Inevitable War

Inevitable War
Episode 26 : Terdesak



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira



 


Aslan meloncat dari pesawatnya yang didaratkan dengan serampangan di gurun. Dia melihat sesuatu yang janggal di daratan tadi dan memutuskan untuk mendarat.


Ada sebuah area dengan warna pasir yang lebih terang daripada sekitarnya, dan itu membuat Aslan curiga.


Ketika dia mendekati area pasir berwarna terang itu, sadarlah dia bahwa itu adalah penutup kamuflase yang memantulkan gambar gurun di sekelilingnya sehingga apa yang ditutupi di baliknya tidak terlacak.


Penutup kamuflase ini sudah pasti bisa mengecoh Bangsa Zodijak yang lainnya sehingga mereka tidak menemukannya meskipun telah melakukan penyisiran melalui udara, tetapi tidak akan bisa mengecoh Aslan.


Kemampuan berburu Aslan terlalu tinggi dan matanya terlalu tajam untuk dibodohi dengan tipuan rendahan semacam ini.


Aslan menarik penutup kamuflase itu dengan kasar sehingga menunjukkan bangkai pesawat yang ditinggalkan oleh Kara sebelumnya.


Mata Aslan menelusuri isi pesawat itu untuk mencari petunjuk dan menemukan bahwa Kara telah meninggalkan pakaian bangsa Zodijaknya yang khas berwarna hitam.


Itu berarti dugaannya benar, bahwa Kara menyamar menjadi manusia dan membawa Mischa menyaru ke dalam kelompok Kaum Penyelinap untuk bertahan hidup…


Aslan menipiskan bibirnya.Kara mungkin mengira dia cukup ahli melarikan diri hingga sulit ditemukan, tapi ada satu hal yang tidak Kara sadari, bahwa Aslan bisa mengendus dan memindai aroma Mischa ketika mereka sudah cukup dekat dan jejaknya masih tertinggal.


Aslan mengendus udara dan menyadari bahwa aroma Mischa masih tersisa di sana, yang berarti Mischa masih belum jauh dari sini.


Mata Aslan teralihkan oleh pesawat lain yang mendarat, kali ini pesawat yang datang berukuran besar dan memuat pasukannya yang terlatih dan membawa senjata kelas berat.


Bibir Aslan menguraikan senyum jahat yang mengerikan.


Kali ini perburuan yang sesungguhnya akan dimulai…



 


Semua orang memasang sepatunya dan memakai pakaian tebal untuk melawan panasnya gurun di terik siang dan dinginnya udara di malam membekukan, semuanya sudah siap untuk melakukan perjalanan berpindah tempat.


Menurut rencana Kiraz, mereka akan mendaki bukit tinggi di sisi barat diam-diam  dalam perjalanan yang mungkin membutuhkan waktu satu hari penuh, untuk kemudian beristirahat sejenak di salah satu bunker bawah tanah yang seharusnya masih berada di sana meskipun bagian atasnya sudah pasti hancur lebur oleh ganasnya perang. Setelah itu mereka akan melanjutkan perjalanan lagi, terus ke arah barat hingga menemui sisa perbatasan kota yang ditutup gurun dan terus menjauh dari lokasi ini.


Kiraz tentu saja tidak bisa meramalkan apa yang akan mereka temukan nanti. Bisa saja kondisi di sana lebih hancur dan lebih lebur dari apa yang terjadi di tempat mereka berada saat ini, tetapi bagaimanapun juga mereka tidak bisa berdiam, mereka harus terus lari dan menghindar, menyelinap di kegelapan untuk bertahan hidup seperti julukan kaum mereka.


Lebih baik melangkah maju dan menghadapi apapun yang menghalangi dengan sedikit harapan untuk bertahan, daripada hanya berdiam diri dan sudah tahu pasti akan kalah serta menyerah.


Mischa sudah memasangkan jaket tebal di badan Sasha, dan anak perempuan itu sedikit beringsut ketika Kara berjongkok di depannya dengan senyum lembutnya.


“Aku tidak akan menyakitimu,” Kara berucap pelan, lalu menghela napas panjang. “Astaga… kau dan Mischa, kalian berdua begitu mirip dengan Natasha…” gumamnya pelan, lalu menggelengkan kepala seolah ingin menyingkirkan pikiran-pikiran membingungkan di benaknya. Setelah berhasil menguasai diri, Kara menatap Sasha lagi dan berucap lembut. “Apakah kau keberatan kalau harus naik ke punggungku? Aku dan Mischa memutuskan bahwa aku lebih baik menggendongmu supaya kita bisa melarikan diri lebih cepat,” bisiknya.


