Inevitable War

Inevitable War
Episode 130 : Runtuh



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )




Asap hitam yang membumbung tebal membuat Mischa terbatuk-batuk keras. Paru-parunya terasa panas dan tenggorokannya seolah terbakar. Seluruh saluran napasnya terasa tersiksa karena asap bergulung tanpa ampun yang memasuki semua rongga tubuhnya dengan kejam. Bahkan saat ini matanya terasa pedih berair dan sakit.


“Kau masih baik-baik saja?” Aslan mengeratkan pelukannya, memeluk Mischa erat-erat dan tahu bahwa pejuangan mereka menembus api yang berkobar ini akan menyiksa Mischa secara fisik. “Tenggelamkan wajahmu di dadaku. Kau akan baik-baik saja, Mischa. Aku sedang melindungimu.”


Entah kenapa di saat genting seperti ini, di antara kobaran api dan suara gemeretak yang mengerikan, suara Aslan terdengar lembut dan begitu jelas, menembus ke dalam jiwa Mischa tanpa bisa ditahan.


Mischa menuruti perkataan Aslan, menenggelamkan wajahnya di dada lelaki Zodijak itu, sementara tangannya masih mencengkram erat, bertahan dengan berpegang pada Aslan seperti yang diperintahkan oleh lelaki itu kepadanya.


Aroma Aslan terasa khas, seperti yang selama ini dikenal oleh Mischa dengan jelas dan entah kenapa terasa menenangkan. Rasanya seperti pulang ke rumah yang nyaman dimana Mischa bisa bergelung dalam damai dan melupakan segala permasalahan kehidupannya.


“Terima kasih,” Mischa berucap lirih, tubuhnya berayun ketika Aslan membawanya berlari dengan cepat.


Lelaki itu benar-benar sama seperti yang dia katakan. Tahan api. Aslan menembus api dan asap tebal seperti berjalan di udara bersih dan tidak terbakar.Tubuhnya sangat kuat, bahkan dengan membawa Mischa ke dalam gendongannya, Aslan sama sekali tidak kesulitan menendang dan menyingkirkan  reruntuhan yang menghalangi jalan mereka. Reruntuhan itu ada yang berukuran kecil, ada yang sangat besar dan itu tetap tidak menghalangi langkah Aslan.


Telinga Aslan yang tajam rupanya mendengar ucapan Mischa. Lelaki itu menunduk pelan, mengusapkan dagunya di pucuk kepala Mischa yang tenggelam di dadanya.


“Aku tidak akan membantumu tanpa imbalan. Kau akan membayarnya nanti,” ujarnya setengah bercanda.Mischa melebarkan mata, tidak menyangka Aslan akan memilih berkelakar di saat genting seperti ini, ketika mereka berada dalam hidup dan mati, berusaha menembus api yang tak punya hati.


“Dasar Alien licik,” desis Mischa dengan suara sinis, sengaja menanggapi candaan Aslan.


Aslan terbahak, sengaja mengguncang Mischa ke dalam gendongannya. Saat itulah suara perut Mischa yang memprotes meminta makan terdengar dan terasa begitu jelas, mungkin karena saat ini Mischa sedang dipeluk begitu erat dalam gendongan Aslan.


“Alien licik ini yang akan memberimu makan. Ketika kita sampai di rumah nanti, aku akan memberikan makanan apapun yang kau mau,” Aslan memilih tidak mengkonfrontasi Mischa dan membuatnya semakin malu. Lelaki itu menunduk, mengecup pucuk kepala Mischa sambil lalu dan kembali melesat menembus kobaran api serta reruntuhan penuh asap.


Sambil merasakan tubuhnya terayun dalam pelukan Aslan, Mischa memejamkan mata. Aslan menyebut kata ‘rumah’ dan entah kenapa itu terasa seperti rumah yang sesungguhnya bagi Mischa, tempat perlindungan yang damai dan menenangkan.


Saat ini mereka berlari menembus api yang siap membakar, tetapi entah kenapa, di dalam benak Mischa yang damai, dia merasa sedang dibawa berlari di antara pepohonan hijau menyejukkan, masa di mana bumi masih begitu indah sebelum serangan, penuh dengan hewan-hewan yang hanya ada di cerita-cerita ayahnya di masa lampau, melingkupinya dengan rasa bahagia.


“Itu jalan keluar kita.”


Entah sudah berapa lama mereka berlari, dan Mischa seolah tertidur lepas dari ikatan ruang dan waktu sampai suara Aslan membawanya kembali ke dunia nyata.


Mata Mischa langsung terbuka lebar, dan rasa perih akibat asap langsung menghalangi, membuatnya memejamkan mata lagi dan hanya bisa pasrah kemana Aslan akan membawanya.


Mischa merasa Aslan mendaki, mungkin sesuatu yang berundak seperti tangga. Lalu entah kenapa, hawa menyesakkan karena kabut asap seolah membebaskan cengkeramannya dari paru-paru Mischa.


Perlahan Mischa membuka matanya kembali dan mengerutkan kening karena cahaya matahari yang menghalangi wajahnya.


Mereka ada di permukaan!


Suara-suara yang dikenal Mischa membuat Mischa mengangkat kepala dan mendapati Akrep  yang berlutut di ujung lubang itu, menunduk ke arah mereka dan mengulurkan tangan.


“Berikan Mischa kepadaku, Aslan. Supaya kau lebih mudah naik,” sayup Mischa bisa mendengar suara Akrep berucap ke arah mereka.


Aslan menganggukkan kepala sebagai jawaban, lalu mengangkat tangannya untuk menyerahkan Mischa ke tangan Akrep.


Dengan cepat Akrep meraih tubuh Mischa dan mengangkatnya lepas dari lubang pintu bawah tanah tersebut, menggendongnya di atas permukaan tanah.Aslan langsung menggunakan tangannya untuk mendaki naik ke permukaan.


Tetapi di saat yang sama, kobaran api yang membakar begitu lama telah merapuhkan permukaan tangga batu yang saat ini menjadi pijakan kakinya. Tangga itu tiba-tiba saja runtuh, bagaikan permainan kartu bersusun tinggi yang rubuh tertiup angin, pecah berkeping-keping.Sementara Aslan dalam posisi tidak siap, dia kehilangan keseimbangan seiring dengan runtuhnya tangga tersebut kembali ke bawah tanah, mengubur tubuh Aslan kembali jatuh ke bawah sana.


“Aslan!” Mischa berteriak dengan cemas melihat itu semua.


Tanpa mempedulikan dirinya, Mischa melompat dari pegangan Akrep, langsung merangkak di pasir, tangannya berpegang ke ujung lubang pintu keluar itu mengarah ke bawah ke arah kobaran api yang menelan tubuh Aslan.


Suara rubuh yang bergulung mendekat ke arah mereka dan Akrep langsung meraih punggung Mischa, mengangkatnya menjauh.


“Tidak! Tidak! Aslan!” Mischa meronta sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri dari pegangan Akrep yang kuat yang membawanya mundur menjauh dari pintu ruang bawah tanah tersebut, bersamaan dengan rubuhnya seluruh pondasi di bawah mereka, menghancurkan bingkai pintu ruang bawah tanah itu hingga runtuh ke bawah dengan suara berat mengerikan yang menggema di seluruh permukaan pasir, menciptakan cekungan dalam dengan pasir yang menutupi hingga pintu ruang bawah tanah itu menghilang ke bawah tertutup air terjun pasir nan menghujam tanpa ampun.