
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Natasha menitipkan air suci Bangsa Zodijak yang didapatnya dengan susah payah, tetapi dia bilang bahwa dia tidak bisMereka bahkan tidak tahu apa itu air suci Bangsa Zodijak, sampai Sang Dokter menjelaskan kepada mereka. Pada saat itulah Kale dan Natasha terkagum-kagum betapa Sang Dokter memiliki pengetahuan yang begitu luas serta mendalam mengenai Bangsa Zodijak, musuh mereka yang telah memporak-porandakan hampir tiga perempat planet bumi yang begitu luas.
Sang Dokter menjelaskan bahwa dia dan anak buahnya, yang terhimpun begitu banyak di ruang bawah tanah yang dibuat khusus untuk melindungi diri dari deteksi Bangsa Zodijak, memiliki tujuan yang sama dengan mereka, untuk mengalahkan Bangsa Zodijak dan mengambil alih bumi kembali di tangan manusia.
Merasa bahwa mereka memiliki tujuan yang sama dan masih terkagum akan kemampuan Sang Dokter yang membawa harapan bagi kaum manusia, Natasha mengikuti perintah Sang Dokter untuk menyusup masuk ke Istana Bangsa Zodijak yang sangat berbahaya, demi mendapatkan air suci Zodijak yang dipercaya bukan hanya bisa menyembuhkan Kale, tetapi juga bisa memberi kekuatan bagi pasukan Sang Dokter.
Setelah Natasha pergi, dia menghilang begitu lama, hingga bahkan Kale sendiri kehilangan harapan dan menganggap bahwa Natasha telah mati. Tetapi ketika Kale tidak berharap lagi, tiba-tiba saja Natasha pulang, dalam kerahasiaan, hanya menemui Kale dan meminta Kale tidak memberitahu kelompok mereka yang lain.
Natasha bilang bahwa dirinya sudah tak bisa bersama dengan Kale lagi, bahwa dia telah menemukan jalan lain dan tidak sejalan baik dengan Kale maupun dengan kelompok Sang Dokter.
Dan ketika keterkejutan Kale belum sirna akan kedatangan Natasha, dia dihantam kembali oleh kenyataan menyakitkan bahwa Natasha hendak meninggalkan mereka semua demi seorang lelaki Zodijak.
Menyadari bahwa Natasha hendak melarikan diri untuk kembali ke pelukan lelaki Zodijak itu, Kale murka dan gelap mata. Ditelan oleh sakit hati karena menjadi pihak tak terpilih dan dicampakkan hanya demi makhluk yang dulu mereka anggap musuh, Kale merasa begitu dikhianati hingga tanpa pikir panjang dia menghubungi Sang Dokter, balas mengkhianati kepercayaan Natasha dan membiarkan pasukan Sang Dokter menangkap Natasha bahkan sebelum Natasha bisa kembali kepada lelaki Zodijaknya.
Dan setelah semua kericuhan tak terkendali itu, disinilah dia berada sekarang, menjadi panglima kepercayaan Sang Dokter dan membuat Natasha ikut berakhir di sini, menjadi pemasok darah bagi pasukan Sang Dokter yang membutuhkan kekuatan dari air suci Zodijak.
Kale tidak pernah berhenti merasa jijik pada dirinya sendiri karena sekarang dia memperoleh kesehatannya dengan mengkhianati Natasha.
Seharusnya waktu itu dia berpikir panjang sebelum memutuskan menghukum Natasha dengan membabi buta, seharusnya dia mendengarkan penjelasan lebih dalam dari Natasha dan mencoba memahami. Bagaimanapun juga, jika Natasha benar-benar berniat mengkhianatinya, Natasha tidak akan mengambil resiko besar untuk menemuinya kembali hanya demi menyerahkan air suci Zodijak untuk menyembuhkan Kale.
Natasha telah berkorban besar untuknya, jika Natasha jatuh ke pelukan lelaki Zodijak, bukankah itu semua gara-gara dia? Natasha masuk ke Istana Bangsa Zodijak demi mendapatkan air suci baginya, Natasha bahkan kembali lagi untuk memenuhi janjinya menyembuhkan Kale, tetapi apa yang Kale lakukan pada Natasha? membuat perempuan itu menjadi sosok yang dianggap hanya sebagai pemasok kekuatan, bukan sebagai manusia lagi.
