
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Setelah Akrep menghilang, Mischa memijit kepalanya yang entah kenapa terasa nyeri. Dia benci mendengar perkataan Akrep tadi yang menyatakan seolah-olah dirinya beruntung karena Aslan memilihnya, bahwa Aslan seharusnya bisa mendapatkan yang baik tetapi malah mau merendahkan diri untuk memilihnya, dan Mischa seperti dipaksa untuk berterima kasih kepada Aslan karenanya.
Berterima kasih? Setelah segala pemaksaan dan perlakuan buruk yang diberikan Aslan kepadanya?
Mischa menggelengkan kepala tanpa sadar, mengepalkan kedua tangannya dengan marah.
Tidak! Dia tidak akan pernah berterima kasih kepada Bangsa Zodijak yang jahat!
Meskipun sekarang tubuhnya diikat dengan kekuatan misterius yang terjalin antara dirinya dan Aslan, Mischa tidak akan pernah berterima kasih kepada bangsa yang sudah memporakporandakan bumi dan menghancurkan peradaban manusia serta menciptakan perang mengerikan yang membuat banyak orang menderita!
Kemarahan atas ketidakadilan itu memenuhi benak Mischa, membuatnya harus menghela napas berkali-kali untuk menetralkan perasaannya. Dia lalu memikirkan Sasha dan kebebasan terbatas yang diberikan kepadanya untuk menemui adik angkatnya itu.
Mischa tidak tahu berapa lama kesempatan untuk bertemu Sasha ini diberikan kepadanya, itu semua tentu tergantung berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh Aslan untuk menyelesaikan urusannya sebelum kembali ke Istana ini.
Setelah Aslan kembali, bukan tidak mungkin Mischa akan kehilangan kesempatannya bertemu Sasha mengingat kondisi emosi Aslan yang labil dan mudah berubah seenaknya sendiri.
Kalau begitu dia harus membuang berbagai pikiran negatif dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya yang diberikan kepadanya untuk bersama Sasha.
Mischa langsung membalikkan badan, melangkah cepat untuk kembali memasuki ruang penelitian tempat Yesil berada dan karena kurang waspada, dia langsung bertabrakan di ambang pintu dengan sosok tubuh keras yang hendak keluar dari ruangan.
Karena gerakan tubuh yang keras itu begitu cepat, tubuh Mischa yang rapuhlah yang terdorong ke belakang, dan terhuyung hampir jatuh, beruntung tangan yang kuat tersebut menahan pundaknya supaya tidak jatuh terjengkang ke belakang.
Mischa mendongakkan kepala untuk menatap penabrak sekaligus penolongnya dan matanya melebar ketika melihat Kaza yang berdiri di sana – sudah pasti ini Kaza karena mereka bilang bahwa Kara masih terbaring di ranjang dalam proses pemulihan – Bayangan buruk bercampur kenangan mengerikan langsung muncul di benak Mischa, teringat ketika lelaki ini mencekik lehernya dengan kejam.
Seketika itu juga Mischa meronta, melepaskan diri dari pegangan Kaza dengan sebelah tangan tanpa sadar memegang lehernya sendiri untuk melindungi.
Tatapan mata yang dilempar Mischa kepada Kaza dipenuhi kewaspadaan dan rasa curiga, apalagi memikirkan percakapan sebelumnya bahwa Kaza memiliki keterikatan kepada Sasha dan bahwa lelaki itu baru saja menemui Sasha.
Kaza sendiri berdiri, menunduk ke arah Mischa sementara indera penciumannya yang tajam langsung mengendus aroma Aslan yang sangat kental ditanam di tubuh Mischa, senyumnya berubah kecut ketika menyadari bahwa Aslan telah menandai tubuh Mischa sebagai peringatan supaya Mischa tidak disentuh.
Kaza mengangkat kedua telapak tangannya ke depan dengan sikap sinis, menatap Mischa dengan dingin.
“Aku tidak sengaja menyentuhmu, dan aku menyentuhmu tidak dengan niat melukai. Katakan itu kepada Aslan kalau dia mengendus aromaku di tubuhmu.” ujar Kaza sarkatis sebelum melangkah pergi.
“Apakah kau akan membawa perempuan itu?” Akrep bertanya kepada Aslan sebelum mereka menaiki pesawat tempur yang telah menunggu.
Aslan menolehkan kepala, menatap Akrep dengan tajam. “Ke mana?”
Akrep mengangkat bahu. “Ke Planet kita tentu saja, ke Planet Zodijak.”
