
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 **PART BONUS**yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
“Jangan coba-coba.”
Aslan yang sejak tadi berdiri tegak sambil membaca seluruh reaksi Mischa tiba-tiba berbicara, mengalihkan perhatian Mischa dari perutnya hingga mendongak menatap Aslan.
Ekspresi lelaki itu tampak keras, penuh ancaman dan sedikit menyeramkan apalagi di tengah cahaya remang-remang seperti ini,
“Jangan coba-coba bersikap histeris, memberontak, apalagi berpikir untuk melukai dirimu atau anak di dalam kandunganmu.”
Kata-kata Aslan seolah memberikan kepastian pada keraguan Mischa yang masih tersisa.
Dia benar-benar hamil… semua itu bukan mimpi buruk mengerikan yang pasti akan berlalu ketika dia terbangun, mimpi buruk yang ini lebih mengerikan, karena menempel selamanya dan mengancam untuk menyakitinya baik jiwa maupun raga.
Dada Mischa terasa sesak, membuat matanya mengerjap ketika menahankan rasa panas yang merayap, memaksa untuk menumpahkan air mata.
“Kalau kau bersikap histeris, melukai dirimu sendiri atau anakmu, aku akan melakukan sesuatu yang sangat buruk pada adikmu, Sasha. Dia akan sangat sangat menderita.” Aslan mendesiskan kalimat Aslannya sepatah demi patah kata dengan nada lambat-lambat seolah memastikan Mischa mendengar dan mencerna kalimat ancamannya dengan seksama, dan Mischa melakukannya, seluruh ancaman itu tercerna habis hingga hanya kengerian dan rasa takut yang tersisa pada dirinya.
Mischa sekuat tenaga menahan tangis dan dorongan untuk menjerit, seluruh tubuhnya gemetar, tangannya terkepal sementara dia menggigit bibirnya sampai terasa sakit dan menahan dirinya. Aslan akan melukai Sasha jika dia tidak bisa menahan diri dan itu tidak boleh terjadi, dia sudah bersumpah untuk melindungi Sasha bagaimanapun caranya dan alien licik di depannya ini dengan jahat sudah memanfaatkan kelemahannya yang satu itu untuk memenuhi keinginannya yang egois.
Air mata mengalir di sudut mata Mischa tanpa bisa ditahan karena sudah tak terbendung lagi. Tetapi Mischa tetap tidak bersuara, bahkan tidak terisak sekali, dia mencoba membuang seluruh emosinya hingga terasa seperti cangkang kosong yang dingin.
Begini lebih baik, jika dia membuang emosi dan bersikap seperti cangkang kosong, dia tidak akan merasa sakit. Lagipula sekarang dirinya hanya seperti tubuh seorang induk tanpa kehendak yang diperalat untuk melahirkan anak-anak Aslan, bukan?
Jika memang itu yang diinginkan oleh Aslan, maka dia akan memenuhinya. Mischa akan bersabar sampai tiba waktunya nanti dirinya bisa melepaskan diri dan membalas alien jahat ini sampai tuntas.
“Mischa?” Aslan mendekat, lalu membungkuk dan menumpukan kedua tangannya di pundak Mischa, membuat tubuh Mischa terkesiap sejenak dengan defensif, lalu berhasil menguasai dirinya dan kembali memasang ekspresi kosong tanpa emosi.
Aslan bukannya tidak menyadari kekosongan yang tiba-tiba menyelimuti diri Mischa. Perempuan itu biasanya menantang matanya dengan berapi-api, memberontak, menendang bahkan mencakar dengan tujuan utama untuk melawan dan melukai dirinya.
Tetapi saat ini, api di mata Mischa seolah padam dan perempuan itu menatapnya dengan pandangan menerawang seolah sedang melamun, layaknya robot tanpa jiwa.
Baiklah. Biarlah waktu yang menunjukkan siapa yang menang dalam pertarungan emosi antara Aslan dan Mischa, yang pasti sampai dengan saat ini, Aslan belum pernah merasakan kekalahan sama sekali.
Tangan Aslan meremas kedua bahu Mischa, mengguncangnya sedikit seolah hendak membuat perempuan itu tersadar.
“Aku adalah pemimpin Bangsa Zodijak, karena itulah anak yang kau kandung akan menjadi penerus selanjutnya. Anak itu penting bagiku karena itulah aku berusaha melunakkan diri dan memberimu ruang,” ucap Aslan kemudian.
Mischa mengerjapkan mata tetapi memilih tidak bersuara meskipun pertanyaan menyelimuti benaknya.
Memberi ruang? Apa maksud Aslan?
“Aku berjanji akan bersikap baik kepadamu,” Aslan akhirrnya menjawab pertanyaan Mischa dengan cepat. “Dan kau juga harus bersikap baik. Dengan begitu kita akan melewatkan suasana damai sampai anakmu dilahirkan ke dunia ini.”
Kali ini Mischa tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya. “Dan apa yang terjadi setelah anakmu lahir?” tanyanya kemudian, menolak menyebut anak yang ada di perutnya ini sebagai anaknya juga.
Aslan menatap Mischa tajam dengan mata gelapnya, bibirnya mengeluarkan desisan, hampir seperti geraman ketika dia menjawab.
