Inevitable War

Inevitable War
IW eps 2 : Bangsa Manusia



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira.


 


 


 


 


 


 


 


 



Mischa membungkukkan tubuh supaya debu yang mengotori udara tidak menampar wajahnya dan masuk ke saluran pernapasan. Kain yang dia gunakan untuk menutup wajahnya sama sekali tidak membantu karena keruhnya udara di sekeliling mereka.


Dirinya mungkin bisa bertahan, tetapi Mischa mencemaskan Sasha yang masih kecil. Anak itu baru pertama kali naik ke daratan atas, keluar dari gua-gua yang tertutup puing bawah tanah dan belum berpengalaman menantang udara berdebu yang terpaksa mereka hirup.


Mischa terpaksa membawa Sasha naik karena anak itu menangis dan merengek ingin melihat dunia luar dan mengikuti Mischa menjalankan gilirannya mencari bahan makanan. Akhirnya tangisan dan rengekannya mulai mengganggu anggota kelompok mereka sehingga mereka semua menyuruh Mischa segera menyingkir dan membawa Sasha naik ke atas untuk mencari persediaan makanan. Anggota kelompoknya yang lain sudah terlalu lelah memikirkan hidup mereka yang penuh ancaman dan tidak membutuhkan gangguan rengekan anak kecil yang keras kepala.


Beruntung meskipun membawa Sasha, Mischa berhasil melaksanakan tugasnya. Bahan makanan sudah didapat dan saat ini, tinggal menyelesaikan beberapa tantangan lagi.


Mischa dan Sasha harus melalui dua bangunan tinggi yang telah runtuh sebelum masuk ke pintu terowongan bekas stasiun kereta bawah tanah yang menjadi pintu penghubung ke lokasi persembunyian mereka di bawah sana.


Hanya tinggal sedikit lagi… dan sayangnya langkah Mischa harus terhenti karena matanya menangkap sosok itu. Sosok tinggi berpakaian hitam yang mulai tertutup debu pasir, rambutnya sama legam dengan pakaiannya dan sedikit panjang menyentuh kerah.


Sosok itu, meskipun terhalang pasir pekat yang berterbangan, sudah pasti berwujud makhluk laki-laki dan sedang bergeming seolah-olah menanti mereka.


Mischa menajamkan mata berusaha menembus buliran pasir tanpa memedulikan matanya yang terasa pedih. Yang pertama dilihatnya adalah bola mata makhluk itu. Dan napasnya langsung terhembus lega ketika melihat warna putih berpadu hitam di sana.


Matanya tidak hitam legam. Makhluk di depannya adalah manusia. Manusia laki-laki.


Tetapi, kelegaan Mischa tidak berlangsung lama karena dia merasa tidak pernah melihat lelaki itu sebelumnya. Laki-laki itu bukan anggota kelompok mereka… bahkan pakaiannya terlalu bagus dan rapi. Kaum penyelinap biasanya menggunakan kain cokelat berlapis-lapis yang compang-camping. Pakaian itu berguna sebagai pelindung panas terik menyiksa di siang hari sekaligus sebagai penghangat ketika malam menyerbu dengan hawa dingin menusuk tulang.


Naluri Mischa langsung dirambati oleh rasa tidak enak. Semacam alarm peringatan bahaya yang menyala dari dalam tubuh, membuat bulu kuduk di belakang leher dan sepanjang tulang punggungnya meremang.


Secara impulsif, Mischa langsung menghela Sasha supaya berjalan di belakangnya, berlindung di balik tubuhnya dan Mischa menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng untuk melindungi Sasha dari apapun yang sedang menunggu di depan mereka.


Sejenak Mischa merasa ragu, ingin membalikkan diri dan berlari, tapi dia tidak punya pilihan lain. Satu-satunya jalan untuk memasuki lokasi persembunyian kelompoknya adalah pintu terowongan yang berada tepat di belakang posisi laki-laki itu berdiri.


Pintu-pintu masuk ke lokasi bawah tanah yang lain sudah tertutup reruntuhan gedung dalam bongkahan besar yang tidak mampu diangkat oleh manusia tanpa alat berat, beberapa yang lain malahan sengaja ditutup untuk menghindari akses masuk ke tempat persembunyian mereka dilacak oleh Bangsa Zodijak.


Sebenarnya masih ada satu pintu cadangan di lokasi lain, tetapi untuk menemukan pintu itu, mereka harus melalui sekitar lima puluh gedung besar yang sudah runtuh. Perjalanan itu akan sangat berbahaya karena membuat mereka masih akan ada di permukaan sampai matahari tenggelam, padahal patroli dari Bangsa Zodijak biasanya menginspeksi reruntuhan di malam hari dengan senjata lengkap dan kekejaman yang luar biasa.


