Inevitable War

Inevitable War
Episode 25 : Perburuan



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


 



 


“Mungkin kita memulai di sisi yang salah.”


Khar berucap perlahan ke arah punggung Aslan yang tampak tegang dan kaku, menatap ke arah pemusnahan Kaum Penyelinap yang mereka temukan untuk yang kesekian kalinya.


Mereka sudah menyisir dengan hati-hati dan tidak melewatkan apapun, tetapi tetap saja tidak ditemukan jejak keberadaan Kara dan Mischa di sana.


Aslan menolehkan kepala, ekspresinya tampak muram luar biasa.


Mereka sengaja memulai dari sisi barat, lalu bergerak menyisir ke arah timur. Tetapi sudah hampir setengah perjalanan mereka babat habis dan tetap tidak menemukan apa-apa.


Apakah Khar memang benar, bahwa mereka memulai di sisi yang salah?


“Apakah tim penyisir sudah berhasil menemukan dimana bangkai pesawat yang dibawa oleh Kara?” Aslan bertanya dengan suara menggeram kasar.


Khar menggelengkan kepala. “Kara menggunakan teknik kamuflase, menyebabkan kita kesulitan melihat pesawat itu dari udara. Sevgil sudah berusaha melacak pesawat itu dengan mengaktifkan sistem pemanggil otomatisnya, tetapi rupanya Kara sudah lebih ahli dan merusaknya terlebih dahulu.”


Aslan menggertakkan gigi dengan marah. “Kara sialan! Kalau aku menemukannya, aku akan…”


“Kau tidak boleh membunuhnya, Aslan. Kau sudah berjanji,” Khar menyela dengan tenang. “Apa yang akan kita lakukan sekarang? Melanjutkan penyisiran sesuai rencana awal atau melakukan strategi lain?” tanyanya.


Aslan mengetatkan gerahamnya, memandang ke seluruh sisa pembantaian yang menyedihkan di depan matanya dan memutuskan.


“Kita akan berpencar. Kau melanjutkan sesuai rencana awal, aku akan pergi dengan pesawat untuk menyisir dari arah kebalikannya. Pada akhirnya kita akan bertemu di satu titik dan tidak akan ada yang terlewatkan,” ucapnya dengan nada dingin mengerikan.



Aslan berjalan melalui lorong demi lorong istana menuju hanggar tempat pesawat-pesawat canggih milik Bangsa Zodijak disimpan. Sevgil sudah menyediakan sebuah pesawat terbaik yang siap terbang untuknya. Pasukannya akan menyusul nanti di belakangnya.


Pesawat itu berwarna hitam, dengan badan lancip serupa sayap kelelawar nan tajam dan mengerikan, mampu terbang dengan cepat menembus udara tanpa suara, membuat musuh mereka lengah dan dibantai sebelum siap.


Aslan dengan ahli naik ke pintu pengendali dan duduk di kursi pilot.Dia tidak langsung menerbangkan pesawatnya.


Mata Aslan menatap nanar ke pemandangan gelap di depannya, sementara pikirannya berkelana.


Mischa….Aslan tidak mengatakan kepada siapapun, bahkan tidak kepada saudara-saudaranya, dia masih menyimpan pengetahuan ini sendiri. Sebuah pengetahuan yang baru ditemuinya tadi ketika dia membersihkan diri dan tanpa sengaja menatap tubuh telanjangnya di cermin yang berkabut karena air panas yang digunakannya.


Mischa telah meninggalkan tanda di tubuhnya….Tanda air. Tanda aquarius… yang sekarang terpatri nyata bagaikan sebuah tato lama di dada sebelah kirinya.


Entah sejak kapan tanda itu ada di sana, tapi Aslan berpikir mungkin tanda itu muncul sejak dirinya memanen dan menyatukan dirinya dengan Mischa. Dan tanda itu sudah pasti berhubungan dengan Mischa karena tidak ada satupun di antara saudara-saudaranya yang berhubungan dengan tanda air.


Hanya Mischa yang memiliki tanda aquarius yang sama di lengannya.