“Maka seperti kontrak pernikahan Bangsa Zodijak pada umumnya, aku akan melepaskanmu, begitu juga adikmu. Kau akan hidup dalam kebebasan, membangun koloni dengan manusia yang tersisa di wilayah damai, aku bahkan akan menyediakan wilayah damai untukmu, sebuah wilayah yang sesuai perjanjian yang kita sepakati kemudian tidak akan tersentuh dalam serangan Bangsa Zodijak. Kau akan hidup di wilayahmu itu dengan damai dan tenteram, juga makmur karena aku akan memastikan kebutuhanmu dan manusia-manusia yang berada di wilayah damai bersamamu itu terpenuhi,”Aslan menyipitkan mata, menatap Mischa dengan pandangan mencela. “Aku bersedia berkompromi sampai sejauh itu denganmu padahal aku bisa saja memaksamu atau mengikatmu, bahkan membiusmu sampai kau melahirkan anakku, tetapi tidak kulakukan. Jika kau memakai logikamu, kau pasti tahu bahwa tawaran ini sangat menguntungkanmu. Kau hanya perlu selama lima belas bulan ke depan menjaga dirimu dan mengandung anakku dengan baik sampai dilahirkan."
Lima belas bulan.
Mischa tentu saja tahu bahwa bayi-bayi Zodijak dilahirkan setelah genap lima belas bulan di dalam kandungan ibunya. Lima belas bulan mungkin terasa singkat bagi makhluk-makhluk yang menikmatinya, tetapi bagi dirinya yang merasakan setiap pertambahan waktu layaknya neraka, lima belas bulan akan terasa sebagai siksaan yang amat panjang.
Tetapi Aslan benar. Tawarannya sangat menggiurkan, dan jika Mischa menolak tawaran ini, Aslan tidak mungkin akan menyalaminya dengan lapang dada lalu membalikkan badan dan pergi.
Aslan sudah pasti akan melakukan apa yang dikatakannya tadi, dia akan memaksa, mengikat dan membius Mischa sampai anaknya lahir ke dunia ini.Ini bukanlah sebuah tawaran, ini sama saja Aslan tidak menawarkan pilihan kepadanya, memaksa Mischa mengambil keputusan sesuai keinginannya.
Akhirnya Mischa menganggukkan kepala meski menyimpan ekspresi sakit di wajahnya.
“Aku menerima tawaranmu,” akhirnya Mischa berucap ketika Aslan hanya mengangkat alis seolah menunggu jawabannya.
Aslan menegakkan punggung, melepaskan pegangan tangannya dari pundak Mischa.
“Bagus,” ucapnya singkat, lalu mengedikkan dagu ke arah perut Mischa, “Kau sedang menahan lapar luar biasa, bukan?” tanyanya kemudian.
Mau tak mau Mischa menganggukkan kepala, perutnya terasa perih menahan lapar seolah-olah bayi di dalam perutnya memprotes ingin nutrisi.
Kengerian merayapi benak Mischa meskipun dia berhasil menahannya, membuatnya bertanya-tanya seperti apa selera makannya nanti kalau kandungannya semakin membesar?
“Aku menyiapkan makanan untukmu,” Aslan membalikkan badan, menuju ke arah lemari besi yang berkilauan seolah terbuat dari batu pualam yang sebelumnya tidak ada di ruangan itu.
Lemari itu sangat besar, hampir memenuhi sisi dinding kamar Aslan.
“Kami kaum laki-laki tidak benar-benar membutuhkan makanan kecuali kami sedang ingin menambah nutrisi dan makanan yang kami pilih pun bukanlah makanan sembarangan, tetapi kaum wanita kami memiliki nafsu makan yang luar biasa ketika mengandung, dan karena kau mengandung anakku, sepertinya kau mengalami hal yang sama. Nafsu makanmu yang sekarang terlihat di luar nalar sebenarnya masih di dalam batas kewajaran bagi kami, bahkan perempuan-perempuan yang mengandung belasan anak sekaligus memiliki nafsu makan hingga tiga kali lipat darimu saat ini. Bayi-bayi kami sangat rakus,” Aslan menyeringai ketika melihat kengerian di wajah Mischa. “Karena itulah lemari seperti ini selalu tersedia bagi seorang ibu yang sedang mengandung.”
Aslan menghentikan kata-katanya, lalu membuka pintu lemari itu dengan mudah, menampakkan isinya kepada Mischa, membuat mata Mischa melebar karenanya.
Di dalam lemari yang memenuhi sepanjang dinding tersebut, terdapat berbagai macam makanan yang tampilannya amat sangat menggiurkan, dari protein seperti daging unggas dan daging merah yang dimasak dnegan saus berkilauan hingga menguarkan aroma harum, salad sayuran hijau yang menggoda mata karena kesegarannya, juga buah-buhan ranum dengan ukuran besar yang tidak biasa, lebih besar dari buah-buahan bumi yang pernah lihat gambarnya di buku-buku pengetahuan milik ayahnya. Warna-warni buah-buahan itu juga lebih cerah, menggoda mata sekaligus membuat Mischa menelan ludah karena rasa laparnya yang semakin menjadi-jadi.
Aslan menatap ekspresi Mischa lalu tampak seperti seolah menahan senyum,
“Lemari ini dibuat dengan teknologi khusus sehingga mampu mengatur suhu makanan tetap sama seperti yang seharusnya berapa lamapun itu. Ada partikel khusus di udara yang mencegah pembusukan sekaligus mencegah penurunan suhu. Kualitas makanan ini akan tetap sama seperti ketika dia baru saja matang,” Aslan mengamati mata Mischa yang melebar menyembunyikan kekagumannya, lalu melanjutkan. “Aku mengisi penuh lemari makanan ini, dan jika kau menghabiskan isinya, sensor akan berbunyi sehingga budak-budakku akan mengisinya lagi.”