
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ayahnya selalu merasa bahwa gen penyakit ini dibawa oleh dirinya, bukan oleh ibundanya yang katanya sempurna dalam segala hal, karena itu ayahnya bertekad untuk mencari penyembuh bagi Mischa, bahkan menggunakan mucisevi yang diekstrak paksa dari mayat Bangsa Zodijak yang ditemukannya, hanya dari mayat, karena sudah pasti mereka tidak bisa menghadapi Bangsa Zodijak yang masih hidup.
Sayangnya upaya itu tidak berhasil, mucisevi yang disuntikkan ke tubuh Mischa tidak memberikan dampak apapun dan sepertinya mustahil bisa menyembuhkannya.
Dan sekarang Mischa terkejut karena mucisevi yang dialirkan dari cairan tubuh Aslan berdampak padanya.
Apakah itu karena kontrak pernikahan? Ataukah mucisevi hanya bisa dialirkan secara sukarela dari Bangsa Zodijak yang masih hidup dan mempunyai kehendak sendiri?
Sentuhan jemari Aslan di bibirnya membuat Mischa tersentak, mengerjap cepat, menyadari bahwa Aslan sedang mengamatinya dalam, curiga karena Mischa membutuhkan waktu lama untuk merenung,
“Apa yang ada di dalam pikiranmu, manusia?” Aslan kembali memanggil dengan istilah manusia, tak lupa menyelipkan nada merendahkan di sana, tahu bahwa hal itu akan mengusik Mischa dan membuatnya marah.
“Aku akan menyimpan apa yang ada di dalam pikiranku untuk diriku sendiri,” sekali lagi Mischa mendongkkan dagunya, menantang. “Dan kehidupan yang kudapatkan atas bantuanmu…” Mischa mendengus setengah mengejek. “Itu bukanlah bentuk kehidupan yang pantas kuhargai, kau mungkin merasa di atas angin karena merasa menyelamatkan nyawaku, tapi aku tidak akan pernah merasa berhutang budi kepadamu, dan aku tidak akan pernah mengucapkan terima kasih kepadamu.”
“Manusia tak tahu diri,” Aslan menggeram menggertakkan gerahamnya untuk menahan kemurkaan yang mulai menggayuti kepalanya, mata gelapnya berkilat, menunjukkan ancaman mengerikan. “Aku akan membuatmu menyesal, manusia. Dan setelah aku selesai nanti, kau akan menyadari dimana posisimu seharusnya berada, dan itu sudah pasti tidak sejajar denganku.”
Tangan Aslan bergerak, menarik gaun Mischa untuk melepasnya, sementara Mischa bertahan, sekuat tenaga mencoba menjaga pakaian tipisnya itu tetap menutup tubuhnya, menjadi tameng pelindung lemahnya, satu-satunya yang bisa menghalangi kekejaman Aslan kepadanya.
“Ucapkan terima kasih kepadaku, terima kasih karena aku telah memberimu kesempatan kedua untuk hidup,” Aslan mendesis, sementara suaranya mendesak, memaksa Mischa untuk menuruti apa yang dimauinya.
Mischa merasakan napasnya sesak, berjuang untuk melawan sentuhan Aslan. Dirinya tahu pasti bahwa ucapan terima kasih itu sama sekali tak ada artinya bagi Aslan, lelaki itu tak butuh ucapan terima kasih darinya. Yang diinginkan lelaki itu adalah menjatuhkan Mischa, membuatnya terpaksa menjilat ludahnya sendiri dengan mengucapkan kata terima kasih, Aslan ingin menunjukkan kekuatannya, bahwa dirinyalah yang berkuasa atas Mischa, dan ketika Aslan berhasil melakukannya, Mischa yakin Aslan akan memuaskan diri, menertawakan dan mencemooh Mischa.
Tidak… Mischa tidak akan memberikan kepuasan seperti itu bagi Aslan!
“Lepaskan aku!”
