Inevitable War

Inevitable War
Episode 38 : Kebenaran



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira



“Apakah menurutmu Mischa mengusik ketenanganmu?” Akrep tampak tertarik dengan kata-kata Aslan dan  mengabaikan sarkasme dalam suara Aslan.


“Kau tahu bahwa manusia perempuan itu melakukannya,” Aslan tampak kesal, bibirnya menipis, tapi dia tidak membantah. “Kau tahu, bukan? Bahwa aku kebingungan dengan reaksiku sendiri? Aku tidak tahu kekuatan apa yang membuatku tertarik kepadanya… dan dia bahkan meninggalkan tanda di tubuhku.”


Akrep membelalakkan mata. “Tanda? Apa maksudmu? Kenapa kau tidak berkata apa-apa kepada kami sebelumnya? Apakah tanda itu menyerupai tato seperti yang muncul di tubuh kaum budak Bangsa Zodijak?” Ada keterkejutan menyelip di dalam suara Akrep, tetapi lelaki itu menahannya, menunggu jawaban dari Aslan.


Tanpa sadar Aslan menyentuh dadanya, tempat tanda itu ada, tidak menghilang sampai sekarang, bahkan malahan semakin pekat seiring dengan intensitas dirinya menyentuh Mischa.


“Tanda aquarius, serupa gelombang air di dadaku. Aku tidak pernah melihatnya secara langsung di kulit para budak karena memang tidak ada pembawa tanda aquarius di bangsa kita. Tapi sejak aku memanen Mischa, tanda itu muncul. Mulanya samar, tapi sekarang semakin jelas.” ekspresi Aslan tampak marah. “Tato Zodijak hanya muncul di kulit budak yang digigit. Perempuan itu beberapa kali menggigitku dalam usahanya untuk mempertahankan diri. Apakah ini berarti aku menjadi budak perempuan itu?”


Akrep memiringkan kepala, tampak menilai.“Kau tidak di bawah kehendaknya sama seperti dia yang tidak terpengaruh di bawah kehendakmu meskipun tanda Zodijak sama-sama muncul di tubuh kalian. Menurutku tanda itu bukannya menunjukkan bahwa kalian merupakan budak satu sama lain, tanda itu lebih menunjukkan ikatan kalian berdua satu sama lain.”


“Sama saja,” Aslan menyeringai dengan marah. “Aku diperbudak oleh ikatan atas nama takdir terhadap perempuan itu,” dengan cepat Aslan menyiapkan perlengkapan berperangnya dan memakainya satu persatu. “Aku akan pergi berperang, kalau memang ada yang ingin kau sampaikan kepadaku, maka katakan sekarang.”


Akrep sekali lagi tampak canggung seolah pembahasan itu tidak mengenakkan hatinya.


“Aku sudah bilang aku akan membicarakan mengenai Mischa. Pembahasan kita sebelum terpotong akibat cincinmu berubah merah kemarin adalah mengenai reproduksi dan setelahnya aku menyempatkan diri membahasnya dengan Yesil. Pada akhirnya Yesil mendorongku untuk membicarakan denganmu.”


“Mengenai apa? Dan kenapa hanya dengan Yesil kau membahasnya?” tatapan mata legam Aslan menggelap, menunjukkan ketertarikan.


“Mengenai proses reproduksi antara manusia dengan Bangsa Zodijak dan jawaban atas pertanyaanmu yang satunya adalah karena Yesil memiliki pengalaman dalam hal ini, tidak secara langsung… tapi dia pernah menanganinya,” Akrep berdehem, “Selama ini semua menganggap keberhasilan proses reproduksi antara Bangsa Zodijak dan Bangsa Manusia itu tidak mungkin terjadi dan memang tidak pernah ada satu kejadian pun sejak kita mendarat di bumi. Tapi itu semua salah,” Akrep menghela napas kembali. “Dengan pasangan yang tepat, hal itu bisa terjadi.” sambungnya kemudian, sekali lagi menghentikan kata-katanya untuk menilai reaksi Aslan.


Yang muncul di wajah Aslan adalah keterkejutan luar biasa. Lelaki itu membuka bibirnya tetapi tidak ada yang bisa keluar dari sana, seolah-olah kata-kata yang hendak dikeluarkannya  terhapus paksa sebelum bisa dikeluarkan hingga menahannya untuk berbicara.


Aslan menatap Akrep dengan pandangan mencela.“Apakah kalian dengan sengaja menggugurkannya?”


