
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
Imhotep mengamati apa yang terpantul di balik mata Kale dan menyeringai lebar. Dengan ramuan khusus yang diminumkannya kepada Kale tanpa lelaki itu menyadarinya, dia telah mengubah struktur otak Kale sehingga bisa memantulkan apa yang dilihatnya melalui refleksi pikiran sehingga menampilkan gambaran yang nyata layaknya sebuah film berjalan yang bisa dilihat langsung dengan jelas oleh Sang Dokter di dalam pikirannya.
Segala sesuatu yang dirasakan oleh Indra Kale, Imhotep bisa merasakannya.
Pada intinya Imhotep telah mengubah Kale menjadi cangkang kosong untuk merefleksikan kesadaran Imhotep di dalam tubuhnya.
Imhotep juga telah menyimpan peledak di tubuh Kale, ledakan yang berisi butiran bubuk beracun dari bahan yang sama yang dia gunakan untuk membuat peluru yang sudah pasti bisa melukai Bangsa Zodijak.
Ledakan itu akan menimbulkan kerusakan dahsyat dan jika ada Bangsa Zodijak yang kebetulan terkena ledakan itu maka mereka akan mati atau bahkan terluka parah karenanya.
Dia adalah Sang Penyembuh dengan keahlian mengenai obat-obatan dan memanipulasi tubuh manusia hasil dari ilmu yang dia pelajari sejak bertahun-tahun lamanya. Tidak ada yang tidak bisa dilakukannya menyangkut modifikasi obat-obatan, tidak ada ramuan baik obat maupun racun yang tidak bisa dibuatnya.
Sekarang melalui perintah tak kasat mata yang terkirim dari otaknya, dia memerintahkan Kale berdiri.
Tubuh Kale tertimbun di reruntuhan bangunan dan seharusnya secara normal tidak ada jalan bagi Kale untuk hidup kembali. Tetapi kekuatan perintah dari Imhotep sangat kuat hingga dia bisa membangkitkan tubuh Kale yang telah kehilangan kesadarannya.
Perlahan dibuatnya tubuh Kale bergerak sekuat tenaga, mengangkat reruntuhan yang menimpa tubuhnya.
Kegelapan menyelimuti dimana-mana ketika terdengar suara berderak keras ketika Kale mengangkat batu besar yang menimpa badannya dan menyingkirkannya dengan mudah. Tubuh Kale layaknya mayat hidup tak bernyawa yang digerakkan dengan benang kendali tak kasat mata yang melilit seluruh sendinya.
Pakaian Kale tampak koyak dan luka berdarah menganga di tubuh bahkan di sisi kepalanya. Tetapi serum darah Natasha yang disuntikkan kepadanya dalam dosis yang tinggi akan mengakomodasi luka itu hingga sembuh dengan cepat dan memastikan bahwa luka itu tidak merusak parah sampai ke dalam.
Imhotep memandang melalui mata Kale dan menemukan sekelilingnya gelap dan pekat dan berasap penuh debu reruntuhan. Lampu emergency menyala merah berkedap-kedip menembus kegelapan sementara suara alarm berdering terus menerus tanpa henti pertanda keadaan gawat terjadi di luar sana.
Imhotep tahu kali ini dia tidak akan berhadapan dengan Kara dan Yesil yang mungkin masih tak sadarkan diri di bawah reruntuhan itu. Ledakan yang begitu kuat memang tidak akan membunuh Kara dan Yesil, bahkan mungkin akan dengan mudah mereka atasi jika itu adalah ledakan biasa.
Tetapi ledakan yang dikirimkan oleh dirinya mengandung bubuk biru temuan Imhotep yang berasal dari darah Natasha yang telah dimodifikasi dengan cara rahasia dan khusus hingga bisa berubah menjadi racun khusus yang mampu melukai Bangsa Zodijak dan tentu saja karena bubuk itu berasal dari modifikasi darah Natasha, maka akan memberikan imbas kerusakan paling parah kepada Kara.
Jika sesuai rencananya ledakan itu mengenai Kara, maka sudah pasti Kara akan berujung pada kematian dan tidak bisa diselamatkan bahkan oleh Natasha sendiri yang menjadi pasangan air sucinya.
