
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Tentu saja dia bosan, dia bosan dan menderita. Manusia mana yang tahan dikurung di dalam kamar secara terus menerus hanya supaya tubuhnya diperalat untuk memuaskan nafsu Aslan tanpa jeda?
Mischa tahu bahwa kehidupannya yang dulu sebagai bagian dari kaum penyelinap sangat keras, tetapi saat ini dia sungguh rindu kehidupan itu, masa-masa dimana dirinya memiliki kehendak sendiri, bisa menentukan nasibnya sendiri tanpa dicengkeram di bawah ancaman dan kekuasaan alien buas seperti Aslan dan saudara-saudaranya.
Aslan sendiri tidak bereaksi terhadap jawaban ketus Mischa. Secara ajaib, sejak mata Aslan mengeluarkan air mata yang merupakan sesuatu tak terduga bagi Mischa sebelumnya, lelaki itu berubah lebih… menahan diri?
Mischa tidak mengerti kenapa Aslan menangis, dan bagaimana Aslan bisa menangis. Sepengetahuan Mischa, dari penelitian yang dilakukan oleh ayahnya, dia tahu bahwa Bangsa Zodijak tidak bisa menangis, bahkan bayi Zodijak juga tidak bisa menangis, berbeda dengan bayi manusia yang menggunakan tangisan sebagai cara berkomunikasi untuk mengutarakan dia lapar, haus atau bahkan sedang sakit serta tak nyaman.
Apakah penelitian ayahnya salah? Ataukah tubuh Bangsa Zodijak telah berevolusi?
Entahlah, Mischa sendiri tidak tahu jawabannya, mungkin memang penelitian ayahnya sudah ketinggalan jaman karena itu telah dilakukan bertahun-tahun yang lalu.
“Kau mungkin tidak bosan, tapi aku bosan,” Aslan melirik ke arah ranjang dengan penuh arti. “Memanenmu di atas ranjang terus menerus membuatku bosan,” ejeknya dengan nada kejam, “Sepertinya aku butuh variasi.”
Mischa tadinya berpikir bahwa Aslan hendak mencari variasi dengan meniduri perempuan-perempuan lain, perempuan dari Bangsa Zodijak tentu saja. Dan itu sempat membuat Mischa lega, setidaknya Aslan tidak mengarahkan gairahnya yang begitu besar hanya untuk ditanggung dirinya seorang, mungkin saja Mischa cukup beruntung ketika nanti Aslan mendapatkan kepuasan dari perempuan-perempuan Zodijak itu dan mulai melupakan Mischa dan pada akhirnya memutuskan untuk membuang Mischa.
Sayangnya dengan cepat pikiran Mischa pupus ketika kalimat Aslan berikutnya membuat Mischa menyadari bahwa yang membuat Aslan bosan bukanlah Mischa atau bercinta dengan Mischa, melainkan tempat tidur di dalam kamar ini.
“Aku akan membawamu berpergian. Mungkin aku akan memanenmu di atas pasir di bawah langit,” mata Aslan menggelap ketika lelaki itu menatap Mischa dengan penuh rasa lapar, mengutarakan maksudnya dengan gamblang.
Lalu seperti sudah diatur, pintu itu terbuka lagi dan seorang budak masuk, kali ini membawa tumpukan pakaian yang terlipat rapi berikut perlengkapannya.
Aslan mengedikkan dagunya ke arah Mischa dan dengan patuh budak itu langsung meletakkan tumpukan pakaian yang dibawanya ke atas ranjang di samping Mischa, membuat Mischa mengerutkan kening dan mendongak, menatap bingung ke arah Aslan.
“Kau akan ikut terbang bersamaku ke suatu tempat,” Aslan berucap dengan nada misterius, sementara matanya menatap tajam ke arah Mischa. “Ganti pakaianmu,” sambungnya lagi.