Aslan menggertakkan giginya. Perempuan itu dengan kurang ajarnya, telah berani-beraninya meninggalkan tanda di tubuhnya, tubuh Aslan Sang Pemimpin utama Bangsa Zodijak.Seharusnya  tidak ada yang bisa meninggalkan tanda di tubuhnya, apalagi ini dilakukan oleh manusia biasa.


Tanda yang terpatri di tubuh, bagi Bangsa Zodijak berarti menunjukkan kepemilikan. Karena itulah setiap Bangsa Zodijak menggigit makhluk yang hendak dijadikannya budak, tanda itu akan muncul, sebagai bukti kepemilikan.


Mischa yang entah makhluk apa mungkin telah menggigit Aslan beberapa kali dalam usahanya mempertahankan kehormatannya… apakah karena itulah tanda ini muncul di tubuh Aslan?


Apakah ini berarti Mischa memiliki Aslan? Sebagaimana Aslan memiliki Mischa?


Pikiran itu membuat Aslan menjadi marah. Dia adalah pemimpin Bangsa Zodijak, yang terkuat di antara semuanya. Dan dia tidak akan membiarkan dirinya dimiliki oleh siapapun.


 


 



 


Lelaki itu mencengkeram pergelangan tangan Mischa, lalu membungkuk di atas tubuh Mischa. Mata hitamnya yang legam begitu mengerikan, begitu dekat dengan mata Mischa dan menyebarkan teror yang membuat Mischa gemetaran hebat.


“Milikku…” bisik Aslan dengan suara serak, “Dan akan selalu menjadi milikku…”


Janji itu begitu mengerikannya hingga Mischa menjerit, meronta sekuat tenaga dan berusaha melepaskan diri dengan seluruh sisa tenaga yang dia miliki.


Tapi semua sia-sia, tubuh Aslan terlalu kuat, membuat Mischa tak berdaya…


“Mischa!”


Ketika menemukan Kara di depannya, Mischa langsung terperanjat, refleks beringsut ketakutan karena masih dibayangi kengerian yang berasal dari mimpi buruknya.


Kara menatap Mischa dengan lembut, menyodorkan air dari botol minuman yang dibawanya.


“Kau hanya sedang bermimpi buruk…” bisiknya tak kalah lembut. “Lupakan itu dan minumlah…”


Napas Mischa masih terengah, matanya menatap ke arah botol berisi air yang disodorkan oleh Kara lalu ke wajah Kara. Akhirnya Mischa berhasil menguasai diri dan menerima botol itu, menenggak airnya untuk menenangkan diri dan kali ini Kara tidak membatasi jumlah air yang harus diminumnya.


Setelah merasa cukup, dengan malu Mischa menyerahkan botol itu ke arah Kara. Kepalanya menunduk dan merasa lega karena mendapati bahwa Sasha masih terlelap di pangkuannya.


Salah satu kelebihan Sasha adalah dia bisa tidur dengan begitu pulas layaknya orang mati sehingga bisa beristirahat dengan tenang tanpa terganggu oleh suasana-suasana di sekelilingnya.


Mischa sendiri menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya sudah mulai bangun, saling berbicara satu sama lainnya dan sedang bersiap-siap.


“Beberapa dari kita akan mencari persediaan makanan begitu pagi menjelang, beberapa yang lain mempersiapkan hal-hal yang diperlukan di rumah dan berjaga,” Kara menatap Mischa dengan hati-hati. “Kiraz memerintahkanku untuk mencari persediaan bahan makanan bersama laki-laki yang lain, jadi aku akan meninggalkanmu sebentar di sini,” Mata Kara beralih ke arah leher Mischa, dimana tanda milik Aslan sedikit menyembul di balik pakaiannya, dengan refleks Kara mengambil syal di lehernya lalu mengalungkannya ke leher Mischa. “Hati-hati selama aku tidak ada, dan tutupi lehermu, jangan sampai mereka melihat tanda itu,” pesannya kemudian sebelum pergi.


