Inevitable War

Inevitable War
Episode 128 : Berjuang



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )


 


 




Perempuan itu sedang  berusaha menyelamatkan diri, mencoba meronta dan menggerakkan tangan yang sialnya sedang terborgol rapat di kiri dan kanan tubuhnya. Sementara itu pasir yang tumpah dari langit-langit ruangan semakin meninggi, mengancam untuk mengubur mereka semua hidup-hidup.


Mischa tampak berusaha begitu keras hingga bahkan tidak menyadari kehadiran Aslan yang memasuki ruangan itu.


Posisi ranjang membuat kepala Mischa yang berbaring membelakangi pintu, dan suara ledakan serta reruntuhan serta benda-benda yang dilalap api begitu membahana sehingga Mischa tidak bisa mendengar kerasnya pintu yang didobrak oleh Aslan.


“Natasha…”Suara Akrep membuat Aslan menoleh, matanya mengikuti arah pandangan Akrep, ke sisi ranjang yang lain, tempat sosok dengan penampilan yang begitu mirip dengan Mischa tengah berbaring tanpa daya, tidak sadarkan diri.


“Pergilah lebih dulu, bawa Natasha keluar dari sini!” Aslan memerintahkan itu karena melihat tangan Natasha yang tak terikat, berbeda dengan Mischa.


Bersamaan dengan Aslan yang melompat ke arah Mischa, Akrep bergerak secepat kilat menuju Natasha dan dengan mudah mengangkat tubuh ringan itu ke pundaknya, memanggulnya seolah sedang membawa barang.


“Cepat susul aku, Aslan. Hati-hati.”


Akrep masih sempat memberi pesan itu kepada Aslan sebelum kemudian berlari cepat keluar ruangan, menembus kobaran api dengan Natasha di dalam gendongannya.


 



 


Bayangan gelap tiba-tiba menaungi Mischa, membuat usahanya yang sedang berusaha melepaskan diri teralihkan dan dirinya setengah memekik karena terkejut.


Mata Mischa langsung menyambar dengan cepat ke arah sosok yang saat ini berdiri membungkuk di atasnya, takut jika yang datang adalah Imhotep yang hendak mencelakai dirinya dan bayinya.


Tetapi ketika Mischa menyadari siapa yang datang, sinar kelegaan memenuhi dirinya, membuatnya langsung berseru memanggil nama penyelamatnya.


“Aslan!” ujarnya untuk mengungkapkan rasa lega yang membanjiri.


Aslan menganggukkan kepala sedikit, tetapi lelaki itu tidak sedang memandang Mischa. Mata gelapnya nan pekat tampak memandang marah ke arah memar di pergelangan tangan Mischa. Memar itu membiru dengan cepat, menciptakan bayangan mengerikan di kulit Mischa yang pucat dan membuat Aslan menipiskan bibirnya dengan geram.


“Tunggu sebentar. Jangan bergerak.”


Perlahan, dengan kekuatannya, Aslan meremas borgol itu, membuatnya langsung retak dan hancur berkeping di telapak tangannya.


Mischa membelalakkan mata melihat betapa kuatnya Aslan, tetapi lelaki itu terlalu sibuk untuk memberikan tanggapan. Tangan Aslan bergerak ke sisi tangan Mischa yang satunya, membungkuk di atas tubuh Mischa dan melakukan hal yang sama terhadap borgol di tangan Mischa yang lain.


Setelah kedua tangannya terbebaskan, Mischa langsung melenting bangun, berusaha untuk duduk meskipun kejutan gerakan itu ternyata membuat kepalanya langsung berkunang-kunang.


“Pelan-pelan,” Aslan yang berdiri di tepi tempat tidur tinggi itu menggerakkan sebelah lengannya untuk merangkul punggung Mischa, menjadikan lengannya sandaran bagi perempuan itu. Mata Aslan tiba-tiba terpaku pada pakaian Mischa yang tersingkap, menampilkan perut Mischa yang terbuka lebar, tampak membuncit menunjukkan bahwa bayi mereka berdua masih ada di sana.


“Apa yang sedang dicoba lakukan Imhotep kepadamu?” Mata gelap Aslan berkilat marah, “Kenapa dia membuka bajumu?”


Mischa melirik ke arah perutnya dan langsung menurunkan pakaiannya kembali supaya kulit perutnya tertutup. Tangannya terasa perih tetapi Mischa mengabaikannya.


“Dia berusaha mengeluarkan bayiku dari perutku. Tetapi tidak berhasil,” Mischa mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tumpukan pasir sudah semakin meninggi seiring dengan bertambahnya volume tumpahan dari bagian atas. Sebentar lagi atap ruangan ini akan rubuh dan mengubur mereka hidup-hidup di bawah tumpukan pasir.


Kepala Mischa menoleh ke arah suara ribut di luar dan menyadari bahwa di bagian luar ruangan ini tidak lebih baik, api berkobar dengan begitu hebat di sana sehingga tidak menampakkan apapun selain warna merah yang menguarkan panas luar biasa bercampur dengan asap dari benda-benda yang dilalap api begitu keras.


“Kita harus keluar dari sini…” ujarnya dengan nada cemas, dilanda kepanikan. Pikirannya terarah pada Akrep yang tadi berlari menembus api sambil membawa Natasha dalam gendongannya.


Mischa tahu bahwa Bangsa Zodijak sangat kuat dengan kulit yang mampu bertahan dari api, tetapi bagaimana dengan Natasha? Apakah Akrep akan berhasil membawa Natasha keluar dari tempat yang hancur ini dengan selamat? Dan bagaimana dengan mereka? Bisakah dirinya dan Aslan keluar hidup-hidup?


