
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
Mischa terbatuk-batuk karena debu yang melingkupi dan masih meringkuk di samping tempat tidur besar yang tadinya dia gunakan untuk tidur.
Ya, dia sedang tertidur pulas setelah menyantap makanannya, sebuah ritual yang sama persis dan selalu terjadi semenjak kehamilannya seolah-olah bayi-bayi di dalam tubuhnya memaksa Mischa hanya untuk hanya makan dan tidur setiap saat serta tidak melakukan hal-hal yang lain lagi.
Lalu tiba-tiba gempa itu seolah merenggut paksa Mischa dari mimpinya, tiba-tiba saja guncangan besar itu muncul, bersumber dari area bawah tempat tidurnya dan menggetarkan seiri seisi ruangan tak terkendali hingga Mischa langsung melebarkan mata karena terbangun dari tidurnya. Kemudian didorong oleh refleks karena ketakutannya, dia meloncat turun dari ranjang dan meringkuk di sudut lantai dekat di sisi ranjang serta meletakkan kedua tangan di atas kepalanya untuk melindungi diri.
Guncangan itu berlangsung lama, seperti gempa dahsyat yang pernah terjadi di bumi di masa lampau serta beberapa kali terjadi setelah Bangsa Zodijak datang melakukan invansi.
Gempa itu membuat situasi berubah menjadi begitu mengerikan secara tiba-tiba. Ranjang di dalam kamar itu dan semua benda yang ada di sana seolah-olah digeser paksa dengan kasar dari posisinya, terus bergerak makin lama makin kencang.
Suara gemuruh akibat benda-benda saling bertubrukan satu sama lain dan berjatuhan terdengar begitu mengerikan, memenuhi seluruh penjuru kamar, membuat Mischa meringis dan tidak bisa melakukan hal lain selain menahan ketakutan dan berjuang untuk tetap pada posisinya dan tidak terpelanting ke sisi lain ruangan.
Lalu setelah guncangan lama yang begitu menyiksa, Mischa kemudian merasakan gempa itu memudar perlahan, makin perlahan sebelum kemudian berhenti.
Dalam keheningan lama yang membentang, Mischa masih bertahan dalam posisi yang sama setelah gempa tersebut berlalu, dirinya terlalu takut untuk membuka mata karena masih merasa wapada serta berpikiran buruk kalau-kalau gempa mengerikan itu datang lagi.
Tetapi setelah menghitung satu sampai tiga puluh dan ternyata tetap tidak ada guncangan susulan, ketakutan Mischa terkalahkan oleh rasa ingin tahunya hingga akhirnya dia menghela napas panjang perlahan sebelum kemudian membuka mata dan mengangkat kepalanya.
Mata Mischa langsung melebar ketika melihat pemandangan di depannya…
Seluruh ruangan porak-poranda. Benda-benda berukuran kecil berjatuhan di lantai, beberapa pecah berderai di sana sementara benda-benda berukuran besar bergeser tak karuan dari posisinya semula, bahkan kursi yang ada di dalam ruangan itu sudah jungkir balik dalam posisi yang saling berjauhan berpencar satu sama lain seolah-olah barusan ada tangan raksasa jahil yang masuk ke dalam ruangan ini dan mengobrak-abrik semuanya.
Mischa menatap ke atap dan menyadari bahwa beberapa pelapis atap dan bebatuan yang ada di dinding telah berjatuhan menimpa lantai. Beruntung tempatnya meringkuk dan berlindung di sisi ranjang tadi cukup aman sehingga Mischa tidak mengalami kejadian mengerikan seperti tertimpa dinding batu atau atap.
Mata Mischa masih melebar antara percaya dan tidak melihat kerusakan yang ada di dalam ruangan itu, dirinya lalu menggapai ke sisi ranjang, berusaha menemukan pegangan untuk membantunya berdiri. Kakinya sendiri terasa lemas dan gemetaran, menyisakan rasa takut dan shock yang dahsyat dari kejadian tak terduga yang menimpanya barusan saat dia seorang diri.
Apakah gempa itu berlangsung di area yang luas, atau hanya di tempatnya saja?
Mischa mengerutkan kening setelah berhasil berdiri tegak. Pertanyaan demi pertanyaan berpendar di dalam kepalanya sementara dirinya berusaha menetralkan napas dan menyeimbangkan diri. Lalu pikirannya yang mulai jernih langsung beralih dengan cemas ketika teringat tentang Sasha.
Kecemasan langsung melanda diri Mischa ketika dia mendorong kakinya yang masih lemas untuk bergerak cepat menuju pintu. Beruntung pintu ruang peraduan itu sekarang terbuka lebar karena gempa sehingga mempermudah akses Mischa untuk berjalan ke luar.
Mischa berdiri dengan ragu di ambang pintu, kepalanya menengok ke sisi kiri dan kanan lorong yang terbentang di luar kamarnya tersebut dengan penuh kehati-hatian, dia lalu menelan ludah ketika melihat lorong itu dipenuhi kabut debu yang pekat, membuatnya sesak napas seketika.
