Inevitable War

Inevitable War
Episode 44 : Penyembuhan impulsif



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira



“Sepertinya kita salah duga selama ini,”


Yesil langsung berucap setelah berjam-jam dia melakukan observasi, menatap ke arah Aslan yang berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di ruang penelitian Yesil dengan frustasi.


Yesil benar-benar tegas menyangkut proses pemeriksaan yang dilakukannya, dia bahkan melarang Aslan untuk melihat Mischa, mengusir Aslan supaya jauh-jauh dari ruang pemeriksaaan dan menyuruhnya menunggu sendirian dengan tidak sabar di ruang penelitian.


Setelah berjam-jam dilalui dengan frustasi, tak tahu harus melakukan apa dalam ketidak pastian, Aslan sudah hampir-hampir mendobrak pintu ruang perawatan dan memaksa masuk, beruntung kemudian Yesil muncul dan membuat Aslan mengurungkan niatnya. Ekspresi Yesil sendiri tampak lelah sementara seolah ada kecemasan yang menggayut di benaknya, membuat Aslan ikut merasa cemas entah karena apa.


“Salah dalam hal apa?” Aslan menyipitkan mata, menatap Yesil tak sabar.“Kita harus menemui Akrep,” Yesil menatap Aslan sejenak sebelum memutuskan.


Ekspresi Aslan langsung menggelap, matanya melirik ke belakang punggung Yesil, tempat pintu tertutup dimana ada lorong panjang di baliknya yang menghubungkan dengan ruang perawatan tempat Mischa berada.


“Apakah Mischa sudah sadar?” Aslan seolah tidak memedulikan perkataan Yesil dan bertanya dengan tajam.


Yesil mengikuti arah lirikan Aslan dan menjawab dengan hati-hati.


“Dia masih belum sadar, kita harus ke ruang pertemuan dan membicarakan ini dengan Akrep,” ada penekanan di suara Yesil ketika melanjutkan kata-katanya.


“Kenapa kau tidak bisa berbicara di sini saja denganku? Kenapa harus dengan Akrep?” Aslan menyela, suaranya meninggi sementara ekspresinya mengeras.


“Karena Akrep harus tahu, dia mempelajari tentang mitologi Bangsa Zodijak dan sangat ahli dengan sejarah asal usul kita. Mungkin dia tahu sesuatu, karena itu kita harus menemui Akrep untuk mencari tahu,” Yesil berkata perlahan, berusaha membuat Aslan mengerti dan juga berusaha tidak memancing kemarahan saudaranya yang berkepala panas itu.


Aslan mengangkat alis, tetapi rasa penasaran mengalahkan kemarahannya, dia lalu menghela napas panjang dan menganggukkan kepala perlahan.


“Panggil saja Akrep kemari. Aku tidak mau meninggalkan tempat ini,” ucapnya dengan nada tak terbantahkan sambil sekali lagi melirik ke belakang Yesil, ke arah tempat Mischa dirawat.


Yesil menatap Aslan, menyadari bahwa tidak ada gunanya memaksakan kehendak pada Aslan, pada akhirnya Yesil mengalah dan memanggil Akrep sesuai kemauan Aslan.


 


 



 


“Sekarat?”Aslan hampir berteriak sementara wajahnya memucat, keterkejutan tampak memenuhi seluruh dirinya tanpa bisa ditahan.


Ekspresi yang sama muncul di wajah Akrep, tetapi lelaki itu lebih mampu menahan diri dan memilih tidak berkata-kata.


“Dia tampak baik-baik saja sampai saat ini, bagaimana mungkin Mischa sekarat?” Aslan bertanya lagi, menatap Yesil seolah-olah akan menyerangnya, tangannya bahkan mengepal dan siap memukul kalau sampai Yesil berani mempermainkannya.


