Inevitable War

Inevitable War
Episode 53 : Tujuan Aslan



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


 



Sepanjang penerbangan Mischa berdiam diri, lagipula karena Aslan menjalankan pesawatnya dengan amat kencang hingga membuat pemandangan di sekeliling mereka hanya berupa garis-garis warna warni yang tak bisa ditelaah membuat Mischa selalu menahan rasa ingin muntah setiap dirinya membuka mulut.


Mischa tidak mau sampai muntah dan dipermalukan oleh Aslan, karena itulah dia menutup mulut rapat-rapat, memejamkan mata dan berusaha memikirkan hal-hal lain supaya dorongan untuk muntah itu menghilang.


Baru setelah kecepatan pesawat itu berkurang dan membuat badan pesawat itu seolah-olah melayang-layang di udara, Mischa bisa menghela napas lega. Matanya membuka dan langsung menatap sedih ke arah puing-puing bangunan mengiris hati yang terpampang luas di hampir seluruh daratan, sejauh mata memandang.


Karena kecepatan pesawat yang rendah, kehancuran kota yang ditinggalkan ini tampak jelas jika dilihat dari atas, membuat Mischa ingin menangis, menangisi nasib kaum manusia yang terkalahkan di rumah mereka sendiri dan merelakan tanahnya dihancurkan oleh makhluk planet lain yang memporak-porandakan bumi dengan tujuan untuk mengambil alih.


Aslan yang duduk di sebelahnya dan sedang mengendalikan pesawat juga tampaknya sedang tidak ingin memulai percakapan apapun, lelaki itu benar-benar diam dan berkonsentrasi menerbangkan pesawatnya.


Baru setelah Aslan mengarahkan pesawatnya ke padang pasir yang berdekatan dengan basis kaum penyelinap, Mischa menolehkan kepala dan memecah keheningan dengan nada ketakutan,


“Kau… kau tidak sedang membawaku ikut dalam perburuanmu untuk membantai kaum penyelinap, bukan?” bisiknya parau dengan wajah pucat karena ngeri atas pemikiran yang tiba-tiba menusuk ke dalam kalbunya.


 



 


Yang dilakukan Aslan hanyalah melirik ke arah Mischa dengan tatapan sinis sedikit mengejek.


“Menurutmu? Godaan untuk membawamu berburu sepertinya menarik juga,” jawabnya singkat sementara matanya yang sekarang memakai lensa khusus hingga sama seperti mata manusia itu kembali terarah ke depan, seolah sengaja mengabaikan Mischa.


Mischa mengepalkan tangan, menggertakkan gigi dengan marah.


“Aku tak akan membiarkanmu menyakitiku dengan sengaja dengan cara membuatku melihat kaumku sendiri diburu dan dibunuh,” desisnya dengan nada mengancam, menguatkan tekad. “Aku akan melompat dari pesawat ini kalau kau benar-benar melakukannya,” sambungnya kemudian.


Reaksi Aslan tidak seperti harapannya, lelaki itu hanya melirik sedikit, lalu mengangkat sudut bibirnya dengan sinis.


“Kau tidak seberharga itu,” ucapnya dingin.


“Apa maksudmu?” tanya Mischa dengan nada curiga.


Mata Aslan menyorot semakin dingin. “Kau tidak seberharga itu untuk membuatku ingin menyakitimu. Hanya musuh-musuh terkuatlah yang bisa mendorongku menginginkan mereka sakit dan menderita. Kau tidak cukup beharga.”


Mischa menggigit bibir, merasa benci sekaligus marah, tanpa berpikir panjang dia menggerakkan tangan, lalu memukul lengan Aslan dengan kasar, sekuat tenaga yang bisa diberikan oleh tangannya yang kurus.


Aslan bahkan tidak bergeming, lelaki itu memiringkan kepala, mengamati Mischa dengan tatapan meremehkan.


“Apakah kau lupa apa yang kukatakan sebelumnya? Perbuatan berlandaskan kemarahan dalam bentuk apapun yang kau lakukan kepadaku, akan kubalaskan pada adik angkatmu itu,” desisnya geram, tetapi malahan memancing Mischa untuk balas menyembur.


“Sungguh memalukan, seorang laki-laki yang katanya kuat sepertimu ternyata tidak malu menimpakan hukuman pada anak kecil yang lemah.” Mischa tidak menahan-nahan rasa jijik dalam suaranya dan itu membuat Aslan menggertakkan gigi, pipinya berkedut, pertanda lelaki itu sedang menahan emosi.


“Hati-hati Mischa,” desis Aslan perlahan dengan nada mengerikan, membuat Mischa tertegun dan di titik itu memutuskan mundur.


Aslan memang menakutkan ketika sedang berteriak marah dengan gaduh, tetapi lelaki itu lebih menakutkan ketika bersikap tenang dan menebarkan ancaman dalam senyap. Dan Mischa tahu kapan harus mundur ketika Aslan menebarkan aura mengerikan yang membuat bulu kuduk berdiri seperti ini.


