
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira.
Suara berdebam yang terdengar tiba-tiba membuat Mischa hampir memekik karena terkejut. Itu adalah sesuatu yang besar, yang dibanting begitu saja ke lantai, menciptakan suara memekakkan telinga yang mengerikan.
Alan sudah keluar dari gerbong kereta…
Mischa tidak melihat, tapi dia tahu bahwa itulah yang terjadi. Pintu yang tergembok kuat, lapisan baja atau besi setebal apapun tidak berarti apa-apa bagi Bangsa Zodijak.
Jantung Mischa berdebar kencang, begitu kuatnya memukul dada hingga membuatnya sesak napas.Mischa memejamkan mata semakin rapat, berusaha menghitung dengan tenang untuk menjaga napasnya tetap teratur. Tidak boleh menghirup udara terlalu keras, tidak boleh menghembuskan napas terlalu kencang. Mencoba diam tak bergerak seolah dia adalah benda mati yang tak terdeteksi.
Jika dia bisa seperti ini terus, masih ada kemungkinan dirinya lolos dari makhluk buas itu…
Sayangnya, Mischa bahkan tidak bisa menyelesaikan doa dan harapannya untuk lolos, karena pintu kayu yang menjadi satu-satunya pelindung tempatnya bersembunyi tiba-tiba terhempas dengan kasar, terlepas dari engselnya dan terlempar entah kemana, menciptakan suara keras yang memekakkan telinga.
Mischa memekik karena terkejut, tetapi berhasil menempatkan kedua tangan di bibir untuk menahan suaranya, matanya membelalak lebar penuh teror, menatap siluet gelap yang bahkan lebih gelap daripada sekelilingnya.
Alan. Sosok tinggi itu berdiri di ambang pintu yang sempit dalam bentuk siluet gelap, tubuhnya memenuhi rangka pintu hingga tidak menyisakan ruang bagi Mischa untuk melarikan diri.
“Aromamu yang begitu manis menggagalkanmu, Mischa.” Alan berucap lambat-lambat, dan Mischa bahkan bisa membayangkan seringai yang menghiasi bibir Alan ketika lelaki itu berbicara.
Lelaki itu lalu bergerak, menghancurkan tembok karena pintu ruang peralatan yang kecil itu terlalu sempit untuknya.
Bahkan tembok pun tidak menghalangi lelaki itu untuk mendekati Mischa…
Yang bisa dilakukan oleh Mischa sekarang hanyalah pasrah, memeluk kedua lututnya dalam gemetar yang luar biasa, berusaha beringsut mundur sejauh mungkin hanya untuk menemukan punggungnya menempel rapat ke tembok buntu di belakangnya.
Lelaki itu mendekat dengan aura jahat yang menakutkan, lalu berlutut di depan Mischa, begitu dekat hingga lututnya hampir menyentuh tubuh Mischa.
Tangan Alan terulur dan menyentuh leher Mischa, membuat Mischa tidak berdaya, hanya bisa memiringkan kepala dan menelan ludah dalam ketakutan yang amat sangat.
“Namaku Aslan,” lelaki itu berucap, membuat Mischa terkesiap kaget karena mengenali nama itu.
Hanya ada satu nama Aslan di antara Bangsa Zodijak yang menjajah mereka, dan dia adalah Aslan – Si Singa, yang paling kuat di antara pemimpin Bangsa Zodijak.
Tujuh pemimpin Bangsa Zodijak memang membawa tanda rasi bintang masing-masing di namanya.
Aslan, si singa dengan rasi bintang Leo.
Akrep, yang membawa rasi bintang Taurus di namanya.
Khar, yang membawa rasi bintang Scorpio.
Sevgil, si rasi bintang Aries.
Yesil si Sagitarius.
Dan terakhir, si kembar Kara dan Kaza yang mewakili rasi bintang Gemini.
Bertemu dengan Bangsa Zodijak yang biasa pun, dia tidak mempunyai harapan, apalagi bertemu dengan salah satu dari tujuh pemimpin mereka…yang paling kuat pula!
Mischa Akhirnya pasrah, berharap dia mendapatkan kematian yang cepat. Tapi sayangnya, Aslan tampaknya masih ingin bermain-main dengan buruannya. Lelaki itu mendekatkan wajahnya dengan tangan masih mencengkeram leher mungil Mischa yang tergenggam dalam rengkuhan jemarinya.
“Aku tidak pernah menghirup aroma selezat ini sebelumnya.” Azlan menggeram, tepat di telinga Mischa menciptakan gemetar yang semakin keras di tubuhnya.
