Inevitable War

Inevitable War
Episode 146 : Persiapan



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M ER


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )



“Kau masih di sini?”


Kara sedang membawa Natasha ke dalam gendonganya. Perempuan itu masih lunglai dan tidak sadarkan diri bagaimanapun Kara berusaha membangunkannya.


Pada akhirnya, Kara menyerah dan mengikuti nasehat Akrep supaya membawa Natasha ke ruang perawatan di area Yesil. Hanya Yesil yang bisa menemukan apa yang terjadi pada Natasha dan menyebabkan kesadaran perempuan itu belum juga kembali. Entah apa obat yang disuntikkan oleh Imhotep pada Natasha, tetapi obat itu berhasil membuat Natasha tidak sadarkan diri begitu lama hingga Kara kehilangan jejak dan tidak bisa menemukannya.


Tetapi, saat ini Yesil bahkan tidak sadarkan diri. Racun dari darah Natasha sepertinya berimbas sangat kuat pada diri saudaranya itu, sehingga kondisi Yesil saat ini hampir sama seperti Natasha. Hidup tapi kehilangan daya hidup. Seperti mati suri.


Satu-satunya harapan mereka sekarang adalah menyerang Imhotep dan menemukan pasangan air suci Yesil yang bisa menyembuhkannya. Bukan hanya pasangan air suci Yesil, tetapi pasangan air suci bagi Akrep, Sevgil dan Khar yang belum ditemukan.


Dirinya, Aslan dan Kaza mungkin lebih beruntung dibandingkan saudara-saudara mereka yang lain, setidaknya, pasangan air suci mereka dihantarkan oleh nasib ke tangan mereka masing-masing saat ini sehingga bisa saling menguatkan satu sama lain.


Mischa telah menceritakan semua yang dia ketahui dengan gamblang kepada mereka semua sebelumnya.


Apa yang dikatakan oleh Mischa memang bisa dibilang sulit dipercaya, tetapi setelah dipikirkan dengan mendalam mereka bisa menemukan kebenaran di sana. Bukan suatu yang mustahil bahwa Imhotep telah merencanakan ini sejak lama untuk membalas dendam kepada Bangsa Zodijak, dan melihat kekuatan Imhotep sebagai salah satu bagian dari nenek moyang Bangsa Zodijak, sang pembawa zodiak ular itu memang memiliki kemampuan yang luar biasa.


Lelaki itu dianggap sebagai Sang Penyembuh di bumi dan menciptakan rekayasa genetika dari perpaduan manusia dan darahnya sendiri bukanlah sesuatu yang sulit.


Kara hanya tidak menyangka bahwa Imhotep menyimpan dendam yang sebegitu besarnya karena diasingkan oleh pembawa zodiak yang lain. Dia juga tidak menyangka bahwa Imhotep menghilang dan pergi meninggalkan Planet Zodijak dengan tujuan mengumpulkan kekuatan untuk membalaskan dendamnya.


Entah karena Imhotep memang memiliki kekuatan untuk meramal, atau mungkin juga Imhotep tahu bahwa pada akhirnya, setelah mereka kehilangan daya akan air suci di Planet Zodijak, Bangsa Zodijak akhirnya akan berakhir di bumi juga dan masuk ke dalam jebakannya.


Saat ini, Aslan sudah menyiapkan pasukan untuk bertempur melawan Imhotep, sekaligus membawa misi prioritas untuk menemukan pasangan air suci bagi saudara-saudara mereka yang lain. Aslan sendiri optimis bahwa mereka bisa menemukan pasangan air suci itu dengan segera meskipun Imhotep sudah memulai terlebih dahulu. Hal itu didasarkan pada pengalamannya, bahwa meski tanpa direncanakan, para pemimpin Bangsa Zodijak akan selalu tertarik dan menemukan pasangannya.


Seperti halnya Aslan dengan Mischa, Kaza dengan Sasha maupun Kara dengan Natasha.


Mata Kara beralih menatap Kaza dan barulah dia menyadari bahwa baik dirinya maupun saudara-saudara mereka yang lain, mungkin karena terlalu serius menyiapkan misi penyerangan serta penyelamatan ini, lupa bahwa sejak tadi Kaza tidak ada di antara mereka.


Kaza sekarang sedang duduk di tepi ranjang, ranjang tempat Sasha berada. Sementara sosok Sasha sendiri tengah tidur pulas di balik selimut, tampak nyaman dan nyenyak dalam pulasnya dan membuat Kara curiga bahwa Kazalah yang menyelimuti anak perempuan itu dengan rapi.


“Kau tidak menghadiri pertemuan,” Kara mendekap Natasha ke dadanya dan langsung mengucapkan apa yang ada di pikirannya.


Kaza sendiri mengangkat bahu, sudut matanya melirik ke arah Sasha meskipun lelaki itu seolah mencoba bersikap tidak peduli.


“Aku menunggu sampai anak ini tertidur,” ujarnya merujuk kepada Sasha. “Dia benar-benar anak yang merepotkan. Memelihara manusia benar-benar menyusahkan, mereka butuh makan dan tidur kalau tidak akan ambruk, belum lagi tubuh lemah dan emosi mereka yang labil serta rapuh.”


“Kau tertinggal banyak sekali informasi. Mungkin, setelah kau bergabung bersama Khar dan Sevgil untuk persiapan berangkat, kau bisa menanyakannya pada mereka.” Kara merujuk pada informasi yang diberikan oleh Mischa tadi, informasi penting yang belum diketahui oleh Kaza.