Sasha tampak ragu, dia melemparkan tatapan bingung ke arah Mischa, dan Mischa segera menganggukkan kepala dalam isyarat mengiyakan. Mischa tidak ingin terpisah lagi dengan Sasha dalam pelarian ini, bagaimanapun juga, Sasha sudah dianggapnya sebagai adik sendiri dan dia tidak ingin kehilangan lagi. Karena itu Kara memutuskan dia akan menggendong Sasha sepanjang pelarian supaya mereka lebih mudah menjaga Sasha dan memastikan tidak akan terpisahkan.


“Kemarilah,” Kara membalikkan badan tanpa menunggu jawaban Sasha. “Ayo, naiklah ke punggungku,” pintanya ramah.


Sejenak Sasha tampak ragu, tapi kemudian dia menurut, naik ke punggung Kara dan melingkarkan lengan mungilnya ke leher Kara dengan erat seolah takut jatuh.


Seluruh anggota kelompok yang lain sepertinya juga sudah siap untuk berangkat, dengan dipimpin oleh Kiraz di bagian depan, mereka bersiap bergerak beriringan di dini hari nan gelap ini untuk berpindah tempat.


Tetapi, semua itu urung dilakukan karena suara ledakan keras terdengar di area depan lorong pintu masuk tempat persembunyian mereka. Membuat semua orang langsung terperanjat dan saling berpegangan dengan pandangan bingung penuh ketakutan, pun dengan Kiraz yang tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi.


Tetapi Mischa entah kenapa tahu. Dadanya langsung berdebar kencang, dipenuhi oleh ketakutan luar biasa.


Dia bisa merasakannya… merasakan kehadiran Aslan yang mengerikan, mendominasi dan menguasai seluruh ruangan yang dilaluinya dengan aura kejam tak berperasaan… dia tahu bahwa Aslan sudah dekat.


Mereka sudah ketahuan, entah bagaimana Aslan mengubah strateginya dan berhasil menemukan mereka….


Mischa menoleh ke arah Kara yang memandang ke lorong pintu depan dengan waspada. Kara lalu menunduk ke arahnya, dengan pengetahuan yang sama. Dirinya juga bisa mengendus kehadiran Aslan yang sangat familiar.


Dia terlambat dan salah perhitungan, Aslan ternyata lebih cerdas daripada yang dikiranya.


“Naik ke atas… sembunyikan dirimu.” Kara berbisik perlahan, melemparkan pandangannya ke arah teralis-teralis besi yang bersusunan satu sama lain dan terjalin hingga ke langit-langit ruangan. “Aku akan mengalihkan perhatian Aslan supaya dia menyingkir dari sini.”


“Tapi…” Mata Mischa mulai berkaca-kaca karena panik, matanya terarah ke arah Sasha,


“Bagaimana dengan mereka? Bagaimana dengan Sasha?”


“Pikirkan dirimu sendiri, Mischa,” Kara memberi isyarat tangan supaya Mischa bergerak. “Aku akan menjaga Sasha, dia tidak akan disakiti.” desisnya pelan, lalu menyerahkan mantel yang entah milik siapa ke arah Mischa. “Pakai ini, ini akan menyamarkan aromamu untuk sementara.” bisiknya.


Suara derap langkah mulai terdengar mendekat, begitu mengerikan menggambarkan sepasukan besar Bangsa Zodijak yang bersepatu boot berat dan bersenjatakan lengkap mendatangi mereka. Seluruh kelompok ini akan habis tanpa sisa…


“Cepat!”


Kara menghardik pelan sementara tangannya mendorong Mischa agar mulai bergerak ke sudut yang gelap dan mulai memanjat ke atas dan Mischa tidak bisa membantah, dia buru-buru membuang mantelnya sendiri dan mengenakan mantel yang diberikan oleh Kara kepadanya, lalu dengan langkah terseok karena melawan gemetar yang melandanya, Mischa menuju ke sudut ruangan yang gelap, membuat gerakannya tidak disadari oleh kelompok lainnya yang sedang panik tak bisa bergerak.