 


 



 


“Kakak lelakimu tampan sekali,” Hertha, salah seorang perempuan anggota kelompok itu tersenyum lebar dengan tatapan menggoda ke arah Mischa.


Mischa telah mulai membaur dan berkenalan dengan perempuan-perempuan di kelompok itu yang bertugas menjaga kebersihan rumah dan tidak ikut berburu mencari makan. Beruntung kehadiran Sasha yang telah terlebih dahulu berada di kelompok ini membuatnya lebih mudah dan cepat membaur.


Begitu bangun, Sasha dengan riang langsung menarik tangan Mischa, mengenalkannya satu persatu pada keluarga barunya, ada delapan orang perempuan yang semuanya masih muda, beberapa seusia Mischa, sembilan belas tahun, dan beberapa lagi malahan lebih muda dari Mischa.


Mischa tersenyum kecut menyambut komentar Hertha tentang Kara. Saat ini dadanya malahan digayuti rasa bersalah karena telah merahasiakan keberadaan Kara sebagai Lelaki Zodijak ke teman-teman barunya. Rasa bersalah itu semakin dalam ketika ingat bahwa sebelumnya dia telah melakukan hal yang sama, dengan bodoh, naif dan penuh rasa percaya, membawa Aslan masuk ke kelompoknya tanpa curiga yang pada akhirnya membuat seluruh kelompoknya dibantai tanpa ampun.


Tapi Kara tidak akan melakukan hal yang sama, bukan?


Mischa tanpa sadar menggelengkan kepala, mencoba meyakinkan dirinya bahwa Kara benar-benar berniat baik.


Lagipula Kara tidak mungkin repot-repot membantunya melarikan diri kalau hanya ingin membunuhnya, bukan?


Suara langkah berderap yang tergesa mendatangi mereka membuat semua orang menoleh, di sana, muncul sosok penuh debu dengan ekspresi ketakutan di wajahnya. Beberapa laki-laki yang berjaga langsung membawa sosok itu masuk untuk menemui Kiraz, sementara Mischa melemparkan tatapan mata ingin tahu ke arah Hertha.


“Siapa?” tanyanya perlahan.


Hertha hanya mengangkat bahu dengan ekspresi datar. “Itu Amon… dia adalah mata-mata pengintai yang dikirim Kiraz untuk mencari informasi mengenai dunia atas, mengenai kelompok Kaum Penyelinap lainnya ataupun mengenai pergerakan Bangsa Zodijak,” Herta menghela napas panjang. “Aku tidak pernah menyukai Amon, dia selalu membawa kabar buruk…” ujarnya kemudian.


Mischa melemparkan tatapan bingung ke arah ruangan dalam tempat Amon dibawa masuk,“Kabar buruk seperti apa?” bisiknya tak yakin.


Sekali lagi Herta mengangkat bahu. “Yah, mengenai serangan Bangsa Zodijak, biasanya Kiraz akan memerintahkan kita untuk berkemas dan berpindah tempat demi keamanan… selalu seperti itu,” Hertha berucap dengan nada sebal. “Padahal aku sudah mulai menyukai tempat ini, disini nyaman dan kita tidak kekurangan air karena ada pipa air yang bocor di ujung sana… kalau kita harus berpindah tempat, kita harus menyesuaikan diri kembali dengan situasi baru yang tidak kita duga sebelumnya.”


Suara Hertha terhenti ketika sekali lagi, suara-suara terdengar dari area pintu masuk. Kali ini wajah Hertha dan perempuan-perempuan lainnya berubah ceria karena yang datang adalah kaum laki-laki yang baru saja pulang setelah mencari persediaan makanan, dan Kara ada di antaranya.


Mata Hertha membelalak ketika melihat apa yang dibawa oleh kaum laki-laki itu dan dia memekik kesenangan.


“Kelinci gurun!” serunya senang, begitupun dengan perempuan-perempuan lainnya.


