
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira.
Semua yang ada di ruangan itu terpaku mendengar perkataan Kara, dan hal itu dimanfaatkan Mischa untuk mencoba menyelamatkan diri. Dia menggeser tubuhnya perlahan, melihat jalan kecil di antara sofa dan tembok, mengukur dengan cepat ke arah pintu, dan tanpa pikir panjang langsung meloncati sofa kembali, mencoba merangsek ke pintu keluar yang terbuka lebar.
Ini semua diluar dugaannya, Mischa sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan terbangun dengan kesadaran penuh seperti ini. Mereka bilang racun Aslan tidak mempan padanya dan sepertinya saat ini Mischa memang masih belum kehilangan pikiran sadarnya. Meskipun begitu, Mischa tahu bahwa dia akhirnya akan dibunuh juga jika terus berada di sini.
Salah satu lelaki Zodijak yang mencoba menyergapnya tadi menganggap bahwa Mischa adalah sebuah anomali, karena bisa melukai Aslan tapi tidak bisa melukai yang lain, sesuatu yang bahkan Mischa sendiri tidak bisa menjelaskan. Dirinya bahkan dicurigai sebagai sebuah senjata.
Dan kesimpulan dari semua itu hanya akan berujung pada satu hal : Mischa akan dijadikan sebagai objek penelitian oleh Bangsa Zodijak.
Bangsa Zodijak dikenal suka mengambil manusia baik hidup ataupun dalam bentuk jasad mati sebagai objek penelitian, hal itu disebabkan karena salah seorang dari tujuh pemimpin Bangsa Zodijak ada yang memiliki obsesi gila mempelajari tubuh manusia. Manusia-manusia malang yang dijadikan objek penelitian sudah pasti berakhir mengenaskan, dibedah tanpa ampun, disuntik berbagai macam obat, bahkan menjalani berbagai siksaan fisik yang mengerikan sebelum kemudian dibunuh.
Lebih baik Mischa mati cepat dalam percobaan melarikan diri daripada harus menjadi kelinci percobaan bagi Bangsa Zodijak.
Tubuh Mischa yang lincah berhasil meloncati sofa, hendak berlari ke arah pintu sampai sebuah tangan yang kuat menarik pinggangnya dengan kasar, menghentaknya mundur hingga menabrak tubuh keras pemilik tangan itu. Mischa mendongak, dan ketika dia menyadari sedang berada di cengkeraman siapa, menjeritlah dia, disusul dengan gerakan histeris menendang, mencakar, menyikut sekuat tenaga dalam usahanya untuk dilepaskan.
Aslan sendiri berusaha meredam gerakan histeris Mischa. Tangannya bergerak ke bibir Mischa hendak menutup mulut yang menjerit itu. Tapi tanpa diduga, Mischa menggigit tangan itu kuat-kuat hingga mengucurkan darah.
“Sial!” Aslan mengumpat kasar, lalu dengan gerakan cepat membanting tubuh Mischa di lantai dan menempatkan dirinya sendiri di atas tubuh Mischa, kakinya menahan kaki Mischa dan tangannya mencengkeram kedua tangan Mischa, mematrinya kuat di lantai hingga Mischa tidak bisa bergerak. Aslan membungkuk, mendekatkan wajahnya ke arah Mischa dengan mata hitamnya yang menyeramkan, membuat Mischa akhirnya memejamkan mata dan memalingkan wajah karena takut.
Napas Mischa terengah, hasil dari pemberontakannya yang menguras tenaga, dan makin tercekik ketika Aslan mengucapkan kalimat ancamannya yang mengerikan.
“Kalau kau terus meronta seperti ini, aku akan mematahkan tangan dan kakimu hingga kau tak bisa bergerak,” Mata Aslan mengarah ke bekas gigitan yang berdarah di tangannya. “Dan kalau kau sampai berani-beraninya menggigitku lagi, akan kurontokkan semua gigimu. Lalu kau tak akan kubiarkan mati, akan aku pastikan kau tetap hidup dan merasakan kesakitan serta penderitaan.”