Bahkan sekarang penyesalan Kale semakin dalam ketika mengetahui bahwa Sang Dokter sebenarnya bukannya ingin mengembalikan hak kaum manusia yang telah terenggut oleh Bangsa Zodijak, Sang Dokter hanya ingin menguasai bumi untuk kepentingannya sendiri.
Entah untuk apa lelaki itu begitu bernafsu melenyapkan Bangsa Zodijak demi menguasai bumi yang telah porak poranda, tetapi yang pasti itulah tujuan utama dari kelompok ini, dan hal itu membuat Kale semakin terperosok ke dalam jurang kekecewaan nan dalam, kekecewaan kepada dirinya sendiri.
Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Saat ini kondisinya terjepit. Jika dia memberontak dari Sang Dokter dan menyelamatkan Natasha, itu sama saja dengan menyerahkan nyawanya sendiri. Ketika menyerahkan diri untuk mengabdi pada Sang Dokter, semua kaum manusia harus merelakan tubuhnya ditembak dengan semacam chip yang tertanam di batang otak. Chip itu bisa diledakkan sewaktu-waktu dan dikendalikan oleh Sang Dokter sendiri.
Dengan kata lain, jika Kale memilih berkhianat, kepalanya akan meledak tanpa ampun.
Pandangan Kale nanar menatap tubuh Natasha yang tak berdaya.
Dia mencintai Natasha, adiknya… dan pertanyaannya, akankah Kale rela mengorbankan nyawanya atas nama cinta?
Yesil yang sedang bercakap-cakap dengan Akrep mendongakkan kepala bersamaan ketika Aslan yang masih mencengkeram tangan Mischa melangkah masuk ke dalam ruangan.
Aslan menatap kedua saudaranya dengan tajam, tahu pasti bahwa kedua saudaranya itu mengendus aroma Mischa dan menyadari ada aroma Aslan yang sangat kental di sana.
Seketika itu juga Yesil dan Akrep menyadari bahwa Aslan telah menandai Mischa dengan pesan yang sangat jelas.
Yesil sendiri memiringkan kepala, menatap Aslan penuh arti yang dibalas dengan tatapan tajam, lalu mengalihkan kepala ke arah Mischa dan tersenyum.
“Hai Mischa,” Yesil menyapa perlahan dengan ramah, tahu bahwa dia tidak boleh bersikap mendesak atau Mischa akan lari ketakutan.
Mischa menganggukkan kepala dengan gugup, dia mencoba melepaskan tangan dari genggaman Aslan, tetapi Aslan malahan mencengkeram tangannya semakin kuat.
“Aslan bilang aku boleh membantu di sini.”
Ada sinar tidak percaya di mata Yesil karena pada akhirnya Aslan memberikan izinnya, Yesil langsung menoleh ke arah Aslan dan bertanya tanpa menahan diri.
“Benarkah kau memberikan izinmu?” tanyanya cepat.
Aslan menganggukkan kepala tipis.
“Aku dan Akrep akan pergi berperang bersama Kaza, kurasa akan lebih aman dia berada di areamu sampai aku kembali.”
Yesil menganggukkan kepala, tersenyum lebar kemudian.“Kurasa di sini akan menjadi tempat penitipan selama kalian pergi berperang, selain Kara dan Sasha, memilikimu di sini untuk membantuku akan sangat menyenangkan, Mischa,” ujar Yesil dengan nada bersahabat ke arah Mischa.
Mischa sendiri membelalakkan mata. “Sasha juga berada di sini?” tanyanya terperangah, hatinya dibanjiri oleh kelegaan, sementara bibirnya tidak bisa menahan diri untuk bertanya. “Bolehkah aku menemuinya?” tanpa sadar Mischa bertanya ke arah Yesil, tetapi Yesil hanya mengangkat bahu dan memberikan isyarat ke arah Aslan sehingga mau tak mau Mischa menoleh ke arah Aslan dan mengulang kembali pertanyaannya, “Bolehkah aku bertemu dengan Sasha?”
Suara Mischa melemah ketika ekspresi Aslan berubah gelap, lelaki itu menipiskan bibir dan menatap Mischa dengan ekspresi mengancam.
“Kau boleh bertemu dengannya, tetapi kau tidak boleh berbuat macam-macam seperti mencoba melarikan diri bersama atau semacamnya,” Aslan mendesis kejam. “Aku tidak akan pikir panjang untuk meledakkan kalian berdua jika sampai kau melakukannya,” ancamnya dengan suara yang membuat bulu kuduk berdiri.
