
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Kara tadinya berdiam di kegelapan, memastikan bahwa lengan Sasha memeluk erat lehernya dan hendak memilih berdiam diri dengan kemampuan menyamarkan diri, untuk menyelamatkan Sasha yang ada bersamanya hingga jauh dari gangguan Aslan beserta pasukannya.
Tapi pembantaian yang terjadi di depannya sungguh keterlaluan, sehingga Kara melirik cemas ke arah Mischa yang saat ini bersembunyi di bagian atap di antara pipa-pipa udara dan teralis besi yang menyangga tubuhnya.
Kara terpaksa meminta Mischa menjauh dan bersembunyi sendirian, jika mereka bersama, mereka akan lebih mudah ditemukan, dan juga persembunyian Mischa yang berada di dekat pipa udara akan membantu perempuan itu menyamarkan baunya, sehingga membuatnya sedikit aman.
Tetapi pembantaian kejam yang dilakukan oleh Aslan dengan tanpa perasaan ini mengganggunya, membuat Kara menggertakkan gigi dan akhirnya melangkah keluar dari kegelapan dengan Sasha masih di dalam gendongannya.
“Hentikan, Aslan,” desis Kara dengan nada marah, membuat Aslan yang sedang asyik memandang perburuan mencekam di depannya menolehkan kepala.
Aslan langsung menyeringai ketika matanya menemukan Kara. Aada senyum mengejek tersungging di bibirnya,“Sudah kuduga kau akan muncul, Kara.” Mata Aslan menatap ke arah anak perempuan kecil yang sedang digendong Kara dan keningnya berkerut. “Di mana Mischa?” tanyanya dingin.
Kara menyipitkan mata. “Dia sudah berada di tempat yang tidak bisa kau jangkau, Aslan. Lebih baik kau merelakannya. Lagipula, apa yang kau lakukan ini sungguh menggelikan, kau melakukan perburuan besar-besaran hanya demi seorang anak manusia, kenapa kau begitu ingin mendapatkan Mischa padahal kau memandang rendah padanya?”
“Mischa Istriku!” Aslan menggeram marah. “Kontrak perjanjian pernikahan adalah hal yang sakral di kalangan Bangsa Zodijak, dan meskipun aku memandang rendah pada Mischa sebagai manusia, aku tetap menghormati kesakralan kontrak pernikahan itu. Kau akan menerima hukuman yang sangat besar, Kara… karena membawa lari istriku,” ancam Aslan dengan nada kejam.
Kara berdiam diri, sementara matanya memandang tubuh manusia-manusia yang tak bernyawa di antara mereka dengan sedih.
Sudah terlambat untuk menyelamatkan mereka semua, jeritan-jeritan ketakutan dan derap langkah dalam usaha untuk melarikan diri sudah tidak terdengar lagi. Seluruh manusia yang ada sudah diburu dan dimusnahkan oleh pasukan Aslan yang kejam.
Kali ini satu-satunya cara adalah mengalihkan perhatian Aslan supaya dia tidak menyadari kehadiran Mischa dan setidaknya memberikan kesempatan bagi Mischa untuk melarikan diri. Dia akan mengalihkan perhatian Aslan meskipun itu harus mengorbankan nyawanya sendiri…
“Khar,” Kara tiba-tiba memanggil, mengetahui bahwa saudaranya yang satu itu datang bersama Aslan.
Khar yang sejak tadi berdiam di antara beberapa pasukan yang sedang melakukan perburuan akhirnya muncul, memasang ekspresi malas ke arah Kara.
“Ada apa, Kara?” jawabnya tenang.Tanpa diduga, Kara melepaskan tubuh Sasha yang gemetar ketakutan dari gendongannya, dipeluknya anak perempuan itu dan dikecupnya dahi Sasha lembut. Ujung jarinya menyentuh dengan ahli titik di leher Sasha, menekannya sehingga dalam hitungan detik tubuh Sasha menjadi lunglai dan anak perempuan itu kehilangan kesadarannya.
“Aku tidak akan membiarkan kau dilukai, aku sudah berjanji pada Mischa,” bisik Kara lembut, lalu menyerahkan Sasha ke arah Khar yang menerima tubuh Sasha dengan bingung.“Jaga dia baik-baik dengan nyawamu, aku percaya kepadamu,” ucap Kara tenang, membiarkan tubuh Sasha yang lunglai diserahkan dalam lengan Khar.
Lalu anpa membuang waktu lagi, Kara membalikkan badan dan menatap ke arah Aslan dengan tatapan mengancam. “Aku menantangmu untuk bertarung, Aslan. Kita selesaikan di luar,” tantangnya keras.
Tapi Aslan tampaknya senang dengan tantangan itu, tubuhnya menegak dengan penuh antisipasi.
“Aku akan sangat senang bisa menghajarmu,” geramnya kejam. “Ayo keluar,” ucapnya.
Suasana tiba-tiba berubah hening seiring dengan perginya Aslan beserta Kara yang diikuti oleh Khar yang sedang menggendong tubuh Sasha yang lunglai.