Tetapi sekejap tadi Sang Penyembuh melihat bahwa Yesil melindungi saudaranya dengan tubuhnya sehingga kemungkinan besar ledakan itu tidak akan melukai Kara melainkan melukai saudaranya dengan parah.
Sejenak Sang Penyembuh termenung sebelum memutuskan, membuat tubuh Kale yang seperti robot juga ikut termenung bersamanya.
Dia sebenarnya ingin menghabisi Kara dan Yesil saat itu juga, dirinya tahu bahwa tubuh Kale sekarang berada di ruang bawah tanah yang jauh sehingga memerlukan waktu bagi saudaranya yang lain untuk datang menolong.
Tetapi saat ini tidak ada waktu, Kale harus diperintahkan melakukan sesuatu yang lebih penting dulu.
Ada perempuan lain, salah satu dari anak-anak perempuan pasangan air suci yang dicarinya, dan bukan hanya satu tetapi diluar dugaan ada dua.
Dia harus menemukan mereka berdua terlebih dulu karena merekalah yang menjadi salah satu kunci kemenangannya. Jika setengah atau lebih anak-anak perempuan pasangan air suci berhasil dikumpulkan, maka sisanya akan datang dengan sendirinya, tertarik oleh kekuatan tak kasat mata.
Ketika imhotep bisa mengumpulkan seluruh perempuan itu, maka dia akan bisa mengambil darah mereka untuk membuat pasukan yang sangat kuat dan juga menciptakan peluru beracun dan peledak untuk masing-masing pemimpin Bangsa Zodijak, untuk kemudian melenyapkan mereka satu persatu tanpa ampun.
Karena itulah Imhotep memutuskan melepaskan Yesil dan Kara yang terbaring tanpa daya di bawah reruntuhan. Diperintahkannya Kale untuk terbang dengan cepat menembus lorong untuk menemukan dua perempuan yang akan dengan mudah dilacaknya.
Kegelapan menyelimuti seluruh ruangan dan keheningan yang tercipta di ruang pertemuan itu terasa begitu mencekam.
Tadinya Akrep dan Aslan berada di sana dan bercakap-cakap, tetapi ledakan itu terjadi tiba-tiba dan meruntuhkan bangunan dengan dahsyat hingga tubuh mereka tenggeelam di dalamnya.
Ketika sisa asap reruntuhan itu memudar dan guncangan yang semula terasa begitu kencang hingga meruntuhkan sebagian dinding dan atap istana besar tersebut mereda hingga akhirnya berhenti, Aslan langsung menurunkan tangannya yang semula digunakan untuk menaungi kepalanya.
Dia langsung mengerutkan kening karena gerakannya tertahan oleh bebatuan, pun dengan pandangan matanya yang tertutup batu besar yang menimpanya.
Banyak sekali batu besar maupun reruntuhan bangunan yang berukuran kecil jatuh menimpa tubuhnya hingga jika dilihat dari luar tubuh Aslan saat ini sudah pasti tidak terlihaat sama sekali karena terhalang batu besar yang menimpanya. Tetapi, sebagai seorang makhluk Zodijak yang memiliki kulit cukup keras, tentu saja tekanan yang begitu besar untuk ukuran manusia biasa itu tidak ada apa-apanya.
Kaum manusia yang lemah mungkin sudah remuk redam tubuhnya, sementara Aslan sebagai makhluk Zodijak memiliki perlindungan berupa kulit keras yang menjadi tameng luar biasa yang berpadu dengan otot kuat dan tulang yang sangat keras.
Perlahan Aslan mendorong batu paling besar yang menimpa tubuhnya untuk kemudian melemparkannya menjauh, dia lalu berusaha bangun dan terduduk, menyingkirkan batu-batu lain yang menutupi kakinya dan setelah semuanya berhasil disingkirkan, Aslan segera meloncat bangkit berdiri.
Runtuhnya dinding bangunan secara tiba-tiba menciptakan kabut debu yang menghalangi pemandangan, tetapi telinga Aslan yang tajam langsung mendengar suara gerakan di dekatnya, dirinya langsung bergerak secepat kilat ke arah sumber suara, menyadari bahwa disanalah Akrep berada.