Mischa mencoba mendorong Aslan, menggunakan kedua telapak tangannya untuk menekan bahu Aslan dan membuatnya menjauh, tetapi kedua bahu Aslan begitu keras, seperti batu panas yang tak bisa digerakkan hanya dari daya upaya Mischa yang rapuh.Aslan mengerjapkan matanya ketika perlawanan Mischa malahan menggodanya untuk semakin menyentuh, matanya semakin berkilat, terpaku ke wajah Mischa.
Seolah-olah ada aura panas yang menguar dari tubuh Aslan, menyelubungi mata dan tubuhnya. Tangan Aslan bergerak, menahan tangan Mischa, lalu lelaki itu menundukkan kepala, menenggelamkan wajahnya di kehalusan leher Mischa nan harum, memuaskan indra penciumannya yang lapar dengan menarik napas dalam-dalam.
“Aromamu….Sialan!”
Aslan mengerang dan mengumpat sekaligus, suaranya penuh geraman dalam membuat Mischa otomatis gemetaran. “Katakan terima kasih kepadaku,” Aslan meraung dengan nada mendesak, dan itu bukan pertanda baik bagi Mischa.
Napas Aslan terasa panas, menghembus kulit leher Mischa, menebarkan ancaman.
“Aku tidak akan memerintah dua kali, manusia kecil. Jika kau bijaksana maka kau seharusnya menuruti perintahku tanpa pikir panjang,” Aslan menggeram sementara jarinya bergerak menyentuh panggul Mischa, menarik paksa tubuh Mischa supaya mendekat ke arahnya.
Sentuhan Aslan… entah kenapa mulai menumbuhkan sesuatu yang aneh di tubuh Mischa, dan itu membuatnya merasa ketakutan. Segala sesuatu yang aneh dan tidak bisa dijelaskan sudah pasti akan membawa hal yang buruk…
Aslan menggeram kasar, secara tiba-tiba menarik kedua tangan Mischa dengan satu cengkeraman, mengangkatnya di atas kepala Mischa dan mendorong tubuh Mischa semakin menekan ranjang.
“Kau ini kenapa?” dalam rasa frustasinya karena tidak bisa melepaskan diri, Mischa kehilangan rasa takutnya.
“Apakah kau tidak tahu arti bahasa manusia ‘lepaskan aku?’. Apa kamus alien yang tertanam di tenggorokanmu rusak karena kau sibuk menggunakan pita suaramu untuk berteriak, menggeram dan mengumpat…” Mischa menjerit, dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena Aslan semakin merapatkan tubuhnya.
Mulut Mischa ternganga, sementara matanya melebar, menatap Aslan degan ngeri.Aslan mengangkat kepala, meninggalkan jejak napas panas di leher Mischa.
“Aku bisa merasakan kalau kau menyukai sentuhanku,” Aslan berucap perlahan dengan nada mencemooh, bibirnya bergerak begitu dekat dengan bibir Mischa, sementara matanya yang tajam tidak mengizinkan Mischa untuk memalingkan pandangan.
Kedekatan Aslan itu membuat Mischa gemetaran, menahan ketakutan akan rasa aneh yang merayapi tubuhnya, ada sesuatu yang asing yang dikirimkan Aslan melalui bisikan dan sentuhannya dan Mischa tidak mau merasa… dia tidak mau merasakan apapun ketika Aslan menyentuhnya!
“Apakah aku membuatmu tidak bisa berkata-kata, manusia kecil?” Aslan menyentuhkan bibirnya ke bibir Mischa, menggoda dengan bisikan provokatif di sisi telinga Mischa. “Jangan pernah berpikir bahwa kau bisa mempengaruhiku dengan kata-katamu, kata-kata tak berharga yang keluar dari mulutmu,” suara Aslan menghilang ketika lelaki itu tergoda kembali untuk menenggelamkan wajahnya ke leher Mischa, aroma menggoda Mischa langsung meliputinya, membuat Aslan mengerang kembali.
Mischa terengah, merasa tak berdaya didesak seperti ini, air matanya hampir tumpah karena tahu bahwa dirinya tidak bisa melawan, pada akhirnya Aslan akan selalu berhasil memaksakan kehendak kepadanya.