“Ketika aku memeriksa darah Mischa pertama kali, darah yang berubah menjadi air,” Yesil menghentikan perkataannya, memastikan bahwa Akrep dan Aslan mengingatnya. “Aku tidak menemukan jejak penyakit di dalamnya, dan itu semua karena Aslan baru saja menggigit Mischa,”


“Jangan berputar-putar, Yesil!” Aslan meraung kasar. “Langsung saja ke inti masalah!” teriaknya.


Akrep menyentuhkan tangannya ke lengan Aslan, memberikan tatapan penuh peringatan.


“Tenang, Aslan,” ujarnya datar. “Yesil tidak akan bisa menyelesaikan penjelasannya kalau kau terus menyelanya dengan tidak sabaran.”


Aslan termenung, matanya masih membara, tetapi lelaki itu sepertinya menyadari kebenaran kata-kata Akrep, dia lalu menganggukkan kepala dan memundurkan tubuh untuk bersandar di dinding, berusaha menahan diri meskipun seluruh tubuhnya menegang.


“Mischa menderita suatu penyakit. Manusia di bumi mungkin menyebutnya dengan autoimun, dimana sistem imun di tubuhnya yang seharusnya bertugas melawan virus, bakteri dan penyakit asing yang menyerang tubuh, malahan kehilangan orientasi dan memilih bergerak menyerang dirinya sendiri. Aku juga menemukan bahwa penyakit autoimun Mischa jauh lebih agresif dari yang bisa diderita oleh manusia bumi, seolah-olah sistem imunnya menganggap bahwa tubuhnya sendiri adalah sesuatu yang asing sehingga menyerang diri sendiri dengan sekuat tenaga dan membabi buta. Seluruh organ dalamnya menjadi korban, sistem imunnya menyerang semua yang bisa diserang tanpa kecuali. Dan dia tidak mendapatkan obat yang tepat selama ini… yah kau tahu di tengah perang seperti ini mustahil mendapatkan obat yang tepat. Penyakit itulah yang membuatnya benar-benar sekarat dan hanya menunggu waktu untuk mati. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana Mischa bisa bertahan selama ini, dia pasti berjuang sangat keras untuk bertahan hidup. Hanya saja, ketika bertemu denganmu, sepertinya ada perubahan pada kondisi Mischa…” Yesil menatap ke arah Aslan. “Kau tentu tahu bahwa bangsa Zodijak memiliki kekuatan yang disebabkan oleh kandungan mucisevi  di dalam darah kita, jika seorang Bangsa Zodijak menjalin ikatan kontrak pernikahan dengan pasangannya, mereka akan saling menyalurkan kekuatan satu sama lain, bertukar mucisevi. Dan aku baru menemukannya dari penelitianku terhadapmu, Aslan dan terhadap Mischa, bahwa jika Bangsa Zodijak melakukan kontrak pernikahan dengan yang bukan dari kalangan kita, dengan manusia misalnya, maka Bangsa Zodijak akan tetap mengalirkan mucisevi  melalui ritual panen.”


“Apakah maksudmu…maksudmu aku…” suara Aslan menghilang, mulai memahami penjelasan Yesil.“Ya, Aslan. Melalui ritual perkawinan kau menyalurkan kekuatanmu untuk menyembuhkan pasanganmu, membuatnya menjadi sama sepertimu. Begitu kau memanen Mischa, maka perempuan itu mengalami perlambatan usia seperti bangsa kita…. setiap gigitan, setiap proses panen, setiap kau memberikan benihmu kepadanya, itu tidak hanya menunjukkan klaim kepemilikanmu kepadanya, itu juga menjaga supaya Mischa tetap kuat untuk melawan penyakitnya dan sedikit demi sedikit menyembuhkan perempuan itu.” Yesil menganggukkan kepala ketika Aslan menatapnya dengan tatapan tidak percaya dan melanjutkan, “Kurasa, keinginanmu untuk terus menerus menyentuh Mischa dan memanennya, itu semua bukan hanya karena kau ingin bereproduksi dengan Mischa, itu semua karena tubuhmu sedang berusaha keras untuk menyembuhkan pasanganmu yang sedang sakit, menyembuhkan Mischa.”


