
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
“Aslan tidak kembali.”
Sevgil bertukar pandang dengan Khar yang hanya mengangkat bahu, lalu melemparkan tatapan penuh arti sambil mengangkat alis untuk menarik perhatian Akrep.
Mereka berada di aula besar berisi hampir seluruh prajurit Bangsa Zodijak yang berkumpul untuk mendengarkan arahan dari panglima perang.
Aslan sudah datang pagi tadi untuk menyiapkan pasukannya dan dia kembali ke kamar untuk menjemput Mischa.Insiden kemarin dimana para prajurit Zodijak tidak mengenali Mischa dan mengira perempuan itu sebagai budak membuat Aslan memutuskan untuk mengumumkan mengenai keberadaan istrinya kepada semua anak buahnya.
Hal itu akan menciptakan kehebohan, mengingat kontrak pernikahan yang diadakan sebelumnya hanya dilakukan diantara mereka bertujuh dan diniatkan sebagai sebuah rahasia.
Kehebohan yang terjadi lebih disebabkan karena sepanjang sejarah tidak pernah ada Lelaki Zodijak yang menjalin kontrak pernikahan dengan makhluk di luar bangsa mereka. Yang satu ini bahkan dilakukan oleh Aslan, pemimpin tertinggi mereka, yang terkuat dari tujuh bersaudara pemimpin Bangsa Zodijak.
Tetapi bagi Aslan sendiri, pengumuman Mischa sebagai istri Aslan dipandang sebagai sesuatu yang penting, supaya insiden yang sama ketika Mischa diperlakukan sebagai budak karena tidak dikenali, tidak akan terjadi lagi.
Sekarang seharusnya Aslan sudah kembali ke aula ini dengan membawa Mischa. Tetapi Aslan tidak kembali.
Akrep menatap saudara-saudaranya, semuanya lengkap kecuali tentu saja Kara yang masih terbaring memulihkan diri dan tatapan mereka semua menyiratkan arti yang sama, tahu sama tahu dengan apa yang sedang terjadi.
Dengan kesal Akrep memijit pangkal hidungnya, tahu bahwa sebagai yang tertua dia harus mengambil alih situasi.
“Aku akan menjemput Aslan,” ujarnya gusar sambil melangkah pergi meninggalkan aula besar itu.
“Apakah aku akan jadi seperti itu nantinya?” Kaza bertanya ngeri setengah berbisik ke arah Yesil yang bersedekap di sebelahnya dengan ekspresi tenang.
Setelah bangun dari pingsannya, Kaza rupanya sudah bisa berpikir jernih. Lelaki itu mulai bisa menelaah semuanya dan sibuk mencari cara supaya dirinya tidak tunduk di kaki manusia perempuan, seperti yang terjadi pada Kara dan bahkan juga pada Aslan.
Yesil membiarkannya, tahu bahwa dia tidak akan bisa mengentaskan Kaza dari penyangkalannya dengan cara apapun. Satu-satunya cara adalah membiarkan waktu yang menyelesaikan, lagipula selama Kaza bisa dinasehati untuk menjauhkan dirinya dari Sasha, sepertinya situasi masih akan aman-aman saja.
“Kalau Sasha sudah dewasa, kemungkinan besar kau akan jadi seperti itu,” Yesil menjawab dengan kejam, membuat wajah Kaza pucat pasi.
Lelaki itu mengepalkan tangannya dengan marah, memulai penyangkalannya lagi.
“Aku tidak mungkin jatuh di dalam perangkap yang ditebarkan oleh manusia perempuan,” geramya kasar.
Yesil hanya menganggukkan kepala sementara senyum terkulum di bibirnya.
“Waktu yang akan menjawab semuanya,Kaza, dan biarkan itu terjadi,” ujarnya tenang.
“Aslan!”
Akrep menggedor pintu kamar Aslan yang terkunci. Para penjaga tentu saja membiarkannya masuk ke area Aslan dengan mudah mengingat dia adalah salah satu dari tujuh pemimpin mereka, tapi mereka tidak berkutik ketika Aslan pemimpin mereka memutuskan mengunci pintu kamarnya.
Tidak ada yang berani mengusik Si Singa ketika sedang ingin mengurung diri di waktu-waktu pribadinya, tidak juga dengan saudara-saudaranya.
Akrep bisa dibilang mempertaruhkan nyawa karena melakukan ini, tetapi ini harus dilakukan, kalau tidak Aslan tidak akan bisa belajar mengendalikan dirinya. Akrep tahu bahwa dorongan seperti yang diceritakan oleh Aslan terhadap Mischa begitu kuatnya sehingga sulit untuk ditahan, tetapi Akrep berharap Aslan sebagai seorang pemimpin mampu mengendalikan dirinya dan tidak larut dalam dorongan itu.