Mischa sebenarnya ingin menolak demi memuaskan keinginannya menantang Aslan, tetapi kata-kata Aslan bahwa dirinya bisa ikut terbang dan pergi kesuatu tempat selain benteng istana hitam yang menyeramkan ini terasa begitu menggoda…
Mungkin Mischa bisa menemukan cara untuk membalas Aslan… Bukan, bukan dengan cara melarikan diri karena dia tahu bahwa melarikan diri dari Aslan tentu mustahil karena Sasha masih ditahan disini, ditinggalkan dan terpenjara sebagai jaminan. Tapi Mischa berpikir untuk menemukan titik kelemahan Aslan lalu melukainya hingga amat sangat sakit.
Mischa tentu masih belum tahu seperti apa caranya, tetapi dia akan menemukannya nanti.
Dengan hati-hati Mischa mengambil pakaian dan perlengkapannya itu, memindainya dengan mata. Celana, kemeja dan mantel tebal dengan tudung kepala berwarna hitam berikut sepatu boot yang tampak sangat kuat, sama seperti sepatu yang dikenakan oleh Aslan ketika lelaki itu hendak pergi berperang.
Yang menggelitik Mischa adalah bahwa pakaian itu, selain mantel dan sepatu, semuanya berjumlah dua dengan ukuran dan model yang identik.
“Aku berjaga-jaga kalau aku tidak bisa menahan diri untuk merobek pakaianmu tiba-tiba, tentu saja kau tak bisa kubawa pulang dalam keadaan telanjang, bukan?” Aslan berucap memberikan jawaban, seolah-olah bisa membaca makna dari kerutan di dahi Mischa ketika menatap pakainnya.
Aslan tidak peduli pipi Mischa yang berubah merah karena perkataannya, dia lalu meraih kantong hitam yang ada di atas meja dan melemparkannya ke pangkuan perempuan itu.“Ganti pakaianmu dan simpan baju cadanganmu di kantong itu,” Aslan mengedikkan dagunya ke arah kantong itu, lalu menatap Mischa dengan tatapan mengancam. “Aku akan kembali dalam beberapa menit lagi. Saat aku kembali kau harus siap. Kalau tidak…” mata Aslan menyipit dan menelusuri seluruh diri Mischa. “Kalau aku sampai masuk kemari dan kau belum siap, maka aku tidak akan repot-repot pergi keluar untuk bercinta denganmu, aku akan membaringkanmu di ranjang saat itu juga untuk kemudian memuaskan diriku, dan aku bisa menjamin kita tidak akan keluar kamar ini selama beberapa lama.”
Mischa mendongakkan kepala, menatap Aslan dengan marah bercampur rasa terhina, tetapi Aslan tidak memedulikannya. Lelaki itu membalikkan badan tanpa kata dan meninggalkan Mischa sendirian.
“Minta anak buahmu menyiapkan pesawat tempur untuk dua penumpang.”
Aslan memasuki ruangan kendali, menatap ke arah saudara-saudaranya. Seperti biasa, semua berkumpul di sana, Khar, Sevgil dan bahkan Akrep sendiri masih mengenakan pakaian perang, menunjukkan bahwa mereka baru saja kembali dari medan perang.
Sementara Kaza sedang duduk bersantai dan minum di sudut ruangan, rupanya kondisi kesehatan Kara yang belum membaik memengaruhi suasana hati Kaza hingga lelaki itu tidak terdorong untuk pergi berperang.
Yesil juga tidak tampak di sana, tetapi Aslan memang tidak pernah mengharapkan Yesil pergi berperang secara fisik karena Yesil lebih suka berperang dengan caranya sendiri, menciptakan senjata biologis misalnya.
“Dua penumpang?” Sevgil membanting tubuhnya ke atas sofa dan mengangkat alis menatap Aslan. “Kau ingin pergi dengan siapa? Kami baru saja pulang untuk bertempur, tidak ada yang bisa dihabisi malam-malam di area timur bumi dan bukankah kau terbiasa melakukan perburuan kaum penyelinap sendirian?”
Aslan menipiskan bibir. “Aku akan membawa Mischa terbang.”
Semua orang di dalam ruangan itu saling melempar pandang, Akreplah yang kemudian berbicara dengan nada suaranya yang bijaksana.
“Memangnya kau akan membawanya kemana?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.
