Inevitable War

Inevitable War
Episode 121 : Penciptaan



INEVITABLE WAR


(The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


 


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 



 


W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )




 


“Natasha?”


Mischa mendesiskan nama Natasha melalui bibirnya yang terperangah dan lupa mengatup kembali. Matanya menelusuri sosok yang dibilang sebagai Natasa dan disebut Imhotep sebagai salah satu dari ketujuh saudarinya. Kondisi perempuan itu –perempuan yang dicintai dan dicari-cari oleh Kara– sangat menyedihkan.


Tubuhnya tergolek disana layaknya boneka tanpa daya, tanpa nyawa dan tanpa daya kehidupan yang menjadi bahan bakarnya.


Bagaimana Natasha bisa berakhir di sini dalam cengkeraman Imhotep? Pantas saja usaha pencarian Kara selama ini tidak membuahkan hasil…


“Ya. Natasha. Dia bisa dikatakan sebagai saudarimu. Kalian mungkin memiliki ayah dan ibu yang berbeda, tetapi darahku yang tertanam dalam tubuh kalian bahkan sejak kalian berwujud sebagai embrio, mengikat kalian sebagai saudara. Kalian memiliki kesamaan genetik dan bahkan kesamaan ciri fisik yang sangat nyata. Dan itu disatukan oleh darahku,” Imhotep mengulang-ulang kalimat pemberitahuannya seolah-olah ingin menanamkan bahwa Mischa dan perempuan-perempuan lainnya tercipta di dunia ini atas jasa darah yang dia sumbangkan.


Mischa mencoba mengabaikan perkataan Imhotep tersebut dan melemparkan tatapan tajam penuh kecurigaan kepada sosok musuh tak terduga di depannya itu.


“Apa yang kau lakukan kepada Natasha?” tanyanya dengan nada memusuhi.


“Sudah kuduga bahwa kau akan menjadi pasangan yang sangat merepotkan sekaligus menyenangkan bagi Aslan. Kudengar pemimpin Bangsa Zodijak yang disebut Sang Singa itu sangat arogan dan tidak suka dibantah. Menaklukkanmu dengan sikapmu yang seperti itu akan menjadi tantangan besar untuknya. Pantas saja Aslan tergila-gila kepadamu,” ujar Imhotep dengan nada penuh arti.


Pipi Mischa merona mendengar kalimat tersebut, tetapi dengan segera dia menggelengkan kepala untuk mengusir rasa malu yang merayapi dadanya. Mendengarkan hubungannya dengan Aslan dijelaskan oleh orang lain, orang yang sama sekali asing di depan matanya seperti sekarang ini benar-benar membuatnya tidak nyaman.


“Aku bertanya kepadamu…” Mischa mencoba mengulang pertanyaannya untuk membuat Imhotep fokus menjawab, tetapi dengan cepat Imhotep memberi isyarat tangan, memberi perintah supaya Mischa diam.


“Aku akan memberikan jawaban kepadamu. Nanti,” Imhotep menyela dengan nada suara lambat-lambat dan penuh arti. “Sekarang kau harus mendengar kata-kataku dulu untuk menyadari betapa besar peranku dalam penciptaan kalian, bahkan dalam menentukan watak kalian.”


Mischa menggigit bibir dengan jengkel. “Kau sudah sibuk dengan bualanmu sejak pertama kali aku di sini,” desisnya sambil menunjukkan ekspresi tidak tertarik. “Apa yang sedang kau coba lakukan? Berusaha meyakinkanku bahwa kau begitu penting atas eksistensiku di dunia ini?” tantangnya dengan nada berani.


Kali ini Imhotep tidak terkekeh. Lelaki itu menganggukkan kepala dan menatap Mischa dengan ekspresi serius yang menciptakan ketegangan menguar di dalam ruangan tempat mereka berada. Tatapan Imhotep tampak tajam, dan hal itu entah kenapa menambah dinginnya suhu ruangan yang sebelumnya memang sudah dingin.


Mischa menghembuskan napas pendek-pendek, berusaha menahan refleks kulitnya yang merinding karena menahan hawa dingin. Sementara itu Imhotep seolah tidak memperhatikan dan melangkah mendekati tubuh Natasha yang terbaring tak bergerak sama sekali.


“Aku menciptakan kalian sesuai fungsi kalian masing-masing. Pengetahuanku akan tubuh manusia memberikanku kekuatan untuk memodifikasi tubuh manusia bahkan ketika kalian semua masih berwujud embrio. Kalian semua, tujuh bersaudari harus disiapkan secara sempurna untuk menjadi pasangan dari tujuh pemimpin Zodijak, sekaligus menjadi kelemahan mereka. Tentu saja ketika hendak mewujudkan kalian, yang pertama harus kumodifikasi adalah tubuh kalian. Tubuh kalian harus bisa menahan pasangan Zodijak kalian ketika bercinta,” Imhotep memandang tubuh Mischa dengan penuh arti, membuat pipi Mischa kembali memerah karena jengah. Tetapi tampaknya Imhotep tidak peduli dan tetap melanjutkan kalimatnya. “Kau pasti sudah merasakan sendiri betapa besarnya kekuatan tubuh Bangsa Zodijak ketika sedang bercinta. Karena itulah aku memberikan darahku, untuk membuat kalian sama kuatnya seperti perempuan Zodijak meskipun dalam bungkus tubuh manusia. Tanpa darahku kau akan remuk redam dan hancur lebur ketika bercinta dengan Aslan, tubuh manusiamu yang lemah tidak akan kuat menanggungnya. Dan darahku memiliki imbas yang lain, memodifikasi darahmu supaya langsung berubah identik dengan air suci Zodijak ketika bersentuhan dengannya.”


