
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
“Apakah kau benar-benar berpikir bahwa kita tidak perlu memberitahukan semua ini pada Kara?”
Sepeninggal Akrep, Kaza masih ada di ruang penelitian khusus Yesil yang temperatur udaranya begitu dingin hingga mungkin akan membuat manusia biasa menggigil dan membeku. Beruntung Bangsa Zodijak memiliki kulit kuat yang selain keras serta menahan terhadap benturan, pukulan atau bahkan senjata, juga bisa melindungi mereka dari suhu ektrim baik hawa panas menyengat di padang gurun maupun hawa dingin seperti di ruangan Yesil saat ini.
Ruangan Yesil memang sengaja dibuat dingin untuk menjaga temperatur tubuh-tubuh yang digunakan sebagai bahan penelitiannya, lagipula dalam kondisi dingin, kualitas sampel yang diambil oleh Yesil selalu lebih baik.
Saat ini Yesil tengah memgambil beberapa sampel sel, kulit, darah, rambut dan bagian-bagian tubuh lain dari Vladimir yang masih dibuat tak sadarkan diri sebelum kemudian bermaksud melakukan penelitian ulang yang lebih terperinci.
Mata Yesil melirik ke arah Kaza sebelum kemudian bergerak memasukkan sampel-sampel penelitiannya ke dalam kotak khusus yang dibawanya.
“Memberitahukan tentang apa? Sebuah ketidakpastian bahwa Natasha mungkin masih hidup di luar sana dan memberikan darahnya kepada manusia-manusia lain yang sedang menggalang kekuatan untuk melawan Bangsa Zodijak?” Yesil menggelengkan kepala. “Kurasa bukan ide bagus, Kaza. Kau tahu bagaimana Kara setengah gila ketika Natasha tidak memenuhi janji pertemuan mereka dan malah menghilang. Saat ini Kara sudah memaafkan Natasha atas ingkar janjinya, sekaligus dia memaafkan dirinya sendiri, bagaimana mungkin kita menumbuhkan rasa terkhianati kembali di benak Kara? Dia akan hancur seketika, dan aku tidak yakin tubuhnya yang saat ini lemah akan mampu menanggung itu semua.”
Kaza tertegun, dia memahami apa yang dimaksudkan oleh Yesil dan tahu bahwa kebijaksanaan Yesil benar adanya, tetapi tetap saja ada yang terasa mengganjal, membuatnya menyeringai dipenuhi ketidaksetujuan.
“Tapi Kara harus tahu bahwa Natasha mengkhianatinya, bahwa dia memanfaatkan cinta dan kebaikan Kara untuk tujuan tersembunyi, menikam Kara dari belakang, menikam kita semua.”
Yesil menghela napas panjang. “Akan ada waktunya bagi Kara untuk tahu, tapi bukan sekarang,“ Yesil lalu melirik ke arah Kaza dan mengangkat alis. “Sekarang bagaimana kalau kau memikirkan dirimu sendiri? Kau telah mengetahui bahwa keberadaan Mischa dan juga Sasha sekarang terancam. Kelompok manusia yang menggalang kekuatan untuk melawan kita sekarang sedang mengincar manusia-manusia perempuan seperti Mischa dan Sasha karena darah mereka dianggap bisa memberikan kekuatan. Jika para manusia itu mengetahui bahwa kita menyimpan manusia perempuan itu di sini, mereka akan menggunakan berbagai macam cara untuk mendapatkan Mischa serta Sasha. Aku berpikir bahwa pertahanan kita sangat kuat, jauh di atas kemampuan mereka, tetapi tetap saja, tidak ada sesuatu yang mustahil, bukan?”
Yesil menatap Kaza penuh arti. “Mischa sudah memiliki Aslan untuk melindunginya, sedang Sasha… apakah kau akan melindunginya?”
Ekspresi Kaza berubah jengkel ketika lelaki itu melebarkan mata dan menatap Yesil seolah saudaranya itu sudah gila.
“Apa hubunganku dengan Sasha? Kenapa aku harus membuang-buang tenagaku hanya untuk melindungi seorang manusia? Kau pikir aku sudi merendahkan diriku sampai seperti itu?” bentaknya kasar.
Yesil mengangkat bahu seolah tak terpengaruh dengan bentakan Kaza.