Tangan Mischa meraba-raba ke besi teralis itu untuk mencari pegangan, sementara kakinya bergerak mencari pijakan.Dengan perlahan, menggunakan kekuatan lengan dan kaki mungilnya yang rapuh, Mischa mulai memanjat, mengandalkan pada insting dan sentuhan tangannya untuk mencari pijakan ketika dia memanjat semakin tinggi dan semakin tinggi di kegelapan.


Seiring Mischa mencapai bagian paling atas hingga membuatnya merayap secara horizontal untuk bertahan di besi-besi teralis yang tertutup pipa-pipa saluran udara besar di bagian atap, sosok yang dibawa oleh suara langkah itu akhirnya muncul.


Karena suasana remang, Mischa tidak bisa melihat dengan jelas dari atap, dia hanya bisa bertumpu dengan kaku tanpa berani bergerak, bahkan untuk bernapas pun dia melakukannya dengan perlahan, mata Mischa bergerak mencari sosok Kara yang sedang menggendong Sasha di punggungnya, tetapi entah kenapa dia tidak bisa menemukannya.


Aslan berdiri di sana, memimpin pasukannya dan menatap manusia-manusia menyedihkan yang begitu pucat dan ketakutan di depannya.Dia tidak tertarik kepada mereka, akan dibiarkannya pasukannya untuk membantai mereka nanti. Yang membuatnya tertarik saat ini adalah aroma kuat yang menguar di ruangan ini, aroma Mischa.


“Kalian seharusnya merasa terhormat bisa bertemu denganku, Aslan Sang Pemimpin Tertinggi Bangsa Zodijak,” Aslan berucap dengan pongah, tidak mempedulikan keterkejutan di mata manusia-manusia itu. “Sekarang katakan, dimana kalian menyembunyikan istriku?” desisnya mengancam.


Kiraz, sebagai seorang pemimpin akhirnya berhasil mengalahkan keterkejutannya untuk pertama kali. Dirinya tentu tidak menyangka bahwa Aslan, pemimpin Bangsa Zodijak yang terkenal paling kejam di antara yang lainnya-lah yang memimpin sendiri perburuan ini.


Ini sama saja mereka sudah tidak punya harapan lagi… apalagi sekarang Aslan menuduh mereka menyembunyikan istrinya? Bagaimana mungkin mereka menyembunyikan istri seorang pemimpin Zodijak di kelompok mereka?


Sumber aroma itu rupanya menarik perhatian Aslan, membuatnya melangkah, membelah manusia-manusia yang ketakutan hanya untuk menemukan sebuah mantel yang teronggok di lantai.


Aslan membungkuk dan mengambil mantel itu, lalu mengendusnya dan jantungnya berdebar ketika menemukan aroma kental Mischa di sana, mata hitamnya yang mengerikan berkilat oleh rasa marah ketika menatap lagi ke arah manusia-manusia menyedihkan di depannya.


“Istri manusiaku. Mischa… di mana kalian menyembunyikannya?”


Pertanyaaan Aslan itu menimbulkan suara terkesiap beruntun di antara kumpulan manusia itu, semuanya begitu terkejut akan kenyataan bahwa Aslan, pemimpin utama Bangsa Zodijak memiliki istri manusia, dan bahwa Mischa adalah istri dari Aslan.


“Dia… dia tadi ada di antara kami…” salah seorang manusia itu memberanikan diri untuk menjawab, membuat Aslan menyipitkan mata, memindai manusia-manusia itu dan menemukan bahwa baik Mischa, maupun Kara yang kurang ajar itu tidak ada di antara mereka.


Mischa tentu saja tidak bisa menghilang begitu saja bukan?


Aslan menyeringai, menatap manusia-manusia tak berdaya itu dengan tatapan mengerikan,“Kurasa kalian boleh mencoba lari, supaya perburuan ini menyenangkan, lalu pasukanku akan mengejar dan membantai kalian satu persatu,” ujarnya kejam, memberi isyarat pada pasukannya.


Dalam sekejap suasana berubah gaduh dan mengerikan, manusia-manusia yang mencoba lari, berteriak-teriak keras, bercampur dengan manusia-manusia yang ditangkapi untuk dibunuh dengan kejam.


Aslan sengaja menggunakan ini untuk memancing entah Mischa entah Kara yang sedang bersembunyi untuk muncul ke permukaan. Dia tahu baik Mischa maupun Kara yang lembek, tidak akan tahan melihat pembantaian yang disebabkan oleh mereka berdua.