Imhotep menghentikan kalimatnya dan menatap dalam-dalam ke arah Mischa, memastikan Mischa mendengarkan kalimat demi kalimat yang dia ucapkan dengan seksama.“Begitupun dengan kepribadian kalian. Kau kumodifikasi menjadi yang paling kuat di antara saudaramu karena kau akan menjadi pasangan Aslan. Selain kuat secara fisik kau harus kuat secara emosi. Berbeda dengan Natasha, tadinya aku masih ragu dia menjadi pasangan Kara atau Kaza karena pasangan untuk saudara kembar itu kuciptakan hampir identik. Tetapi sekarang setelah menelaah segalanya, aku tahu bahwa Natasha adalah pasangan Kara, dia diciptakan menjadi pasangan Kara yang penuh kasih dan mudah luluh, karena itulah kuciptakan Natasha sebagai perempuan lemah yang butuh dukungan dan kekuatan.”


Mata Imhotep menyipit. “Kalian semua layaknya boneka yang kuciptakan untuk mencapai tujuanku, melemahkan para pemimpin Bangsa Zodijak dan memusnahkan mereka.”


Perkataan Imhotep yang kejam itu mengirimkan nuansa mengerikan yang merayapi tulang punggung Mischa. Dirinya, sebagai seorang manusia juga memiliki pikiran yang sama, menganggap Bangsa Zodijak sebagai musuh, alien pembunuh yang menginvasi bumi dan mengambil alih sumber daya air demi kepentingan mereka. Tetapi sekarang, memikirkan makhluk Zodijak keji di depannya ini telah membuat rencana dengan memanfaatkan tubuh manusia demi mengalahkan Bangsa Zodijak, entah kenapa membuat pikirannya memberontak dan bertentangan dengan apapun yang sedang direncanakan oleh Imhotep.


“Aku bukan bonekamu, karena aku adalah manusia,” Mischa menghela napas panjang, “Tidak peduli ada darahmu di tubuhku. Aku tetap manusia dengan kekuatan dan kehendak atas nasibku sendiri,” Mischa mengucapkan kalimatnya dengan lantang, menyuarakan pemikirannya dengan berani.


Hal itu bukannya membuat Imhotep tersentuh, malahan membuat lelaki Zodijak itu tertawa terbahak-bahak hingga kepalanya mendongak dan suara tawanya menggema keras memenuhi ruangan.


“Betapa bangganya kau menjadi manusia. Makhluk lemah yang mudah diperalat. Sejak awal ketika aku datang  ke bumi dengan memamerkan segala kelebihanku kepada umat manusia yang kuno. Aku membangunkan piramida untuk mereka, memberikan pengetahuanku tentang pengobatan kepada mereka, dan manusia-manusia itu tidak perlu waktu lama untuk menyembah dan mengelu-elukanku, mereka semua bahkan menganggapku sebagai dewa,” Imhotep berucap pongah dengan nada mengejek. “Kalian manusia memang diciptakan sebagai makhluk lemah yang selalu merasa tidak aman, karena itulah ketika ada kekuatan yang lebih tinggi, sudah menjadi dorongan alami kalian untuk langsung tunduk dan menyembah tanpa perlawanan. Selama ini kalian mengembangkan teknologi dan merasa superior dengan kemajuan yang kalian dapatkan sementara aku selama ini diam, mengawasi, menyusun rencana sambil menertawakan kalian semua yang hidup dalam dunia mimpi. Kalian Bangsa Manusia selalu merasa kuat, merasa sebagai penguasa alam semesta ini, padahal kalian bukan apa-apa. Kalian hanyalah makhluk lemah yang ditakdirkan untuk menyembah makhluk lain yang lebih kuat.”


Mischa membelalakkan mata mendengar hinaan yang dilontarkan Imhotep kepadanya.


“Kaulah yang seharusnya merasa malu. Ini adalah bumi, planet yang diciptakan untuk manusia. Kami kuat di planet kami sendiri dan kami memiliki spesifikasi untuk menjadi superior di planet kami sendiri. Sedangkan kau… kau dan Bangsa Zodijak lainnya mungkin memiliki kekuatan, tetapi tempat kalian bukan di bumi, kalian diciptakan bukan untuk menguasai planet ini. Kalian merenggut apa yang bukan menjadi hak kalian.”


Kata-kata Mischa rupanya membuat Imhotep tidak suka karena ekspresinya langsung menggelap. Rupanya mendengar dirinya sebagai Sang Penyembuh yang dipuja direndahkan sedemikian rupa oleh Mischa telah mengusik harga dirinya.


“Hentikan omong kosong idealismemu itu! Tidak peduli di bumi, di planet lain atau bahkan di seluruh alam semesta ini, hukum alam akan tetap berlaku. Siapa yang kuat akan mengalahkan yang lemah dan itu juga terjadi pada kalian, umat manusia. Ketika nanti aku membunuh seluruh pemimpin Zodijak, aku akan menguasai bumi ini dan airnya yang selama ini tidak pernah kalian hargai dan memusnahkan siapapun yang lemah serta menghalangi,” Imhotep menatap Mischa dengan pandangan mengerikan. “Dan kehadiranmu di sini mempermudah segalanya.”