
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Aslan menipiskan bibir dengan marah, lalu sebelah tangannya bergerak untuk meraih baju mandinya yang tergantung di dinding. Ada dua baju mandi berukuran besar berwarna hitam di sana, kedua-duanya miliknya dan seukuran dirinya. Tetapi Aslan mengambil salah satu untuk dipakainya sendiri, lalu mengambil yang lain dan menangkupkannya di tubuh Mischa.
Mischa melebarkan mata ketika Aslan menunduk untuk mengikat baju mandi itu dengan gerakan tenang terkendali. Dari semua hal yang dibayangkannya, Aslan memakaikan baju mandinya sama sekali berada di luar perhitungannya. Dia sudah membayangkan begitu melihat mata Aslan yang kembali membara bahwa tubuhnya dicengkeram, di banting dilantai kamar mandi sementara Aslan yang tidak bisa menahan hasrat akan memaksakan kehendak ke tubuhnya lagi. Tetapi, rupanya Aslan mempunyai pikiran yang lain meskipun Mischa masih tidak bisa menebak apa tujuan lelaki ini.
“Bicara,” Aslan menatap tajam ke arah Mischa ketika menegakkan punggung, “Kita akan bicara sebelum melakukan yang lain-lain.” geramnya.
Lalu tanpa berkata-kata lagi, Aslan membungkuk dan meraup tubuh Mischa ke dalam gendongan, membuat Mischa memekik karena terkejut. Aslan sendiri tidak peduli dan lelaki itu terus bergerak membawa Mischa keluar dari kamar mandi.
“Mereka bertemu dengan prajurit Zodijak dan dihancurkan. Kami sudah membersihkan yang tersisa di sana sehingga tidak ada petunjuk tambahan yang mungkin bisa ditemukan menyangkut kita.”
Kale, sosok lelaki berambut pirang bertubuh besar dan memakai pakaian tentara berucap tajam kepada sosok berjubah putih seperti peneliti yang berdiri menghadapnya di dalam ruang pertemuan canggih yang dibangun di gua gelap yang dibangun di bawah tanah.
Begitu remangnya ruangan itu tapi tetap tidak bisa menutupi bahwa seluruh bagiannya dibangun dengan sistem canggih. Seluruh dindingnya dibuat dari lapisan khusus yang tidak bisa dilacak oleh alat pendeteksi metal dan bisa menaungi suhu panas serta aroma tubuh manusia supaya tidak menguar keluar dan terdeteksi oleh Bangsa Zodijak.
Bangsa Zodijak tidak akan bisa mengejar manusia-manusia yang berlindung di bawah tanah ini dengan mengandalkan indra mereka sebab lapisan khusus yang menjadi dinding pelindung mereka bisa menutupi semuanya hingga membuat mereka seolah tidak ada.
Tempat yang dibangun di bawah tanah ini merupakan pusat penelitian raksasa yang dibangun begitu luas di bawah tanah, penuh dengan labirin dan lorong yang menyesatkan jika yang memasuki bukanlah penghuninya.
Mereka sedang membangun kekuatan di bawah ini, kekuatan untuk mengalahkan bangsa Zodijak. Mereka melakukan penelitian, mengembangkan kekuatan manusia maupun kekuatan senjata untuk bisa mengimbangi kekuatan Bangsa Zodijak yang secara kasat mata pun berada jauh di atas mereka. Sepertinya akhir-akhir ini, dilihat dari hasil penelitian yang membawa penemuan ke arah yang lebih baik baik, memunculkan besarnya harapan bagi kaum manusia untuk melawan Bangsa Zodijak.
Sayangnya, saat ini, mereka kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa ternyata kekuatan mereka masih kalah jauh.
Satu orang pengintai bersembunyi di pasir dan hanya bisa menahankan kengerian, tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat prajurit-prajurit mereka dalam jumlah banyak dikalahkan dengan mudah oleh hanya satu orang lelaki Zodijak.
Pada akhirnya, setelah prajurit Zodijak itu meninggalkan lokasi, pengintai ini bergegas kembali sendirian untuk melaporkan situasi.
Seluruh Squad yang dipimpin oleh Vladimir telah dibantai. Padahal prajurit-prajurit yang dibantai itu berasal dari salah satu squad terbaik mereka, dipimpin oleh Vladimir yang termasuk jajaran prajurit kuat yang menjadi harapan mereka untuk memimpin pasukan penyerangan nanti.