Ancaman itu rupanya cukup efektif, membuat tubuh Mischa membeku kaku seolah takut bergerak.
Akrep dan yang lainnya menatap pertunjukan menarik di depan mereka tanpa kata. Dibilang menarik, karena baru kali ini mereka melihat Aslan kerepotan menangani seorang manusia perempuan. Mereka sekaligus takjub karena Aslan tidak kehabisan kesabaran lalu langsung membunuh manusia yang melawan seperti yang biasa dilakukannya.
“Apa yang dikatakan oleh Kara hanyalah dugaan, meski kupikir kemungkinan besar itu benar,” mata Akrep melirik ke bekas luka gigitan yang mengucurkan darah segar di tangan Aslan. “Tapi kita tidak akan tahu sebelum melakukan semua test yang diperlukan. Manusia perempuan itu akan dibawa untuk diteliti di laboratorium,” Ditatapnya Aslan yang sedang mencengkeram kedua tangan perempuan itu. “Berikan dia kepadaku, Aslan, Yesil akan membiusnya sesuai prosedur lab.”
“Langkahi dulu mayatku!” Aslan meraung masih dengan kemarahan yang sama. “Aku membawa perempuan itu kesini hanya untuk menunjukkan kemungkinan senjata yang dibuat oleh kaum manusia untuk melawan kita. Tapi aku tidak pernah menyerahkan buruanku kepada siapapun, tidak juga kepadamu, Akrep,” tantangnya dengan desisan mengancam, menunjukkan keseriusannya.
“Apakah kau tidak sadar bahwa membiarkan perempuan itu berada dekat denganmu, sama saja mempertaruhkan keselamatanmu sendiri?” Akrep menggeram marah melihat kekeraskepalaan Aslan. Pikirannya yang logis tidak bisa menerima kelakuan Aslan yang tampak primitif saat ini. “Kita tidak tahu apa yang bisa dilakukan manusia perempuan itu terhadapmu. Kemarin cakaran, hari ini gigitan, besok bisa saja dia membunuhmu.”
“Perempuan ini tidak akan mampu membunuhku, dia tidak sekuat itu,” Aslan bangkit, berucap dengan sombong sambil menarik Mischa yang berdiri dalam ketakutan dan terpaksa mengikuti. “Dan dia adalah budakku,” ujarnya kemudian dengan nada tak terbantahkan.
“Dia bukan budakmu,” Kara menceletuk kembali, memusatkan perhatian semua orang padanya. “Racunmu tak mempan padanya. Mungkin kalau aku yang menggigitnya, barulah dia menjadi budak yang sesungguhnya, budakku…” sambungnya menawarkan.
Mata Aslan langsung berkilat marah mendengar itu, bibirnya menipis ketika mengeluarkan kalimat ancaman.
“Sentuh dia sedikit saja maka kau akan berhadapan denganku…”
“Whoaa… Oke, Aslan… berhenti mengancam kami seperti ini,” Kaza tiba-tiba saja bergerak maju untuk membela saudara kembarnya dengan cara berdiri di antara Aslan dan Kara, melemparkan pandangan penuh peringatan kepada Kara, meminta tanpa kata supaya adik kembarnya mundur dan tidak mencoba memancing lagi kemarahan Aslan.
“Kau boleh membawa anak perempuan itu semaumu. Dia milikmu,” tambahnya.
Akrep mengerutkan kening tidak setuju meskipun dia tetap mencoba berkompromi.
“Setidaknya biarkan Yesil mengambil darahnya, Aslan,” ucapnya dengan nada persuasif. “Kalau memang dia adalah senjata untuk membunuh kaum kita, kita harus menyelidikinya.”
Aslan termenung, menunduk sedikit untuk menatap Mischa yang berdiri kaku dengan wajah pucat pasi di dekatnya. Kedua tangan manusia perempuan itu masih berada dalam cengkeramannya, dan rupanya ancamannya tadi cukup berpengaruh, karena sekarang manusia perempuan itu terdiam ketakutan dengan tubuh kaku.