“Aku hanya berpikir ketika suatu saat nanti Sasha berhasil melarikan diri, atau dia direnggut dari kita untuk kemudian dijadikan pemasok darah sebagai sumber kekuatan kaum manusia… apakah kau akan membiarkannya?” tatapan mata Yesil berubah menyelidik, mempelajari Kaza seolah ingin menembus kedalaman hatinya.
Sejenak Kaza tertegun, seolah-olah kata-kata Yesil yang digambarkan secara nyata itu tergambar jelas di depannya.
Membayangkan Sasha yang begitu mungil, masih anak-anak diambil paksa dan disedot darahnya hanya untuk suplai kekuatan makhluk rendah seperti manusia yang memilliki mimpi bodoh untuk melawan Bangsa Zodijak membuat Kaza menggertakkan gigi marah.
“Mereka tidak akan mendapatkan suplai apapun untuk kekuatan. Aku akan melawan mereka bukan hanya demi Sasha, tetapi juga untuk menggagalkan mereka mendapatkan kekuatan,” Kaza mendesis, berusaha menyangkal pergolakan yang muncul di dalam benaknya, pergolakan untuk melindungi anak manusia yang tak berdaya dengan seluruh kekuatan.
Mata Kaza lalu menyipit, menatap Yesil dengan pandangan mengancam berbahaya. “Kenapa kau memancingku, Yesil? Apakah karena aku dan Kara adalah saudara kembar… kau mengira bahwa aku akan berakhir sama seperti Kara? Jatuh ke dalam cinta buta terhadap manusia rendahan dan berakhir menjadi lemah serta hancur?” Kaza mengepalkan kedua tangannya. “Aku tidak akan berakhir seperti Kara, tidak akan! Melihat Kara jadi seperti itu membuatku belajar untuk membentengi diriku dari kekuatan misterius apapun yang digunakan oleh anak kecil itu untuk melemahkanku, aku tidak akan kalah!”
“Kau bisa mengatakan apapun, Kaza. Tetapi aku tahu apa yang terjadi ketika kau berhadapan dengan Sasha, kau takut tidak bisa menahan dirimu dan pada akhirnya lari terbirit-birit ketakutan, bukan?” Yesil langsung bertanya dengan telak menanggapi perkataan Kaza yang penuh tuduhan.
Pipi Kaza langsung merona, seolah malu. Lelaki itu melangkah mundur dan menghindari tatapan tajam Yesil.
Yesil menganggukkan kepala. “Yah, lagipula kau tidak akan menghadapi anak itu lagi.” ujarnya perlahan seolah tak peduli.
Ekspresi Kaza langsung berubah bingung. “Apa maksudmu?” tanyanya dalam desisan mendesak.
Sekali lagi Yesil tampak menahan senyum, tetapi lelaki itu menjaga supaya Kaza tidak melihatnya.
“Aslan memerintahkanku untuk mengembalikan Sasha di bawah kuasanya. Dia membutuhkan Sasha untuk menjaga supaya Mischa tidak melarikan diri lagi.” mata gelap Yesil mengamati Kaza, membaca reaksinya. “Kau tentu ingat tentang gelang kaki peledak yang bisa meledak kapan saja kalau sampai Mischa melanggar batas yang telah ditetapkan oleh Aslan, bukan? Untuk memastikan gelang itu tetap berfungsi, Sasha harus tetap berada di area Aslan.”
Ekspresi Kaza berubah panik. “Aslan akan mengambilnya? Mengambil Sasha?” ujarnya perlahan, seolah berbicara kepada dirinya sendiri.
“Yah. Saat ini Kara sedang berpamitan dengannya, dalam kesedihan tentu saja, karena begitu Sasha berada di bawah kuasa Aslan, kita semua, bahkan aku sekalipun tidak akan memperoleh izin untuk melihatnya lagi. Aslan berkata bahwa mengingat perkembangan sekarang dengan dugaan bahwa musuh kita mengincar darah Mischa juga Sasha, maka Sasha akan dipindahkan ke area lingkar dalam milik Aslan, penjara khusus yang ditangani oleh Aslan sendiri dengan penjagaan sangat ketat. Hanya bisa dibuka dan diakses oleh Aslan sendiri, jadi kita tidak akan pernah bisa memasuki area itu kecuali datang bersama Aslan dan kau tahu sendiri bagaimana dia, dia tidak akan mengizinkan kita berkunjung satu kali pun.” Yesil tersenyum miring, “Tapi itu semua tidak masalah, toh kau mengatakan tidak ingin melihat Sasha lagi, bukan? Mungkin Kara yang akan cukup sedih.”
