
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
“Dia menutup mulutnya dan membeku seperti batu, bertekad untuk setia dan tidak membuka mulut sampai kapanpun,” Akrep menyeringai dengan ekspresi mengerikan. “Tapi sayangnya anak buahnya yang juga berhasil kita bawa tidak seteguh dia, apalagi dengan kenyataan bahwa pemimpin mereka berusaha meninggalkan mereka untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Mereka bilang pemimpin mereka bernama Kale. Kale adalah orang yang menembak Aslan dan dia memiliki senjata khusus itu karena dia adalah salah satu dari orang kepercayaan Sang Dokter, pemimpin tertinggi mereka.”
Yesil membelalakkan mata, “Sang Dokter?” ulangnya dengan mata melebar, lalu matanya menyambar ke arah Akrep dengan tatapan shock. “Apakah kau memiliki pikiran yang sama denganku mengenai ini, Akrep?” tanyanya kemudian.
Mischa membuka mata ketika kesadarannya kembali, kamar itu remang dan tidak memberikan petunjuk mengenai waktu kepada Mischa hingga sejenak membuat Mischa kebingungan.
Sudah berapa lama?
Mischa mengerjapkan mata dan mengerutkan kening ketika dia berhasil mengumpulkan ingatannya tentang kejadian sebelumnya.
Saat ini dirinya berbaring telungkup dan telanjang, setelah entah beberapa lama, entah berapa kali dirinya membiarkan Aslan mereguk kenikmatan dari tubuhnya.
Perlahan Mischa menggulingkan tubuhnya, berbaring miring memunggungi Aslan yang berbaring telentang di sebelahnya dengan mata terpejam. Dengan memunggungi Aslan, seolah Mischa sedang berusaha mengingkari kenyataan yang terjadi. Sayangnya dia tidak bisa.
Kilasan demi kilasan kejadian memenuhi benaknya, membayang di matanya bagaikan sebuah film yang memainkan adegan demi adegan dalam gerak lambat.
Adegan percintaannya dengan Aslan.
Pipi Mischa langsung merah padam, dia berusaha membuang pikiran itu, tetapi tidak mampu. Aslan sepertinya melakukan itu semua dalam kondisi setengah sadar, seolah dituntun oleh tubuhnya yang secara alamiah berusaha menyembuhkan diri dengan menyerap kekuatan dari tubuh Mischa, dan Aslan tidak berhenti sampai dirinya benar-benar sembuh.
Mischa sendiri memperhatikan, semakin lama dan semakin sering dia membiarkan dirinya bercinta dengan Aslan, semakin tampak kekuatan Aslan terkumpul untuk memulihkan dirinya sendiri, pun dengan luka di dadanya yang tadinya menganga dan mengucurkan darah menembus perban yang terpasang di sana, perlahan-lahan seolah menyembuhkan diri dengan cepat dan ajaib, berhenti mengucurkan darah.
Bahkan di percintaan mereka yang terakhir, Aslan melepas perban itu karena mengganggu keinginannya menyentuhkan seluruh kulitnya dengan Mischa. Aslan membuang perban itu ke lantai dan Mischa melihat bahwa luka di dada lelaki itu sudah menutup, sama sekali tidak ada luka yang menganga apalagi darah.
Yesil benar. Aslan benar-benar bisa menyembuhkan dirinya sendiri dengan menyerap kekuatan dari tubuh Mischa.
Dan kali ini Mischa telah melakukan suatu tindakan bodoh karena sekarang dia telah menyelamatkan musuhnya sendiri.
Seharusnya dia membiarkan Aslan mati, tetapi pemikiran mengenai Sasha menakutinya hingga dia menjadi lemah, tunduk pada musuh dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Yesil.
Kali ini Aslan telah sembuh. Lalu apa?
Sekarang Mischa menjadi tawanan lagi, tertahan di bawah kehendak Aslan yang arogan dan tak tahu diri.
Mischa berusaha mencari-cari rasa kecewa di dalam hatinya, tetapi dia tidak menemukannya. Dengan terkejut Mischa malahan menemukan rasa lega di dalam jiwanya.
Lega? Bagaimana mungkin dia merasa lega karena musuhnya yang sangat dia benci selamat dari kematian?
Sebuah lengan bergerak menyentuh pinggang Mischa yang berbaring miring memunggungi Aslan, lalu dirasakannya tubuh Aslan mendekat dan kepala lelaki itu berada tepat di sisi kepalanya, sengaja membungkuk di sana untuk berucap kepada Mischa.
Aslan berbisik parau tepat di sisi telinga Mischa dan entah kenapa, meskipun susah dipercaya, nada suara Aslan terdengar tulus, benar-benar sesuatu yang tak terduga sebelumnya.
Anehnya, ucapan terima kasih singkat itu berhasil mengirimkan getaran tak terduga yang membuat Mischa mengerutkan kening dalam, berusaha menyangkal perasaan itu dan mencoba melepaskan pegangan Aslan yang melingkar di pinggangnya meskipun pada akhirnya dia tidak mampu melakukannya.
Kekuatan Aslan benar-benar telah kembali sehingga kekuatan Mischa sudah jelas bukan tandingannya.