Akrep berdiri di depan pintu kamar yang terbuat dari baja yang berpadu dengan hiasan kayu yang cukup kuat itu, dia mengeraskan pukulannya di pintu kamar ketika tidak mendapatkan tanggapan dari dalam.
Meskipun bisa mendobrak pintu kamar itu dengan mudah tentu saja Akrep tidak akan melakukannya, dia tidak mau memergoki Aslan ketika sedang berada dalam waktu pribadinya. Lagipula, Aslan akan meledak dalam kemurkaan dan langsung mencoba membunuhnya kalau Akrep sampai melakukan itu.
Setelah beberapa gedoran, pintu itu terbuka, menampilkan Aslan yang memasang wajah marah serta terganggu, memenuhi ambang pintu dengan tubuh kuatnya dan menebarkan aura mengancam. Lelaki itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana yang dipasang serampangan dan menggantung di pinggulnya.
Akrep sendiri tidak gentar, mata gelapnya memindai ke dalam dan menyadari tubuh Mischa yang memunggungi pintu, meringkuk di atas ranjang dan menggunakan selimut untuk membungkus tubuhnya.
Akrep menatap Aslan dengan pandangan mencela.
“Dia sedang sakit dan kau seharusnya membawanya hadir di aula sekarang.”
Tatapan mencela yang dilemparkan oleh Akrep menohok perasaan Aslan, membuat lelaki itu menipiskan bibir marah.
“Dia baik-baik saja dan sudah tidak demam lagi,” Aslan merasa jengkel karena harus menjelaskan hal ini kepada Akrep.
Seharusnya dia tidak perlu menjelaskan apa-apa kepada saudaranya ini, seharusnya dia tidak perlu merasa bersalah kepada Akrep karena melakukan apa yang dia suka. Tetapi entah kenapa tatapan Akrep kepadanya seolah-olah merendahkannya dan membuatnya merasa seperti makhluk barbar yang tak berbudaya.
Akrep sendiri melirik ke arah tubuh Mischa lagi melalui belakang pundak Aslan. Dia lalu menatap Aslan tegas.
“Bisakah kau mempersiapkannya dan membawanya ke aula seperti rencana kita tadi?” ujarnya.
Aslan menggertakkan gigi. “Aku akan memandikan dan mempersiapkannya lalu membawanya ke aula,” sahutnya kemudian, memilih berkompromi karena tahu bahwa dirinyalah yang bersalah.
Ketika dilihatnya Akrep tidak beranjak, Aslan mengangkat alisnya.
“Pergilah,” geram Aslan mengancam.
Akrep menggelengkan kepala dengan tegas. “Tidak. Aku akan menunggu di sini. Kalau sampai kau melenceng ke hal-hal yang lain, maka aku akan menggedor pintumu lagi,” jawabnya dengan nada tegas tak terbantahkan.
Aslan langsung mendengus, melotot marah ke arah Akrep tetapi tidak melakukan apa-apa.
“Terserah padamu.,” ujarnya dingin sebelum kemudian melangkah mundur dan membanting pintu kamarnya tepat di depan muka Akrep.
Mischa berjalan di sisi Aslan, membiarkan lengannya berada dalam cengkeraman lelaki itu ketika langkah mereka melalui lorong demi lorong gelap yang bertumpu pada sebuah pintu raksasa yang cukup besar, terbuka lebar seolah menyambut mereka.
Akrep yang memimpin langkah di depan menolehkan kepala ketika mereka sampai di ambang pintu, memberi isyarat supaya mereka melangkah terlebih dahulu.
Sambil terus berjalan dengan tatapan lurus, Aslan mencengkeram tangan Mischa dan membawanya melalui ambang pintu, menuju aula besar yang dikenali oleh Mischa.
Ketika dia berjalan mencari air kemarin, dia terdampar di aula ini lalu beberapa prajurit merubungi dan menyeretnya untuk dibawa ke area budak karena mengiranya sebagai budak manusia.
Berbeda dengan kemarin ketika aula ini berisi prajurit yang berlalu lalang mengerjakan apapun yang sedang mereka kerjakan, kali ini aula ini tampak penuh sesak, penuh dengan puluhan ribu prajurit Bangsa Zodijak yang bertubuh tegap dan berbaris rapi memenuhi aula, seolah-olah seluruh pasukan dikumpulkan disini tanpa kecuali.