Rasa ragu dan takut merayap begitu hebat hendak menyelubungi dada Mischa dan mendorongnya untuk melangkah mundur, berlindung kembali di dalam kamar dan berdiam di sana sampai pertolongan datang. Tetapi pemikiran mengenai Sasha yang saat ini sedang ketakutan setelah gempa mengerikan atau yang lebih buruknya lagi, Sasha terluka karena tertimpa reruntuhan, tentu saja langsung menghapuskan seluruh ketakutan yang ada di dalam benak Mischa tanpa kecuali dan mendorongnya untuk mulai bergerak mencari adik angkatnya itu.
Mischa menghela napas dengan hati-hati untuk menjaga supaya kabut debu dari reruntuhan bangunan itu tidak menimpa paru-parunya, dia lalu menoleh kembali ke dalam kamar dan matanya menemukan sehelai sapu tangan yang disediakan di meja dalam tumpukan peralatan makan yang masih bersih.
Tanpa pikir panjang Mischa berbalik kembali ke dalam kamar untuk mengambil sapu tangan tersebut sebelum kemudian memaangnya di wajah untuk melindungi pernapasannya
.Sekali lagi Mischa berusaha menguatkan diri untuk kemudian dia melangkah menembus kabut debu, setengah berlari melewati lorong-lorong seperti labirin yang menjadi ciri khas dari wilayah kediaman milik Aslan.
Dia harus menemukan Sasha. Segera!
Ketika guncangan itu mereda dan benda-benda berhenti berjatuhan, Kaza mengerutkan kening dan mengangkat kepalanya.
Gempa dan suara ledakan itu terdengar dan terasa begitu kencang dari sisi berlawanan yang cukup jauh dari lokasi kediaman yang berada di dalam wilayah kekuasaan Aslan. Meskipun begitu kerusakannya bisa dibilang cukup parah melihat dari atap dan dinding yang runtuh karena tak kuat menahan beban ledakan tersebut.
Perlahan Kaza menggerakkan bahunya untuk menyingkirkan batu besar yang menimpa pundak dan punggungnya dalam usahanya untuk melindungi Sasha. Batu itu terjatuh tetapi Kaza tidak memedulikannya.
Pemikiran tentang Sasha langsung mengalihkan perhatiannya bahkan dari dirinya sendiri. Dia langsung menunduk untuk menatap tubuh mungil yang tenggelam di pelukan lengan-lengannya.
Mata Kaza melebar ketika dirinya menemukan bahwa tubuh Sasha ternyata begitu lunglai sementara anak kecil itu tak sadarkan diri di pangkuannya.
Mata Sasha tampak terpejam rapat dan kepanikan langsung melanda diri Kaza ketika dia menemukan bahwa ada darah yang mengalir dari pelipis dan hidung Sasha.
Tangan Kaza gemetaran ketika menyentuh kulit Sasha yang terasa dingin, perlahan tangan itu bergerak untuk mengusap darah yang mengalir dari hidung Sasha dan matanya semakin membelalak oleh kengerian yang melingkupi karena darah dari hidung Sasha tersebut masih mengalir deras di sana bahkan setelah Kaza menghapusnya.
Kaza mengusap darah itu lagi dan keningnya berkerut semakin dalam ketika melihat darah tersebut masih saja mengalir.
Perlahan Kaza menurunkan tangannya untuk menepuk-nepuk wajah Sasha, tidak peduli akan telapak tangannya yang berlumuran darah anak itu dan membasahi pipi Sasha.
“Sasha…” Kaza mengerangkan nama anak kecil yang memporak-porandakan dunianya itu sambil menyuarakan rasa sakit yang mulai menggerogoti rongga dadanya. “Sasha… bangun...” geramnya lagi, kali ini lebih keras dan terus menepuk pipi Sasha dengan sia-sia.
Percuma.Sama sekali tidak ada reaksi dari Sasha, matanya masih terpejam rapat sementara kulitnya mendingin, sangat kontras dengan darah yang terus mengalir dari hidungnya.
Kaza merapatkan Sasha semakin dekat ke tubuhnya, dia meraih tangan anak itu dan memeriksa nadinya, tak lupa dirinya membungkuk untuk mendengarkan denyut jantung dan hembusan napas dari paru-paru Sasha yang semakin lama semakin lemah.
Setelah itu, dengan ekspresi panik luar biasa, Kaza langsung bangkit berdiri dengan memeluk Sasha rapat ke dalam gendongannya.
Anak ini sepertinya tidak memiliki luka yang parah di kulit luarnya, tetapi reruntuhan batu yang menimpa tadi mungkin telah menimpa bagian organ vital dan menciptakan luka dalam yang tak kasat mata.
Kaza menipiskan bibir sementara matanya berkaca-kaca sebab kecewa kepada dirinya sendiri karena tidak mampu melindungi anak perempuan ini. Dia lalu menunduk, memandang kembali ke arah Sasha sebelum kemudian memeluk Sasha rapat dan melesat keluar dari area Aslan untuk mencari pertolongan bagi gadis kecilnya.
Dia harus membawa Sasha kepada Yesil. Hanya Yesil yang bisa menyembuhkan Sasha dalam kondisi seperti ini.