“Aku berusaha menyembuhkan Mischa yang sekarat?” Aslan menyeringai, ada penyangkalan yang kental di wajahnya. “Bagaimana mungkin? Manusia perempuan itu tidak berarti bagiku, apalagi dia sekarat, kalau dia mati mungkin hidupku lebih mudah.”


Akrep mendengus mendengar perkataan Aslan, membuat Aslan menolehkan kepala, menatap saudaranya itu dengan tatapan membunuh.


“Apakah kau tidak setuju denganku, Akrep? Apakah kau sedang mencoba menertawakanku?” geramnya.


Akrep memiringkan kepala, menatap Aslan dengan penuh penilaian, tidak membantah ataupun setuju.


“Aslan,” ucapnya kemudian dengan nada bijaksana. “Kau bisa berkata semaumu, kau bisa menyangkal semaumu, tapi tubuhmu tidak bisa berbohong, tingkah lakumu yang tidak bisa melepaskan diri dari Mischa sudah menunjukkan semuanya. Tubuhmu tidak mau kehilangan pasangannya, karena itulah kau selalu tergerak untuk menyentuh Mischa, supaya bisa menyembuhkannya,” Akrep mengangkat sebelah alisnya, menatap Aslan dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. “Kenapa tidak kau tanyakan kepada dirimu sendiri saja, Aslan? Bagaimana perasaanmu kalau manusia perempuan itu mati dan keberadaannya tidak ada lagi di dunia ini?”


Pertanyaan itu menohok hingga membuat dada Aslan terasa sakit. Bayangan bahwa dia akan kehilangan pasangannya membuat jiwanya meraung marah sekaligus pedih. Aslan tidak pernah merasakan ini sebelumnya, tidak pernah! Dia tidak pernah merasa takut kehilangan apapun, sampai sekarang.Suara Aslan yang menghilang dan ketidakmampuannya untuk menyahuti pertanyaan Akrep tentu saja sudah menjawab semuanya.


Akrep langsung melemparkan tatapan ke arah Yesil dengan penuh rasa ingin tahu.


“Ini sungguh menarik bagiku,” ujarnya perlahan, memastikan dirinya mendapatkan perhatian Yesil dan Aslan. “Aku mulai mempelajari lagi dengan lebih dalam mitologi Bangsa Zodijak setelah kedatangan Mischa. Yah, aku tahu Kara mengalami hal yang hampir sama dengan Natasha, tetapi Kara tidak pernah menggigit Natasa dan saling meninggalkan tanda hingga kita semua pasti mengira bahwa efek di antara mereka berdua hanyalah hubungan sepasang kekasih berbeda jenis saja. Bahkan meskipun menangani Natasha, kau tidak pernah memiliki keinginan untuk mengambil sampel darah Natasha dan menelitinya, bukan?”


Yesil menganggukkan kepala mendengar pertanyaan itu. “Aku selalu menduga mereka sepasang kekasih biasa. Tidak ada pengaruh fisik yang muncul selain perkara hati, jadi aku tidak menduganya. Aku hanya mengira Kara tergila-gila pada Natasha karena manusia perempuan itu berbeda dengan wanita-wanita Zodijak, dan kita tahu sendiri bahwa Kara menyukai manusia perempuan, dia menyukai makhluk-makhluk yang lembut seperti mereka,”


Yesil melirik ke arah Aslan, melihat bahwa Aslan langsung menyembunyikan persetujuannnya akan selera Kara terhadap manusia perempuan. Yesil lalu melanjutkan.


“Kau berbeda, Aslan… kau menggigit Mischa dan kita semua terkejut karena Mischa sama sekali tidak berubah menjadi budakmu, itulah yang mendorongku untuk menelitinya sehingga kita menemukan hal-hal yang mengejutkan setelahnya, sampai dengan saat ini.”