“Imhotep mencoba apa?” Mata Aslan membelalak sementara ekspresinya menggelap penuh kemarahan. Keadaan di luar dan di dalam ruangan yang mengkhawatirkan itu seolah sama sekali tidak mengganggunya. Aslan lebih fokus pada apa yang hendak dilakukan Imhotep kepada Mischa. Makhluk


Tetua sialan itu berusaha mengeluarkan anak Mischa dari perutnya? Kurang ajar! Jika saja Aslan bisa menemukan Imhotep di sini, dia tidak akan segan-segan untuk menghabisi makhluk itu.


“Bisakah kita bicarakan nanti?” Mischa berjingkat ketika suara derak besi yang rubuh terbakar api terdengar begitu kuat dari luar, menimbulkan suara berdebum yang mengerikan. “Bukankah… bukankah kita harus keluar dari sini?”


Aslan mengerjapkan mata mendengar perkataan Mischa, seolah baru menyadari betapa gentingnya situasi mereka saat ini. Perlahan mata Aslan memindai seluruh tubuh Mischa, berusaha memeriksa kondisi perempuan itu dan memastikan tidak ada luka besar yang mencemaskan. Tetapi selain memar yang ada di pergelangan tangan Mischa akibat usahanya melepaskan diri dari borgol besi, Aslan tidak menemukan luka lainnya. Dan semoga tidak ada luka tersembunyi di balik pakaian perempuan itu yang lolos dari pengamatan Aslan.


“Kau baik-baik saja?” Aslan menggunakan kedua tangannya untuk mencengkeram pundak Mischa, lelaki itu membungkuk di atas Mischa sementara wajah mereka berdekatan. Mata bertatapan dengan mata, seolah dengan begitu Aslan bisa membaca kedalaman hati Mischa.


“Aku tidak apa-apa…” Mischa urung mengatakan bahwa senjata imhotep tidak mempan di kulitnya, bukan hanya jarum suntik, bahkan pisau yang dikatakan dibuat dari batu terkuat di bumi juga tidak mempan di kulitnya. Tetapi Mischa tahu bahwa sekarang bukan saat yang tepat untuk membicarakan itu, saat ini prioritas adalah berusaha keluar dari sini hidup-hidup. Dengan mengerahkan segala usaha.


“Bagus. Aku akan membawamu keluar,” Aslan memandang ke sekeliling dan ke arah jalan keluar mereka dengan tatapan menilai, mengukur kekuatannya sendiri. Perlahan Aslan membuka mantel panjangnya yang berwarna hitam, terbuat dari lapisan khusus yang berfungsi melindungi tubuh dari kobaran api. Perlahan Aslan membungkus Mischa dengan mantel itu, lalu memasangkan tudungnya di kepala Mischa. Mantel itu kebesaran tetapi ternyata terasa ringan padahal tampaknya tebal dan berat.


“Mantel ini akan melindungimu dari api. Kita akan menembus kobaran api,” ujar Aslan memberi tahu.Mischa mengangkat kepala, menatap Aslan dengan mata lebarnya yang polos dan menyadari bahwa Aslan telah menyerahkan baju pelindungnya kepada Mischa.


“Bagaimana dengan dirimu?” Mischa bertanya pelan. Matanya mengamati Aslan yang saat ini hanya mengenakan baju tebal berleher tinggi berlengan panjang dengan warna hitam yang senada dengan celananya. Baju itu tampak seperti lapisan tebal baju berperang Bangsa Zodijak lainnya, hanya saja tampak lebih tipis daripada mantel yang dibungkuskan ke tubuh Mischa saat ini.


Aslan menyeringai. Ekspresi pongah dan percaya diri tak lepas dari mulutnya, bahkan di situasi genting seperti ini.


“Aku tahan api,” ujarnya dengan nada sombong.


Kesombongan yang tak pudar itu membuat Mischa mendengus tertahan, tetapi memilih menunduk dan mengalihkan perhatiannya ke area lain. Meskipun tidak suka dengan sikap angkuh Aslan, saat ini bukanlah saat yang tepat untuk bertengkar.


Mischa menatap kedua kakinya yang tak beralas. Mengerutkan kening ketika membayangkan kakinya itu harus menapak lapisan panas yang ada di luar sana. Tetapi hal itu tak urung tetap membuatnya berusaha menurunkan kakinya ke samping ranjang, berjuang untuk menjejak lantai.Dia harus bisa berjalan dan berlari dulu kalau ingin keluar dari tempat ini.


Rasa sakit di kaki masih bisa ditahan, berjuang untuk menyelamatkan nyawa lebih penting saat ini.Tetapi gerakannya tertahan oleh Aslan. Lelaki itu tiba-tiba merangkul tubuh Mischa dan membawanya ke dalam gendongan, membuat Mischa memekik karena tubuhnya terayun cepat ke dalam lengan-lengan Aslan.


Mischa menggunakan kedua tangannya untuk berpegangan di pundak Aslan, mencoba menjaga keseimbangannya agar dia tidak terjatuh. Sebenarnya usaha Mischa itu tidak diperlukan karena saat ini Aslan memegangnya dengan begitu kuat hingga tubuh Mischa menempel di dadanya yang keras.


“Aku akan memperlambatmu kalau digendong seperti ini. Aku masih bisa berlari!” Mischa berseru dengan nada keras kepala, berusaha melepaskan diri dari gendongan Aslan.


“Aku sudah bilang akan membawamu keluar dari sini, bukan?” Aslan menunduk menatap Mischa yang mendongak hendak memprotes ke arahnya.