Squad itu berisi prajurit-prajurit terpilih dan mereka adalah adalah satu-satunya yang mendapatkan suntikan darah dari pasien satu secara berkala dalam jumlah banyak untuk penelitian. Mereka menunjukkan peningkatan kekuatan yang pesat,otot-otot tubuh mereka membesar dan daya tahan mereka meningkat… dan bahkan penampilan mereka berubah tegap dan tinggi layaknya Bangsa Zodijak sendiri.
Tetapi ternyata itu hanya tampilan luar saja. Sepuluh prajurit terkuat mereka menghadapi satu prajurit Bangsa Zodijak… hanya satu saja.. dan mereka dibantai habis-habisan.
“Pengintai itu bilang bahwa ada satu manusia perempuan yang bersama prajurit Zodijak itu, dokter.”
Sosok berjubah putih yang dipanggil ‘dokter’ itu langsung menegang. “Apa maksudmu?” sambarnya cepat.
“Ada seorang wanita bersama prajurit Zodijak itu dan pengintai kita mengatakan bahwa prajurit Zodijak itu bertarung untuk melindunginya, dia juga menyebut perempuan itu sebagai istrinya…” Kale menghela napas untuk menyembunyikan kejengkelannya. “Ini semua karena Vladimir tidak bisa menahan diri. Di tempat ini kita memang jarang bertemu dengan perempuan, apalagi yang sehat dan memenuhi selera, jadi saya rasa ketika melihat perempuan itu, Vladimir gelap mata dan ingin memiliki, mereka semua. Dia tidak tahu bahwa yang mereka hadapi adalah prajurit Zodijak yang menyamar sebagai manusia.”
“Vladimir membutuhkan perempuan untuk mengalihkan rasa frustasinya yang tertahan,” sosok Sang Dokter itu meyeringai dengan jahat. “Yah kita tidak bisa menyalahkan Vladimir sepenuhnya, aku sendiri yang memberinya izin untuk mengklaim dan menguasai perempuan manapun yang menarik selera dan bisa dia temukan di sini.”
“Kalau begitu kemungkinan besar keberadaan kita akan segera terendus oleh mereka,” wajah Sang Dokter berubah gelap penuh kemarahan, tetapi dahinya berkerut tanda dia sedang berpikir. “Perempuan manusia bersama Bangsa Zodijak… ada kemungkinan besar bahwa perempuan itu sama seperti pemasok kekuatan kita, pasien nomor satu.”
“Sama seperti Natasha?” mata Kale melebar dan lelaki itu langsung menutup mulut ketika Sang Dokter memandangnya dengan tatapan tajam membunuh.
“Jangan pernah sebut nama itu di luar ruang penelitian kita, Kale. Mereka semua yang berada di sini tidak boleh tahu bahwa cairan biru yang mereka pikir hasil penelitian kita nan hebat sebenarnya adalah darah yang kita ambil dari manusia perempuan milik kita, dari tubuh pasien nomor satu.” geramnya perlahan, memastikan suaranya tidak keluar dari ruangan itu.
Kale langsung menunduk, memberi hormat dengan patuh. “Maafkan saya, dokter. Saya tidak akan mengulanginya lagi.”
Sang Dokter menganggukkan kepala meskip matanya tampak berapi-api.
“Kerahkan seluruh pasukan yang tersisa untuk menyerang ke area-area tempat kaum penyelinap berada. Kita harus menemukan manusia-manusia berdarah ajaib seperti pasien nomor satu untuk menjadi pemasok kekuatan kita, bunuh saja jika ada manusia lemah yang berusaha menghalangi. Kita musnahkan manusia lemah yang tidak berguna, kita kalahkan Bangsa Zodijak, lalu aku akan menguasai bumi untukku sendiri,” ujarnya dengan nada pongah bercampur dengan seringai jahat nan mengerikan.
Aslan membawa Mischa ke atas ranjang, tetapi bukannya membanting tubuh perempuan itu di sana, dia mendudukkan Mischa di pinggiran ranjang.
Lelaki itu lalu bergerak, meraih lipatan handuk tebal yang terletak di meja samping ranjang dan mengambilnya.
“Aku akan mengeringkan rambutmu. Lalu kita akan berbicara.”