Rupanya saudaranya itu tertimbun dinding berukuran besar yang jauh lebih besar dari ukuran batu yang menimpa Aslan sehingga tampak kesulitan ketika berusaha melepaskan diri.
Aslan segera membungkuk, lalu dengan kedua tangannya dia bergerak mengambil bongkahan dinding batu yang paling besar dan melemparkannya jauh. Akrep tampak tertindih di bawahnya dan ketika Aslan menyingkirkan batuan itu, Akrep langsung terduduk dan berusaha menyingkirkan sendiri sisa-sisa batu lain yang menindih tubuhnya.
“Kau tidak apa-apa?” Aslan mengulurkan tangan ke arah saudaranya untuk menawarkan bantuan.
Dengan segera Akrep menerima uluran tangan itu lalu membiarkan Aslan membantunya berdiri.
Debu membasahi rambut dan pakaiannya dan Akrep menyingkirkannya dengan segera sementara Aslan bersikap tidak peduli.
“Ledakan ini bersumber dari ruang penjara bawah tanah,” ujar Aslan, menyimpulkan dengan waspada. “Aku akan menyusul ke sana. Kurasa tawanan yang kita tangkap membawa sesuatu tak terduga yang luput dari pemeriksaan kita,” ujar Akrep kemudian.
Mata Aslan langsung menyipit mendengar perkataan Akrep.
“Jika menurutmu tahanan itu membawa peledak di dalam tubuhnya… apakah dia sengaja disusupkan untuk memasuki istana ini?” desisnya penuh perhitungan.
Akrep langsung menganggukkan kepala. “Aku menyayangkan keteledoran kita yang lengah dan membiarkan tawanan itu masuk tanpa memeriksanya terlebih dahulu, kita rupanya telah meremehkan kecerdikan lawan kita. Tetapi kemungkinan besar kau benar, Aslan. Tawanan kita sepertinya dibekali bom dan sengaja dibiarkan dalam kondisi mudah ditangkap hingga dia bisa menyusup masuk ke dalam istana,” ujarnya menyetujui.
“Bom ini bukan untuk menghancurkan kita… ledakannya terlalu lemah… jangan-jangan bom itu digunakan untuk melumpuhkan dan mengalihkan perhatian…” mata Aslan melebar ketika menyadari sesuatu dan mulutnya menggumamkan jawaban atas pertanyaannya sendiri, “Mischa…”
Seketika itu juga, setelah membisikkan nama istrinya, Aslan langsung meloncat menuju pintu, melesat secepat kilat menuju area wilayahnya, dirinya sempat bertabrakan dengan Sevgil dan Khar yang sedang berlari dari arah berlawanan dari wilayah hanggar pesawat untuk datang ke ruang pertemuan tetapi Aslan terlalu fokus untuk menemukan Mischa hingga bahkan tidak menoleh sedikit pun kepada dua saudaranya itu.
Sevgil dan Khar sempat menoleh ke arah punggung Aslan yang dengan cepat menghilang di ujung lorong, keduanya saling melempar pandang tetapi saat ini situasi terlalu genting untuk sekedar bercakap-cakap, mereka pun kembali melesat ke arah berlawanan, berharap bisa menemukan Akrep di ruang pertemuan untuk membicarakan situasi.
Langkah Sevgil dan Khar terhenti ketika menemukan Akrep yang melesat keluar di ambang pintu. Mereka bertiga cukup melempar pandang selama beberapa detik sebelum kemudian mensinkronisasikan pikiran dan berlari bersamaan secepat kilat menuju ruang penjara bawah tanah tempat sumber ledakan terjadi.
Jika benar dugaanku bahwa peledak ini dibuat dengan darah Natasha seperti peluru yang melukai Aslan… maka Kara dalam bahaya!
Pikiran Akrep menguar di udara, berpendar menyambung ke dalam otak Khar dan Sevgil yang mengikuti di belakangnya sementara mereka berlari semakin kencang, melesat menembus reruntuhan batuan dan kabut debu untuk menyelamatkan saudara mereka yang lain.