Tidak ada pilihan lain. Mischa memilih mengabaikan nalurinya yang meneriakkan alarm peringatan dan membawa Sasha untuk mendekati sosok misterius berpakaian hitam yang bergeming di depan mereka.


Langkahnya sudah semakin dekat ketika Mischa memutuskan untuk berhenti di jarak aman dan menyapa.


“Apakah kau butuh bantuan?” Tanya Mischa pelan dan waspada. Tangannya bergerak pelan, menyentuh pisau yang selalu diselipkan di pinggang. Jika dirinya bertemu dengan Bangsa Zodijak, pisau itu tidak akan berguna. Tetapi jika lawannya adalah manusia, setidaknya Mischa bisa melawan dan memperlambat musuhnya sembari memberi kesempatan bagi Sasha untuk lari dan berlindung.


Sosok berpakaian hitam itu mengangkat kepala, menatap Mischa dengan pandangan mata tak tertebak, dan Mischa sekali lagi menyambar mata lelaki tersebut untuk memastikan kembali dari jarak dekat. Memang bukan hitam legam sepenuhnya... Mischa membatin dalam kelegaan. Sudah dipastikan makhluk di depannya bukan Bangsa Zodijak melainkan manusia biasa.


Mischa mengamati tubuh lelaki itu dan kagum melihat betapa tinggi dan tegapnya dia. Lelaki ini tampak kuat dan sehat, apalagi jika dibandingkan dengan kaum lelaki lain di kelompoknya. Seandainya saja dia bisa membujuk lelaki itu masuk ke dalam kelompok mereka, mungkin lelaki ini bisa sangat berguna di sana.


“Apakah kau tersesat?” Mischa bertanya lagi, mencoba untuk bersikap ramah sementara lelaki itu hanya berdiam dan mengamatinya dengan tatapan mata tajam seolah mencerna perkataannya.


Tak lama kemudian, lelaki itu mengangguk.


Jadi lelaki ini benar-benar tersesat dan terpisah dari kelompoknya? Mischa membatin, merasa kasihan.


“Apakah kau terpisah dari kelompokmu?” tanyanya kemudian untuk meyakinkan dugaannya.


Sekali lagi lelaki itu mengangguk.


“Aku sendirian di sini, jauh dari kelompokku.” bahu lelaki itu sedikit terangkat ketika membuka mulut untuk pertama kali. Suara lelaki itu terdengar sedikit aneh dengan aksen berat yang diseret, berbeda dengan orang-orang yang pernah bercakap-cakap dengan Mischa sebelumnya. Meskipun berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh Mischa, kemungkinan besar lelaki ini orang asing dari tempat yang jauh.


“Kau terdampar di sini dan tidak bisa menemukan kelompokmu? Lalu apa rencanamu untuk menemukan mereka?” Mischa bertanya lagi, tahu bahwa dirinya mungkin membuat lelaki itu tidak nyaman karena ikut campur tetapi memilih mengabaikan tata karma untuk saat ini. Godaan untuk menawarkan supaya lelaki itu mau bergabung dan memperkuat kelompok mereka terasa lebih kuat. Anggota baru yang sehat sangat diperlukan untuk membantu kelompoknya mempertahankan diri di bawah sana.


“Aku tidak punya rencana apa-apa.” sekali lagi lelaki itu menjawab lambat-lambat dengan nada misterius yang seharusnya menyentil kecurigaan Mischa.


Sayangnya Mischa memilih untuk menumpulkan kecurigaan itu, tertutup oleh rasa senang karena kemungkinan menemukan anggota kelompok baru yang cukup kuat.


“Kau bisa bergabung dengan kelompokku,” Mischa menawarkan dengan bersemangat. “Kami ada dalam kelompok kecil, hanya delapan orang, tapi kami cukup kuat.”


Lelaki itu melirik ke arah Sasha yang masih bersembunyi di belakang tubuh Mischa.


“Kalian kuat? Dengan anak kecil seperti itu?” ucapnya kemudian dengan nada meremehkan.


Pipi Mischa memerah karena nada merendahkan yang tidak ditutup-tutupi dari lelaki itu, dan sikap defensifnya langsung muncul seketika.


“Oh ya?” kali ini lelaki asing itu tampak tertarik. “Berapa laki-laki dewasa dan berapa perempuan dewasa di sana?”