“Benar,” Akrep menyahut dengan nada setuju. “Dan setelahnya aku semakin tertarik mempelajari mitologi bangsa kita dengan lebih mendalam. Kau tahu, bukan? Bahwa ada dua belas zodiak rasi bintang di planet kita dan ternyata juga dikenal di planet bumi, aku menemukannya berdasarkan penelitian yang aku lakukan. Lambang-lambang yang manusia bumi gunakan hampir sama dengan kita, bahkan beberapa perwakilan-perwakilan rasi bintang dalam wujud binatang juga sama dengan bangsa kita, mengingat binatang-binatang yang ada di planet Zodijak sebagian besar hampir sama dengan binatang yang ada di planet Bumi. Itu semua karena struktur dan kondisi Planet Zodijak hampir sama dengan Planet Bumi. Makhluk planet Zodijak dan makhluk Planet Bumi memiliki kemiripan fisik yang hampir sama, bahkan sama-sama membutuhkan air untuk bertahan hidup,”


Akrep menatap kedua saudaranya. “Dan kalian juga pasti tahu bahwa rasi bintang yang ada di Bangsa Zodijak saat ini tidak lengkap lagi seperti awal sejarah munculnya Bangsa Zodijak. Ada yang hilang dan semakin lama, di setiap kelahiran, kita hampir-hampir tidak menemukannya lagi di tiap kelahiran penduduk Zodijak. Sampai kemudian benar-benar menghilang dan punah hingga hanya ada enam rasi bintang yang tersisa hidup di planet kita. Padahal dari penelitianku tentang mitologi dan literatur-literatur lama, dahulu kala kedua belas rasi bintang ini lengkap, hidup dan tumbuh di bangsa Zodijak.”


“Rasi bintang yang masih ada sampai sekarang adalah rasi bintang yang diwakili oleh kita semua, Aslan dengan Leo, Akrep dengan Taurus, Khar dengan Scorpio, Sevgil dengan Aries, Yesil dengan Sagitarius serta Kara dan Kaza dengan Gemini… dan semua manusia Zodijak yang memiliki rasi bintang yang sama dengan kita otomatis akan menjadi anak buah dan prajurit kita sesuai dengan rasi bintang masing-masing,” Yesil menyambung perkataan Akrep sambil melirik ke arah Aslan yang hanya terdiam mendengarkan. “Dan pemilik rasi bintang Leo di Bangsa Zodijak-lah yang paling banyak, hal itu membuat Aslan memiliki pasukan dalam jumlah paling besar di antara kita semua.”


Akrep menganggukkan kepala, lalu menyahuti lagi perkataan Yesil. “Jadi, rasi bintang yang punah dari bangsa kita adalah Aquarius, Capricorn, Cancer, Virgo, Pisces dan Libra. Rasi bintang Aquarius sudah diwakili oleh Mischa.”


“Natasha memiliki rasi bintang Pisces… Tergambar sebagai dua ekor ikan kembar yang saling berlawanan arah, menunjukkan dua entitas kembar yang berbeda,” Yesil berdehem. “Dan aku menduga bahwa adik angkat Mischa… sudah pasti memiliki rasi bintang yang sama, Pisces juga.”


“Apa maksudmu?” Akrep langsung menyahut tertarik.


Yesil menatap Akrep dan Aslan berganti-ganti, lalu berdehem lagi seolah merasa bersalah.


“Aku belum menceritakannya kepada kalian dan saudara-saudara kita yang lain karena aku berpikir bahwa Kaza butuh waktu,” Yesil berusaha menyusun kata-kata supaya Aslan tidak tahu bahwa Kaza telah menyelinap melangkahi teritorial Aslan dan mencoba menemui Sasha tanpa seizinnya. Aslan akan murka jika tahu, padahal saat ini Aslan masih marah besar kepada Kaza atas apa yang dilakukannya terhadap Mischa dan Yesil tidak mau memperburuk keadaan. “Aku tidak perlu menjelaskan secara terperinci, tetapi Kaza merasakan hal yang sama, seperti yang dirasakan oleh Kara kepada Natasha, seperti yang dirasakan oleh Aslan kepada Mischa, keterikatan yang aneh kepada manusia perempuan.”