Inevitable War

Inevitable War
Episode 97: Membuka Rahasia



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 


 



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17**PART BONUS**yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )




Setelah mengucapkan kalimat itu, Aslan menutup lemari makanan tersebut, lalu membalikkan badan menghadap Mischa sambil setengah berkacak pinggang seolah menunggu sesuatu.


Dan Mischa tahu Aslan yang pongah sedang menunggu ucapan terima kasih Mischa atas apa yang dia kira sebagai kebaikan hatinya.


“Terima kasih,” Mischa mendesiskan ucapan terima kasihnya itu dengan terpaksa hanya supaya Aslan menuntaskan maksudnya dan segera meninggalkan dirinya sendirian.


Aslan mengangkat alis karena ketidaktulusan dalam suara Mischa sangat jelas terdengar, tetapi akhirnya lelaki itu mengangkat bahu seolah tak peduli.


“Uruslah dirimu sendiri dengan baik. Aku ingin melihat kau baik-baik saja ketika aku kembali nanti.” ucapnya  tenang kemudian, bergerak melangkah ke pintu.


“Kau akan pergi berperang?” akhirnya Mischa menanyakan keingintahuannya, sekaligus menyiratkan kebingungannya karena seharusnya tak ada lagi musuh yang bisa dihadapi.


Penampilan Aslan bukanlah penampilannya yang biasa untuk pergi memburu Kaum Penyelinap hanya untuk bersenang-senang mengingat lelaki membawa senjata berat di punggungnya, belum lagi dengan senjata-senjata lain yang terselip di dada, pinggul bahkan pahanya.


Aslan menganggukkan kepala dengan dingin, memilih menjawab keingintahuan Mischa dengan kalimat mengambang.


“Ada musuh yang pengecut dan menyembunyikan diri di balik bayang-bayang,” ujarnya singkat, lalu membalikkan badan dan hendak pergi tanpa permisi.


“Aslan,”Suara panggilan Mischa membuat Aslan menolehkan kepala, menatap Mischa sambil mengangkat alis karena tidak biasanya perempuan itu menahan kepergiannya.


“Ada apa?” tanya Aslan kemudian dengan nada tidak sabar ketika melihat Mischa tampak gugup bahkan setengah takut dengan tangan terjalin yang saling meremas.


Mischa tampak menelan ludah, lalu bertanya. “Aku tahu bahwa Wanita Zodijak bisa melahirkan sampai belasan anak,” kengerian merayapi ekspresi Mischa, membuatnya pucat pasi, “Apakah… apakah kau tahu berapa anak yang berada di dalam kandunganku?” tanyanya kemudian dengan suara tersekat, merendahkan diri untuk bertanya karena dia tahu hanya Aslan yang bisa menjawabnya.


Aslan mengarahkan pandanganya ke perut Mischa, lalu tatapan mata gelapnya kembali ke mata Mischa yang masih basah oleh air mata.


“Yesil belum memutuskan karena kandunganmu belum cukup besar. Tapi kita akan segera tahu nanti,” jawabnya singkat sebelum kemudian bergegas pergi, meninggalkan Mischa dengan tanda tanya besar yang menyesakkan dan melingkupinya tanpa ampun.


 



 


Yesil yang kembali ke dalam ruangan pendingin tempat Vladimir ditempatkan langsung bertatapan dengan Kara yang masih menunggu di dalam sana dengan penuh rasa ingin tahu.


Hawa sedingin es yang melingkupi ruangan itu tampaknya sama sekali tidak memengaruhi Kara, karena lelaki itu masih tampak berapi-api, seolah tidak sabar menunggu kabar dari Yesil.


Tetapi tentu saja Kara tidak membiarkan Yesil menghindar, dia menyipitkan mata dan menggeram.


“Itu bisa kita lakukan nanti, Yesil. Sekarang jawab pertanyaanku, apakah Mischa hamil?” kejarnya tak sabar dengan nada mengintimidasi. Ketika melihat Yesil membalikkan badan, suara Kara terdengar membentak mencari perhatian. “Jangan menghindariku, Yesil! Aku akan mengejarmu bahkan jika itu melukai diriku sendiri,” sambungnya penuh ancaman.


Hal itu membuat Yesil menghela napas panjang, lalu membalikkan tubuh kembali menghadap Kara yang keras kepala.


“Aku memilih tidak memberitahumu karena tidak ingin menyakitimu. Tapi, ya. Jika kau memaksa, Ya, Mischa memang hamil, dia sedang mengandung anak Aslan.”


Jawaban yang diberikan oleh Yesil dengan suara lantang tersebut membuat Kara terperangah. Yah, meskipun ketika dia ditinggalkan sendirian dia sudah menduga pemikiran itu dengan jelas di kepalanya, tetap saja ketika hal itu diucapkan dan di benarkan di depan matanya, logika Kara masih tidak bisa menerimanya.


“Hamil…?” Kara meremas rambutnya seolah frustasi. “Apakah memang seorang manusia perempuan yang istimewa seperti Mischa bisa mengandung anak dari lelaki Zodijak?” Kara mengusap wajahnya seolah kebingungan. “Tetapi aku… aku juga memanen Natasha dalam waktu panjang ketika kami bersama, tetapi dia tidak hamil…kenapa bisa berbeda?”


Kebingungan Kara yang nyata membuat Yesil mengerutkan kening. Dirinya menimbang-nimbang, cukup lama, tetapi aura putus asa dan kebingungan Kara terlalu menguar di udara, menekan dan menyesakkan dada hingga akhirnya Yesil memutuskan bahwa mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk mengatakan kenyataan sesungguhnya pada Kara.


