiba bermunculan, mirip satu sama lain tapi membawa kemisteriusan yang mengganggu…” Kaza merenung, lalu menoleh sambil menatap Yesil. “Apakah kau pikir ada misteri yang bisa kau ungkap dari semua ini?”
“Tentu saja ada,” Yesil menganggukkan kepala sementara matanya bersinar penuh tekad, “Dan aku tidak akan berhenti sampai aku menemukan jawabannya,” janjinya perlahan.