Aslan lalu menganggukkan kepala, menyadari kebenaran dalam kata-kata Akrep. Didorongnya tubuh Mischa supaya duduk kembali di sofa sementara tangan besarnya mencengkeram pundak Mischa yang kurus, lalu mengedikkan dagunya ke arah Yesil.
“Ambil darahnya,” perintahnya dengan nada arogan.
Yesil yang sejak tadi bertopang dagu, tersenyum, tampak tidak terpengaruh dengan sikap arogan Aslan. Dengan tenang dia mengambil peralatan yang dibawanya.
Yesil, yang berambut warna cokelat muda, hampir sama seperti Sevgil, memang memiliki hasrat yang cukup besar untuk mempelajari tubuh manusia. Dengan kekuatannya, Yesil begitu tangguh memimpin pasukan untuk berperang, tapi ketika dia tidak sedang berperang, Yesil akan menghabiskan waktu dan seluruh perhatian di lab yang dibangun khusus untuknya, sibuk meneliti dan mempelajari mengenai tubuh manusia.
Dengan membawa peralatannya Yesil mendekat, bersikap tenang tanpa suara, lalu berlutut di depan Mischa.Ketika Mischa menunduk menatap Yesil, dilihatnya lelaki itu balas menatap, mata hitamnya berkilauan dan bibir Yesil mengurai senyum lebar dengan maksud bersikap ramah, tapi malah membuat Mischa beringsut ketakutan dengan tubuh gemetar hebat.
“Aku tidak akan menyakitimu, manusia,” Yesil bergumam tenang, suaranya terdengar lembut. “ Ini hanya akan terasa seperti sengatan kecil dan semua selesai.”
Mischa menatap alat yang dikeluarkan Yesil dari kotak yang dia bawa, sebuah tabung mini dari bahan berkilauan serupa platinum. Ingin rasanya Mischa memberontak sekuat tenaga, tapi dia merasakan cengkeraman Aslan di bahunya mengencang penuh ancaman, membuat tubuhnya kaku tak berani bergerak.
Yesil mengamati tangan Aslan di pundak Mischa, mengangkat alis sambil menahan senyum, lalu tangannya bergerak untuk mengambil tangan Mischa. Merasakan sentuhan dari salah satu makhluk buas yang merupakan musuhnya itu, Mischa langsung berjingkat, berusaha menarik tangannya dan beringsut mundur.
Seketika itu juga, cengkeraman di bahunya yang kurus mengeras, membuat Mischa meringis kesakitan.
“Diam dan berikan darahmu,” Aslan mendesis penuh ancaman, membuat gemetaran Mischa semakin hebat, tapi akhirnya dia mengulurkan tangannya ke arah Yesil, yang segera mengambil tangan Mischa dengan lembut lalu meluruskan lengan Mischa dengan telapak tangan menengadah ke atas. Dengan gerakan tak kalah lembut, Yesil menyingkap lengan pakaian Mischa yang kebesaran dan menggulungnya sampai ke atas.
“Kau membuatnya ketakutan, Aslan,” ucap Yesil pelan sementara sebelah jemarinya mengambil cairan khusus dan mengoleskannya ke bagian dalam siku Mischa.
“Dia budakku. Seorang budak sudah seharusnya takut pada tuannya,” Aslan menjawab dingin sambil melirik ke bawah, ke arah Mischa, dengan tatapan mencemooh.
“Dia bukan budakmu, racunmu tak mempan kepadanya,” Kara yang sedari tadi diam karena ditahan oleh kakak kembarnya tergelitik untuk kembali mengutarakan pendapat, tetapi mulutnya langsung menutup ketika sekali lagi Kaza yang masih berdiri di depannya melemparkan tatapan tajam memperingatkan.
“Ada tandaku di sana. Dia milikku,” Aslan menggeram dan menatap Kara dengan tajam. “Aku tahu kau suka mencicipi wanita-wanita manusia, dan yang satu ini sepertinya membuatmu tertarik. Tapi dia milikku, Kara.”
﴿﴿◌﴾﴾