Inevitable War

Inevitable War
Episode 124 : Batu Lonsdaleite



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )


 


 




Perkataan Imhotep membuat Mischa membelalakkan mata, diliputi ketakutan yang amat sangat. Seluruh tubuhnya bergerak mencoba meronta dan melepaskan diri dari belenggu yang mengikat kedua tangannya dalam kesia-siaan.


Mata Mischa semakin melebar ketik melihat Imhotep mulai mengeluarkan sesuatu berwarna hitam tetapi berkilauan. Bentuknya tipis memanjang seperti pisau bedah, tampak tajam dan berkilat-kilat, memantulkan cahaya lampu dan mengirimkan ancaman mengerikan yang menyerbu dan memukul jantung Mischa hingga berdebar lebih kencang daripada yang seharusnya.Seolah tahu bahwa apa yang dilakukannya membuat Mischa ketakutan, Imhotep malahan sengaja mengayun-ayunkan pisau bedah itu ke depan mata Mischa, diiringi dengan seringaiannya yang menyeramkan.


“Pisau ini dibuat dari bahan terbaik, berlian dari terkuat dari planet Zodijak. Ini adalah batu Lonsdaleite yang memiliki kekerasan lebih kuat 58% dari berlian terkuat di bumi sekalipun. Akulah yang membawanya ke bumi dan memperkenalkan batu ini kepada kalian. Tetapi batu ini terlalu keras untuk diolah dengan peralatan bumi yang menyedihkan seperti milik kalian hingga kalian sama sekali tidak bisa memanfaatkannya dengan maksimal,” Imhotep menimang batu di tangannya itu seperti menimang benda kesayangan, sebelum kemudian melemparkan tatapan mengancam sekali lagi ke arah Mischa. “Di tanganku benda ini bisa diubah menjadi pisau, pedang, senjata dan peralatan lainnya yang sangat kuat. Dan apakah kau tahu? Jika batu Londsdaleite ini dibuat menjadi pisau bedah, maka akan mampu menyobek kulit Bangsa Zodijak yang sangat tebal dan keras.”


“Kau tidak boleh melakukan itu!” Mischa berteriak, berusaha menyembunyikan kepanikannya. “Anak di dalam kandunganku tidak bersalah apapun kepadamu. Kau tidak boleh melukainya!” teriaknya, berusaha meronta kembali, didorong oleh naluri keibuan yang menyelimuti jiwanya.


Mata Imhotep menajam mendengar perkataan Mischa.“Anak di perutmu itu merusak rencanaku, sebuah anomali sialan yang seharusnya tidak mungkin terjadi tetapi ternyata bisa terjadi. Mungkin aku salah memperhitungkan besaran kemungkinan Bangsa Zodijak dan manusia bisa bereproduksi. Mungkin juga aku lupa bahwa kau memiliki darahku yang berarti sel telurmu memiliki genetik Zodijak yang bisa dibuahi oleh lelaki Zodijak. Dan kesalahanku itu membuat anak dalam kandunganmu tersebut mencemari darahmu yang berharga sehingga tidak bisa kumanfaatkan,” Imhotep menggertakkan gigi. “Tetapi aku masih bisa memperbaiki kesalahan ini. Anak itu tidak akan bisa bertahan dari pisau ini, jarum suntik atau peralatan lain mungkin bisa terkalahkan, tetapi tidak dengan pisau dari batu Lonsdaleite ini.


”Langkah Imhotep semakin dekat ke arah Mischa berbaring, sementara Mischa tidak mampu berbuat apa-apa.


“Tenanglah Mischa. Kau memiliki genetikku. Itu berarti kau memiliki kekuatan penyembuhan cepat sama sepertiku. Luka sayatan di perutmu akan cepat sembuh dan begitu aku berhasil mengambil bayimu, kau akan cepat pulih kembali,” ujarnya sambil menggunakan pisaunya untuk merobek pakaian Mischa yang menutupi perutnya, menampilkan perut Mischa yang membuncit berisi anaknya. Imhotep lalu mengetuk-ngetukkan ujung pisau bedah yang tajam itu di perut Mischa, merasa tidak perlu repot-repot membius Mischa ketika dia menggerakkan pisaunya untuk mulai menyayat kulit perut Mischa.


 



 


Beruntung kulit Bangsa Zodijak diciptakan tahan terhadap panas, es dan juga senjata hingga kondisi ekstrim yang mereka hadapi saat ini tidak begitu berpengaruh terhadap stamina mereka.


Gerakan Aslan dan Akrep begitu cepat, membelah padang pasir tersebut hingga menyeberangi dataran dalam jarak yang cukup luas. Sambil bergerak, mata Aslan menilai dan mengukur, mencari tempat di dataran yang tampak sama ini untuk menemukan pintu keluar lain dari lokasi markas tersembunyi bawah tanah milik Imhotep.Mereka menghabiskan waktu beberapa lama berputar-putar mengitari lokasi dan melakukan penyisiran sebelum mata Aslan yang tajam mengangkat sesuatu.Aslan langsung menghentikan langkah sementara Akrep mengikuti di belakangnya.


