
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Aslan bangun dari posisi berlututnya, membungkukkan tubuh dan meraup tubuh Mischa ke dalam gendongan.
Mischa sendiri memekik ketika diangkat tiba-tiba, dia mendongak dan menatap Aslan bingung sementara bibirnya membuka tetapi belum sempat mengucapkan sepatah kata pun ketika Aslan berucap dengan geram.
“Kita pulang. Kau berlumuran darah dan aku juga. Kita harus membersihkan diri,” geram Aslan dengan suara gusar, mata kelamnya beredar mengelilingi seluruh penjuru tempat privatnya yang kini ternoda oleh darah dan pertempuran. Bahkan danau indah yang tadinya berair biru kini tampak keruh karena darah kemerahan yang mengotorinya.
Kerutan di dahi Aslan semakin dalam sebelum dia menggeram lagi dengan nada menggerutu.
“Aku akan meminta anak buahku membersihkan sampah -sampah itu nanti.”
Tanpa kata Aslan membawa tubuh Mischa ke pesawat dan memasukkan Mischa ke sisi bangku sebelah pilot.
Aslan mendudukkan Mischa di kursi lalu memasang sabuk pengaman ke tubuh Mischa. Ketika selesai, lelaki itu mendongak, membuat wajahnya begitu dekat dengan wajah Mischa, membuat perempuan itu terkesiap.
“Tunggu sebentar. Aku akan kembali,” Aslan berucap perlahan sebelum kemudian melompat turun dari pesawat dan menghampiri tubuh Vladimir yang terkulai. Dengan mudah dipanggulnya tubuh Vladimir yang hampir sebesar dirinya lalu dibantingnya tubuh itu di bagian belakang pesawatnya, menciptakan suara berdebum nan keras.
Mischa menolehkan kepala dan meringis ketika melihat tubuh Vladimir yang berlumuran darah dan hancur lebur, suaranya bergetar ketika bertanya.
“Kau… kau membawanya? Apakah dia…” Mischa menelan ludah. “Apakah dia sudah mati?” tanyanya kemudian.
Aslan mengangkat sebelah alis, lalu meloncat ke kursi pilot, menjawab dengan dingin.
“Yesil membutuhkannya dan apakah dia sudah mati? Tidak… bisa dibilang dia setengah mati.” Ada seringai puas di bibir Aslan ketika menjawab sebelum lelaki itu bersiap menerbangkan pesawatnya.
Kaza memasuki kamar perawatan Kara dan menemukan bahwa saudara kembarnya itu sedang terjaga.
Dia tidak mengatakan apapun, hanya melemparkan tatapan ke arah Kara dan Kaza langsung tahu bahwa Kara sudah tahu dengan apa yang terjadi tadi.
Kara hanya menganggukkan kepala sedikit, Kara sendiri masih mengenakan lensa mata manusia palsu untuk berjaga-jaga jika bertemu dengan Sasha sedangkan Kaza melepaskan lensa itu karena tidak tahan harus menjadi mirip dengan manusia yang direndahkannya.
“Bagus kau tidak melukainya,” Kara berucap perlahan, menjaga supaya suaranya tidak sampai ke ruangan samping tempat Sasha berada.
Kaza berdecak, mengerutkan kening dengan ekspresi tidak suka lalu mengambil tempat duduk di sebelah ranjang Kara.
“Aku tidak suka membunuh lawan yang tidak sepadan, nanti begitu dia besar dan sudah bisa melawan, aku akan senang membunuh anak itu,” ucapnya dengan penuh kesombongan.
Kara tersenyum miring mendengar perkataan saudaranya. “Taruhan kau tidak akan bisa melakukannya.”
Kaza menatap Kara dengan pandangan mencemooh. “Taruhan? Apa yang akan kau pertaruhkan? Tubuhmu sudah remuk redam begitu, bahkan berjalan saja kau sepertinya kesulitan dan sekarang kau mau bertaruh denganku?”
Kara terkekeh. “Nanti begitu aku sehat aku akan menghadapimu,” ujarnya kemudian tampak susah payah mengeluarkan suaranya yang lemah.
