
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
“Yesil melindungiku karena tahu bahwa peledak yang dibuat dari darah Natasha akan menimbulkan kerusakan fatal tak tersembuhkan jika mengenai diriku karena darah itu diambil dari Natasha yang adalah pasangan air suciku. Tetapi Yesil lupa bahwa ledakan itu juga akan melukai tubuhnya dengan fatal…. dan dia…. dia tidak bisa disembuhkan karena kita tidak memiliki pasangan Yesil untuk menyembuhkannya, tidak seperti yang terjadi pada Aslan dan Mischa…”
Kara sepertinya memandang hal yang sama dengan Akrep, dirinya membutuhkan waktu lama untuk menyadari situasi dan ketika pikirannya telah jernih serta matanya memandang tubuh Yesil yang tak berdaya, Kara langsung jatuh berlutut di dekat Yesil dipenuhi rasa bersalah.
“Keputusan Yesil benar, jika kau yang terkena kau tidak akan bisa disembuhkan. Racun yang dibuat dari darah pasanganmu akan mematikan bahkan kau tidak akan sembuh ketika memanen pasanganmu berulang kali. Berbeda dengan Yesil, masih ada harapan untuknya. Kita harus bergerak untuk mencari pasangan takdir Yesil sekuat tenaga,” Akrep berusaha menenangkan meskipun matanya juga menyiratkan kecemasan yang sama melihat kondisi Yesil.
“Mereka menculik Natasha, membiusnya dan mengambil darahnya ketika Natasha dalam kondisi koma. Aku harus menyusun rencana untuk menyelamatkan Natasha segera. Kita harus bergerak cepat untuk menghentikan musuh ini sebelum dia semakin kuat,” Kara menipiskan bibir dan mengetatkan gerahamnya untuk menahan air matanya ketika mengingat informasi yang dia dapat sebelum tawanan mereka yang kurang ajar tersebut memutuskan untuk meledakkan diri.Informasi tersebut membuat Akrep dan Khar saling melemparkan pandang dengan terkejut.
Kenyataan bahwa Natasha dijebak dan diperah, bukannya bekerjasama dengan kaum musuh sama sekali tidak ada di pikiran mereka sebelumnya.
“Kita harus bertindak cepat kalau begitu,” Akrep langsung berucap memecah keheningan yang ada di sekeliling mereka dan bergerak membungkuk sebelum kemudian mengangkat tubuh Yesil dan memanggulnya dengan mudah. “Tujuan musuh kita adalah mengambil perempuan-perempuan pasangan kita untuk diperlakukan sama seperti Natasha, diambil darahnya sebagai pemasok senjata. Mischa dan Sasha, dan juga seluruh pasangan kita yang saat ini terpencar entah di mana sedang berada di dalam bahaya. Musuh kita yang ini sangat lihai hingga mereka seolah selalu selangkah di depan kita dan membiarkan kita tertinggal di belakang sambil tertawa mengejek.”
Akrep menggertakkan giginya dengan marah sebelum kemudian menyambung kalimatnya, “Hal itu tidak akan terjadi lagi, kita tidak akan dikalahkan lagi. Kita akan menyusun strategi untuk menang. Perempuan-perempuan itu… para pasangan air suci kita, kita harus mendapatkannya lebih dulu, terutama perempuan milik Yesil karena hanya dialah yang bisa menyembuhkan Yesil. Kita juga harus menyusun rencana membebaskan Natasha. Sementara itu Mischa dan Sasha harus selalu aman di dalam perlindungan kita. Persiapan perang harus dilakukan karena perang ini sudah tak terhindarkan lagi,” putusnya dengan suara tegas, lalu bergerak membawa tubuh Yesil menaiki tangga untuk menuju area atas dengan diikuti oleh Kara dan Khar.
