Inevitable War

Inevitable War
Episode 16 : Rencana Aslan



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


***



 


Keheningan langsung meliputi ruangan, membuat udara terasa panas, menguar oleh aura kemarahan yang terpancar dari wajah Aslan.


Akrep hanya mengangkat bahu dan memilih untuk tidak mengkonfrontasi saudaranya yang berdarah panas itu, sementara Aslan memalingkan kepala, menatap ke arah saudara-saudaranya masih dengan ekspresi gusar yang kental di wajahnya. Baru pada saat itulah dia menyadari bahwa mereka semua sudah mengenakan pakaian tempur.


“Apakah kalian akan pergi berperang?” tanyanya dingin.


Sevgil menyeringai, dihias senyum di sinar matanya. “Tentu saja, seperti biasanya, Aslan. Kita akan menggempur musuh dengan dahsyat hari ini,” ucapnya dengan nada optimis sedikit sombong.


“Bagus,” Aslan menjawab dengan nada kaku. “Aku akan menyiapkan diri, lalu ikut pergi berperang bersama kalian. Membunuh manusia sebanyak mungkin sepertinya bisa sedikit mengembalikan suasana hatiku.” ucapnya kemudian sambil menyeringai kejam.


 


﴿﴿◌﴾﴾



 


“Kau akan membiarkan Aslan mengikat Mischa?”


Kara datang kemudian dengan marah ketika saudara-saudaranya telah pergi dari ruangan itu, mempersiapkan diri untuk berangkat berperang, sementara hanya Akrep yang tinggal untuk mengkoordinasi pasukan di pusat kendali.


Akrep menoleh, mengangkat alis melihat keseriusan di wajah Kara. “Kau pasti sudah tahu bahwa manusia perempuan itu ditakdirkan untuk Aslan, Kara,”  jawab Akrep kemudian.


Kara mengerutkan kening tidak setuju, “Aslan akan meremukkan Mischa, Akrep. Manusia perempuan itu begitu rapuh, begitu lemah jika dibandingkan dengan kekejaman dan kekasaran Aslan. Kalau Aslan tidak bisa menahan emosinya, bisa saja dia membuat perempuan itu tewas, dan kalau sampai perempuan itu tewas sebelum kita mendapatkan jawaban, kita juga yang akan rugi. Seharusnya kau memberikan manusia perempuan itu kepadaku, aku akan menjaga dan memperlakukannya dengan baik. Hanya aku satu-satunya di antara kalian yang tahu bagaimana memperlakukan manusia perempuan dengan baik tanpa meremukkan mereka ketika aku memilikinya.”


“Bukan aku yang bisa menjadi penentu di sini, Kara,” Akrep menyela cepat. “Kau pasti sudah tahu siapa pemimpin tertinggi di antara kita, seberapapun besar kau tidak suka dengannya, Aslan tetaplah pemimpin kita yang harus kita hormati. Lagipula alam sudah menunjukkan bahwa perempuan itu sudah ditakdirkan menjadi milik Aslan, dan meskipun kau tidak setuju, kau tidak akan pernah menang melawan Aslan.”


“Aku akan berbicara dengan Yesil,” Kara seolah-olah tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Akrep. “Yesil pasti tahu bahwa Aslan pasti akan meremukkan Mischa kalau dia mencoba memilikinya. Dia akan setuju denganku supaya Aslan tidak buru-buru memanen Mischa sebelum tubuh Mischa siap.


”Sambil mengucapkan kalimatnya dalam gerutuan cepat, Kara melangkah keluar dari ruangan, sama sekali tidak mempedulikan Akrep dan membuat Akrep hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah masam.


 


﴿﴿◌﴾﴾



 


Pintu kamar terbuka dengan kasar dan Mischa yang kali ini tidak bisa tidur kembali tersentak.


Kali ini Mischa sudah siap dengan kedatangan Aslan. Dirinya duduk di sebuah kursi yang berada di sudut ruangan sambil memasang kursi lain di depannya yang seolah-olah bisa menjadi tameng baginya.