“Di sebelah sana,” Aslan menunjuk ke arah sebuah area berbentuk tak beraturan tertutup pasir yang warnanya tampak lebih gelap dari warna pasir di sekelilingnya. Siapapun yang melihat sekilas, apalagi dari pesawat pengintai dari bagian atas tidak akan menyadari perbedaan ini dan hanya menganggap bahwa bayangan awan meneduhi tempat ini dari sinar matahari sehingga menciptakan visual yang lebih gelap dari sekelilingnya. Tetapi mata Aslan sangat awas dan dia telah memindai lokasi dimana langit masih cerah meskipun sudah beranjak sore dan tidak ada awan yang menghalangi matahari.


Aslan dan Akrep bergerak perlahan mengitari tempat itu dengan hati-hati, mereka memastikan bahwa tidak ada pasukan musuh yang berjaga sebelum kemudian Aslan memindai kembali dan menemukan ada kait baja yang tertimbun oleh tumpukan pasir.


Aslan mengeluarkan pistol laser peleleh besi dan menggunakan tenaganya untuk mengangkat permukaan baja yang sangat berat yang tadinya tertimbun oleh pasir yang sangat banyak. Pintu itu sangatlah berat hingga Aslan harus dibantu oleh Akrep untuk mengangkatnya. Dan ketika lapisan atas pintu belakang menuju markas musuh itu terangkat, Aslan dan Akrep langsung saling melempar pandang.


Sekarang tahulah mereka kenapa markas bawah tanah yang terbentang begitu besar ini tidak terlacak oleh pesawat pengintai yang memiliki kekuatan untuk melihat menembus tanah. Imhotep sungguh cerdik, dia memodifikasi lapisan baja yang sangat tebal yang dipadukan dengan batu Lonsdaleite yang sangat keras dan kuat untuk menutupi seluruh permukaan bagian atas markas di bawah tanah ini.


Batu Lonsdaleite sangatlah keras dan hampir tidak memiliki rongga hingga alat pemindai milik pesawat pengintai pun tidak memiliki kekuatan untuk menembusnya.


Aslan hendak menuruni tangga yang terbentang ke bagian bawah area musuh, tetapi Akrep menyentuh pundak dan menahannya.


“Apakah kau yakin bisa menghadapi pasukan musuh yang sudah pasti ada sedemikian banyak di dalam sana? Jika mereka menggunakan senjata beracun dari darah Natasha, kau akan dilumpuhkan dengan cepat. Memasuki markas musuh begitu saja bukanlah cara terbaik,” ujar Akrep dengan nada penuh pertimbangan.


Ekspresi Aslan mengeras. “Aku harus menemukan Mischa. Entah apa yang akan dilakukan Imhotep kepadanya, dia mungkin akan memeras darah Mischa seperti apa yang dilakukannya pada Natasha. Aku tidak akan membiarkan istri dari pemimpin tertinggi Bangsa Zodijak diperlakukan seperti itu,” Aslan tampak berpikir, lalu kemudian memberikan instruksi pada Akrep. “Aku akan masuk mengenakan jubah kamuflase dan mencoba mencari Mischa. Dia sedang mengandung anakku, itu berarti kemungkinan besar aku bisa memanggilnya lewat telepati. Untuk saat ini kita harus menghindari pertarungan tatap muka dan adu senjata karena jika sesuai dugaan musuh kita memiliki senjata dengan racun darah Natasha, korban jiwa akan ada banyak sekali dari pasukan kita.”


“Jika kau melarang adu senjata, maka satu-satunya cara adalah kami harus meledakkan markas musuh ini sampai luluh lantak tak bersisa,” Akrep bergumam dengan dahi berkerut dalam, “Bagaimana bisa kami melakukan itu, sementara kau, Mischa dan kemungkinan besar juga Natasha masih ada di dalam?”


“Kau masuk bersamaku untuk berjaga jika kita juga menemukan Natasha. Sementara itu aku akan memerintahkan Kaza membawa pasukan memasuki markas ini melalui pintu belakang, dengan menggunakan jubah kamuflase yang membuat mereka tak kasat mata. Pasukan Kaza akan menempelkan bom penghancur di seluruh penjuru markas ini dan dalam satu jam bom itu akan meledak. Itu adalah waktu paling maksimal sebelum Imhotep dan pasukannya menyadari kehadiran kita dan menggagalkan misi kehancuran itu. Seluruh pasukan Kaza harus sudah keluar dari markas ini dan menyelamatkan diri sebelum bom itu meledak,” Aslan memejamkan mata, mengirimkan perintah melakui telepati kepada Kaza, memastikan supaya seluruh instruksinya dimengerti dan dilaksanakan dengan tepat.


Setelah itu Aslan membuka matanya kembali dan menatap Akrep dengan pandangan penuh tekad. Mereka berdua sudah mengenakan jubah kamuflase yang membuat diri mereka tidak kasat mata. Aslan memasang penutup di kepalanya dan melompat masuk serta menginjak anak tangga teratas yang menuju area musuh.


“Ayo Akrep. Waktu satu jam juga berlaku untuk kita. Dalam kurun waktu tersebut, kita sudah harus menemukan Mischa dan juga Natasha.”