Aslan membelalakkan mata ketika melihat pintu kamar peraduannya yang terbuka lebar. Matanya bersinar cemas ketika berdiri di ambang pintu dan menyipitkan mata untuk memindai seluruh area kamar tersebut.Kamar itu tampak berantakan dan porak-poranda…sementara tubuh Mischa tidak terlihat sama sekali bahkan setelah Aslan menyisir seluruh ruangan dengan begitu seksama melalui pandangan matanya….
Dengan cemas Aslan melangkah masuk, memindai dengan cepat serta mengangkat dan melempar puing reruntuhan atau barang-barang apapun yang kemungkinan bissa menutupi dan menimpa tubuh Mischa.
Tidak ada apapun yang ditemukannya, Mischa tidak ada di sini….
Masih belum puas, Aslan langsung bergerak menuju ruang mandi luas dan kolam mandi yang terhubung dengan kamar tersebut, dia melakukan hal yang sama, memindai setiap jengkalnya tanpa kecuali dan kecemasan langsung memenuhi ekspresi wajahnya ketika dia tidak berhasil menemukan Mischa.
Dengan cepat Aslan bergerak lagi kembali ke kamar, dia berusaha menggunakan indra penciumannya untuk melacak istrinya itu.
Aslan menggeram, mengetatkan gerahamnya dan melangkah keluar dari kamar peraduan itu, dia tidak peduli pada pintunya yang dibiarkan terbuka dan kemudian langsung melangkah cepat menyusuri lorong serta memindai setiap jengkalnya tanpa kecuali, berusaha menemukan jejak-jejak Mischa.
Hidungnya mencium samar aroma Mischa dan Aslan langsung tahu pasti bahwa perempuannya tersebut sebelumnya berada di lorong ini. Aslan mengikuti aroma samar tersebut dengan penuh antisipasi, berhati-hati untuk tidak melewatkan setiap titiknya karena kabut debu semakin pekat dan menurunkan kemampuan indranya.Lalu langkah Aslan terhenti dan dadanya terasa bergolak tak terkendali.
Aroma Mischa hilang… sama sekali hilang. Bagaimana bisa?
Aslan berada di suatu titik dimana sebelumnya ada aroma Mischa yang semakin samar dan setelahnya aroma yang menjadi satu-satunya penunjuk jalan dan harapannya itu tiba-tiba hilang sama sekali seolah-olah keberadaan Mischa dicabut paksa dengan brutal dari sana.
Wajah Aslan langsung berubah pucat pasi. Dia merasakan jemarinya gemetar dan dia mengusap wajah ketika ketakutan yang amat sangat bercampur kesadaran akan kenyataan merayapi jiwanya.
Seketika itu juga rongga dada Aslan terasa hampa dan dingin, seolah-olah bagian penting yang tadinya memenuhi dan menghangatkan jiwanya telah dicabut paksa dan direnggut dari dirinya.
Dia telah kehilangan Mischa… benar-benar kehilangan Mischa….
Akrep langsung bergerak cepat membawa tubuh Yesil yang terluka parah menuju ruang perawatan di laboratorium area milik Yesil.
Beruntung area kekuasaan milik Yesil terletak di bagian paling ujung, lantai teratas dan paling jauh dari area penjara bawah tanah sehingga kerusakan yang terjadi di sana tidak separah di area-area lainnya.
Seluruh pasukan Bangsa Zodijak sudah berkumpul di ruang utama untuk menanti perintah, Akrep mengirimkan Khar untuk menenangkan mereka semua dan menjelaskan situasi sementara mereka semua diperintahkan untuk terus berjaga-jaga sambil menunggu keputusan strategis yang akan dikeluarkan oleh Bangsa Zodijak.
Beberapa pasukan yang lain langsung bergerak untuk meminimalisir kerusakan yang ada, memindai rekan-rekan mereka yang terluka dan melakukan perbaikan cepat untuk beberapa area yang mengalami kerusakan serta keruntuhan bangunan.
Beruntung Bangsa Zodijak memiliki teknologi yang cukup mumpuni dalam hal pembangunan infrastruktur, struktur bangunan mereka dibuat dari batu khusus Zodijak yang sangat kuat dan mudah dibentuk dan dilaksanakan oleh robot pintar yang cukup canggih untuk membangun segala sesuatu dalam waktu cepat.