Aslan berdiri, menatap Mischa dan bibirnya menipis dan memasang ekspresi mencemooh seolah-olah garis pertahanan yang dipasang oleh Mischa menggelikan baginya.


Aslan tiba-tiba berucap, matanya terpaku tajam ke arah Mischa, sementara ekspresinya menilai dengan cara mengerikan ke arah Mischa. Mischa sendiri mendongakkan kepala, menatap ke arah Aslan dengan bingung.


Berubah pikiran tentang apa?


Mischa tidak perlu menunggu lama untuk menemukan jawaban atas pertanyaannya karena Aslan langsung melemparkan jawaban itu ke depannya.


“Aku tidak akan menunggu kau siap untuk memanenmu,” desis Aslan lambat-lambat. “Aku akan memanenmu malam ini, segera setelah aku mengikatmu.”


“Mengikatku?” Mischa berucap dengan terbata. Bahkan mendengar kata ‘mengikat’ terasa lebih mengerikan daripada mendengar kata ‘memanen’ dari bibir Aslan.


Memanen hanya mencakup perkara memuaskan nafsu, tapi Mischa tahu betapa seriusnya arti ‘mengikat’ bagi bangsa Zodijak, mengikat berarti sebuah komitmen serius, sebuah kontrak pernikahan untuk melanjutkan keturunan.


Lelaki Zodijak ini sedang bercanda, bukan? Bagaimana mungkin Aslan akan melakukan kontrak untuk melanjutkan keturunan dengannya yang notabene seorang manusia?


“Malam ini, setelah aku pulang dari berperang, kita akan melakukan upacara pernikahan, pengikatan dirimu menjadi milikku,” mata Aslan masih lekat menatap Mischa. “Setelah itu kau harus bersiap-siap, aku akan memanenmu dan jika ternyata tubuhmu sanggup dan kau masih hidup setelah kupanen, aku akan menunggu dalam waktu tertentu untuk memastikan apakah kau bisa memberiku keturunan atau tidak. Jika ternyata kau tidak bisa memberiku keturunan, maka aku akan membunuhmu,” Aslan menyipitkan mata penuh ancaman. “Lebih baik aku membunuh istriku daripada harus selamanya terikat kontrak pernikahan dengan perempuan yang tidak bisa memberiku keturunan.” ucapnya kemudian lalu melangkah kembali ke pintu.


“Tunggu dulu!” Mischa meloncat dari duduknya, entah kenapa rasa panik bercampur ingin tahu bisa mengalahkan ketakutannya, membuatnya berani menghadapi Aslan.


“Kenapa kau harus mengikatku? Apa yang ada di benakmu? Bangsa Zodijak tidak pernah mengikat manusia sebelumnya, kami sudah jelas-jelas tidak bisa memberi kalian keturunan karena susunan genetik kita berbeda. Itu sama saja kau memberikan hukuman mati untukku tapi kau mengulur-ulurnya. Apakah kau sedang menggunakan kontrak pernikahan yang sakral bagi bangsa Zodijak hanya untuk mempermainkanku?”


Aslan membalikkan badannya dan menyeringai marah ke arah Mischa,“Tinggi sekali kau menilai dirimu, dasar manusia rendahan yang tak tahu diri. Aku tidak akan mengorbankan kesakralan sebuah kontrak pernikahan hanya untuk makhluk berderajat rendah seperti dirimu,” desis Aslan geram. “Kontrak pernikahan ini terjadi karena sebuah alasan dan karena saudara-saudaraku berpikir bahwa ini semua baik adanya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kepentinganmu.” tiba-tiba Aslan memutuskan untuk memutari ranjang dan mendekat ke arah Mischa, membuat Mischa menyesal karena dia menantang Aslan tadi.


Mischa melangkah mundur di setiap langkah Aslan yang mendekat hanya untuk menemukan punggungnya tertahan di tembok dan tidak bisa mundur lagi. Aslan terus mendekat, tidak peduli dengan Mischa yang membuka kedua telapak tangan jauh di tubuhnya dan menghadap ke arah Aslan, sebuah gerakan tubuh refleks yang menandakan penolakan atas sebuah kedekatan yang dipaksakan, dan langkah Aslan baru berhenti ketika tubuhnya erat di depan Mischa.