“Tiga laki-laki dewasa dan lima perempuan, termasuk aku dan Sasha.” Mischa menunjuk Sasha sambil lalu. “Kau bisa bergabung dengan kami kalau kau tertarik. Di area ini kau harus masuk ke dalam satu kelompok, karena kau tidak akan bisa bertahan kalau sendirian, mereka pasti akan menemukanmu.” Mischa mengulurkan tangannya dengan sopan tanpa memberi kesempatan lelaki itu bersuara.


“Namaku, Mischa. Siapa namamu?”


Lelaki itu mengangkat alis, menatap tangan mungil Mischa yang terulur dengan tatapan mata skeptis yang tidak disembunyikan. Tapi tak lama kemudian, tangan kuatnya terangkat dan menyambut uluran tangan Mischa, menggenggamnya erat seolah mengukur kekuatan.


“Kau bisa memanggilku, Alan,” lelaki itu tersenyum lebar. “Terima kasih sudah mengajakku. Aku tidak sabar untuk bergabung dengan kelompokmu.”


﴿﴿◌﴾﴾



 


Mischa membuka mata tiba-tiba karena rasa tidak enak yang mengganggu perasaan.


Dia langsung menoleh ke samping, ke arah tempat Sasha tidur dan terkejut ketika tidak menemukan sosok Sasha di sana. Selimut itu berantakan tapi kosong, begitupun selimut tempat tidur anggota kelompoknya yang lain.


Semua kosong.


Malam tadi mereka semua berangkat tidur dalam rasa senang karena Mischa telah membawa orang baru yang masih muda dan cukup kuat. Mischa seperti membawa penyelamat bagi mereka semua.


Semua lelaki yang ada di dalam kelompok mereka sudah setengah umur, bahkan anggota tertua mereka, Paman Benny, sudah berusia enam puluh tahun dan lebih pantas dipanggil kakek. Kedatangan anggota baru membawa harapan untuk kelompok mereka yang menyedihkan, karena itulah mereka bisa tidur dengan bahagia malam ini.


Lelaki bernama Alan itu cukup kooperatif meskipun dia tidak banyak bicara. Tanpa membantah langsung membantu mengangkat barang-barang, bahkan tidak segan menolong menyiapkan makanan tanpa ragu.


Dan satu lagi kelebihannya, Alan cukup tampan hingga membuat anggota perempuan mereka saling melirik dengan kagum, beberapa bahkan tampak salah tingkah dan mempermalukan dirinya sendiri karena mencoba menarik perhatian Alan. Lelaki itu sendiri hanya tersenyum tipis menanggapi tingkah konyol para perempuan, seolah-olah sudah terbiasa mendapatkan perhatian lebih semacam itu karena ketampanannya.


Mischa tidak bisa menyalahkan rekan-rekan sekelompoknya. Meskipun mereka semua berada di tengah medan perang, mereka tetaplah wanita biasa yang memiliki ketertarikan dengan lawan jenis. Penampilan Alan yang luar biasa secara fisik seolah menjadi penghibur sendiri di antara mereka. Bahkan, Mischa juga diam-diam menikmati ketampanan Alan meskipun tak menunjukkannya.


Setelah makan malam ceria yang mereka habiskan bersama, semuanya beranjak tidur dengan tenang. Sampai kemudian Mischa terbangun dalam firasat buruk dan kebingungan karena semua orang tidak ada.


Jantung Mischa berdebar ketika dia mengangkat selimut dan berdiri, berjalan perlahan tanpa suara menuju pintu keluar ruang tidur mereka. Tempat persembunyian ini sebelumnya adalah stasiun bawah tanah yang sekarang sudah runtuh dan tidak befungsi lagi.


Kelompok mereka memanfaatkan bangkai kereta api yang setengah terguling dari rel tempatnya seharusnya berada, untuk menjadi tempat perlindungan. Mereka tidur di ruang-ruang yang tersisa di gerbong yang masih bisa ditinggali dan memanfaatkan sanitasi yang tersedia di sana.


Dengan sigap, Mischa mengenakan mantel compang-camping pelindung tubuhnya, tak lupa membungkus kakinya dengan sepatu dari bahan kain bersol karet yang memudahkannya berlari ataupun melangkah di lapisan tanah yang tajam.


Mischa melangkah pelan menembus kegelapan dalam suasana hening yang mencekam. Begitu heningnya suasana hingga yang terdengar di telinganya hanyalah suara napas yang bersahutan dengan debaran jantungnya sendiri. Udara dingin menyentuh wajahnya, membuat Mischa mengerutkan kening.


Siapa yang membuka jendela?


Udara malam dingin menusuk yang kontras dengan panas menyengat di siang hari membuat mereka semua memastikan semua jendela gerbong kereta ini ditutup rapat di malam hari.