Kaza menatap keseluruhan diri Kara dan ekspresi prihatin muncul di wajahnya, bercampur dengan kesedihan yang terasa nyeri.
“Kenapa, Kara? Kenapa kau melakukan ini semua hanya untuk manusia perempuan?” desisnya dengan penuh rasa kecewa.
Suara Kaza yang terdengar begitu sedih membuat hati Kara tertusuk oleh rasa bersalah, lelaki itu menggelengkan kepala sedikit dan menghela napas panjang sebelum menjawab.
“Aku mencintai Natasha. Dulu kupikir aku tidak bisa mencintai, bahkan aku tidak tahu apa itu cinta. Sampai kemudian aku bertemu dengan Natasha…. aku mencintainya karena aku menyadari bahwa bukan saja aku ingin hidup bersamanya, tetapi aku juga tidak bisa hidup tanpanya… dia segalanya bagiku, belahan jiwaku. Ketika dia pergi, setengah diriku ikut mati bersamanya.”
“Kau menjadi lemah karena manusia, dan itu semua atas nama cinta,” Kaza menyela dengan nada pahit. “Bangsa kita tidak pernah mengenal cinta karena cinta itu melemahkan, dan aku jadi tahu persis bahwa itu benar setelah melihat dirimu. Kau sungguh mengecewakanku, Kara. Kupikir kau sudah sembuh, bergerak maju dan melupakan Natasha, ternyata kau masih berkubang dengan masa lalumu sendiri.”
Kara memalingkan muka. “Beginilah aku, Kaza. Bagaimanapun aku tetap saudaramu, lelaki Zodijak yang mencintai manusia. Beginilah aku, terserah kau mau menerimaku atau tidak.” ujarnya kemudian.
Lama keheningan tercipta di antara mereka, lalu Kaza mengumpat perlahan sebelum berkata.
“Bagaimana pun juga kau adalah saudaraku. Meskipun aku ingin menghajarmu karena kau begitu bodoh,” desisnya kemudian.
Itu suara Aslan….
“Aku akan melihatnya.” Kaza berucap perlahan, memberi isyarat kepada Kara supaya diam dan menunggu sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar perawatan Kara.
Aslan membanting tubuh lunglai Vladimir ke lantai dengan keras, mencipratkan darahnya ke lantai dan membuat Yesil yang duduk di kursinya meringis tidak suka.
Lelaki itu mendongak dan menatap saudaranya dengan bingung.
“Kenapa kau membawa manusia kemari? Bukannya kau tidak pernah membawa hasil buruanmu ke istana?” tanya Yesil kemudian.
Aslan mengedikkan dagunya ke arah tubuh Vladimir yang lunglai.
“Dia berbeda. Kau tidak mengendus aromanya? Ada sesuatu yang berbeda. Lihat tubuhnya, ukurannya lebih besar dan lebih kuat dari manusia kebanyakan. Dia dengan tangan kosong melawanku dan tidak mati pada beberapa pukulan pertama,” Aslan mengawasi tubuh Vladimir. “Bahkan setelah aku menghajarnya dia masih bertahan hidup, sementara manusia lain sudah pasti mati. Aku menembaknya dengan pistol bius untuk kau periksa.”
Kali ini Yesil tampak tertarik setelah mendengar perkataan Aslan, dia berdiri dari kursinya dan bergerak ke arah tubuh Vladimir yang lunglai.
Yesil lalu berlutut di depan tubuh Vladimir, memeriksa darahnya dan mengendus perlahan. Aroma darah yang anyir telah menyamarkan aroma asing dari tubuh Vladimir.
Lelaki yang babak belur ini jelas-jelas manusia, tetapi ada sesuatu yang lain dengan aroma khas yang sepertinya dikenali oleh mereka yang tercampur di sana, khususnya di darah Vladimir yang menguar.
Mata Yesil membelalak ketika menyadari sesuatu, dia menatap Aslan yang menganggukkan kepala, menunjukkan pengenalan yang sama.