“Aku akan menjaga mereka, Aslan,” Yesil mengedipkan sebelah mata, mencoba mencairkan suasana yang terasa menegangkan akibat ancaman Aslan yang menguar ke udara. Sebuah pikiran lalu melintas di pikiran Yesil dan dia langsung bertanya.
“Kara juga ada di sini, dan akan sangat menyembuhkan bagi Kara kalau dia bisa bertemu dengan Mischa dan memastikan bahwa Mischa baik-baik saja…”
“Dalam mimpimu!” Aslan meraung marah, melepaskan pegangannya dari tangan Mischa dan melangkah maju ke arah Akrep dengan penuh intimidasi. “Apapun yang terjadi, Kara tidak boleh sampai bertemu dengan Mischa, kalau sampai itu terjadi dan aku tahu, aku pasti tahu pada akhirnya… aku akan memberi pelajaran kepada…”
“Aslan,”Raungan penuh kemurkaan dari Aslan terhenti ketika Akrep yang sedari tadi hanya dia dan mengawasi memutuskan untuk menyela.“Yesil akan melakukan apa yang diperlukan tanpa perlu kau mengancamnya. Dia lebih bijaksana dari kita semua, bukan?” Akrep melanjutkan dengan nada suara tenang, meredakan kemarahan Aslan yang hampir meledak.
Aslan tertegun sejenak, tampak berpikir, lalu emosinya mengendur dan tubuhnya yang tegang berubah santai, lelaki itu lalu membalikkan badan, meletakkan kedua tangannya di pundak Mischa, memaksa Mischa untuk memerhatikan.
“Aku memberimu kelonggaran untuk bertemu dengan Sasha, tetapi kau tidak boleh sedikit pun bertemu dengan Kara, apakah kau mengerti?” Aslan menyipitkan mata, memastikan bahwa Mischa mendengarkan. “Jika sampai kau melanggar, aku akan tahu dan aku akan memberimu pelajaran, bukan hanya kau, Sasha dan Kara akan menanggung akibatnya juga. Apakah kau mengerti, Mischa?” Aslan bertanya kembali, kali ini memberi penekanan pada nama Mischa.
Mischa sendiri tidak punya pilihan lain selain menganggukkan kepala dan anggukannya sepertinya cukup memuaskan Aslan karena lelaki itu langsung melepaskan pegangannya dari pundak Mischa lalu menoleh ke arah Akrep.
“Apakah kita akan berangkat sekarang?” tanya Aslan dengan nada tidak sabar, sebab semakin cepat mereka berangkat berperang dan menyelesaikan semuanya, semakin cepat pula dia bisa pulang kembali ke Istana.
Saat ini mereka memutuskan tidak bermain-main lagi dengan pasukan timur jauh yang selama ini mereka tarik ulur hanya demi bisa memberikan kenikmatan bertempur bagi Bangsa Zodijak. Saat ini mereka memutuskan untuk mengerahkan seluruh kekuatan untuk menghantam Bangsa Timur Jauh dan kemudian bisa memfokuskan diri pada musuh baru mereka yang masih misterius dan belum bisa dipetakan kekuatannya.
Akrep menoleh ke arah pintu yang menghubungkan dengan lorong ruang perawatan, lalu menatap ke arah Aslan dengan penuh pertimbangan.
“Kita sedang menunggu Kaza,” ucapnya tenang.
“Menunggu Kaza?” Aslan langsung bertanya. “Dia sedang berpamitan dengan Kara?”
“Bukan.” kali ini Yesil yang menjawab sambil menggelengkan kepala. “Kaza sedang berpamitan dengan Sasha,” jawabnya ringan seolah apa yang dikatakannya bukan masalah besar.
Tetapi tentu saja kalimat yang diucapkan oleh Yesil itu terasa mengejutkan, terutama bagi Mischa yang tidak tahu apa-apa.
Wajahnya langsung pucat pasi sementara pikiran-pikiran buruk langsung bermunculan untuk kemudian menguasai benaknya. Mischa langsung teringat bagaimana mengerikannya Kaza ketika mengancam serta mencekik dirinya hingga meninggalkan lebam menyakitkan di lehernya… sedangkan Sasha…
Sasha masih anak-anak, dia akan dilibas habis oleh Kaza yang kejam!
“Apa… apa yang dilakukan Kaza kepada Sasha?” seru Mischa histeris hampir berteriak.