Aslan berdiri tepat di depan Mischa yang mendongak bingung. Lelaki itu lalu menggunakan handuk di tangannya untuk menggosok rambut Mischa yang panjang, mengeringkannya hingga air yang menetes-netes di sana terserap oleh handuk.
Mischa mengerutkan kening, menatap ke arah Aslan tanpa menyembunyikan kebingungannya.
“Kenapa kau melakukan ini?” tanyanya tajam.
Aslan menunduk, menatap ke arah Mischa dengan alis diangkat. “Melakukan apa?”
“Bicara.” Mischa melemparkan kecurigaannya ke udara. “Biasanya kau tidak bicara.”
Ujung bibir Aslan berkedut seolah-olah lelaki itu sedang menahan senyum. “Aku hanya ingin mencari informasi tentang dirimu. Karena sepertinya, semua keanehan yang terjadi akhir-akhir ini berkaitan denganmu.” Mata Aslan menajam penuh ancaman. “Kau akan membantuku dengan memberikan informasi itu, bukan?’ tanyanya kemudian.
Mischa memalingkan wajah. Entah kenapa mata hitam itu masih menumbuhkan trauma mendalam di darahnya, membuatnya tidak nyaman ketika hatinya perlahan dicengkeram oleh rasa takut yang kembali datang dan menyiksa.
Berada di dekat Aslan sama sekali tidak membantu menenggelamkan traumanya kembali ke dasar, karena mata hitam nan legam tersebut seolah membangkitkan lagi kenangan buruk yang ingin dia lupakan.
“Kau berada di pihak musuh.” Pada akhirnya Mischa berani mengeluarkan suara meskipun bibirnya gemetaran. “Aku tidak akan memberikan informasi jika itu membantu pihak musuh.”
Mata Aslan menyipit, lelaki itu membuang handuk di tangannya, lalu berlutut di karpet hingga sekarang kepalanya sejajar dengan kepala Mischa. Aslan mencengkeram dagu Mischa dengan kasar dan memaksa perempuan itu menoleh ke arahnya, membuat mata mereka kini begitu dekat.
Kilasan ketakutan itu muncul lagi di mata Mischa. Aslan menemukan ketakutan yang sudah pasti berasal dari trauma mendalam, muncul kembali dan menguasai Mischa.
Perempuan ini takut kepadanya bukan hanya karena Aslan adalah Bangsa Zodijak, tetapi juga karena Bangsa Zodijak bermata hitam melakukan sesuatu yang mengerikan nan terpatri nyata di dalam benak Mischa dan menanamkan trauma.
Ayah Mischa terbunuh dan kemungkinan saat itu Mischa masih kecil, tapi kemungkinan besar tidak terlalu kecil karena trauma bisa tertanam ketika seorang anak sudah bisa mengingat dengan jelas. Yah, mungkin ada banyak anak-anak lain yang masih bertahan hidup dan mengalami trauma karena pembantaian di depan mereka, sebab di bawah kepemimpinannya, dia tidak pernah mengizinkan prajuritnya memiliki belas kasihan, apalagi terhadap manusia.
Mischa ketakutan, tetapi perempuan itu masih saja bersikap membangkang.
Aslan menipiskan bibir, menyadari bagaimana Mischa sekuat tenaga menutupi ketakutannya dengan sengaja untuk melawan Aslan. Kucing kecil yang lemah biasanya menutupi kelemahannya dengan mencakar serta menggigit hanya supaya mereka tidak kelihatan takut.
“Pada akhirnya kau akan memberikan informasi itu kepadaku, Mischa,” Aslan menempelkan hidungnya ke hidung Mischa, membiarkan mata mereka semakin dekat karena tahu bahwa hal itu bisa mengintimidasi Mischa. “Kau sangat lemah dan aku kuat, pada akhirnya yang lemah akan menyerah dan yang kuat akan menguasai, itu sudah hukum alam, dan kau tahu itu.”
Mischa berusaha memalingkan muka, tetapi tangan Aslan mencengkeram dagunya hingga terasa menyakitkan, membuat wajah mereka terus bertatapan. Membuat Mischa diliputi kemarahan luar biasa karena tubuhnya begitu lemah dan tidak kuasa melawan… bahkan sekarang mentalnya juga….
Lelaki ini tahu bahwa dia menyimpan trauma dan memanfaatkannya untuk mengintimidasi Mischa.