“Lepaskan!” Mischa tidak menyerah, masih berusaha melepaskan tangan Aslan dari pinggangnya. “Dan kau tidak perlu berterima kasih, kalau boleh memilih, aku lebih memilih kau mati saja. Kalau bukan demi Sasha, aku tidak akan…”
“Kau tidak perlu menjelaskan semuanya,” Aslan menyela dengan suara tajam, tidak mempedulikan pemberontakan Mischa dan malahan semakin mengetatkan pelukannya, membawa punggung Mischa supaya menempel ke dadanya yang telanjang. “Aku mendengar semua penolakanmu dan juga ancaman Yesil terhadapmu meskipun aku setengah sadar,” geram Aslan parau, lalu menggulingkan tubuh untuk membawa dirinya berada di atas tubuh Mischa. “Tidak perlu tahu bagaimana prosesnya dan apa alasannya, yang penting sekarang aku sembuh, dan itu karena kau,” Aslan mencium bibir Mischa, tangannya mencengkeram rahang Mischa ketika perempuan itu menggelengkan kepala berusaha menolak.
Pada akhirnya, Mischa menyerah, membiarkan bibirnya dinikmati oleh Aslan sepuasnya meskipun hatinya terasa bergemuruh mengutuk kelemahan tubuhnya sendiri.
Ketika Aslan mengangkat kepala, matanya tampak berkabut, sementara cengkeramannya di rahang Mischa belum dilepaskannya.
“Kenapa kau tidak pernah bisa menerimaku? Apakah karena aku Lelaki Zodijak? Seandainya saja aku manusia, akankah kau menerimaku dengan tangan terbuka?” Aslan menyerukan kata-katanya dengan nada getir, lalu ******* kembali bibir Mischa, sebelum kemudian melepaskannya dan berbisik. “Aku harus bagaimana? Kau ingin aku menjadi seperti apa?”
Suara pertanyaan itu masih terdengar samar di telinga Mischa ketika Aslan menyatukan dirinya kembali, membawanya ke dalam percintaan yang tidak terelakkan.
Ketika Mischa membuka mata, dia langsung mengutuki dirinya sendiri. Kali ini kesadarannya muncul karena perutnya terasa lapar, dan dia tidak perlu perlahan mengumpulkan ingatannya saat kesadarannya kembali karena seketika itu, dalam sekejap Mischa langsung mengingat semuanya.
Aslan bercinta dengannya lagi dan Mischa tertidur karena kelelahan, selalu seperti itu siklusnya, selalu sama.
Mischa membatin dengan getir, merasa terpuruk atas kelemahannya, tetapi kemudian perutnya yang keroncongan dibarengi dengan rasa perih mengalihkan perhatiannya dengan cepat.
Sudah berjam-jam perutnya tidak diisi makanan dan sepertinya makhluk yang bertumbuh di dalam perutnya itu mulai meronta minta makan.
“Kau lapar?” suara Aslan terdengar tiba-tiba, membuat Mischa memekik, terkesiap karena terkejut.
Mata Mischa mendongak ke arah sumber suara dan melebar ketika menyadari bahwa Aslan sudah tidak berbaring di atas ranjang. Lelaki itu tengah duduk di sebuah kursi yang diseret mendekati ranjang, sudah berpakaian lengkap dan tampaknya telah menghabiskan waktu beberapa lama untuk mengawasi Mischa.
Dengan cepat Mischa berusaha bangun, tangannya bergerak menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang, sementara Aslan tidak mengatakan apa-apa. Lelaki itu mengulurkan sebuah gaun ke arah Mischa yang langsung disambar Mischa dengan marah.
“Bisakah kau dengan sopan memalingkan muka ketika aku memakai pakaian?” tanya Mischa kemudian dengan nada sinis penuh kebencian.
Tanpa disangka Aslan menuruti perkataan Mischa, lelaki itu bangun dari kursinya dan melangkah ke ujung ruangan di dekat pintu, membelakangi Mischa dan menuangkan sesuatu seperti minuman dari botol ke sebuah gelas lalu meminum cairan itu dengan tenang, masih dengan memunggungi Mischa.
Kesempatan itu langsung digunakan oleh Mischa untuk meloncat dari ranjang.
Pertama-tama dia terhuyung karena seluruh tenaganya terkuras habis, belum lagi dia sangat lapar juga kelelahan, tetapi Mischa berhasil menguasai keseimbangan dirinya dan bergegas menyusupkan gaun dengan potongan longgar dan nyaman itu dari atas kepalanya, mengenakannya dengan cepat.
Begitupun dengan pakaian dalamnya yang teronggok di karpet dengan menyedihkan, Mischa cepat-cepat menyambar dan mengenakannya.
Tepat ketika dia selesai, Aslan membalikkan badan, matanya yang kelam mengawasi Mischa yang balas menatapnya dengan pandangan menantang.
Aslan tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat.
Lelaki itu benar-benar tampak bugar dan sehat, membunuh semua bayangan tentang Aslan yang terbaring lemah dan terluka sebelumnya.
Dan sebelum Mischa bisa menghindar, Aslan telah berdiri di depannya, sangat dekat di depannya.
“Aku memerintahkan anak buahku untuk melepaskan gelang peledak di pergelangan kaki Sasha.”
Kalimat Aslan itu membuat Mischa membelalakkan mata, dilanda kebingungan yang sama sekali tidak dia mengerti.
“Apa maksudmu?” Mischa langsung menatap cincin dengan batu Zodijak hitam yang ada di tangannya, matanya lalu kembali menatap Aslan dengan tak percaya. “Apakah… apakah…”
“Ya,” Aslan tampak begitu dingin, meskipun ada kelembutan langka yang melembutkan lengkung bibirnya nan keras. “Kau bebas, Mischa. Aku tidak akan mengancammu dengan menggunakan Sasha lagi. Sudah cukup untuk kali ini.”
Mischa mengerjapkan mata, tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu dari Aslan, bahkan sekarang ketika dia memeras otaknya sekuat tenaga, dirinya masih tidak bisa mencerna kata-kata Aslan.
“Kalau begitu… aku boleh pergi?” tanya Mischa mencoba memastikan bahwa dia tidak salah menerjemahkan.