Akrep menggelengkan kepala, tampak tersinggung dengan pertanyaan Aslan.“Bagaimanapun juga anak itu adalah keturunan Kara, kami tidak mungkin melukainya. Lagipula seandainya saja anak itu bisa bertahan, kau pasti tahu bahwa Yesil akan sangat tertarik untuk menganalisa anak itu jika dilahirkan nanti, karena itu adalah anak percampuran pertama yang pernah ada di antara Lelaki Zodijak dan manusia.”Akrep mengangkat bahu. “Kami baru mengetahui bahwa Natasha mengandung ketika semua sudah terlambat. Natasha melakukan sesuatu yang nekad karena ketika itu dia sendiri tidak sadar bahwa dia sedang hamil. Dan seperti kau tahu, ketika Kara sedang tidak ada untuk menjaganya, dia mencoba menyusup ke area terlarang. Sayangnya penjaga menemukannya, dia lari lalu mencoba melompat dari area tertinggi untuk kemudian terjatuh, hal itu membuatnya kehilangan bayinya. Yesil-lah yang merawatnya ketika Natasha tak sadarkan diri karena jatuh, perempuan itu mengalami pendarahan, dan ketika Yesil memeriksanya, dia sadar bahwa ada bakal bayi yang gugur dari perut Natasha, itu sudah pasti anak Kara, karena bayi itu membawa seluruh ciri fisik Bangsa Zodijak di tubuhnya. Dan karena perempuan itu ada di bawah kekuasaan Kara, tidak ada lelaki Zodijak lain yang bisa menyentuhnya.”


Akrep menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu, “Yesil mengurus Natasha dengan baik, dan karena kehamilannya masih begitu muda, dia memastikan bahwa Natasha yang tidak berpengalaman tentang kehamilan tidak tahu tentang hal ini, bahkan kalaupun saat ini Natasha masih hidup di luar sana, kemungkinan besar sampai saat ini masih tidak sadar kalau dia pernah hamil dan keguguran anak Kara. Yesil lalu menghubungiku dan seperti yang kau tahu, kami menyimpan informasi ini untuk kami sendiri dengan berbagai pertimbangan.”


“Apakah Kara tahu tentang hal ini?” Aslan menyeringai sementara ekspresinya menyiratkan kesakitan.


Akrep menggelengkan kepala. “Kara tidak tahu. Di antara kita semua, hanya aku dan Yesil yang mengetahui hal ini dan kami memutuskan untuk menyimpannya. Natasha sendiri tidak tahu apa-apa mengenai bayi ini sebelum dia pergi, dan kami berpikir lebih baik Kara juga tidak tahu, toh bayi itu sudah tidak ada lagi.”


“Kalau Kara tahu, dia bisa lebih gila lagi dari sekarang,” Aslan memijit pangkal hidungnya dengan frustasi.


“Karena itulah kami tidak mengatakan apapun dan kuharap kau juga bisa menahan informasi ini,” Akrep bersedekap dan menatap Aslan dengan penuh perhatian. “Aku memberikan informasi ini karena hal ini menyangkut kau dan Mischa.


“Karena ternyata aku bisa menghamili Mischa. Bahkan mungkin saja manusia perempuan itu saat ini sudah hamil anakku mengingat betapa seringnya aku…” suara Aslan menghilang di tenggorokan, lelaki itu mengepalkan tangannya dengan kuat.


Akrep menganggukkan kepala. “Dorongan untuk bereproduksi itu mungkin beralasan dan tubuhmu melakukannya. Karena meskipun kau tidak sadar, tubuhmu tahu bahwa kau bisa melahirkan keturunan dari Mischa.”


“Hanya satu?” Aslan menyela, membuat Akrep mengangkat alis.


“Apa maksudmu?” tanya Akrep kemudian.


“Hanya satu anak yang dikandung oleh Natasha?”


Akrep menganggukkan kepala mendengar pertanyaan Aslan.


“Hanya satu. Berbeda dengan Perempuan Zodijak yang bisa mengandung dan melahirkan belasan anak sekali waktu, tubuh perempuan manusia yang lebih rapuh sepertinya membatasi hal ini, menyebabkan hanya satu anak yang bisa dikandungnya.”


“Jadi kemungkinan besar jika mengandung, Mischa akan mengandung satu anak saja,” Aslan tampak berpikir, tiba-tiba merasakan dadanya bergolak, pemikiran bahwa Mischa mengandung anaknya membuat sesuatu yang janggal tumbuh di dalam dirinya dan Aslan merasa benci karena dia bahkan  tidak bisa menelaah apa yang sedang menggayuti benaknya sendiri.


“Aku berpikir bahwa doronganmu itu berhubungan dengan takdir Bangsa Zodijak… kau merasa perlu dan terdorong dengan kuat untuk menghamili Mischa, jadi kurasa, anak itu akan membawa peran penting bagi bangsa kita.”


“Kita lihat saja nanti,” Aslan memasang wajah dingin, mengambil mantel panjang bertudungnya dan mengenakan di tubuhnya, membuat penampilan Aslan semakin mengintimidasi. “Sekarang aku akan pergi berperang dulu karena di sanalah satu-satunya tempat aku bisa tenang dan dijauhkan dari gangguan-gangguan menyangkut manusia perempuan itu.”


Tanpa mengucapkan kata-kata lagi, Aslan melesat pergi, meninggalkan Akrep sendirian.