Inevitable War

Inevitable War
Episode 95: Anomali Tubuh Manusia



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 



Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17**PART BONUS**yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )




“Tentu saja bisa. Yesil pernah bilang bahwa kehamilan itu mungkin, bukan?” Aslan menatap kedua saudaranya dengan menantang. “Apa kalian meragukan kemampuanku?”


Pertanyaan itu membuat Akrep berdehem, lalu kembali mencoba membuat Aslan memahami maksud kalimatnya.


“Maksudku… Yesil mengatakan kehamilan itu mungkin, tetapi Mischa dengan tubuh manusianya…” Akrep sekali lagi kehabisan kata-kata, lalu tampak berpikir dan ketika sadar, ada kepanikan di wajahnya. “Apakah kau tahu berapa anak yang ada di dalam kandungannya?” tanyanya kemudian dengan nada ngeri.


“Belum,” Aslan menjawab cepat. “Yesil mengatakan yang pasti lebih dari dua, tetapi dia belum bisa memastikan jumlahnya, harus menunggu sampai usia kandungannya sedikit lebih besar. Tetapi dari porsi besar makanan yang dihabiskan oleh Mischa, aku menduga bahwa bayi yang dikandungnya ada empat… dia memakan empat porsi makanan ibu hamil sampai tandas dalam sekejap,” sambung Aslan sambil menyeringai.


Akrep mengerutkan kening. “Empat porsi?” ulangnya seolah masih belum bisa mempercayai apa yang didengar oleh telinganya.


Kebutuhan nutrisi Bangsa Zodijak memang cukup dipenuhi dengan air, mereka bisa menjadi kuat hanya berkat minum air. Makanan bukanlah kebutuhan utama, biasanya hanya dikonsumsi oleh lelaki dan perempuan Zodijak yang sakit, atau perempuan hamil.


Dan makanan yang mereka makan bukanlah sembarangan, diambil dari ternak dari bibit khusus atau tanaman yang dikembangkan menggunakan  metode canggih, dengan menu yang diramu penuh perhitungan untuk menambah nutrisi dan kekuatan.


Lelaki Zodijak sehat hampir tidak membutuhkan makan dan biasanya memilih untuk tidak makan, karena itulah porsi makanan lengkap, seperti yang mungkin disajikan Aslan untuk Mischa, disebut sebagai porsi ibu hamil.


Perempuan-perempuan Zodijak yang mengandung lebih dari tujuh bayi biasanya menjadi amat rakus, air saja tidak bisa memenuhi kebutuhan nutrisi mereka hingga mereka membutuhkan menu lengkap untuk memuaskan rasa laparnya yang besar. Dan jika hal itu terjadi pada Mischa, kemungkinan besar nafsu makannya yang tumbuh sedemikian besar itu disebabkan oleh bayi Zodijak di dalam perutnya yang meminta nutrisi lebih.


Akrep mengerutkan kening semakin dalam ketika membayangkan tubuh Mischa yang kurus dan mungil. Dia bahkan tidak bisa memikirkan bagaimana tubuh sekecil itu harus mengandung empat bayi Zodijak yang berukuran besar dan sangat kuat bahkan ketika masih di dalam kandungan, Mischa akan luluh lantak seketika karena proposi tubuhnya sebagai manusia perempuan, tentu tidak sebanding dengan perempuan Zodijak yang dilahirkan untuk menjadi pasangan lelaki Zodijak.


Perempuan Zodijak memiliki banyak kantong rahim sehingga anak-anak mereka bisa tumbuh berdampingan di dalam perut tanpa saling mengganggu satu sama lain, seluruh tubuh yang menopang kehamilan mereka juga sangat kuat sehingga bisa membawa lebih dari tujuh anak tanpa sakit, pun dengan perut mereka yang disangga kuat oleh otot dan kulit pelindung yang keras, menghindarkan bayi yang mereka kandung dari cedera baik dari luar, maupun dari dalam.


Akrep tidak bisa membayangkan kulit perut Mischa yang tipis, kulit perut manusia yang rapuh, meregang sampai menipis untuk menampung empat atau lebih bayi Zodijak, belum dengan tendangan bayi Zodijak yang sangat kuat… mungkin bahkan kulit perut Mischa akan robek ketika bayinya mulai menendang.


Aslan terdiam sambil memandang tajam ke arah Akrep. Tanpa saling berbicara, Aslan bisa membaca seluruh kecemasan yang bersahutan di dalam pikiran Akrep, dan kecemasan itu menular, membuat Aslan menyentuhkan tangan di dahi dan meremasnya seolah frustasi.


“Kita masih belum yakin. Jika Mischa bisa mengandung, sudah tentu itu berarti tubuhnya memang sudah siap sampai dia melahirkan anak-anakku. Yesil bilang semakin sering aku memanen Mischa, semakin mirip struktur tubuhnya dengan kita. Bahkan penyakit Mischa sudah hampir menghilang karenaku,” ucap Aslan kemudian.


“Kita harapkan saja yang terbaik,” Akrep berucap singkat karena tak tahu harus menjawab apa, dia lalu menoleh ke arah Kaza yang sejak tadi kehabisan kata-kata, mulutnya masih ternganga sementara wajahnya menyimpan shock yang amat sangat, seolah-olah kenyataan bahwa Mischa hamil benar-benar memukul ketidakpercayaannya sampai ke batas yang bisa dia tahan.