Saat ini Mischa berada jauh dari Sasha, dan tentu saja meskipun berusaha bersikap tidak peduli, Mischa terus mencemaskan Sasha. Ada sesuatu yang membuatnya merasa dekat dengan adik angkatnya itu ketika pertama kali berjumpa, mungkin karena mereka sangat mirip, sama-sama yatim piatu dan terlantar atau mungkin juga ada perasaan-perasaan lain yang tidak bisa dijelaskan… karena selain Sasha, hampir semua kaum penyelinap adalah yatim piatu atau kehilangan sanak keluarga dan orang-orang yang dicintainya, tetapi Mischa menyayangi Sasha lebih daripada yang lain.


Mischa sudah kehilangan segalanya karena dirinya ketika itu begitu lemah dan tidak mampu melindungi orang-orang yang dicintainya, dan sekarang, ketika dia masih punya kekuatan meskipun harus menjaminkan tubuhnya yang lemah, Mischa akan berjuang sekuat tenaga untuk menyelamatkan Sasha.


Keheningan yang tercipta secara tiba-tiba di antara mereka membuat Aslan melirikkan mata ke arah Mischa. Dilihatnya perempuan itu membuang muka, melemparkan tatapan murung ke jendela luar.


“Kita tidak akan berburu.”


Kalimat Aslan membuat Mischa menolehkan kepala kembali untuk menatap Aslan dengan penuh rasa ingin tahu. Aslan tidak sedang menatapnya melainkan sedang menatap lurus kedepan, membuat Mischa menyadari bahwa pesawat mereka sudah terbang rendah, seolah bersiap untuk mendarat.


Mischa menoleh ke samping jendela pesawat itu dengan penuh rasa ingin tahu, dan menyadari bahwa mereka telah melewati kawasan reruntuhan bangunan yang dihuni oleh kaum penyelinap lalu terbang rendah menuju ke puncak bukit yang hampir keseluruhannya ditutup oleh gurun pasir berwarna keemasan.


Bukit yang ditutup gurun pasir itu terlihat jelas dari reruntuhan tempat para kaum penyelinap berlindung, tetapi belum ada yang cukup bodoh untuk mencapai ke sana karena sangat beresiko. Selain karena tidak akan ada apapun yang mungkin bisa ditemukan di atas gurun, melewati pasir emas di tempat terbuka adalah kesalahan bodoh yang cukup fatal. Pesawat-pesawat pengintai milik Bangsa Zodijak sangat sering berlalu lalang di langit, dan berdiri di bukit pasir akan membuat mereka mencolok sehingga menjadi sasaran tembak yang sangat mudah.


Pesawat bergerak semakin rendah hingga begitu dekat dengan permukaan pasir, dan Mischa membelalakkan mata ketika menangkap pemandangan yang tidak pernah dia sangka sebelumnya.


Di sana, di balik bukit pasir yang tinggi, ada pepohonan hijau yang menaungi rimbun dan segar. Warna hijaunya tampak kontras dengan warna emas pasir, dan yang lebih mengejutkan, di tengah-tengah kerimbunan pepohonan yang berjajar rapi membentuk lingkaran itu, ada sebuah danau kecil dengan air jernih yang memantulkan warna langit hingga tampak begitu biru dan indah.


Dua warna kontras yang tidak pernah Mischa sangka bisa ada di tengah gurun pasir itu membuat Mischa ternganga.


Dirinya membayangkan betapa kesulitannya kaum penyelinap untuk mendapatkan air hingga mereka hanya bisa bertahan hidup dari hujan yang tak sering muncul.Mereka semua tidak pernah menyadari bahwa ada sumber air di dekat mereka, tampak sangat melimpah dengan airnya yang biru dan jernih hingga menggugah dahaga manusia manapun yang melihatnya.


“Terkejut, bukan?” Aslan berucap tanpa menyembunyikan nada sinis di dalam suaranya, “Teknologi Bangsa Zodijak cukup canggih hingga kami bisa menarik air dimanapun juga, meskipun tersembunyi jauh di dalam dan seolah tidak mungkin ada, bahkan di padang gurun kering seperti ini,” Aslan menurunkan pesawatnya dengan mulus hingga mendarat di permukaan pasir halus tanpa suara. “Bumi memiliki kandungan air melimpah di lapisan-lapisan tersembunyinya, menunggu untuk ditemukan. Berbeda dengan Planet Zodijak, seluruh kandungan air kami habis hingga tidak tersisa setetes pun, seluruh teknologi canggih yang kami miliki tidak ada gunanya di sana.”


Itu adalah kalimat penjelasan Aslan yang paling panjang yang pernah keluar dari mulutnya, membuat Mischa mengerutkan kening dan bertanya dengan bingung.


“Kau tidak membawaku ke sini hanya untuk memberiku ceramah tentang sejarah bangsa Zodijak dan air yang kalian puja, bukan?” tanyanya ketus.


Aslan menggelengkan kepala tipis. Pesawat itu sudah benar-benar mendarat dan lelaki itu menoleh ke arah Mischa, menatap tajam dengan mata manusianya yang masih menyisakan kelam.


“Bukan,” Aslan menyeringai ada ancaman samar tersirat di tatapan matanya. “Aku kemari untuk bercinta.”