Kaza tertegun, seolah-olah kehabisan kata-kata, kepalanya tertunduk seolah berpikir keras dan ketika mengangkatnya lagi, wajahnya tampak sedikit pucat.
“Kau bilang Sasha saat ini sedang bersama Kara?” desisnya perlahan.
Yesil menganggukkan kepala. “Mereka sedang berpamitan. Sebentar lagi prajurit Aslan akan menjemput Sasha dan membawa anak itu pergi.”
Kaza menggertakkan gigi. “Aku tidak akan membiarkannya!” geramnya kemudian.Kata-kata Kaza membuat Yesil mengangkat alis seolah mengejek. “Kau bilang kau tidak peduli, Kaza,” ujarnya mengingatkan.
Sekali lagi Kaza tertegun, seolah kehabisan kata-kata, dia lalu mengerutkan kening seolah bingung.
“Aku memang tidak peduli. Hanya saja, lebih baik anak itu berada di bawah pengawasanmu, pengawasan aku dan Kara daripada di bawah Aslan. Seharusnya kita berbagi tugas, Aslan sudah disibukkan menjaga Mischa jadi kita bisa mengusulkan supaya dia fokus dengan apa yang dilakukannya dan kita akan menangani yang lain, bukankah pemikiranku benar?” jawab Kaza kemudian.
Yesil tampak berpikir dengan ekspresi serius, lalu setelah keheningan yang menyiksa akhirnya lelaki itu menganggukkan kepala.
“Kau benar juga. Aku akan membicarakan ini dengan Aslan nanti. Akan kuminta penundaan penjemputan Sasha dan mengatakan apa yang kau katakan kepadaku supaya Aslan bisa mengerti.”
Kelegaan tampak memenuhi wajah Kaza, tetapi hanya sekejap sebelum kemudian lelaki itu menatap Yesil dengan pandangan datar seperti biasa.
“Aku harus ke ruang pertemuan. Akrep mengatakan kita harus berkumpul di sana,” gumamnya kemudian.
“Pergilah dahulu,” Yesil menganggukkan kepala. “Aku akan menyusul sebentar lagi setelah membereskan ini,” dengan isyarat tangan, Yesil menunjuk ke arah sampel tubuh Vladimir yang dibawanya.
Kaza langsung membalikkan badan dan meninggalkan ruangan tanpa suara sementara Yesil menatap kepergian Kaza yang menghilang di balik pintu dan melepaskan senyum lebar yang tadi ditahannya setelah Kaza benar-benar menghilang.
Aslan tidak pernah mengirimkan prajuritnya untuk menjemput Sasha saat ini, bahkan Yesil berpikir bahwa Aslan terlalu sibuk dengan Mischa hingga melupakan keberadaan Sasha yang masih berada di area Yesil.
Apa yang dikatakan oleh Yesil tadi adalah kebohongan. Kebohongan yang sengaja dikatakannya kepada Kaza untuk menguji reaksi Kaza terhadap Sasha.
Dan sekarang Yesil sudah mendapatkan jawaban. Bahwa meskipun menolak sekuat tenaga, Kaza tidak akan bisa melepaskan diri dari Sasha.
Perempuan-perempuan istimewa itu berdatangan ke dalam kehidupan mereka lalu menarik pasangannya dengan cara yang sangat misterius dan sepertinya mereka semua tidak ditakdirkan untuk bisa menghindar ataupun lari.
Darah perempuan-perempuan manusia yang unik itu bisa berubah menjadi air suci Zodijak ketika bertemu dengan air suci Zodijak yang asli, seolah-olah tubuh manusia-manusia perempuan itu bukanlah sama seperti tubuh manusia biasa melainkan layaknya wadah yang dirancang khusus untuk menghasilkan dan menampung air suci Zodijak.
Kenapa hal itu bisa terjadi? Siapa yang berada di balik ini semua? Apa tujuannya?
Pertanyaan itu menggelitik benak Yesil, membuatnya terdorong semakin kuat untuk menemukan jawaban atas misteri ini.