“Aku tebak Aslan akan membawa Mischa terbang di ketinggian tertentu, lalu melemparkannya dari pesawat,” Sevgil terbahak dengan leluconnya sendiri, tetapi tawanya terhenti ketika hampir seluruh saudara-saudaranya melemparkan tatapan tajam ke arahnya.
Aslan menatap Sevgil dengan tatapan mengancam, membuat saudaranya yang kadang tidak tahu bagaimana cara membuka mulut di saat yang tepat itu terdiam dan tak berkata lagi, lalu menggeram dengan penuh ancaman,
“Pokoknya siapkan pesawat sekarang!” raungnya khusus kepada Sevgil karena Sevgillah yang mengatur seluruh kendaraan perang dan perlengkapan senjata mereka.
Kemudian, tanpa menunggu jawaban dari Sevgil, Aslan melangkah berderap meninggalkan ruangan.Khar yang paling pendiam di antara mereka tanpa diduga membuka suara begitu bayangan Aslan menghilang di balik lorong.
“Menurutmu kenapa Aslan membawa Mischa?” tanyanya memecah keheningan.
Akrep yang ditanya hanya mengangkat bahu. “Siapa yang tahu apa yang ada di benak Aslan?” ujarnya seolah menyerah. “Aku hanya berharap dia tidak kelewatan lalu melukai atau kehilangan Mischa lagi.”
“Apakah aku perlu memberi tahu Yesil tentang hal ini?” Kaza berucap menawarkan diri seolah-olah lelaki itu bosan berada di dalam ruangan itu dan membahas tentang Aslan.
Akrep menganggukkan kepala. “Pergilah beritahu Yesil,” ujarnya menyetujui.
Tanpa menunggu lama, Kaza meninggalkan ruangan, menyisakan hanya Akrep, Sevgil dan Khar di dalam ruangan.
Sevgil sendiri meloncat bangkit dari sofa dan berdiri sambil menatap Akrep serta Khar berganti-ganti.
“Sepertinya aku harus melakukan perintah Aslan untuk menyiapkan pesawatnya, daripada nanti dia murka dan memutuskan menghajarku,” Sevgil menyelipkan nada ketakutan dengan sengaja di dalam suaranya, tetapi itu sudah pasti hanya untuk mengejek karena bibirnya saat ini sedang menyeringai lebar. Lelaki itu lalu membungkuk dengan gaya sarkatis ke arah dua saudaranya sebelum ikut meninggalkan ruangan.
Ditinggalkan hanya berdua, Khar memilih melonggarkan kancing baju militernya, lalu menuangkan air ke dalam dua gelas yang telah tersedia, dia kemudian menyerahkan salah satu gelasnya kepada Akrep yang langsung menerima dan meminumnya dengan lelah.
“Sepertinya sejak Mischa datang dan yang lain-lain menyusul, kita jadi jarang berkumpul di dalam ruangan ini seusai berperang,” Khar berucap tenang, memandang Akrep dengan tatapan menilai.Akrep sendiri menganggukkan kepala.
“Entah kenapa aku merasa hal ini tidak akan berhenti sampai di sini,” ujarnya sambil merenung.
“Apa maksudmu?” tatapan Khar menajam, sebagai pendeta tertinggi yang menjadi pemimpin seluruh ritual penting Bangsa Zodijak, Khar memiliki insting dan firasat yang cukup tajam, hal itulah yang membuatnya sulit dikalahkan ketika sedang berperang. Kekuatan Khar mungkin tidak sebanding dengan Aslan atau bahkan Akrep, tetapi dia bisa memprediksi gerakan orang lebih cepat, membuatnya mampu bergerak dengan akurat untuk menghindari, melindungi diri, atau bahkan menyerang balik.
“Manusia perempuan yang bisa mengikat lelaki Zodijak, perubahan struktur molekul air…semua ini terlalu kebetulan,” Akrep menghela napas panjang. “Aku hanya merasa setelah Kara dan Aslan, akan tiba giliran kita…”
Wajah Khar yang tadinya tenang berubah pucat. “Maksudmu akan ada manusia-manusia perempuan untuk diri kita masing-masing?” serunya dengan nada ngeri.