Aslan mendengus mendengar perkataan Aslan,“Untuk apa?” ujarnya sinis.
“Untuk melihat apakah perempuan itu bisa memberikan pengaruh bagi planet kita,”
“Tidak ada gunanya, planet Zodijak sudah kering dan mati sejak lama, tidak ada harapan lagi untuk tempat itu,”
Aslan menatap ke arah Akrep dengan tajam. “Aku bahkan tidak menduga bahwa kau masih memikirkan untuk kembali ke Planet Zodijak dan tinggal di sana lagi.”
“Planet itu adalah tempat kita berasal, tentu saja aku masih memiliki harapan untuk tinggal di sana lagi dan membangun peradaban kita,” Akrep tersenyum dengan ekspresi sulit dibaca, lalu memalingkan muka, menatap lurus ke depan. “Jika memang planet kita sudah tidak bisa ditempati lagi, maka kita harus menyiapkan bumi untuk menjadi peradaban baru kita. Rakyat kita sudah menunggu.” ujarnya tenang.
Selama ini, ketika Bangsa Zodijak berperang untuk menghanguskan bumi dan melenyapkan satu-persatu bangsa yang berkuasa di planet ini, kaum lelaki Zodijak tinggal di Istana hitam yang dikelilingi benteng di bumi, menjadi tentara yang melakukan penyerangan untuk memastikan tidak ada satu manusia pun yang tersisa, kecuali para budak yang dibiarkan hidup untuk melayani Bangsa Zodijak.
Sementara itu, kaum wanita dan anak-anak masih berada di atas pesawat induk raksasa dengan lebar hampir memenuhi seluruh sisi bumi jika dibuat mendatar, yang melayang di atas atmosfer bumi, mereka semua tidak diperkenankan turun dan menjejakkan kaki ke bumi sampai seluruh planet berhasil disapu bersih.
“Karena itulah kita bergerak menghabisi Bangsa di Timur Jauh ini,” Aslan menyeringai penuh antisipasi, “Kurasa sudah habis waktu kita untuk bersenang-senang dan mulai menghabisi mereka, pun dengan musuh misterius yang membangun kekuatan diam-diam di belakang kita.” ujarnya dengan nada penuh ancaman nan mengerikan.
“Sasha!”
Mischa membuka pintu ruangan tempat Sasha berada setelah mendapatkan izin dari Yesil dan tidak mampu menahan suara girangnya ketika mendapati Sasha masih asyik duduk membaca dan membelakangi dirinya.
Seketika kepala Sasha menoleh ke belakang dan mata indahnya melebar ketika mendapati Mischa di sana.
Dalam sekejap, Sasha langsung melemparkan buku di tangannya, melompat dari duduknya dan menghambur ke arah Mischa yang membuka kedua tangan untuk menyambutnya.
Mischa membungkuk, memeluk tubuh Sasha dengan erat sementara kelegaan membanjiri seluruh tubuhnya. Air matanya menetes, dipenuhi rasa haru karena ternyata dia masih mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Sasha dan memastikan bahwa adik angkatnya itu baik-baik saja.
Setelah puas melepas rindu dan kelegaan, Mischa menjauhkan tubuh Sasha hanya sedikit dari tubuhnya supaya dia bisa mengamati wajah Sasha dengan jelas.
“Apakah kau baik-baik saja?” mata Mischa menelusuri diri Sasha dengan tidak yakin, “Mereka bilang Kaza menemuimu…” suara Mischa tertelan di tenggorokan ketika mengingat kata-kata Aslan bahwa kemungkinan besar Kara telah menandai Sasha, ketakutan langsung melanda diri Mischa.
“Kaza… Kaza… tidak berbuat apa-apa kepadamu, bukan?” tanya Mischa perlahan.
Sasha menelengkan kepala, menatap Mischa seolah bingung. “Kaza… saudara kembar Kara?” tanyanya dengan nada polos. “Dia… dia cukup aneh, sepertinya dia suka marah-marah sendiri. Tadi dia datang kemari mengatakan sesuatu yang tidak jelas dan pergi begitu saja,” ucap Sasha memberitahu.
Mischa mengatap Sasha dengan tatapan bingung. “Hanya itu saja?” tanyanya kemudian.
Sasha menganggukkan kepala. “Hanya itu saja,” ujarnya cepat.
“Apakah Kak Mischa tahu bahwa Kara dirawat di sebelah ruangan?” ujar Sasha setengah berbisik.