Kaza mengerutkan kening mendengar perkataan Kara. “Kita akan berangkat bertempur lagi?” tanyanya mengulang. “Sekarang?”


“Ya. Sekarang, secepat kita bisa karena saat ini kita sedang berpacu dengan waktu. Kita sedang berkejaran dengan Imhotep,” mata Kara yang tajam menemukan bahwa Kaza sedang melirik ke arah Sasha dengan ragu. Segera dia mengerti apa yang ada di dalam pikiran Kara.


“Jangan khawatir. Aku akan menjaga semuanya. Baik Natasha, Yesil maupun Sasha, aku akan menjaga mereka semua di sini selama kepergian kalian,” ucapnya dengan tepat, menebak apa yang ada di dalam pikiran Kaza.


Dia tahu pasti bahwa Kaza sudah tentu merasa enggan meninggalkan Sasha, padahal baru saja dia bisa melihat anak perempuan itu. Kaza, saudaranya itu terbiasa menutupi perasaan. Tampak getir dan bermusuhan, tetapi hati Kaza sebenarnya baik. Dan karena telah berpengalaman dengan apa yang dirasakannya terhadap Natasha, Kara jadi bisa tahu apa yang saat ini dirasakan oleh Kaza.


Kaza menganggukkan kepala, tampak lega mendengarkan jaminan yang diucapkan oleh Kara. Lelaki itu berdiri, lalu matanya terpaku pada sosok Natasha yang berada di gendongan Kara.


“Natasha… eh… belum terbangun juga?” tanyanya dengan nada prihatin.


Kepala Kara menunduk ke arah Natashanya yang cantik, lalu dia menggelengkan kepala dengan sedih.


“Aku hanya berharap kau bisa menemukan pasangan air suci Yesil. Lalu kita bisa menyembuhkan Yesil. Sebab mungkin hanya Yesillah satu-satunya harapan kita untuk menangani Natasha,” jawabnya dengan suara sedikit bergetar, menyimpan ketakutan akan kemungkinan bahwa saudara-saudaranya tidak akan berhasil melaksanakan misi.


Kaza mengacak rambutnya, tampak salah tingkah. Ketika berbicara kemudian, matanya menyiratkan penyesalan.


“Aku belum minta maaf kepadamu atas tuduhanku sebelumnya terhadap Natasha,” ujarnya dengan suara pelan penuh ketulusan. “Aku meminta maaf atas tuduhan jahatku, Kara. Pada kenyataannya, Natasha ternyata begitu menderita.”


Kara menganggukkan kepala, ada senyum di bibirnya. “Kau tidak bersalah, keadaanlah yang membuatmu berpikir buruk. Kadang di saat harapanku sampai di titik rendah, hatiku juga sempat goyah dan kehilangan kepercayaan pada Natasha. Aku memahami perasaanmu,” jawab Kara dengan nada tak kalah tulus.


 


Kaza menipiskan bibir seolah akan tersenyum, lalu menepuk pundak Kara ketika berjalan melewatinya.


“Kami pasti akan menemukan pasangan air suci Yesil dan saudara-saudara kita yang lain. Lalu kita akan membangunkan Natasha,” janjinya dengan suara penuh tekad. Menguar di udara, bahkan setelah langkah kakinya membawanya pergi meninggalkan ruangan.



 


 


Kali ini pasukan yang disiapkan lebih besar dari sebelumnya. Hampir seluruh tentara Bangsa Zodijak bersiap untuk pertempuran besar yang akan mereka hadapi.


Aslan membawa Mischa kembali ke kamar mereka, tetapi kali ini bukan untuk bercinta. Ekspresi Aslan terlihat serius, bahkan ketika dia sedang berganti pakaian dengan pakaian perangnya yang berwarna hitam khas. Lelak Mischa sendiri duduk di tepi ranjang dan menunggu, dia sengaja mengabaikan gaun-gaun yang diberikan oleh Aslan di lemari pakaiannya, dan meminta kepada Akrep untuk menyiapkan pakaian yang lebih pantas dikenakannya ke medan perang.


Ya, Mischa bertekad untuk ikut bersama dengan para Bangsa Zodijak ke medan perang dalam pencarian atas Imhotep berserta perempuan-perempuan yang memiliki nasib sama dengan Mischa.


Ketika Mischa meminta pakaian pada Akrep, lelaki itu langsung menoleh kepada saudaranya seolah meminta persetujuan, dan itu membuat Mischa jengkel. Selama ini Mischa menganggap bahwa Akrep adalah salah satu pemimpin Bangsa Zodijak yang memiliki kekuatan sepadan dengan Aslan. Hal ini dilihat dari beberapa keputusan bijak yang diambil Akrep terhadap saudara-saudaranya, juga dibeberapa kesempatan dimana Akrep mengkonfrontasi Aslan. Tetapi, ternyata, Aslan tetaplah pemimpin dari seluruh saudaranya, karena untuk keputusan mengenai Mischa ini pun, Akrep tidak berani melangkahi Aslan.


Aslan menipiskan bibir dengan ekspresi marah melihat tingkah Mischa, tetapi tak urung lelaki itu menganggukkan kepala kepada Akrep, memberikan persetujuan.


Ya, Aslan mau tak mau harus memenuhi komprominya kepada Mischa untuk membawa perempuan itu ke medan perang meskipun sebenarnya dia tidak setuju.