Perburuan kali ini sepertinya benar-benar berhasil. Kaum laki-laki datang membawa puluhan kelinci gurun yang berukuran besar dan bertubuh gemuk untuk makan malam mereka. Kaum perempuan langsung membersihkan dan mempersiapkan masakan dengan suka cita.


Sudah begitu lama mereka semua harus bisa berpuas diri memakan serangga-serangga gurun yang menjijikkan, cacing tanah dan lumut seadanya untuk mengganjal perut mereka. Dan makan daging, apalagi daging kelinci gurun yang terkenal lezatnya tentu saja menjadi sebuah kemewahan yang menyenangkan bagi mereka.


Malam sudah larut ketika daging kelinci yang dibakar dengan bumbu seadanya tetapi tetap saja terasa begitu lezat karena kaldu dagingnya yang gurih dan harum begitu menguar ketika disajikan. Mereka semua duduk melingkari hidangan, tak sabar untuk menyantap dengan Kiraz duduk di ujung lingkaran, memimpin mereka.


Ketika Kiraz memberi isyarat untuk memulai makan, mereka semua menyantap hidangan itu dengan lahap dan bahagia, sekan-akan tidak ada kesempatan lagi untuk menikmati kelezatan yang beruntung masih bisa mereka rasakan ini.


Kiraz menolehkan kepala, menatap Mischa yang menyuapi Sasha dengan sayang, lalu matanya beralih ke arah Kara yang menyantap makanannya dengan tenang.


“Anak buahku bilang kau menemukan sarang kelinci gurun ini di bawah tanah…. mereka beranak pinak begitu banyak dan tidak bisa bergerak karena gemuk sehingga kalian mudah menangkapnya,” ujar Kiraz memulai percakapan.


Kara menatap ke arah Kiraz, lalu menganggukkan kepala tipis dengan seulas senyum di bibirnya.


“Kurasa aku hanya sedang beruntung. Dulu aku pernah mempelajari tentang kelinci gurun dan teknik-teknik memburunya,” jelasnya singkat.


Kiraz sendiri tersenyum lebar, “Setidaknya kau membawa keberuntunganmu untuk kelompok kami. Malam ini kami bisa makan dengan enak, terima kasih. Setidaknya kita bisa kenyang sebelum beranjak pergi.”


“Beranjak pergi?” Kara mengulang dengan bingung, membuat beberapa orang di dalam lingkaran itu mengalihkan perhatiannya dari makanan dan menatap Kiraz juga dengan penuh rasa ingin tahu, begitupun dengan Mischa.


Kiraz tersenyum penuh penyesalan ke arah kelompoknya.“Maafkan aku mengganggu kenikmatan makan kalian. Tapi Amon datang membawa kabar buruk. Bangsa Zodijak sepertinya berpikir untuk membabat habis kaum penyelinap. Dimulai dari sisi timur hingga sudah mencapai setengahnya sebelum menuju ke area barat, seluruh kaum penyelinap sudah disisir dan dimusnahkan tanpa ampun. Tidak ada yang selamat, semuanya dibunuh. Karena itu kita harus bergerak segera setelah makan malam ini untuk berpindah tempat dan menghindari penyisiran.”


Ucapan Kiraz membuat Mischa terkesiap, lalu melemparkan tatapan ngeri ke arah Kara yang balas menatapnya dengan tatapan menenangkan. Mereka berdua sama-sama tahu, penyisiran dan pemusnahan itu pasti dilakukan oleh Aslan untuk menangkap dan menemukan mereka.


Karena Mischa maka banyak kaum penyelinap lainnya dibabat habis dan menjadi korban….


Dada Mischa dipenuhi oleh rasa bersalah, bercampur dengan ketakutan yang amat sangat, takut kalau Aslan akhirnya bisa menemukan mereka dan pelarian ini menjadi sia-sia.


Tiba-tiba tangan Mischa terasa diremas, membuat Mischa mendongakkan kepala dan bertatapan kembali dengan Kara yang masih tersenyum menenangkan.


Mereka akan mencari cara untuk menyelamatkan diri, entah bagaimana meskipun Mischa sendiri juga tidak yakin…