“Kau akan memakanku?” Akhirnya Mischa mengeluarkan suara tercekik, ingin tahu apa yang akan dia hadapi.
Berdasarkan pengetahuan yang didapatkan dari ayahnya, Bangsa Zodijak memang tidak memakan manusia... Tetapi, bukan berarti hal itu tidak mungkin, kan? apalagi Aslan menyebutnya ‘lezat’ dan kata ‘lezat’ hanya bisa dikonotasikan dengan makanan.
“Aku tidak akan mengotori pencernaanku dengan daging kualitas rendahan dari tubuh manusia,” Aslan berucap pelan, menempelkan hidungnya ke kulit lembut Mischa untuk semakin menghidu aroma lezat yang menarik hatinya. “Tidakkah kau ingin memohonkan pengampunan untuk kehidupanmu?”
Tidak akan. Persetan denganmu, dasar alien sialan!
Mischa memutuskan dengan cepat, menguatkan hatinya dengan penuh tekad. Lagipula Mischa tahu persis bahwa meskipun dia merendahkan diri untuk memohon pengampunan, Aslan akan tetap membunuhnya.
“Mungkin aku akan mengampunimu... dan menjadikanmu budakku. Setidaknya kau bisa tetap hidup, bukan?” Aslan berbisik lagi dengan suara menggoda.
Begitu mendengar kalimat itu, Mischa mengerutkan keningnya dengan amarah yang tiba-tiba membara di dada. Bangsa Zodijak memang memiliki gigi taring yang tajam, laksana ular yang jika menggigit mampu menyalurkan racun serupa bisa yang dengan jahatnya akan memengaruhi otak manusia dan mengubah manusia menjadi budak yang kosong tanpa jiwa.
Hidup sebagai budak bukanlah kehidupan. Jika diperbolehkan memilih, Mischa lebih baik mati saja.
Tanpa sadar, larut dalam pemikirannya sendiri, Mischa menyuarakan pemikirannya itu dengan suara keras, membuat Aslan terkekeh, sementara cengkeramannya di leher Mischa menguat, membuat Mischa kehabisan napas.
“Mungkin aku akan membawamu dan menjadikanmu peliharaanku, kau akan kusimpan di tempatku, lalu akan kulepaskan sebagai buruan untuk kukejar ketika aku bosan? Kau tahu permainan itu, bukan? Permainan yang kalian sebut petak umpet? Mungkin kita bisa memainkannya berkali-kali sampai aku bosan…”
“Dalam mimpimu!”
Mischa menyembur, berusaha mendorong tubuh besar Aslan sekuat tenaga dengan sisa kekuatan yang dimilikinya. Sayangnya itu sia-sia, Mischa seolah mendorong tembok besar yang tak bergeming sedikitpun. Dorongannya itu malah membuat Aslan bergerak kasar, membanting tubuh Mischa ke lantai dengan tetap membungkuk di atas tubuh Mischa dan menaunginya.
Dalam keputus asaannya, Mischa mencoba bangkit, tapi Aslan mencengkeram lehernya kembali, menekan tubuh Mischa kembali ke lantai.
Yang ada di pikiran Mischa sekarang adalah melawan. Meskipun lehernya dicengkeram dengan begitu eratnya oleh tangan Aslan, Mischa meronta sekeras dia bisa, menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri untuk melawan, menendang dan melakukan apapun yang dia bisa meskipun Akhirnya semua itu hanya berujung tanpa hasil.
Bahkan Mischa tidak mampu membuat Aslan bergeser sedikit pun. Lelaki itu hanya mematung, membiarkan Mischa menghabiskan tenaganya sendiri dan terengah-engah kehabisan napas, berbaring tanpa daya di lantai.
“Kelinci kecil pemberontak yang menyenangkan,” Aslan berbisik pelan. “Sudah siap untuk patuh dan menyerah.…”
Mischa tidak akan menyerah. Tidak akan!
Selama nyawanya masih bergelung di dalam dada, dia akan berjuang, berjuang untuk lebih baik mati daripada harus hidup tetapi menjadi budak.
Tangan Mischa yang bebas bergerak, menerjang ke wajah Aslan dan mencakar pipinya sekuat tenaga. Mischa tahu apa yang dia lakukan sia-sia, karena kulit Bangsa Zodijak yang keras dan lentur bahkan tidak bisa tergores oleh pisau atau peluru sekalipun, tapi Mischa memang tidak ingin melukai Aslan, dia hanya ingin memancing kemarahan makhluk buas itu sehingga dia bisa dibunuh dengan cepat, dilepaskan dari penderitaan ini.