Mischa tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Kara, tapi dengan cerdas dia menduga bahwa Kara sedang mengalihkan perhatian Aslan supaya Mischa bisa melarikan diri.
Pikiran Mischa masih dipenuhi oleh kecemasan, karena membayangkan tubuh Sasha yang berada dalam gendongan Khar.
Bagaimana jika Aslan membunuh Kara? Akan seperti apa nasib Sasha di tangan Bangsa Zodijak nanti? Akankah Sasha memperoleh keberuntungan untuk kedua kalinya dan dilepaskan dari serangan Bangsa Zodijak?
Keheningan yang mencekam itu terasa mengerikan, apalagi di tengah kegelapan samar, Mischa bisa menemukan tubuh-tubuh tergeletak tanpa nyawa di bawah sana.
Air mata Mischa bergulir di pipinya, merasakan rasa bersalah yang pekat karena sekarang lagi-lagi nyawa-nyawa tak bersalah dikorbankan karena kehadirannya.
Tapi Mischa tidak boleh membuat semuanya sia-sia. Kara sendiri sudah menggunakan dirinya untuk mengalihkan perhatian Aslan. Yang bisa Mischa lakukan sekarang adalah mencoba melarikan diri sebisanya agar dirinya tidak sampai ditangkap oleh Aslan.
Mata Mischa menelusuri ke bagian depan bentangan besi-besi di bagian atap yang berjalinan dengan pipa-pipa saluran udara raksasa itu, di bagian ujung sana, ada sebuah pijakan dengan atap yang lebih tinggi, yang memungkinkan manusia untuk berdiri tegak. Di bagian bawah pijakan itu, ada sebuah pipa yang mengarah ke bawah, dan Mischa mengukur mungkin dirinya bisa meluncur ke bawah sana sambil berpegangan pada pipa itu.
Sekarang yang harus dilakukannya adalah merayap perlahan di ketinggian hampir sepuluh meter di atas permukaan tanah untuk menuju pijakan itu sebelum kemudian meluncur turun melalui pipa. Setelah dia turun, Mischa akan berlari secepat dia bisa melalui lorong-lorong ruang bawah tanah ini, dengan asumsi Aslan masih disibukkan oleh Kara dan tidak mengejarnya.
Mischa menghela napas panjang dan menguatkan diri, berusaha tidak memandang ke bawah karena tahu pasti kesadaran akan ketinggian akan membuatnya ketakutan sehingga tidak mampu bergerak. Dengan perlahan Mischa mulai merayap, sedikit demi sedikit, tangannnya mencengkeram pada bilah-bilah besi itu, mencoba merayap tanpa suara meskipun sangat sulit di keheningan mencekam seperti itu.
Pada akhirnya setelah menghabiskan waktu yang terasa begitu lama, Mischa berhasil menyeberang hampir ke ujung, hendak mencapai pijakan di dekat sana ketika tubuhnya menegang kaku dan diliputi oleh ketakutan yang amat sangat. Matanya menemukan sepatu boot hitam berkilat yang tampak berat dan kuat di atas pijakan itu, dan ketika kepalanya mendongak ke atas, apa yang ditakutkannya terpampang nyata di depan matanya.
Aslan berdiri di sana, menunduk menatap Mischa yang merayap dengan berpegangan besi di bawahnya dengan tatapan mencemooh yang kental, bibirnya menyunggingkan senyum mengejek yang menyeramkan,
“Kau pikir Kara akan bisa menahanku selama itu?” desisnya kejam. “Bagaimanapun juga kau tetap akan kembali ke dalam cengkeramanku, Mischa.”
Ucapan itu menguar di udara, membuat Mischa dipenuhi oleh rasa takut bercampur putus asa yang amat sangat. Dalam posisinya yang seperti ini, dia tidak akan bisa melarikan diri, berbalik arah pun sulit, pada akhirnya, seperti apa yang Aslan ucapkan, Mischa akan kembali berakhir di dalam cengkeraman Aslan.
Pikiran Mischa menolak untuk menyerah, memilih untuk memberontak. Dan pikiran itulah yang membuat Mischa mengambil jalan nekat yang selama ini tidak pernah dipikirkan olehnya, mendorongnya untuk melepaskan cengkeraman tangan kurusnya dari bilah besi yang menahan tubuhnya dan menggulingkan badannya hingga jatuh terhempas ke udara.
Mata Aslan membelalak marah melihat kelakuan Mischa.
“Perempuan sialan!” Aslan meraung geram sebelum kemudian melemparkan tubuhnya sendiri ke arah Mischa, tubuhnya yang lebih berat memungkinkannya untuk jatuh lebih cepat, tetapi sebelumnya, dengan gesit Aslan meraih tubuh Mischa, membawanya ke dalam pelukan dan melingkupi tubuh kurus itu dengan lengan-lengannya untuk melindunginya.
Dan kemudian suara berdebum keras terdengar memenuhi ruangan ketika tubuh Aslan jatuh ke lantai dengan Mischa di dalam pelukannnya.