“Natasha pernah hamil, Kara,” ucapnya kemudian, dengan nada pelan berhati-hati.


Perkataan Yesil tersebut langsung membuat Kara mendongakkan kepala, matanya menatap Yesil tak percaya, tetapi ketika melihat serta meyakini bahwa Yesil tidak sedang berbohong ataupun bercanda, Kara langsung membeku sementara ekspresinya begitu rapuh, seolah-oleh dirinya adalah sebuah cermin yang menanti waktu sekejap untuk retak dan hancur berkeping-keping,


“Apa?” tanyanya dengan nada shock luar biasa.


 



 


Aslan mendaratkan pesawatnya di tengah gurun pasir dalam kesenyapan yang menjadi ciri khas Bangsa Zodijak, dia lalu memasang tabut kamuflase yang membuat pesawatnya hilang tak kasat mata seperti  yang dilakukan oleh pasukannya yang lain.


Mereka berada di atas puncak bukit, mengepung kawasan yang ditunjukkan oleh Khar dan Sevgil sebagai tempat perlindungan Kaum Penyelinap yang saat ini telah mendapatkan invasi dari Kaum Bawah Tanah nan misterius.


Ketika mereka bisa mengawasi, maka mereka akan mengawasi dan membiarkan Khar serta Sevgil menjalankan tugasnya untuk mengumpulkan informasi. Tetapi ketika keadaan tidak memungkinkan, Aslan sudah pasti akan memerintahkan penyerangan untuk mendapatkan saksi hidup yang bisa membantu mereka memetakan siapa musuh mereka sebenarnya.


Aslan melangkah mendekat tanpa suara ke arah Akrep yang masih mengintai bersama pasukannya yang lain, lalu menggumamkan kalimat untuk menarik perhatian Akrep.


Akrep sedang memejamkan mata, dia sedang memerhatikan situasi dari dalam otak Sevgil, membuatnya bisa melihat apa yang dilihat oleh Sevgil dengan jelas.


Saat ini Kaum Penyelinap menunjukkan ketidakmampuannya bersembunyi karena keberadaan mereka terendus oleh Kaum Bawah Tanah yang datang dengan helikopternya yang berisik. Akrep telah melihat helikopter itu diparkir di bawah reruntuhan untuk menyembunyikannya di bawah bayang-bayang, menunjukkan bahwa Kaum Bawah Tanah tidak memiliki teknologi kamuflase secanggih yang dimiliki oleh Bangsa Zodijak.


Helikopter itu model lama, tetapi telah dimodifikasi dengan teknologi yang anehnya cukup modern, kekurangannya memang hanya ada pada suaranya yang cukup berisik dan permasalahan itu disebabkan oleh bahan bakar yang kotor, menunjukkan bahwa mereka hanya memiliki bahan bakar sisa yang tidak diolah lagi demi menjalankan helikopter tersebut.


Meskipun jauh di bawah Bangsa Zodijak, teknologi mereka yang cukup maju tetap saja mengejutkan, apalagi jika benar seluruh teknologi itu dibangun di bawah tanah.


Sebenarnya siapa musuh mereka ini? Kenapa mereka sama sekali tidak menyadarinya sampai dengan saat ini?


“Mereka menyuruh seluruh Kaum Penyelinap yang ada di koloni itu untuk berbaris, lalu memeriksa satu-satu kaum laki-lakinya, yang sehat langsung dipisahkan dari yang lemah,” Akrep membuka mata untuk menjelaskan kepada Aslan. “Sementara itu mereka juga menyuntikkan cairan biru ke tubuh perempuan-perempuan yang ada di kelompok itu.”


“Air suci Zodijak?” Aslan bertanya, menebak dengan tepat karena Akrep langsung menganggukkan kepala.


“Air suci Zodijak,” Akrep mengulang untuk membenarkan. “Dalam jumlah kecil. Sepertinya diambil dari tubuh Natasha,” simpulnya dengan nada yakin.


“Itu berarti mereka sedang berusaha mencari reaksi seperti yang terjadi pada Mischa,” sekali lagi Aslan menyimpulkan dengan benar. “Aku menduga mereka mencari perempuan-perempuan seperti Natasha dan Mischa untuk memasok energi mereka. Mereka menggunakan air suci Zodijak sebagai cairan khusus untuk menambah kekuatan, mengubah mereka menjadi mutan, sama seperti Vladimir dan pasukannya yang aku temui ketika itu. Mereka juga mencari kaum laki-laki yang sehat untuk menambah pasukan yang bisa disuntikkan air suci Zodijak.”


“Sepertinya kau benar,” Akrep memejamkan lagi, dia melihat salah satu Kaum Bawah tanah yang memakai tudung hitam dan penutup wajah itu datang mendekati Khar yang berdiri di antara kaum laki-laki manusia, menanti giliran untuk diperiksa.


Sepertinya penampilan Khar yang segar menarik perhatian mereka sehingga salah satu anggota pasukan itu memutuskan memeriksa Khar terlebih dahulu.


Tak lama kemudian Akrep membuka mata, menolehkan kepalanya ke arah Aslan dengan waspada.


“Mereka bukan sekumpulan orang bodoh,” ujarnya cepat. “Mereka menyadari bahwa Khar adalah Bangsa Zodijak. Apa yang harus kita lakukan, Aslan? Apa perintahmu?” tanyanya dengan nada mendesak.