Sayangnya apa yang diharapkannya tidak terjadi. Di luar dugaan, dan bahkan membuat Mischa sendiri terkejut, jari-jarinya mampu menggores kulit Aslan, menyisakan darah hangat yang mengucur di sana, darah berwarna merah gelap yang sedikit lebih kental daripada darah manusia.
Darah Bangsa Zodijak yang sangat sulit ditumpahkan oleh senjata apalagi oleh tangan kosong.Tapi Mischa berhasil melakukannya….
Dengan terkejut, Mischa mendekatkan jari-jarinya ke wajah, memastikan sensasi basah di sana itu adalah darah Aslan.
Dia berhasil melukai dan menggores kulit Bangsa Zodijak hingga berdarah…?
Aslan sendiri membeku akibat keterkejutan yang amat sangat. Tubuhnya masih terpaku di atas tubuh Mischa, tangannya yang tadinya mencengkeram leher Mischa terlepas, lalu menyentuh pipinya sendiri yang terluka dan mengucurkan darah.
Seharusnya dirinya tidak berdarah hanya karena sebuah cakaran dari tangan manusia perempuan yang lemah. Kulit yang melapisi tubuh Bangsa Zodijak sangat kuat, tidak tertembus dan juga memiliki kemampuan regenerasi sangat cepat…
Tapi ini adalah darah…
Aslan menunduk ke arah Mischa, mendekatkan wajahnya semakin dekat ke wajah perempuan itu, menghidu kembali aroma manis yang tidak ditemukannya pada makluk apapun sebelumnya.
“Sebenarnya, kau ini apa?” Aslan menggeram, dipenuhi kemarahan ketika membayangkan ada manusia-manusia semacam Mischa ini di bumi, yang memiliki kemampuan untuk melukai Bangsa Zodijak dengan tangan kosong.
Sebenarnya makhluk macam apa Mischa ini?
Mengingat Mischa bisa melukainya dengan tangan kosong, mungkinkah dia adalah makluk produk penelitian yang digunakan sebagai senjata untuk melawan Bangsa Zodijak? Apakah saat ini kaum manusia tengah mengembangkan senjata itu untuk melawan mereka?
Ini bahaya. Jika memang dugaannya benar terjadi, maka situasi perang yang seharusnya bisa mereka menangkan dengan mudah akan berbalik melemahkan mereka.
Aslan harus menunjukkan Mischa ke saudara-saudaranya, dan itu lebih mudah dilakukan jika Mischa berada dalam kondisi tidak sadar.
Aslan mengerutkan kening, menimbang-nimbang kemungkinan untuk memukul Mischa dan membuatnya pingsan. Tetapi, dia tidak ingin melakukannya. Entah kenapa ada tekanan dalam dirinya yang mencegahnya untuk melukai perempuan di depannya ini. Mereka biasanya membawa senjata bius untuk melemahkan manusia-manusia yang ingin mereka tangkap hidup-hidup. Tetapi, karena Aslan sedang berniat untuk berburu dan tidak membawa pulang korbannya hidup-hidup, dia tidak membawa senjata bius itu saat ini.
Dengan ekspresi tidak suka, akhirnya Aslan bersiap menggigit Mischa dan menyalurkan racun yang akan mengubah perempuan itu menjadi budaknya. Aslan tidak suka mengangkat sembarang manusia menjadi budaknya. Dia tidak membagikan racunnya yang berharga begitu saja kepada manusia. Hanya orang-orang yang tepat yang akan dia gigit untuk dijadikan budak dengan tanda darinya.
Tetapi untuk saat ini, membuat Mischa menjadi budaknya adalah keputusan paling tepat. Perempuan itu akan lebih mudah dikendalikan dan satu yang pasti, informasi tentang keseluruhan diri perempuan itu akan lebih mudah dialirkan.
Ketika kepala Aslan menunduk ke lehernya, tahulah Mischa bahwa dia akan digigit, bahwa dia akan dijadikan budak yang kehilangan jiwa, menjadi tubuh kosong tiada makna.
Mischa panik, dia memekik dan berusaha mendorong tubuh Aslan dalam upaya perlawanan yang tanpa makna. Air matanya bercucuran ketika bibirnya menyerukan penolakan, satu-satunya pertahanan terakhir yang dia miliki.
“Tidak… tidak! Jangan!” jeritan Mischa tertelan ketika dia merasakan rasa nyeri menyengat di lehernya ketika gigi Aslan yang tajam menembus kulitnya, merobek jaringan tubuhnya dan menghancurkan kesadarannya.
Lalu tubuh Mischa lunglai ketika dia menyerah, membiarkan kegelapan menelan jiwanya.
﴿﴿◌﴾﴾