Mischa menganggukkan kepala. “Aku tahu,” jawabnya dengan diselipi rasa sedih karena teringat akan luka-luka yang diderita oleh Kara.
“Yesil… dokter yang ada di sini melarangku menemui Kara. Sebelumnya aku diperbolehkan menemui Kara, tetapi sekarang tidak boleh lagi… ” sambung Sasha perlahan, diliputi kekecewaan.
Mischa tersenyum dan mengusap kepala Sasha dengan sayang.
“Kita harus memberikan waktu bagi Kara untuk beristirahat, supaya dia cepat sembuh.” ujarnya kemudian untuk meredakan rasa kecewa Sasha, yakin bahwa Sasha adalah anak yang cukup cerdas untuk menerima penjelasannya.
Dengan lembut Mischa kemudian membimbing Sasha dan menaikkan anak perempuan itu supaya duduk di atas tempat tidur, sementara dia sendiri menyusul duduk di sana.
“Kak Mischa ada di sini,” Sasha menatap Mischa dengan bahagia, seolah baru menyadari betapa ajaibnya kehadiran Mischa di ruangan ini. “Kara bilang bahwa kita diselamatkan, bahwa ada manusia-manusia baik seperti Dokter Yesil yang merawat kami… dan kita tidak perlu takut pada Bangsa Zodijak. Sekarang karena Kak Mischa juga ada di sini, itu berarti kita semua selamat!” ucap Sasha dengan senang.
Mischa tertegun, menatap ekspresi Sasha yang tanpa beban untuk kemudian menyadari bahwa Yesil dan juga Kara, bahkan Kaza sekalipun, tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Sasha.
Mereka semua pasti berinteraksi dengan Sasha menggunakan lensa mata palsu manusia sehingga Sasha tidak menyadari bahwa semua yang dia anggap baik dan berinteraksi dengannya sebagai manusia, sebenarnya adalah Bangsa Zodijak yang menyamar.
Mischa tentu saja tidak berniat untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Sasha, karena ketidaktahuan itulah yang kemungkinan akan melindungi Sasha sampai saat ini.
Mata Mischa terpaku ke arah gelang baja kecil yang melingkar di kaki Sasha, dan hatinya bergetar ketika menyadari bahwa mereka semua saat ini berada dalam kebebasan semu. Jika Mischa berani berbuat macam-macam, cincinnya akan memicu ledakan di gelang kaki Sasha, dan Sasha-lah yang akan jadi korbannya.
Mischa memejamkan mata sejenak, mencoba menumbuhkan harapan bahwa suatu saat, entah kapan itu, mereka semua akan terbebas dari kondisi terjajah seperti ini.
Sentuhan tangan mungil di lengannya membuat Mischa tersadar dari lamunan, dan menunduk untuk menatap mata Sasha yang penuh tanya.
“Kenapa Kak Mischa tampak sedih? Apakah Kak Mischa sakit?” Sasha bertanya dengan cemas, dia telah berkali-kali menjadi saksi ketika penyakit Mischa kambuh dan saat ini kecemasan melandanya, takut kalau Mischa akan mengalami kesakitan yang membuat kakak angkatnya itu menderita.
Dengan cepat Mischa menggelengkan kepala dan mencoba tersenyum untuk meredakan kecemasan Mischa.
“Aku sehat. Aku hanya terharu karena kita bisa menghabiskan waktu bersama-sama meskipun sebentar,” ucap Mischa dengan nada menenangkan.
Tetapi hal itu membuat Sasha mengerutkan kening.
“Kak Mischa tidak tinggal di sini?” ujarnya bingung.
Mischa menggelengkan kepala sekali lagi. “Tidak… aku.. aku ditugaskan di tempat lain di malam hari…” kesedihan bercampur rasa geram langsung memenuhi benak Mischa ketika mengingat kembali ancaman Aslan bahwa setiap malam, dirinya harus kembali ke kamar Aslan di area milik Aslan, kalau dia ingin Sasha tetap selamat. “Tetapi aku akan ada di siang hari… aku akan mengusahakannya,” sambung Mischa cepat ketika menyadari kekecewaan di mata Sasha.
Jawaban Mischa itu menumbuhkan senyum di bibir Sasha yang semakin melebar ketika Mischa membalas dengan senyum yang sama.
“Kalau begitu, ayo kita habiskan waktu sebaik-baiknya!” Sasha meraih buku sejarah yang tadi dilemparkannya. “Dokter Yesil memberikanku ini untuk mengisi waktu, Kak Mischa mau membacanya bersamaku?” tanyanya bersemangat.