Bahkan jika kaca jendela tersebut rusak atau pecah, mereka menggunakan kardus atau apapun yang bisa ditempel untuk mencegah udara dingin masuk ke gerbong. Hembusan angin sepertinya berasal dari gerbong di depan mereka.


Mischa terdorong untuk melewati beberapa gerbong penumpang yang kosong hingga langkahnya terhenti di pintu pembatas bekas gerbong restoran yang menjadi ruang makan bagi seluruh kelompok.


Apakah para anggota yang lain sedang berkumpul di ruang makan untuk berbincang-bincang?


Mischa menduga meski dirinya tidak yakin.Akhirnya dia sampai di salah satu gerbong yang mereka pakai sebagai tempat makan, dan membuka pintunya perlahan.


Gerbong itu sangat gelap dan senyap, membuat kebingungan semakin melekat di otak Mischa.


Sepi. Kemana semua orang…?


Mischa melangkahkan kaki untuk memasuki ruang makan, memutuskan untuk lanjut melewati gerbong ini jika tidak menemukan apapun. Tetapi, langkahnya terhenti ketika dia menginjak cairan yang basah dan lengket, cairan itu menggenang tinggi hingga mampu menembus ujung sepatunya yang terbuat dari bahan kain, menyentuh kulit jari kakinya dan membuat Mischa seakan tersengat.


Cairan apa ini?


Mischa mengerutkan kening dan berjongkok dengan penuh rasa ingin tahu, sementara tangannya bergerak menyentuh cairan yang menarik perhatiannya.


Gelap membuat Mischa harus meraba-raba. Tetapi, sepertinya cairan itu menggenang dan berasal dari satu sumber.  Dalam kegelapan, cairan itu tampak hitam… tapi memancarkan aroma yang khas.


Mischa mendekatkan jemarinya ke hidung untuk memastikan, dan ketika menyadari bahwa dugaannya benar, Mischa menyentakkan tangannya dalam ketakutan memuncak.


Itu darah… darah yang masih amat segar… Apa yang terjadi?


Mischa mulai panik, hendak bergerak melalui ruang makan dan menuju gerbang lainnya, putus asa menemukan anggota kelompoknya yang lain yang seolah menghilang dalam senyap. Tapi langkahnya terhenti ketika menemukan sosok tinggi dalam kegelapan yang memunggunginya di ambang pintu keluar gerbang restoran, hanya bertemankan cahaya remang yang membentuk siluet tubuhnya.


Mischa mengenali sosok itu… Alan.


Alan sendiri tampaknya menyadari kehadiran Mischa, lelaki itu membalikkan badan perlahan menghadap ke arah Mischa, membiarkan cahaya remang dari satu-satunya lentera kecil yang terletak di sambungan gerbong menerangi wajahnya.


Mischa langsung memekik, menutup mulut dengan tangan sementara  seluruh tubuhnya gemetar ketakutan.


Mata itu berwarna hitam legam seluruhnya… dia telah membuat kesalahan dengan membawa lelaki ini masuk ke tempat persembunyian mereka!


Alan…Lelaki ini bukan manusia! Dia adalah salah satu dari Bangsa Zodijak yang menipu mereka!


"Mereka semua sudah kuburu sampai habis. Ada yang mencoba bersembunyi, ada yang mencoba lari… tapi mereka tidak bisa lari jauh. Sungguh olahraga yang menghibur memburu dan membunuh mereka semua,” Lelaki itu menyeringai. “Sekarang tinggal kau, yang kusimpan sebagai hidangan penutupku, Mischa. Apakah kau ingin bersembunyi dan lari? Larilah sekuat yang kau bisa, aku akan memberi kesempatan bagimu untuk bermain-main sebentar sebelum aku menghabisimu seperti aku menghabisi teman-temanmu,” ucapnya dengan nada mengerikan yang penuh ancaman.


Mischa menatap laki-laki itu dan air mata mengalir deras di pipi karena sadar bahwa dialah yang telah membawa monster itu masuk ke persembunyian ini dan membunuh teman-temannya.


Kesedihan Mischa tidak bisa terlepaskan karena tiba-tiba saja lelaki itu bergerak mendekat, dengan langkah pelan dan penuh ancaman, membuat Mischa melangkah mundur dengan jantung berdebar seperti mau pecah.


Dan ketika lelaki itu melangkah memasuki gerbong restoran, Mischa membalikkan badan, membanting pintu gerbong di ujung berlawanan dan menguncinya dengan tangan gemetar. Lalu dia berlari sekuat tenaga, berusaha menyelamatkan diri dan lari sejauh mungkin dari monster kejam itu.


﴿﴿◌﴾﴾