“Ini aroma air suci Zodijak… kenapa darah manusia bisa beraroma air suci Zodijak?” Yesil menggumam, dan sebelum sempat dia berkata-kata lagi, Kaza muncul di ruangan itu. Lelaki itu tentu sudah mendengar sebagian percakapan Yesil dengan Aslan.
Mata legamnya mengamati tubuh Vladimir dan indra penciumannya yang tajam mengendus aroma yang sama. Kaza menjaga supaya matanya tidak bertemu dengan Aslan sebelum kemudian berbicara,
“Aroma air suci Zodijak di darah manusia? Selama ini air suci Zodijak yang tersisa tersimpan dengan aman di dalam istana ini…. hanya sebagian kecil yang berhasil dibawa keluar dari istana, oleh Natasha… dengan bantuan Kara.” ucap Kaza lirih, mengutarakan kesimpulan yang sebenarnya sudah dipikirkan oleh ketiganya.
“Jadi Natasha ada hubungan dengan ini semua?” Yesil tampak berpikir, dia lalu menatap ke arah Aslan. “Aku akan meneliti manusia ini dulu dan mencoba menemukan benang merahnya.” ujarnya kemudian.
Aslan menganggukkan kepala, melirik sekilas ke arah Kaza lalu kembali ke arah Yesil.
“Beritahu Akrep juga, dia akan sangat tertarik. Dan aku akan kembali setelah ini.” ucapnya kemudian.
Perkataan Aslan yang menggantung itu mengusik rasa ingin tahu Yesil sehingga tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
“Setelah apa?”Aslan menoleh, lalu tidak bisa menahan seringaian yang muncul di bibirnya.
“Setelah memandikan istriku,” ujarnya kemudian sebelum melangkah pergi dalam sekelebatan mata.
Mischa menunduk di bawah pancuran air panas yang memukul-mukul punggungnya. Air itu sedikit menyakiti kulit karena Mischa sengaja menyalakan lebih panas dari yang seharusnya, membuat kulitnya memerah dan perih.
Tetapi Mischa tidak peduli, dia terus menggosok sisa darah yang menempel di kulitnya, darah dari manusia-manusia yang dibantai oleh Aslan yang sekarang luntur dan membuat air yang jatuh ke ke kakinya jadi berwarna keruh kemerahan.
Mischa terus menggosok tanpa henti, sementara dia berusaha menghindari menatap merahnya darah yang luntur dan membuat hatinya ciut.
Kembalinya ingatan mengerikan yang telah berusaha dia lupakan membuat Mischa seolah kehilangan pegangan, dan dia membutuhkan waktu untuk mengembalikan kekuatan jiwanya supaya utuh kembali.
Mischa melebarkan mata dan menggigit bibir, berusaha mengembalikan dirinya yang dulu, dirinya yang berhasil mengalahkan trauma nan menghantui dan pernah menguasai dirinya hingga membuatnya lemah dan menyimpan rasa takut nan traumatis kepada Bangsa Zodijak.
Mischa harus kuat, kalau tidak dia akan dilibas oleh Aslan tanpa ampun… dia harus kembali pada dirinya yang dulu yang penuh tekad dan berani melawan, tidak takut kepada Bangsa Zodijak dan tidak terintimidasi oleh kekuatan mereka….
Sebuah tangan yang kuat menyentuh pinggang Mischa nan ramping, membuat Mischa terkesiap dan tidak mampu meronta ketika menyadari bahwa Aslan menyusul di belakangnya, masuk ke dalam kamar mandi di bawah guyuran air panas bersamanya.
Lelaki itu menunduk lalu menenggelamkan kepala di lekukan leher Mischa sebelum kemudian berbisik dengan nada serak menggoda.
“Panas sekali airnya,” Aslan menelusurkan tangannya ke sisi tubuh Mischa sementara sebelah tangannya yang lain bergerak melewati tubuh Mischa dan memutar keran air supaya menurunkan suhunya. “Kau akan matang kalau lama-lama diguyur air panas. Kenapa kau melakukannya? Kau kedinginan?…. Padahal aku ada untuk menghangatkanmu,” sambungnya kemudian sebelum mendaratkan kecupan di sisi telinga Mischa.