Para pengendali robot sendiri langsung bergerak dengan cepat tanpa diperintahkan untuk menyisir lokasi dan melakukan perbaikan infrastruktur yang rusak akibat ledakan secepat mungkin. Bangunan-bangunan yang terkena imbasnya dan mengalami keruntuhan bisa diselesaikan dalam waktu singkat, untuk kondisi penjara bawah tanah yang mengalami kerusakan paling parah sebagai pusat ledakan, mungkin memerlukan waktu lebih lama, mencapai dua atau tiga hari sebelum bisa pulih seperti semula.
Akrep meletakkan Yesil yang tak sadarkan diri di atas ranjang perawatan. Dirinya langsung bergerak memasangkan alat-alat penunjang kehidupan untuk tubuh Bangsa Zodijak yang terluka, beruntung dirinya sedikit mempelajari ilmu pengobatan ketika menghabiskan waktunya bersama Yesil sehingga bisa menangani saudaranya yang terluka ini dengan baik.Bangsa Zodijak sebenarnya memiliki kaum penyembuh yang berada di bawah supervisi Yesil, merupakan sebagian kecil dari lelaki Zodijak karena sebagian besarnya lebih memilih hasrat alami mereka untuk menjadi petarung dan pejuang.
Para penyembuh ini bertugas memeriksa kondisi para prajurit Zodijak yang mengalami luka akibat perang atau pertempuran. Meskipun tubuh Bangsa Zodijak didesain untuk tidak mudah terluka, tetap saja ada kemungkinan mereka lengah atau sedang sial sehingga beberapa senjata bisa menembus mereka meskipun hanya berupa kemungkinan kecil sehingga mereka membutuhkan penyembuh untuk menangani.
Yesil juga selalu mengingatkan akan kemungkinan musuh mereka berhasil menciptakan senjata modern untuk melukai Bangsa Zodijak dan mereka semua tidak boleh lengah. Karena itulah Yesil menekankan tentang perlunya kaum penyembuh yang bertugas melakukan pengobatan yang diperlukan dan mengetahui teknik-teknik penyembuhan yang efektif bagi tubuh Bangsa Zodijak yang unik.
Untuk saat-saat sekarang ini, Akrep baru menyadari betapa pentingnya memiliki para penyembuh di antara mereka, apalagi jika nanti musuh mereka yang dipimpin oleh Imhotep benar-benar memiliki senjata untuk melukai.Tetapi meskipun Akrep tahu bahwa para penyembuh itu cukup berpengalaman karena sudah dididik oleh Yesil sejak lama, Akrep tidak ingin menyerahkan perawatan Yesil kepada mereka.
Saudaranya ini tidak menderita luka biasa akibat perang. Yesil menderita luka akibat ledakan bom beracun yang memiliki bahan utama darah dari salah satu pasangan air suci yang memiliki imbas yang cukup mengkhawatirkan. Akrep tidak yakin para penyembuh bisa menangani Yesil, apalagi mereka tidak pernah mengalami kasus semacam ini sebelumnya.
Setelah memasang alat penunjang kehidupan untuk Yesil dan melakukan segala yang diperlukan untuk membersihkan luka Yesil sebersih mungkin dari percikan ledakan dan memberikan obat anti infeksi serta membalutnya dengan perban, Akrep menghela napas panjang dan melangkah mundur supaya dirinya bisa mengamati lebih jelas kondisi Yesil secara keseluruhan.
Keningnya berkerut ketika menyadari betapa pucatnya Yesil saat ini, seolah-olah daya kehidupannya disedot perlahan dan mengancam akan menghabisinya.
Kondisi ini sama seperti ketika Aslan dibawa pulang pertama kali setelah terkena tembakan peluru beracun yang tidak diduganya, tetapi beruntung Aslan memiliki Mischa untuk menyembuhkannya. Sementara itu kondisi Yesil saat ini…