Aslan mencengkeram tangan Mischa semakin erat untuk membelah barisan itu, sementara secara serentak seluruh prajurit langsung memberi hormat kepada pemimpin tertinggi mereka.
Mischa menundukkan kepala, menahan rasa ngeri karena sekarang dirinya, sebagai seorang manusia, berada di lautan makhluk bermata hitam yang sangat mengerikan yang menjadi sumber ketakutan bagi umat manusia.
Tanpa sadar dia berlindung di sisi Aslan, merapatkan tubuhnya ketika Aslan membawa dirinya ke area terdepan, membiarkan mereka berada di bawah tatapan mata legam yang menakutkan yang dipenuhi dengan rasa ingin tahu.
Mischa berdiri di sana, tanpa sadar beringsut di belakang Aslan, membiarkan bayangan tubuh besar Aslan melingkupinya, saat ini. Berhadapan dengan ribuan prajurit Zodijak yang tampak buas membuatnya merasa lebih aman ketika berada di dekat Aslan.
Aslan sendiri melirik ke arah Mischa, meyadari bahwa manusia perempuan itu gentar dan mencari perlindungan padanya. Dorongan primitifnya muncul, membuatnya ingin merangkulkan lengan ke tubuh kurus itu supaya Mischa tidak gemetar lagi.
Tapi Aslan menahan diri, saat ini dia berada di hadapan seluruh prajuritnya yang menunggu dengan penuh rasa ingin tahu karena melihat pemimpin tertinggi mereka menggandeng manusia perempuan yang mungkin adalah budaknya, dilihat dari tanda Aslan di leher perempuan itu.
Yang membuat mereka bertanya-tanya adalah Aslan sangat jarang mengangkat budak manusia, dan dia tidak pernah mengangkat manusia perempuan sebelumnya sebagai budaknya apalagi sampai menggandeng lengannya seperti sekarang ini.
Dengan gerakan cepat, Aslan meraih pundak Mischa yang berdiri di sebelahnya, membawa perempuan itu maju ke depan dengan cara mendorong Mischa ke depan tubuhnya, lalu menumpukan kedua tangannya di pundak Mischa dari belakang, menjaga perempuan itu agar tetap dekat.
“Perhatikan manusia perempuan ini baik-baik dan aku tidak ingin insiden kemarin ketika kalian salah mengiranya sebagai budak terulang lagi. Manusia perempuan ini adalah istriku dan itu berarti dia berada di bawah perlindunganku, kalau sampai aku menemukan kalian meletakkan tangan kalian kepadanya, menggoresnya setitik pun, aku akan menghabisi kalian sampai menjadi abu.”
Suara Aslan menggema memenuhi ruangan, penuh dengan ancaman mematikan sementara Akrep sekali lagi langsung meremas pangkal hidungnya dengan frustasi, menahan diri untuk tidak menggeleng-gelengkan kepala karena tidak habis pikir dengan sikap Aslan.
Rencana mereka tadi adalah membuat pengumuman resmi bahwa Mischa adalah istri Aslan, memperkenalkannya kepada semua prajurit dengan formal, lalu menerima penghormatan yang formal pula.
Sekarang yang dilakukan Aslan malahan menebarkan ancaman mengerikan kepada anak buahnya sendiri, membuat suasana di aula itu mencekam dipenuhi aroma ketakutan yang menguar dari para prajurit.
Oh, tentu saja para prajurit itu akan melakukan apa yang diperintahkan oleh Aslan, memerhatikan Mischa baik-baik dan memastikan tidak akan berurusan atau menyentuh manusia perempuan itu sama sekali. Ancaman Aslan adalah sesuatu yang harus diperhatikan dengan serius, dan jika mereka masih sayang nyawa, sebaiknya mereka tidak membuat Aslan murka.
Sevgil dan saudara-saudaranya yang lain termasuk Akrep memang memilih berdiri di bagian belakang aula, menyandarkan tubuhnya dengan santai di dinding untuk mengawasi sementara para prajuritnya membelakangi mereka dan fokus ke arah Aslan dan Mischa yang berada di depan hingga tidak menyadari bahwa pemimpin-pemimpin mereka yang lain sedang berdiri di belakang.
Sevgil menyeringai lebar begitu Aslan menyelesaikan kalimatnya, dan seringainya semakin lebar ketika menoleh ke arah Akrep, menyadari bahwa yang tertua di antara mereka itu tampak begitu frustasi.
“Aslan memang tidak pernah mengecewakan kita,” ujarnya dengan nada jenaka, membuat Akrep melotot ke arahnya.