Aslan menggeram di leher Mischa. “Manusia sialan….” lelaki itu mengumpatinya lagi, “Aromamu membuatku gila,” bibir Aslan membuka dan lidahnya mulai mencecap rasa kulit Mischa. “Dan rasamu membuatku lapar.”
“Hen… hentikan!” Mischa berteriak mencoba meronta tapi pegangan tangan Aslan di pergelangan tangannya semakin kuat.
“Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu. Meskipun kelakuanmu bermasalah, kau tetap saja satu-satunya makhluk yang bisa memuaskanku…Aku akan memilikimu sesukaku…”
“Aku tidak memiliki masalah dengan kelakuanku. Kau yang memiliki masalah dengan kelakuanku, dan itu bukan masalahku!” Mischa membalas dengan kasar, masih berusaha meronta dan dirinya berhasil membuat Aslan mengangkat kepala dari lehernya.
Mata hitam itu bertemu dengan mata Mischa yang menyala penuh tantangan.
“Sedang senang menantangku, rupanya?” Aslan mendesis pelan dari bibirnya, matanya dan ekspresinya tampak kejam, membuat ketakutan yang tadi sempat menghilang kembali merayapi diri Mischa, membuat dirinya gemetaran.
Akan lebih baik jika lelaki ini membunuhnya saja dan dia langsung lepas dari segala siksaan ini, tetapi Mischa tahu bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. Aslan adalah tipikal predator yang senang membuat mangsanya menderita dalam ketakutan dan siksaan terlebih dahulu sebelum menghabisinya. Dan sekarang, saat Aslan menganggap Mischa sebagai mangsanya, sudah pasti lelaki itu akan sangat senang menyiksanya sampai batas, sampai Mischa tak kuat lagi.
“Apa…. apa yang kau inginkan dariku?” Mischa tahu jika dia ingin menyelamatkan diri, dia harus mencoba cara lain untuk melemahkan kewaspadaan Aslan.
“Aku ingin manusia milikku mengucapkan terima kasih kepada tuannya, mengucapkan terima kasih karena aku telah berbaik hati menyelamatkan nyawanya,” Aslan menunduk, menggesekkan bibirnya yang panas ke bibir Mischa.
Kata-kata itu menyentuhkan bara api kembali ke hati Mischa, membuatnya melupakan tekad bahwa dirinya tadinya berniat melunakkan tantangan supaya Aslan tidak semakin mendesaknya.
“Siapa yang bilang bahwa aku adalah milikmu? Kau tidak pernah menjadi tuanku! Aku adalah tuan atas kehendakku sendiri!” Mischa meronta kuat, membuat mata Aslan yang terpejam karena menikmatinya membuka.
“Jangan memancingku, kelinci kecil. Kau sudah tahu seperti apa jika kemarahanku terpancing,” Aslan berucap dengan kejam, memastikan Mischa tahu apa maksudnya.
Dan Mischa tentu saja tahu. Bayangan tubuh Kara yang terbaring di atas ranjang dengan seluruh tubuh dibalut perban langsung mengusiknya, membuatnya menelan ludah untuk melawan kengerian yang menggayuti hatinya. Aslan bisa sangat kejam jika dia mau, bahkan kepada saudaranya sendiri lelaki itu tidak menahan kekejamannya, apalagi terhadap Mischa yang cuma dianggap sebagai budak manusianya.
Sebenarnya apa yang membuat lelaki itu menjatuhkan tangannya kepada Mischa? Kenapa lelaki itu mengincar Mischa sebagai mangsanya? Kenapa nasib Mischa bisa sesial ini?
Kemarahan terhadap nasib membuat air mata hampir tumpah dari sudut mata Mischa, membuat matanya panas dan isaknya hampir menyeruak keluar. Mischa menggigit bibir, berusaha menahan diri sekuat tenaga. Air mata membuat perempuan tampak lemah, dan tampak lemah di depan Aslan hanya akan membuatnya semakin direndahkan.
Sayangnya hal itu sudah pasti tidak terlewatkan oleh mata Aslan yang tajam, lelaki itu menunduk, mengawasi bening yang mengalir dari sudut mata Mischa, lalu melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Mischa dan menggunakan jarinya untuk mengambil air mata Mischa.