Tangan Aslan bergerak, mencengkeram kedua pergelangan tangan Mischa dengan kasar dan menahannya di depan tubuh sementara Aslan berdiri dekat sekali di depan Mischa.


“Lepaskan aku!”


Mischa meronta, berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Aslan, tapi tentu saja gerakannya percuma, pegangan Aslan begitu kuatnya hingga menyiksa dirinya dan menyakitinya. Lelaki itu malahan menundukkan kepala hingga napasnya yang panas terasa begitu dekat di bibir Mischa.


“Kau rupanya tahu banyak tentang kebudayaan bangsa kami, apakah aku harus mencurigaimu? Jangan-jangan kau benar-benar senjata yang sengaja disusupkan kemari untuk membunuhku?”


Pertanyaan itu tidak dijawab oleh Mischa dan Mischa malahan memutuskan untuk memalingkan wajah menghina, membuat kemarahan menyelimuti diri Aslan.


“Kalau semua berdasarkan keputusanku, aku hanya akan menjadikanmu pemuas nafsuku sampai aku puas sebelum kemudian dengan senang hati aku akan membunuhmu. Bisa dibilang itulah rencanaku sebelumnya,”


Aslan mendorong pergelangan tangan Mischa ke dinding dan mencengkeramnya di sana sementara dirinya dengan kurang ajar menggunakan tubuhnya untuk mendorong tubuh Mischa rapat di tembok, membuat usaha Mischa untuk meronta dan melarikan diri benar-benar sia-sia.


“Manusia perempuan sialan,” umpat Aslan dengan kasar. “Kenapa aku harus bertemu denganmu dan mengalami ini? Kau tidak membawa apapun kepadaku selain nasib buruk!” sambungnya kasar dan entah kenapa kemudian malah memutuskan untuk menunduk sementara bibirnya mencari-cari bibir Mischa.


Seketika itu juga Mischa berusaha memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, sekuat tenaga menghindari pagutan bibir Aslan yang mulai menyerangnya.


Gerakan Mischa yang tak mau menyerah itu membuat Aslan kesulitan untuk menemukan bibir Mischa sementara ciumannya hanya mendarat di pipi dan sudut bibir Mischa.


Dengan gemas Aslan melepaskan cengkeramannya di salah satu pergelangan tangan Mischa dan menggunakan tangannya untuk menahan pipi Mischa supaya dia bisa menciumnya tanpa halangan.


Mischa meronta, menggunakan salah satu tangan kurusnya yang terbebaskan untuk memukuli punggung Aslan, tapi semua itu tidak ada gunanya karena pukulan dari kepalan mungilnya sepertinya tidak bisa menandingi kekuatan Aslan.


Pada akhirnya, ketika ciuman paksa itu berakhir, Mischa hanya bisa memalingkan muka dan menahankan air matanya sekuat tenaga karena dia tidak mau meneteskan air mata dan terlihat lemah di depan lelaki ini padahal dia sedang menahan nyeri di bibirnya yang berdenyut kesakitan.


Aslan sendiri seketika melepaskan pegangannya dari Mischa dan melangkah mundur seolah tubuh Mischa tiba-tiba mengeluarkan bara api yang menyengat ketika dia menyentuhnya.


Ekspresi Aslan tetap sama, dingin dan dipenuhi kekejaman yang menyeramkan.


“Para budakku akan menyiapkanmu. Dan malam ini, setelah upacara kontrak pernikahan, aku akan memanenmu.” geramnya kasar bagaikan sebuah janji mengerikan yang masih tetap menguar di udara bahkan setelah lelaki itu melangkah pergi meninggalkan ruangan.


 


***


 


[part ini adalah versi sensor. Versi uncut ada di projectsairaakira Inevitable War Part 5 : A BOND BETWEEN SOULS ]