“Aku… aku tidak menduga bahwa manusia bisa mengandung anak Bangsa Zodijak,” Kaza menggumamkan apa yang menggayuti pikirannya dan memilih mengabaikan pertanyaan Akrep, matanya menatap ke arah Aslan. “Bagaimana mungkin seorang manusia…”


“Bukankah kau sudah tahu bahwa Mischa dan juga Natasha bukan manusia biasa? Darahnya menjadi air suci ketika tersentuh air suci Zodijak,” Aslan menyela ketidakpercayaan Kaza dengan sinis, mata gelapnya menelusuri seluruh diri Kaza. lalu tiba-tiba melemparkan tatapan mencemooh sebelum kemudian berkata dengan sengaja,


“Anak kecil itu, Sasha. Kalau kau tidak berhati-hati, kau bisa-bisa tanpa sadar sudah menghamilinya ketika dia dewasa nanti.” pancingnya perlahan.


Kaza langsung terkesiap, membelalakkan mata marah.


Aslan menipiskan bibir seolah menahan senyum melihat tanggapan Kaza atas pancingannya, dan tanpa diduga Akrep melakukan hal yang sama.


“Kami akan berangkat lebih dahulu,” seperti biasa Akrep langsung menengahi supaya konfrontasi di antara dua saudaranya itu tidak berlanjut.


Aslan menganggukkan kepala, mengalihkan pandangannya dari Kaza yang sedang larut dalam penyangkalan diri seperti biasa.


“Aku akan menyusul nanti,” ucapnya cepat.


 



 


“Bangun.”


Aslan menggeramkan perintah dengan nada dingin, tangannya yang sedingin nada suaranya bergerak menepuk pipi Mischa, perlahan untuk kemudian mendesak.


Mischa yang masih tenggelam dalam tidur panjangnya merasakan namanya dipanggil dengan nada memerintah yang tak menyenangkan, membuatnya terpaksa lepas dari kungkungan mimpi indah yang hangat.


Perlahan dia seolah bergerak untuk mencapai cahaya sebelum kemudian membuka mata.Kamar itu anehnya tidak seterang biasanya tetapi dipenuhi cahaya yang sedikit redup.


Mischa mengerjapkan mata, sejenak kehilangan orientasi, tetapi kemudian dalam sekejap pula kesadaran memenuhi dirinya, membuatnya tahu dia berada di mana.Ini di kamar Aslan, tempatnya dikurung dan diharuskan tidur setiap malam, sebuah tempat yang menandakan kebebasan semu yang selama ini dia peroleh dengan menyakitkan.


Mata Mischa terbuka lebar dan dia mendongakkan kepala ketika menyadari siapa yang memanggil namanya, dan benar juga, matanya langsung bertemu dengan mata hitam pekat yang sedari tadi menatapnya tajam, mata milik Aslan.


Aslan mengenakan pakaian perang lengkap berwarna hitam yang membungkus  dan membentuk otot-otot tubuhnya, sementara di belakang punggungnya terselip senjata yang sangat besar yang bahkan Mischa tidak bisa membayangkan itu apa, juga di bagian-bagian lain tubuhnya.


Lelaki ini akan pergi berperang? Tetapi bukankah Aslan bilang bahwa seluruh negara yang bertahan, bahkan negara Timur Jauh yang berjuang hingga saat terakhir telah dihabisi tanpa sisa?


Kebingungan masih menyelimuti diri Mischa hingga dia tidak meronta ketika Aslan menariknya supaya bangun, lalu mengatur posisi Mischa supaya duduk di tepi ranjang dengan kaki menjuntai di pinggiran ranjang yang besar itu.


Aslan kemudian melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Mischa hingga memaksa Mischa harus mendongak sampai lehernya pegal ketika mencoba menantang matanya.


“Kau lapar?” pertanyaan Aslan yang langsung diucapkan ketika Mischa baru saja memperoleh kesadarannya itu seolah memancing macan tidur, Mischa semula tidak merasa lapar dan langsung kelaparan karenanya.


Dia menelan ludah, sedikit kebingungan karena sebelumnya tidak pernah merasakan ini, sensasi lapar menyiksa yang menuntut untuk dipenuhi.


Mischa menunduk, menyentuh perutnya tanpa sadar sambil bertanya-tanya kenapa dia bisa selapar itu, padahal seingatnya sebelum tidur dia telah menghabiskan porsi makan besar di luar nalar orang dewasa.]


Sebelum tidur?


Kerutan di kening Mischa semakin dalam ketika dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi, dan ketika kesadaran itu menyentuhnya, matanya membelalak, teringat ketika Yesil dengan dingin memberitahukan hal paling mengerikan dalam hidupnya dan dirinya kemudian diberi semacam obat yang merenggut kesadarannya.


Mischa menatap perutnya dengan ngeri dan tak percaya.


Dia hamil! Bayi alien jahat tumbuh di dalam dirinya…. Tidak! Tidak! Bagaimana mungkin ini terjadi pada dirinya?